Diandra

Diandra
Bab 78


__ADS_3

Cilla membuka mata saat cahaya matahari membuat penglihatannya silau.


"Kamar hotel?"


Seketika ia mengingat kejadian kemarin. Cilla meraba tubuhnya dan melihat dibalik selimut. Matanya terbelalak saat mengetahui dirinya tak memakai apapun. Ia juga merasakan nyeri di bagian bawah sana.


"TIDAK!!! SIAPA YANG SUDAH MELAKUKAN INI PADAKU??!!" teriak Cilla frustasi, ia mengira sudah di nodai oleh para anak buah Gama


"Cill, kamu sudah bangun?" tanya Adam yang baru keluar dari kamar mandi


"KAMU?!! BAGAIMANA BISA KAMU ADA DISINI?!!", Cilla kembali menutup tubuhnya dengan selimut


"Kita disini sejak semalam. Kamu lupa? Semalam kita sudah bercinta bersama"


Mata Cilla kembali terbelalak, "JADI KAMU!!LANCANG SEKALI KAMU MENYENTUHKU, BAJINGAN!! BERANINYA KAMU MENODAIKU!!" ucap Cilla marah dan tak terima


"Kenapa kamu marah? Padahal semalam kamu begitu menikmatinya!"


Cilla menatap Adam tajam, "JANGAN MENGARANG CERITA. DASAR BAJINGAN!"


"Berhenti mengataiku, Cill. Aku adalah calon suamimu!"


"Calon suami? Jangan mimpi bajingan!"


Adam mengambil ponselnya kemudian memperlihatkan video mereka semalam pada Cilla. "Kamu hanya punya satu pilihan, Pricilla. Menikah denganku atau aku akan menyebarkan video kita!"


"Silahkan saja kalau kamu berani! Aku pastikan kamu akan di penjara!"


Adam tertawa, "Kamu mau melaporkan aku? Memangnya kamu punya bukti apa?" tantang Adam, "Kamu tidak bisa bersikap sombong lagi, Cilla. Sekarang keluargamu tidak punya apa - apa lagi!"


"Brensek!! Beraninya kamu bicara seperti itu! Kamu hanya pria miskin yang tidak tahu diri!"


"Aku punya dua restoran. Aku juga punya usaha barbershop yang cukup terkenal. Aku tidak bisa kamu kategorikan sebagai pria miskin! Karena sekarang kamu jauh lebih miskin dariku!"


Cilla menatap Adam marah, "Aku pastikan Mamaku akan membuatmu membusuk di penjara!"


"Mamamu? Sekarang dia sudah di tangkap polisi. Bagaimana bisa dia akan membuatku masuk penjara"


"A-apa maksdumu?!"


"Mamamu sudah di tangkap atas kasus penculikan dan penganiayaan. Dan pilihanmu sekarang hanya satu! Yaitu menikah denganku!"


🍀🍀🍀


Kasus yang menjerat Livia berlangsung selama dua bulan. Selain melaporkan kasus yang menimpanya, Gama dan Dian juga melaporkan kasus penganiayaan yang di lakukan Livia pada asisten rumah tangganya hingga berujung kematian sang asisten rumah tangga. Wanita itu di kenai pasal 354 KUHP. Akhirnya istri Aditama itu di jatuhi hukuman sepuluh tahun penjara.


Cilla? Setelah kejadian di hotel, entah bagaimana caranya, Adam berhasil menikahi Cilla dan membawanya ke luar kota.


Kini kehidupan Dian terasa begitu bahagia. Terapi yang ia jalani mulai membuahkan hasil. Wanita cantik itu mulai percaya dan membuka hatinya untuk sang suami. Keduanya semakin harmonis dengan usia pernikahan yang berjalan hampir tiga bulan lamanya.


Gama menjadi sosok suami yang romantis dan perhatian. Setiap pagi, Gama akan mengantar istrinya ke kantor. Jam pulangpun, Gama selalu menyempatkan untuk menjemput istrinya. Bahkan tak jarang, Gama mengajak Dian ikut dirinya bekerja saat ia ada proyek di luar kota.


Akhir pekan seperti sekarang, Gama selalu mengajak Dian jalan - jalan. Hari ini mereka akan menghabiskan waktu ke puncak dan menikmati malam romantis di sana.


"Semua sudah siap?" tanya Gama

__ADS_1


"Sudah"


Mobil Gama mulai meninggalkan pelataran rumah. Perjalanan mereka di iringi obrolan hangat. Dian mulai terbuka pada suaminya dan Gama, dia akan menjadi pendengar yang baik untuk istrinya.


Perjalanan baru di tempuh dua puluh menit, padatnya kendaraan di akhir pekan membuat jalanan cukup macet pagi ini.


"Bukankah itu mantan suamimu?" tanya Gama. Dari kejauhan ia melihat Saka tampak menyetop beberapa kendaraan, sayangnya tidak ada satupun mobil yang mau berhenti.


"Apa kita berhenti saja?" tawar Gama


"Tidak usah. Bukan urusan kita juga" sahut Dian, namun beberapa saat kemudian ia juga melihat Hastari melakukan hal yang sama. "Kita berhenti sebentar ya" pinta Dian


Gama mengangguk, tepat saat mereka berada di depan Saka dan Hastari, Gama menghentikan mobilnya.


"Bunda"


Hastari menatap Dian tak percaya, mata wanita itu berkaca - kaca. "Diandra", wanita paruh baya itu memeluk Dian begitu mantan menantunya itu turun dari mobil.


"Ada apa? Kenapa kalian tampak kebingungan?" tanya Gama


Hastari menatap Saka, pria itu terlihat canggung pada Dian dan suaminya.


"Ada apa, Bun? Kenapa sejak tadi kalian menyetop mobil - mobil yang lewat?" tanya Dian lagi


"Em ..." Hastari nampak ragu, tapi akhirnya wanita itu jujur, "Vika akan melahirkan, dan kami harus segera membawanya ke rumah sakit. Sejak tadi tidak ada angkot yang lewat"


Dian menatap Saka dan Hastari bergantian, seberapa besar kesusahan yang Saka alami sampai - sampai untuk memesan taksi online pun ia tak sanggup.


"Dimana dia, kita bawa sekarang juga" ucap Gama cepat


"Turunkan ego dan gengsimu. Keselamatan istri dan anakmu yang terpenting!" kali ini Dian yang berucap


"Ayo, kita harus cepat. Dimana istri Saka sekarang?"


"Dia ada dirumah"


"Ayo Bunda, kita tidak boleh membuang - buang waktu!"


Hastari masuk ke dalam mobil sedangkan Saka masih terdiam di tempat,


"Ka!!" teriak Dian


Saka menghela nafas lalu ikut masuk kedalam mobil. Gama membawa mobilnya kerumah Saka yang berada tak jauh dari gang. Setibanya dirumah, Hastari dan Saka bergegas masuk. Dan mereka menemukan Vika tak sadarkan diri.


"Cepat bawa ke mobil!"


Saka menggendong Vika kemudian masuk ke dalam mobil. Melihat wajah pucat Vika dengan kondisi tak sadarkan diri, Gama melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setelah melewati padatnya kendaraan, akhirnya mobil Gama tiba dirumah sakit.


"Suster, tolong!" teriak Dian


Vika pun di bawa ke ruang gawat darurat. Beberapa menit kemudian dokter yang memeriksanya keluar.


"Kami harus melakukan tindakan operasi cesar. Kondisi pasien yang tidak sadarkan diri bisa membahayakan bagi ibu dan calon bayinya"

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok"


"Kami akan melakukan penanganan sesuai prosedur. Perbanyakan berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah"


Berkat pertolongan Gama dan Dian, akhirnya Vika bisa mendapatkan penangan.


"Kamu mau minum?" tawar Gama pada istrinya


"Tidak usah, Mas? Kamu mau beli minum?"


"Aku mau beli kopi. Kamu mau ikut?"


Dian mengangguk, sebelum pergi ia menghampiri Hastari, "Bun, aku dan Mas Gama mau ke kantin dulu. Bunda mau ikut atau nitip sesuatu?"


Hastari menggeleng, "Tidak, Di. Kalian pergi saja"


"Baiklah. Kami pergi dulu. Nanti kami akan kembali lagi"


"Tidak apa, kalian pasti masih punya urusan lain kan? Kalau mau pulang, silahkan"


"Tidak, Bu. Kami akan kembali setelah ini. Nanti begitu istri Saka dan bayinya sudah selesai di operasi, baru kami akan pulang. Benar kan, sayang?" tanya Gama


"Tentu"


"Aku mengucapkan terima kasih banyak pada kalian berdua"


"Tidak masalah, Bun. Jangan sungkan"


"Kami pergi sebentar"


Hastari mengangguk,


Saka menatap kepergian Dian dan suaminya dengan tatapan sendu


"Dian sudah menemukan pria yang tepat. Bahkan suaminya rela menolong kita yang jelas - jelas pernah membuat Diandra hancur" ucap Hastari. Saka hanya bungkam tanpa kata


🍀🍀🍀


Seperti janjinya tadi, Dian dan Gama kembali menemui Hastari dan Saka. Kini mereka berempat sedang menunggu proses operasi Vika. Sudah hampir satu jam, lampu operasi akhirnya padam. Hal itu tentu membuat mereka bernafas lega


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, dok?"


"Alhamdulillah, ibu dan anaknya selamat. Anak Anda berjenis kelamin perempuan"


Semua bernafas lega mendengar kabar bahagia ini


"Apa saya bisa masuk kedalam dok?" tanya Saka


"Tentu, Pak. Anda bisa masuk dan mengadzani putri Bapak. Tapi-"


"Tapi ada apa, dok?" tanya Hastari


"Dengan sangat menyesal saya mengatakan" dokter itu menghela nafas, "Kaki putri Bapak, panjang sebelah"


Deg

__ADS_1


__ADS_2