
Malam minggu, waktu yang pas untuk bersenang-senang bagi anak-anak muda terkhususnya. Kegiatan apa pun bisa mereka lakukan asal itu membuat bahagia. Inilah malam yang ditunggu-tunggu para kaum muda, mereka menikmati malam minggu dengan menghabiskan waktu panjang tanpa mengkhawatirkan apa pun. Rata-rata malam minggu ini dihabiskan anak-anak remaja untuk menikmati waktu bersama pacarnya―kalau yang sudah punya pacar. Terkadang juga anak-anak muda menghabiskan waktu malam minggu bersama teman-temannya. Pokoknya, malam minggu terasa seperti waktu bebas bagi anak-anak muda.
Dirga masih berada di tempat Rahman. Mereka berdua sedang menyibukkan diri dengan ponsel masing-masing, tapi sekarang ini Dirga sendiri tidak sedang bermain game, Dirga lebih memilih melihat status orang-orang yang ada di kontak whatsapp-nya. Ya, kalau gabut sedang melanda, Dirga suka membaca status orang-orang, apalagi ini malam minggu, pastinya beberapa temannya mungkin akan galau karena gak ada pasangan buat diajak jalan.
“Kok malam minggu kayak malam jum’at? Horor,” baca Dirga ketika melihat status Ayu.
Rahman yang sedang fokus dengan ponselnya langsung menoleh ke arah Dirga.
“Status siapa, tuh?” tanyanya penasaran.
“Ini, statusnya Ayu.” Dirga juga ikut tertawa melihat beberapa status yang Ayu buat semuanya intinya kesepian.
“Lo nggak usah galau, kan ada gue. Gue siap kok buat ngetawain lo.”
Jari-jari Dirga dengan sengaja menuliskan pesan itu, lalu dikirimkan kepada Ayu. Tanpa harus menunggu lama-lama, Dirga langsung mendapatkan balasan dari Ayu.
“Ehh, lo kok gitu sama gue, Di? Jahat!”
Begitulah pesan balasan dari Ayu untuk Dirga. Sontak saja Dirga langsung tertawa setelah membaca pesan dari Ayu.
Saat ini Dirga tak habis pikir kenapa hampir setiap malam minggu Ayu selalu galau mulu. Jari-jari nakal Dirga mulai mengetik lagi, namun kembali dihapusnya karena menurutnya agak kurang pas untuk dikirim. Dirga berpikir sejenak―kata-kata apa yang pas untuk dikirimkan ke Ayu sekarang ini.
“Gue ada obatnya biar lo gak galau setiap malam minggu, Yu?”
Pesan itu terkirim. Dua centang biru terlihat di sudut kanan bawah pesan yang dikirimkan oleh Dirga tadi. Kali ini Dirga hanya tinggal menunggu apa balasan dari Ayu. Selang tiga detik Dirga menerima pesan dari Ayu.
“Apaan obatnya? Jangan nyuruh gue tidur biar galaunya cepat hilang, atau nyuruh gue ngelakuin hal konyol.”
Mata Dirga terfokus pada pesan balasan yang dikirimkan Ayu. Dia kembali tertawa lagi. Memang Dirga selalu saja seperti hantu yang gentayangan malam minggu buat ngecek status-status orang. Malam minggu jadi waktu Dirga untuk mengganggu teman-temannya yang sedang galau. Padahal Dirga sampai saat ini juga gak punya pacar, tapi hidupnya nyaman-nyaman aja kalau malam minggu. Entahlah, mungkin memang dengan cara ini Dirga mengisi waktu kesendiriannya.
“Nggak gitu juga kali, Yu. Biar setiap malam minggu lo gak pernah galau lagi, gimana kalau lo jadian aja sama Udik. Kan lumayan tuh si Udik gantengnya kelewatan, biar cantik lo yang kelewatan itu bisa ngimbangin gantengnya dia.”
Setelah jari telunjuk yang liarnya itu mengirimkan pesannya, Dirga langsung tertawa keras. Bahkan, Rahman ikut tertawa ketika melihat temannya itu sedang tertawa, padahal sebenarnya Rahman gak tahu apa yang buat Dirga ketawa sekencang itu.
“Ngapain lagi lo, gila?” tanya Rahman pada Dirga.
Namun pertanyaan Rahman sama sekali tidak didengarkan oleh Dirga. Keasyikan berbalas pesan dengan Ayu membuat Dirga terlalu fokus pada ponselnya.
“OGAHH!!!”
Ayu mulai kesal dengan Dirga yang memancing amarahnya sedari tadi.
Lagi-lagi pesan yang dikirimkan Ayu membuat Dirga tertawa terbahak-bahak. Dirga yang berhasil memancing amarah temannya itu tidak menyangka bahwa Ayu akan membalas sepanjang itu, padahal hanya satu kata. Tawa Dirga semakin kencang hingga membuat dia menahan sakit diperutnya.
Lelah tertawa, kini Dirga kembali mengatur napasnya. Jari-jarinya kembali mengetikkan sesuatu. Dan, dalam satu kali tekan, pesan yang ditulis Dirga tadi terkirim ke Ayu. Tidak lama saat dua centang birunya terlihat, Dirga langsung mendapatkan telepon video dari Ayu. Entah apa yang dikirimkan Dirga tadi sampai-sampai Ayu harus meneleponnya langsung. Takut? Ada sih sedikit. Dirga merasakan takut sedikit karena pesan yang dia kirimkan tadi. Perlahan jari telunjuknya menggeser telepon warna hijau, Dirga mengangkatnya.
“Ehh, lo jangan buat gue marah ya, Di. Sekali lagi lo ngatain gue ‘bucin galau’ lihat aja, besok gue kasih tahu orang tua lo, kalau lo minggat waktu pelajaran olahraga,” ancam Ayu saat mereka sedang melakukan sambungan telepon video.
“Kasih tahu aja. Lagian gue gak takut, emang gue sengaja pulang duluan biar ngelihat orang tua gue dateng gak ke sekolahan waktu dapet surat panggilan nanti. Gue mau tahu mereka masih perhatian gak sama gue. Silakan kalau lo mau ngasih tahu mereka.”
Ucapan Dirga itu sangat serius, saking seriusnya dia sendiri mempersilakan buat Ayu memberitahukan orang tuanya bahwa Dirga pulang duluan saat jam pelajaran olahraga. Dirga sendiri malah seperti tidak ada rasa takut sama sekali, dia rela kalau ketahuan minggat. Biar Dirga bisa tahu orang tuanya nanti datang ke sekolah apa tidak waktu dia dapat surat panggilan.
“Lo gila, Di? Ngapain disengaja! Gue tahu lo lagi gini, tapi tindakan lo itu gak bikin lo dapet perhatian, Di. Malahan nanti bisa jadi lo dikeluarkan dari sekolah, lo gak mikir ke situ, Di!” Ayu memarahi Dirga karena tindakannya yang sengaja pulang duluan.
Benar, Ayu memang benar dengan apa yang dikatakannya. Dirga bisa saja dikeluarkan dari sekolah kalau selalu membuat masalah. Dirga sendiri sudah berkali-kali mendapatkan surat panggilan untuk orang tuanya datang ke sekolah, akan tetapi orang tua Dirga tidak pernah datang untuk mengurus masalahnya, makanya Dirga berkali-kali juga dengan sengaja membuat masalah di sekolah agar dia sering mendapatkan panggilan, berharap kali ini orang tuanya bisa datang.
“Lo gak tahu apa yang gue rasain, Yu. Jadi gak usah maksain perasaan lo buat ngertiin gue. Gue sendiri tahu apa yang gue lakuin ini bisa buat semuanya jadi tambah kacau, tapi cuma satu yang gue mau, Yu ... cuma satu! Orang tua gue dateng ke sekolahan buat ngurusin semuanya, biar gue tahu apa mereka masih peduli sama sekolah gue! Gue gak mau, Yu, setiap hari orang tua gue gak pernah nanyain ‘gimana di sekolahnya tadi, ada masalah apa enggak?’. Gue gak pernah ditanya seperti itu, Yu!”
Tanpa disadari oleh Dirga, air matanya mulai keluar. Perkataan itu memang sangat dalam dia keluarkan dari benaknya, semua keresahan yang dia rasakan diungkapkan kepada Ayu sekarang ini. Dirga bahkan harus menyembunyikan wajah sedihnya dengan berpura-pura tersenyum, sambil mengucek matanya―beralasan bahwa matanya kelilipan.
Namun hal itu tidak bisa membohongi Ayu yang sudah melihat jelas kalau air mata Dirga tadi keluar. Ayu tetap menenangkan dirinya sendiri agar tidak terus menekan Dirga dengan kesalahannya. Apa pun yang Dirga lakukan sebenarnya Ayu sendiri sudah tahu maksud semuanya, tapi tetap saja tindakan itu malah akan membuat Dirga terlibat masalah baru lagi nantinya.
Ayu orang yang dekat dengan Dirga merasa bahwa temannya itu memang sangat memerlukan bantuan dari orang di sekitarnya saat ini, walaupun Dirga sendiri bersikeras tidak pernah mau melibatkan orang-orang sekitarnya ikut merasakan apa yang dia rasakan. Teman tetaplah teman, dan saling membantu adalah hal yang harus dilakukan.
“Lo gak sendirian, Di! Ingat, lo gak pernah sendirian! Ada gue dan semuanya yang mau ngebantu lo buat nyelesain masalah ini. Lo harus ngelibatin kita, Di.”
Setelah perkataan Ayu itu, Dirga langsung menaruh ponselnya tanpa memutuskan sambungan telepon mereka, Dirga menuju kamar mandi.
Tidak lama kemudian Dirga kembali lagi ke ruang tengah untuk melanjutkan obrolannya bersama Ayu. Dirga mengambil kembali ponselnya, dan mengarahkan layarnya ke wajahnya lagi.
“Ehh, lo kenapa lagi, Di?” tanya Ayu bingung melihat wajah Dirga sudah basah.
__ADS_1
“Gak apa-apa, gue tadi ke kamar mandi bentar kok, cuci muka.”
“Kirain gue―”
“Kenapa? Mau ngikutin gue ke kamar mandi? Gak boleh, Yu. Takutnya Udik marah tuh entar.” Perkataan Dirga diiringi gelak tawa darinya dan Rahman. Dirga sengaja mengalihkan pembicaraan mereka ke lain hal agar dia gak harus menjawab semua perkataan yang diucapkan Ayu nantinya.
“Ihhh ... ogah! Udah dulu, gue mau lanjut nonton drama Korea aja, biar malam minggu gak kesepian.”
“Ya udah. Awas jangan sampai baper, Yu.”
Lalu, sambungan telepon mereka ditutup oleh Ayu begitu saja.
Terdengar suara orang mengetuk pintu kosan Rahman. Dirga berdiri untuk membuka pintunya―mengetahui siapa yang datang. Setelah dibuka, ternyata teman mereka sendiri yang datang malam ini ingin ikut bergabung. Itu adalah Udik. Dirga mengajak Udik untuk masuk.
Di kosan Rahman ini tak ada kursi sofa seperti di rumahnya Dirga ataupun Udik. Di sini hanya beralaskan karpet plastik yang menutupi lantai semennya. Apalagi kasur yang empuk, Rahman sendiri hanya tidur di kasur seadanya, ya, yang penting baginya bisa tidur dengan nyenyak. Tapi, teman-temannya sudah terbiasa dengan keadaan Rahman, mereka bertiga sering nongkrong di sini.
“Ada apaan ke sini, Dik?” tanya Rahman setelah kedua temannya tadi duduk.
“Gue nggak boleh ke sini, Man?” tanya Udik sedikit bercanda.
“Boleh, kok. Siapa yang bilang gak boleh.”
“Itu, mungkin Pak Rojak kali yang gak ngebolehin lo main ke sini, Dik,” celetuk Dirga.
Udik bingung, mengernyitkan dahinya. “Pak Rojak? Siapa lagi tuh Pak Rojak?” tanya Udik ingin tahu.
“Itu, tukang sate di ujung gang. Ahh, masa lo gak tahu dia,” ucap Dirga.
Pak Rojak tukang sate yang terkadang menjadi tempat mereka mengisi perut saat dalam keadaan lapar. Tempatnya jualan gak jauh dari kosan Rahman, hanya berada di ujung gang sebelum mengarah ke tempat Rahman.
“Owhh, iya-iya. Pintain gue nomor whatsapp-nya, Man,” kata Udik. Sontak saja Rahman dan Dirga tertawa mendengar ucapan Udik yang mau minta nomor whatsapp Pak Rojak.
“Mau ngapain lo? Pak Rojak gak main whatsapp, lagian dia pakai yang senter, bukan kayak lo main colek-colek aja,” terang Rahman diiringi dengan tawa puas.
Dirga pun semakin tertawa setelah mendengar perkataan Rahman yang menurutnya sangat lucu.
“Alah, lo gak tahu sih, Man. Pak Rojak itu punya anak cewek yang cantik!” jelas Udik.
“Siapa namanya, Dik?” tanya Rahman serius.
“Ehh, goblok. Itu, Ayu Ting-Ting kan nama ayahnya Rojak,” terang Udik langsung diiringi dengan ketawa.
Udik kali ini benar-benar puas mengerjai kedua temannya itu, apalagi saat melihat ekspresi serius Rahman yang ingin tahu siapa anaknya Pak Rojak. Ahh, sialan ini Si Udik, orang pada udah serius, ehh, malah dia bercanda. Udik puas dengan ketawanya.
“Lo yang goblok! Abdul Razak, bukan Rojak bego!” hardik Rahman sambil menoyor kepala Udik.
Dirga pun dibuat ketawa dengan kelakuan kedua temannya itu. Dia hanya bisa ketawa melihat tingkah laku mereka berdua.
Apakah kebahagiaan seperti ini yang Dirga mau? Memang, Dirga sekarang terlihat sangat senang dengan kelakuan kedua temannya itu, sampai-sampai kejadian saat dia sedang teleponan sama Ayu tadi cepat saja dilupakan. Ini juga berkat Rahman dan Udik yang bisa-bisanya membuat Dirga tertawa dengan puas tanpa memikirkan masalahnya lagi.
“Kan, kalau guru Bahasa Inggris itu ‘z’ suka disebut ‘j’,” lanjut Udik.
“Emang lo guru Bahasa Inggris?” tanya Rahman yang membuat Udik terdiam sesaat.
“Gue guru Bahasa Inggris yang bisa ngajarin arti kata love you pada Rafika. Hahaha ....”
Spontan kepala Udik kembali ditoyor, kali ini bukan Rahman pelakunya, tapi Dirga. Kenapa waktu Udik bilang nama “Rafika”, Dirga kayak marah? Udik bingung maksud Dirga menoyor kepalanya tadi.
“Gimana kalau sekarang ini kita pergi ke club malam?” saran Udik sesaat kemudian pada kedua temannya.
“Ok!” putus Rahman, “lanjut happy!”
Mereka bertiga berdiri, dan segera mengambil barang-barang yang akan dibawa, termasuk juga ponsel jangan sampai ketinggalan. Siapa tahu ketemu cewek cantik di sana, kan bisa buat nambah kontak whatsapp. Mereka bertiga keluar, Rahman mengunci pintu kosannya terlebih dahulu, setelah itu mereka segera mendekati mobil Dirga.
“Ehh, tunggu dulu,” cegah Dirga menghentikan langkah kedua temannya.
“Kenapa, Di?” tanya Udik sedikit kesal pada Dirga.
“Kalian gak bawa motor?”
“Ya nggak lah, Di!” jawab mereka secara bersamaan.
__ADS_1
“Mobil lo kan ada, Di,” kata Udik, “udah naik aja. Anggap mobil lo sendiri malam ini, Di.” Udik langsung membuka pintu mobil Dirga, dia masuk. Begitu juga dengan Rahman langsung membuka pintu mobil dan masuk.
Dirga tercengang dengan omongan Udik tadi. Anggap mobil gue sendiri malam ini? Gak salah lo, Dik? kesal Dirga dalam hati. Tanpa berpikir lama lagi, Dirga langsung masuk ke mobilnya, dan dia sendiri yang mengemudi.
Mereka bertiga segera pergi ke tempat yang akan dituju.
Club malam (tempat hiburan malam). Mereka akan pergi ke salah satu tempat hiburan malam yang ada di Jakarta ini untuk menghabiskan waktu bersenang-senang. Yang diinginkan Dirga masih tetap sama, kebahagiaan. Dengan bersama teman-temannya Dirga mungkin akan mendapatkan kebahagiaan malam ini, Dirga hanya mengikuti kedua temannya itu untuk bersenang-senang. Apa yang akan mereka lakukan setelah sampai di tempat itu? Belum tahu pasti kalau Dirga, Rahman, ataupun Udik akan berbuat yang aneh-aneh di sana. Mereka sekarang masih dalam perjalanan.
Mobil yang dikendarai Dirga tepat berhenti di parkiran salah satu tempat hiburan malam yang ada di Jakarta ini. Mereka bertiga keluar dari mobil dan langsung menuju pintu masuknya. Jujur, Dirga sendiri baru pertama kalinya pergi ke tempat hiburan malam. Dengan langkah yang ragu, Dirga melangkahkan kakinya masuk ke tempat itu.
Kini, mereka bertiga berjalan mencari tempat duduk yang nyaman. Di dalam tempat itu dipenuhi banyak anak-anak muda yang sedang berjoget bersama. Suara keras dari musik yang membuat semuanya seakan happy malam ini, musik itu juga membuat Rahman dan Udik ikut menganggukkan kepala mereka―menyesuaikan dengan kenikmatan mendengarkan musik itu.
Lain halnya dengan Dirga, dia sendiri terlihat masih bingung dengan keadaan di dalam, matanya menyusuri setiap orang-orang yang sedang berjoget dengan senangnya. Terlihat juga orang-orang yang sedang duduk di kursi mereka terdapat minuman beralkohol di atas mejanya, juga ditemani beberapa orang cewek yang sudah terlihat sangat dekat dengan mereka. Memang keadaannya sekarang ini sedang ramai.
Dirga masih menatap sekumpulan orang yang sedang berjoget bersama di depan pemain musiknya. Orang itu benar-benar bisa membuat banyak orang menjadi happy. Ahh, situasi apa yang Dirga rasakan sekarang. Bodoh! Mungkin kalian juga akan kesal dengan kelakuan Dirga sekarang ini. Udik menarik tangannya menuntun ke tempat duduk mereka. Dan di sana sudah ada Rahman yang duduk dengan seorang cewek, juga Udik yang tiba-tiba saja duduk di dekat satu cewek lainnya.
Dirga duduk di kursinya sendirian. Matanya masih saja menyusuri orang-orang di sekitarnya, sorot lampu kerlap-kerlip yang langsung tertuju pada wajahnya menyilaukan pandangannya. Tapi tidak dengan orang-orang lain, mereka terlihat tetap happy dengan sorot lampu warna-warni itu. Mungkin inilah yang dinamakan kesenangan dunia malam. Dirga apa yang lo lakuin kali ini? Bodoh memang! Marahlah kalian kalau mau marah padanya. Jika benar Dirga itu adalah teman kalian atau kalian berada di sekitar Dirga, silakan mau berbuat apa padanya.
“Lo mau ke mana, Dik?” tanya Dirga pada Udik yang terlihat berjalan pergi sendirian.
“Tunggu aja di situ, Di,” suruhnya yang sudah berjalan pergi.
Ternyata, kenakalan Rahman dan Udik bisa dibilang melebihi nakal Dirga. Rahman dan Udik mau bersenang-senang dengan cewek yang baru saja mereka kenal. Dirga kalah liarnya dengan kedua temannya itu. Tatapan mata Dirga mengarah ke cewek yang duduk sendirian di sampingnya. Emang nih orang gak kena marah sama orang tuanya keluyuran jam segini? Cewek lagi, ucap Dirga dalam hatinya. Cewek itu tersenyum padanya, sontak Dirga langsung memalingkan matanya.
Udik kembali berjalan mendekati kedua temannya dan dua teman cewek barunya itu dengan membawa dua botol minuman beralkohol. Udik menaruhnya di atas meja. Dari cara kedua cewek itu memandang minuman yang Udik bawa, kayaknya mereka sudah sangat kenal minuman itu.
“Lo mau, Di?” tawar Udik sambil menuang sedikit minuman itu ke dalam gelas kecil.
“Nggak, Dik,” jawab Dirga.
“Serius lo gak mau nyoba? Sekali doang.” Udik terus menawarkan minuman itu pada Dirga yang terlihat sedikit bingung melihat kelakuan kedua temannya sekarang.
“Nggak. Silakan kalian nikmati minumannya.”
Tatapan Dirga kini mengarah ke Udik yang sudah memegang gelas berisikan air minuman beralkohol itu. Dalam satu kali tegukan, Udik langsung meminum semua yang ada di gelas kecil itu. Ekspresi yang diperlihatkan Udik seakan merasakan kenikmatan dari air yang baru saja diteguknya. Sungguh, Dirga sendiri menerka-menerka rasa minuman yang baru saja temannya itu teguk.
“Rasanya manis ya, Dik?” tanya Dirga tololnya. Dia memang benar-benar tolol sekarang ini, ya, karena Dirga sendiri belum pernah merasakan minuman beralkohol itu.
Keempat orang yang berada di dekatnya itu tertawa setelah mendengar pertanyaan dari Dirga. Padahal Dirga serius bertanya pada Udik tentang rasa airnya, tapi mereka malah tertawa kurang jelas. Kok ketawa, lucu? Terserah lo dah, gue gak ada urusan kalau gini, cibir Dirga dalam hatinya.
“Rasanya gak semanis kehidupan, Di,” terang Udik yang terlihat mulai memegangi kepalanya. Dia menuang kembali minuman itu ke dalam gelasnya dan langsung meneguknya lagi. Itu tidak dua kali dilakukan, malahan berulang kali.
Dirga sendiri memandangi temannya itu yang terus saja memegangi kepalanya. Ketiga orang lainnya juga menuang minuman itu ke dalam gelas mereka masing-masing, dan langsung meneguknya. Itu juga diulangi berkali-kali oleh mereka. Duduk di hadapan teman-temannya, Dirga menjadi sedikit ragu untuk meneruskan kebersamaan mereka malam ini.
“Maksud lo tadi gimana, Dik?” tanya lanjut Dirga.
“Udah, lo gak usah banyak tanya, cobain aja satu kali tegukan, gue yakin dah lo pasti keenakan, Di,” kata Udik dengan suara beratnya. Suara Udik agak seperti dipaksain gitu. Kepalanya ditaruh di atas meja dengan lengan sebagai alasnya.
Kali ini Udik tidak lagi menghadap ke arah Dirga ataupun yang lainnya.
Dirga tahu sekarang kalau orang-orang yang pernah dia lihat saat pulang malam-malam di jalanan dengan berjalan atau dalam keadaan posisi berdiri mereka sudah tidak tegap―seperti orang kelihatan lemas―mereka pasti sedang mabuk. Begitu juga dengan keadaan empat temannya sekarang ini. Minuman beralkohol itu yang membuat teman-temannya jadi mabuk. Memang tingkat ketololan Dirga kali ini muncul. Nakal sih boleh, tapi gak harus merusak badan juga.
Rahman dan cewek yang berada di sampingnya berjalan menuju kerumunan orang di depan pemain musiknya, mereka langsung berjoget mengiringi suara musik yang membuat jantung seperti berdegup dengan kencangnya. Dirga hanya melihat dari kejauhan Rahman dan cewek itu sedang joget bersama, bahkan mereka berdua seperti orang yang sudah saling mengenal dekat, sangat akrab. Cewek itu merangkul Rahman sambil berjoget terus-menerus.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul satu malam lewat, namun mereka bertiga masih berada di tempat itu hingga kini. Rahman, Udik dan kedua cewek itu sudah terlihat lemas, mereka hanya terduduk di kursi masing-masing, kepala pun sulit mereka angkat akibat kebanyakan minuman yang diteguk tadi. Dua botol minuman beralkohol itu habis diteguk mereka berempat.
Dirga happy? Ya, Dirga happy, karena malam ini dia tidak berada dalam masalah apa pun, dia hanya mendengarkan musik dugem di dalam tempat itu. Kok gue jadi kangen Rafika, ya? Ahh, mungkin gue cuma kangen ngebaperin dia doang kali, ucap Dirga dalam hatinya. Sekilas terlintas pemikiran tentang Rafika di kepalanya. Dirga mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dia mencari kontak seseorang untuk diajak ngobrol sekarang ini. Sedangkan waktu terus berputar.
“Rafika, lo lagi ngapain? Udah tidur belum?”
Pesan yang sebenarnya ingin Dirga kirimkan kepada Rafika, tapi nyatanya malah terkirim pada Ayu. Dirga tadi sempat bingung mau mengirim pesan itu ke siapa, ya, daripada nge-chat Rafika duluan karena gengsi, mending dia urungkan niatnya itu. Akhirnya pesan dikirimkan ke Ayu, tapi nama “Rafika” tetap tertulis oleh Dirga. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dan pesan itu sudah terkirim, walau belum dibaca, Dirga sudah gak sempat lagi untuk menghapusnya kembali.
Goblok! Dirga lo emang goblok kali ini. Pesan untuk Ayu kok lo tulis nama Rafika! Dirga, Dirga .... Dirga kesal sendiri dengan dirinya yang terlihat bodoh.
Tiba-tiba Rahman dan Udik bangun dari tidur mereka. Mereka berempat tadi perlahan mulai tertidur. Kedua cewek yang dekat dengan Rahman dan Udik juga bangun.
“Udah jam berapa, Di,” tanya Udik pada Dirga dengan suara sedikit serak.
“Udah jam dua. Pulang yuk, Dik,” ajak Dirga.
Tanpa mengiyakan ajakan dari Dirga, Rahman dan Udik langsung beranjak dari tempat duduknya, diikuti juga dengan dua cewek kenalan mereka. Mereka berlima berjalan keluar dari tempat itu. Di parkiran, Dirga langsung menyuruh mereka untuk masuk ke mobil, termasuk juga dua cewek itu. Mobil yang dikendarai Dirga melaju di jalanan meninggalkan tempat itu. Terlebih dahulu Dirga mengantar kedua cewek itu pulang ke rumah mereka masing-masing―yang sudah diberitahukan oleh salah satunya. Setelah itu, Dirga pulang menuju kosan Rahman.
__ADS_1