Diandra

Diandra
Hal Memalukan


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


KLEK. Suara pintu dibuka oleh Melissa.


"Radit kamu keterlaluan---," seketika ucapan Melissa terpotong ketika melihat tiga orang berada di dalam ruangan putra tirinya.


"Maaf... saya kira tidak ada siapa-siapa," ucap Melissa menahan malu.


"Ma... Mama tahu dari siapa aku sedang dirawat di rumah sakit?" tanya Radit kepada ibu sambungnya.


"Mama tahu dari Maxcton... kebetulan Mama sangat mengkhawatirkanmu Nak!" lirih Melissa menghambur kepelukan putranya, menyingkirkan Diandra dari atas ranjang itu.


BRUK. Diandra terjatuh akibat Melissa terlalu kuat mendorongnya.


"AW!" pekik Diandra terjatuh.


"Opsss... sorry! Saya tidak sengaja!" ujar Melissa menatap Diandra remeh.


"Iya tidak apa-apa tante!" ucap Diandra bangkit.


Milloma membangunkan Diandra yang terjatuh di lantai.


"Ya ampun... ayo bangun Cucu menantuku!" ujar Milloma membangunkan Diandra.


"Terima kasih Nek," ucap Diandra seraya bangkit.


"Kamu tidak apa-apa kan Dara?" tanya Radit terhadap Diandra.


"Tidak apa-apa kok, santai saja!" ucap Diandra sedikit menekan suaranya.


"Ya ampun... siapa dia Radit? Kenapa Nenek tidak tahu dia?" tanya Milloma terhadap cucunya yang berbaring di bangsal.


"Ini Mama Nek, Mama Melissa," ucap Radit memperkenalkan Melissa pada Milloma nenek angkatnya.


"Ma! Kenalin dia Nenek Milloma yang menolongku selama di Jakarta," ucap Radit.


Dengan segera Melissa memperkenalkan dirinya terhadap Milloma.


"Melissa!" serunya mengulurkan tangan.


Kemudian Milloma menjabat tangan ibu sambung, cucu angkatnya itu.


"Milloma... senang berkenalan dengan Anda! Ternyata Anda ini sepantaran dengan Andara ya?" ucap Milloma.


"Ahahaha... Anda bisa saja, saya ini sudah tua loh. Dia ini baru Anak kemaren sore!" ucap Melissa menatap tajam pada Diandra.


'Huh... tatapan apa itu?' batin Diandra.


"Senang berkenalan dengan Anda Nyonya Milloma, bagaimana kalau kita mengobrol di luar saja," ajak Melissa pada Milloma.


"Oke baiklah!" balas Milloma.

__ADS_1


Kemudian Milloma dengan Melissa berjalan keluar dari ruang perawatan Radit.


Setelah mereka keluar dari ruangan itu, Radit berusaha memperingatkan Diandra, agar rahasianya jangan sampai terbongkar di hadapan ibu tirinya.


"Diandra... kamu harus berhati-hati pada ibu tiriku, dia tidak pernah menyukai Andara. Jadi kamu harus bersikap seperti Andara yang lemah lembut," ucap Radit memperingatkan.


"Kalau dia berani menyentuhku, aku akan membalasnya Radit. Tapi kalau aku perhatikan ya, Ibu tirimu itu sepertinya menyukai kamu deh!" tebak Diandra.


"Hussst... sembarangan kamu, ya enggak mungkinlah!" ujar Radit menampik.


Sejenak Radit terdiam mengingat kejadian tempo hari, pada saat Melissa melakukan hal tak senonoh padanya.


"Tuhkan... kamu ngelamun, jangan-jangan di antara kamu sudah pernah terjadi sesuatu ya?" ucap Diandra menyadarkannya dari lamunan.


"Hati-hati kalau ngomong," ucap Radit menoyor kepala Diandra.


"Aduhhh... sakit Radit!" pekik Diandra akibat toyoran dari tangan pria gagah nan tampan itu.


"Salah siapa kalau ngomong gak di jaga!" ujarnya.


"Yee... aku kan cuma nebak aja, canda kok," ucap Diandra.


"Sama sekali tidak lucu Nona Diandra," timpal Radit kesal mengerucutkan bibirnya ke depan.


***


Sementara Andara dan kedua orang tuanya telah sampai di rumah yang sangat Megah.


"Apalagi dulu kita masih sama Mommy, bersama juga dengan Adek Diandra," ujarnya.


Tanpa Andara sadar ucapannya mengiris hati Nessa, ibu sambungnya. Andara masih menganggap Nessa merebut Daddy-nya dari Momynya.


"Kamu yang sabar ya Ness... jangan masukkan ke hati omongan Putri kita," ucap Hameed berusaha menguatkan Nessa.


"Iya Mas... aku ngerti kok, kamu tenang saja," ucap Nessa menggenggam tangan suaminya.


Kemudian mereka bertiga memasuki rumah mewah, namun masih terawat. Mereka bertiga disambut hangat oleh orang tua Hameed yang sudah sepuh.


"Mama!" seru Nessa memeluk ibu mertuanya.


"Nessa... Mama sangat rindu dengan kalian. Setelah sekian lama akhirnya kalian kembali juga," ucap ibu mertuanya, kemudian beralih pada cucunya Andara.


"Andara sini sayang peluk Oma!" ucapnya, namun Andara malah berjalan masuk ke dalam rumah.


Raut sedih dari wajah sang nenek terlihat sangat merindukan cucunya, namun Andara tampaknya tidak pernah merindukan sang nenek.


"Maafkan Andara Ma... dia memang Anaknya seperti itu, tapi dia sangat baik Ma!" ucap Nessa.


"Tentu pasti dia baik!" Hameed menambahkan ucapan Nessa.


"Oh ya Mama melupakan satu hal, Cucu Mama yang satunya mana?" tanyanya.


"Renita tidak ikut Ma!" jawab Hameed.

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak mengajaknya!" seru Ibunya Hameed.


"Renita memilih mengurus perusahaan di sana, mau di apakan lagi," ujar Hameed.


"Owh... seperti itu, rupanya darah bisnis mengalir dalam dirinya," ucap perempuan yang tak lagi muda itu mengulas senyum


"Kalau Putri sulung kalian profesinya apa?" tanyanya lagi.


"Andara maksudnya Ma?" tanya Hameed memastikan.


"Iya siapa lagi Putri sulung kalian, kalau bukan Andara!" ujarnya.


Namun pertanyaan itu di jawab sendiri oleh Andara, yang terlihat kembali dari kamarnya.


"Profesi saya model Oma! Cucu Oma ini sangat cantikkan?" ucap Andara.


"Kamu sangat cantik sayang... persis seperti kembaran kamu!" ucap sang nenek.


DEG.


Andara sangat antusias ketika omanya menyebutkan saudari kembarnya.


"Ya ampun... dimana Oma melihat Diandra Oma, Dara enggak sabar ingin bertemu dengannya," ucap Andara sangat antusias.


"Oma sering melihatnya di TV, tapi sayang Ibu kamu tidak pernah mengijinkannya untuk berkunjung ke rumah!" ujar Oma Halima.


"Jadi selama ini mereka tidak pernah lagi berkunjung kemari Mah?" Hameed geram karena mantan istrinya itu telah menyalahi perjanjian.


"Sessi itu melupakan Mama begitu saja Hameed, padahal Mama selalu baik padanya. Bahkan dulu saat kalian bercerai Mama selalu meminta dia untuk sering datang ke rumah," ucap Halima terhadap putranya.


"Wanita itu selalu saja seperti itu, berarti Diandra tidak tahu kalau kita ini adalah keluarganya!" ketus Hameed.


Hameed tampak terlihat marah, namun Nessa segera menenangkannya.


"Mas... kamu jangan seperti itu, bagaimana pun Sessi itu pernah menjadi bagian dari hidupmu!" ucap Nessa berusaha menenangkan suaminya.


Andara sangat muak melihat Nessa, karena menurutnya ibu sambungnya itu tidak lebih dari seorang penjilat.


"Cukup Ma! Mama tidak usah berpura-pura baik di hadapan keluarga Daddy, karena pada dasarnya Mama bahagiakan melihat Mommy aku dibenci oleh Daddy!" tukas Andara menatap tajam Nessa.


Hameed yang pada saat itu emosi ia reflek menampar putrinya.


PLAK. Satu tamparan mendarat ke pipi cantik Andara.


"Jaga bicara kamu kalau sedang berbicara dengan Orang Tuan Andara. Kamu jangan kurang ajar, hormati Mamamu! Dia yang merawat kamu dari kecil!" geram Hameed menampar putrinya.


"Daddy jahat! Kenapa Daddy selalu membela Mama si Dad's..." lirih Andara kesal.


"Karena berkat dia Ibu sambungmu kita masih hidup di dunia ini Andara!" teriak Hameed menatap tajam pada putrinya.


"Mas... cukup Mas! Jangan marah sama Andara Mas!" lirih Nessa terus membela putrinya.


DEG.

__ADS_1


__ADS_2