
Setelah perdebatannya beberapa hari lalu, Ken bersikap lebih manis pada Kristal. Pemuda itu juga mulai menjaga jarak dengan Yazna. Ken berusaha membuktikan pada Kristal jika dia tidak memiliki perasaan apapun pada sahabatnya itu.
Kristal sendiri masih bingung dengan perasaannya, apa ia harus maju atau justru mundur. Kristal tahu dirinya begitu egois, hanya saja Kristal tidak mau tersiksa bathin. Meski usianya masih enam belas tahun, dia bisa menilai dengan jelas seperti apa kedekatan Ken dengan Yazna. Ken mungkin tidak memiliki perasaan pada Yazna, tapi berbeda dengan gadis itu. Yazna menyukai Ken. Untuk itu, Kris harus bersikap tegas. Tidak ada wanita yang mau berbagi meski pada sahabat kekasihnya sendiri.
"Kris, Ken sudah menunggu"
Tak berselang lama, Kristal turun lalu bergabung dengan keluarganya untuk sarapan. Melihat Ken duduk bersama dengan keluarganya bukanlah hal baru. Hampir setiap hari Kristal melihat pemandangan itu.
"Ambilkan Ken makanannya, Sayang" pinta Gama
Kristal mengangguk, dia menuangkan nasi goreng ke piring Ken lengkap dengan telur ceplok dan mentimun.
"Kamu hampir lulus kan, Ken?" tanya Opa David
"Dua bulan lagi, Opa"
"Setelah ini, kamu akan kuliah ke luar negeri. Sementara Kristal masih sekolah disini. Kalian harus menjalani hubungan jarak jauh. Dan tentunya, banyak godaan yang harus kalian hadapi. Menjalani hubungan jarak jauh itu gampang - gampang susah. Yang terpenting adalah komunikasi dan saling menjaga kepercayaan. Tentunya saling menjaga kesetiaan juga"
"Tentu Om. Disinilah aku bisa membuktikan kesetiaanku pada Kristal"
Semua orang tersenyum kecuali Kristal
"Kris, kamu sudah sarapannya?" tanya Mama Dian
"Sudah Ma"
"Kita berangkat sekarang saja kalau sudah", Kristal mengangguk
Setelah berpamitan, keduanya berangkat ke sekolah bersama.
Dalam perjalanan, Kristal hanya diam. Bukan tidak mau bicara dengan Ken, Kris hanya malas membahas masalah itu - itu saja yang tidak ada habisnya.
"Kamu masih marah?" tanya Ken
"Tidak"
"Lalu kenapa masih bersikap dingin, hm?"
"Aku sudah bersikap sewajarnya, Ken. Kamu mau aku bersikap seperti apa lagi?"
Ken menghela nafas, "Aku sudah menjauhi Yazna. Aku membuktikan padamu jika aku tidak memiliki perasaan padanya. Apa yang aku lakukan masih kurang membuktikan?"
Kristal menatap Ken, "Menurutmu tiga hari apa sudah cukup untuk membuktikan keseriusanmu? Kamu memang menjauhinya, tapi aku tahu Ken, diam - diam kamu masih mengkhawatirkannya"
Ken terdiam, lebih tepatnya tersudut.
"Jika aku mengkhawatirkan Langit, apa kamu akan keberatan?"
"Kenapa kamu jadi bawa - bawa pria itu! Jangan memancing kemarahanku, Kris" sahut Ken kesal
"Hanya membicarakannya saja kamu sudah kesal, bagaimana denganmu yang dengan nyata perhatian pada gadis lain" Ken kembali bungkam, "Begitulah yang aku rasakan, Ken. Terlepas dari apapun alasanmu, kamu harus memiliki sikap tegas dan membatasi diri untuk tidak menimbulkan perasaan di antara kalian!"
"Sudah aku katakan aku tidak memiliki perasaan untuk Yazna!"
"Kamu tidak tapi Yazna iya! Perasaan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu! Rasa nyaman bisa tumbuh seiring berjalannya kebersamaan! Dan rasa cinta akan datang dengan sendirinya!"
Setelah mengatakan hal itu, keduanya sama - sama diam sampai mereka sampai di sekolah.
__ADS_1
Kristal turun dari mobil begitu saja meninggalkan Ken. Sementara di dalam mobil, Ken memukul stir berkali - kali. Dia mencintai Kristal, tapi ia juga khawatir pada Yazna karena kondisi gadis itu. Ia bersahabat dengan Yazna sejak lama. Rasanya aneh tiba - tiba menjauh dan mengabaikan gadis itu.
Tak mau semakin pusing, Ken segera turun dari mobil dan kebetulan ia berpapasan dengan Yazna. Gadis itu tersenyum ke arahnya, sayangnya Ken justru pergi begitu saja.
"Ken!"
"Ken tunggu!"
Karena terburu - buru, Yazna terjatuh. Dan ia langsung menjadi bahan tertawaan oleh murid - murid yang lain.
Tak tega melihat sahabatnya menjadi bahan tertawaan, Ken berbalik kemudian membantu Yazna berdiri
"Terima kasih, Ken"
"Hm"
Ken berniat pergi namun Yazna kembali memanggilnya,
"Ken"
Pria itu berhenti, tapi tetap menghadap ke depan
"Apa aku melakukan kesalahan padamu? Kenapa kamu menjauhiku?"
Ken menghela nafas, "Maaf Yaz, tapi yang aku lakukan demi kebaikan bersama. Aku harap kamu bisa memahaminya"
Yazna tertegun. Ia ingat, sikap Ken berubah sejak mereka bertemu di resto beberapa hari lalu
"Ini pasti ada hubungannya dengan Kristal. Aku harus berbicara dengannya"
Di jam istirahat, Yazna mencari keberadaan Kristal. Gadis itu mencari ke berbagai sudut sekolah. Dikantin tidak ada, dikelas tidak ada, dan akhirnya Yazna mencari ke perpustakaan karena ingat jika Kristal suka membaca.
Setibanya di perpustakaan, Yazna segera mencari keberadaan Kristal. Benar saja, gadis itu sedang membaca buku disana.
"Hei, apa aku mengganggu?"
Kristal mendongak menatap Yazna. Tanpa menunggu jawaban, Yazna duduk didepan Kristal, membuat mereka saling berhadapan
"Ada apa?" tanya Kristal to the point
"Mungkin obrolan ini akan mengganggumu. Tapi aku harus mengatakannya agar semuanya clear"
"Jika ini mengenai Ken, sebaiknya urungkan saja" sahut Kristal malas
Yazna menggeleng, "Justru ini harus dibicarakan. Aku tidak mau ada kesalahpahaman di antara kita"
Kristal melipat kedua tangannya, "Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?"
Yazna menatap Kristal sejenak, "Ken menjauhiku. Dan aku yakin, semua ada hubungannya denganmu"
Kristal masih mendengarkan apa yang Yazna utarakan
"Aku tidak masalah dengan sikap Ken. Aku paham jika mungkin kamu keberatan dengan kedekatan kami"
"Tidak ada cewek manapun yang rela berbagi perhatian kekasihnya. Termasuk aku. Jujur saja, aku tidak terlalu suka dengan kedekatan kalian. Kamu tahu kenapa, karena setiap dekat denganmu, perhatian Ken akan diberikan padamu. Bahkan ia sampai melupakan keberadaanku!"
"Tapi kami tidak memiliki hubungan apapun. Bukankah Ken juga sudah menjelaskannya padamy?"
__ADS_1
"Meski berkali - kali menjelaskan tentang hubungan kalian, tapi aku tetap tidak bisa menerimanya. Kamu tahu, melihat kekasihmu lebih dekat dengan gadis lain, rasanya menyesakkan. Apalagi diantara kalian berdua ada yang menyimpan perasaan!"
Yazna menatap Kristal cukup terkejut,
"A-aku-"
"Aku bukan tidak apa bagaimana perasaanmu pada Ken. Aku tahu Yaz, kamu menyukainya!" skak Kristal
"Kris, aku-"
"Dari caramu tersenyum, dari caramu bicara dan kebersamaan kalian, aku tahu kamu menyukai Ken. Kamu menyukai kekasihku!"
"Kris!" tegur Ken yang baru saja datang
Kristal menatap Ken santai, lalu beralih menatap Yazna, "Lihat kan? Ken bahkan membentakku hanya karena kamu!"
"Kris, aku tidak bermaksud-"
"Cukup!!" potong Kristal,
Beruntung penjaga perpus sedang berada di kamar mandi dan pengunjung sedang tidak ramai. Jadi hanya beberapa murid yang melihat mereka.
"Aku sudah memutuskan untuk tidak akan meneruskan pertunangan kita!"
"Kris, jangan mengambil keputusan saat emosi. Persiapan sudah hampir selesai. Kamu tidak bisa membatalkannya begitu saja"
"Kenapa tidak, lebih baik batal daripada di lanjutkan tapi kamu masih memikirkan orang lain!"
"Tolong hentikan!!" lirih Yazna, "Aku akan menjauh jika kalian bisa bersama. Akulah sumber masalah dari apa yang kalian hadapi. Aku janji tidak akan berhubungan lagi dengan Ken, tapi aku mohon jangan batalkan pertunangan kalian Kris. Ken sangat mencintai kamu"
"Cinta saja tidak cukup jika perasaannya terbagi. Yang sudah menikahpun bisa berselingkuh. Jadi sebelum itu terjadi, lebih baik aku yang pergi!" tegas Kristal
Ken menarik tangan Kristal menjauh, Ken bahkan tak peduli meski Yazna menitikkan air mata. Pemuda itu membawa kekasihnya ke belakang sekolah, tempat dimana tidak ada orang sama sekali.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Kris? Kenapa kamu mengintimidasi Yazna. Tidak puaskah kamu, aku sudah menjauhinya seperti yang kamu mau! Masih kurang apa lagi?"
Kristal menatap Ken sinis, "Aku mengintimidasi Yazna? Dia yang datang padaku, Ken! Dia! Kenapa seolah - olah kamu menyalahkan aku? Lagipula apa yang aku katakan adalah fakta! Jika dia sadar diri akan posisinya, apa itu juga salahku?!"
"Tapi tidak seperti ini, Kris. Kamu tidak dengar apa yang dia ucapkan. Yazna bersedia menjauhiku hanya demi kamu!"
"Memang begitulah seharusnya! Kamu keberatan?!"
Ken menghela nafas, "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Jika aku ragu, aku tidak akan menajuhi Yazna"
"Kamu memang menjauh, tapi aku tidak bodoh untuk tidak melihat jika kamu masih memperhatikannya!"
"Berapa kali lagi aku harus meyakinkanmu? Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku?"
Kristal memijit pelipisnya, "Jujur aku mulai ragu dengan hubungan ini. Aku ragu untuk menjadikanmu sandaran. Aku ragu untuk menjadikanmu tempatku pulang. Dan aku mulai ragu akan semuanya" lirih Kristal
Ken menggeleng, "Tolong jangan ragukan aku, Kris. Aku benar - benar menyayangi kamu" ucap Ken meyakinkan
Kristal menghela nafas berkali - kali, "Tolong beri aku waktu untuk berfikir dan meyakinkan hatiku lagi. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya"
"Aku akan memberimu waktu, tapi aku harap kamu jangan berubah fikiran"
Aku hanya akan mengikuti kemana takdir membawaku, Ken.
__ADS_1