Diandra

Diandra
Bab 81


__ADS_3

Perkataan Gama terus saja terngiang - ngiang di telinga Saka. Hari ini pekerjaannya selesai dan Saka akan segera pulang. Hanya saja, kali ini ia tak terlalu bersemangat sejak mengetahui kehamilan sang mantan istri. Bukan tak suka mendengar kabar bahagia Diandra, tapi lebih pada penyesalan. Dian memang menginginkan anak sejak lama. Dan kini, impian wanita cantik itu akan segera terwujud. Apa yang Bunda katakan benar, Dian sudah menemukan pria yang tepat. Yang jelas bukan dirinya.


"Apa yang kamu harapkan, Ka. Dian sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Menyesalpun tiada guna"


Saka segera melajukan mobilnya kembali ke Ibukota. Kini kehidupan Saka perlahan mulai membaik. Sejak kelahiran putrinya, Yazna, rejeki mulai menghampirinya. Dia bertemu teman lamanya dan langsung di tawari pekerjaan. Dua tahun sudah Saka kembali bekerja sebagai kontraktor. Walau pendapatan yang diterimanya tak sebesar dulu, setidaknya ekonomi keluarganya lebih baik dibanding dulu.


Menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Saka pun tiba di kediamannya. Ia disambut oleh Bunda dan putri kecilnya.


"Ayah"


"Hai putri Ayah yang cantik. Kamu merindukan Ayah?"


Putrinya itu mengangguk. Yazna tumbuh seperti balita pada umumnya. Hanya saja, ia kesulitan untuk berjalan karena kakinya yang tidak sama. Meski demikian, Yazna merupakan anak ceria dan pintar.


"Ayo masuk, Ayah bawa kue kesukaan Yazna"


Mereka bertiga masuk kedalam rumah, "Vika kemana, Bun?"


"Dia tadi hanya bilang mau belanja. Bunda tidak tahu belanja apa"


"Dan dia tidak mengajak Yazna?"


Hastari menghela nafas, Vika memang menerima bayinya, merawat dan menyayangi Yazna seperti ibu kebanyakan. Hanya saja, Vika tak pernah mau lagi membawa Yazna ke tempat umum sejak putrinya itu dihina.


"Kamu tahu sendiri kan, Ka. Biarkan sajalah. Siapa juga yang mau berdebat dengan istrimu itu"


Saka mendudukkan Yazna di kursinya kemudian memberikan cake kesukaan putrinya itu.


"Makacih Ayah"


Saka tersenyum kemudian mencium pipi sang putri


"Apa ada masalah, Ka? Kenapa wajahmu terlihat kusut begitu?" tanya Bunda


"Aku bertemu dengan Dian dan suaminya"


"Lalu?"


"Bunda benar, Dian sudah menemukan pria yang tulus mencintainya. Kehidupannya terlihat bahagia. Bahkan sekarang Dian sedang hamil"


Hastari tersenyum, "Kita baru akan merasakan penyesalan setelah kehilangan. Tapi semua tidak ada gunanya lagi. Menyesalpun tidak akan merubah apapun. Yang bisa kamu lakukan hanya mendoakan kebahagiaan Diandra"


Saka tersenyum masam, "Bunda benar. Penebusan rasa bersalahku hanya mendoakan kebahagiaan Diandra"


"Semoga Dian selalu di beri kesehatan begitupun dengan bayinya"


🍀🍀🍀


Kabar kehamilan Diandra telah sampai di telinga Mama Clara dan Papa David juga keluarga Damar. Mereka semua begitu bahagia dan bersyukur mendengar kabar kehamilan itu. Mama Clara bahkan meminta Gama segera membawa Dian pulang. Tentu saja Gama tak menuruti permintaan Mamanya itu. Dia masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan istri tercinta.


"Mama bilang apa?"


"Biasalah, dia mulai marah - marah karena aku tak segera membawamu pulang"


Dian tertawa, "Kamu belum mau pulang?"


"Tentu saja tidak. Ini momen langka, Sayang. Mumpung aku sedang tidak sibuk. Jarang kan, kita bisa menghabiskan waktu diluar seperti ini"


"Menghabiskan waktu diluar memang jarang. Tapi kan kita banyak menghabiskan waktu bersama dirumah"


"Ya beda. Dirumah hanya itu - itu saja. Kalau diluar kan bisa menikmati suasana yang berbeda"

__ADS_1


Dian merebahkan kepalanya di perut Gama, "Kira -kira, little by kita laki - laki atau perempuan ya?"


"Apapun jenis kelaminnya, yang penting dia sehat"


"Hm, iya sih. Tapi kamu ingin anak laki - laki atau perempuan?"


Gama mencubit pipi Dian gemas, "Dulu aku pernah punya mimpi, kelak aku ingin punya anak perempuan"


"Kenapa perempuan? Biasanya orang - orang inginnya, anak pertama adalah laki - laki"


Gama tersenyum tipis, "Karena aku yang akan menjadi cinta pertama dari putriku" pria itu tersenyum


"Jika nanti anak kita perempuan, dia pasti bangga punya Papa sepertimu"


"Aku akan berusaha menjaga dan melindungi kaluan dengan baik. Dengan segenap jiwa dan ragaku", Gama mengusap pipi Dian dengan lembut, "Kapan kamu menemui dokter?"


"Emh, tiga hari yang lalu. Awalnya aku tidak yakin jika aku hamil. Aku takut kecewa seperti sebelumnya. Dan aku juga tidak mengalami gejala seperti wanita hamil muda pada umumnya. Tapi rasa penasaran itu terus saja mendorongku untuk pergi. Akhirnya aku menemui dr. Mey. Kamu tahu? Saat mengetahui hasilnya positif, aku terkejut sekaligus terharu. Akhirnya apa yang aku inginkan, Allah memberikannya. Dua tahun bukan waktu yang singkat kan? Banyak kesedihan yang aku lewati apalagi setahun belakangan ini"


"Dan kamu tak membagi kesedihanmu itu padaku"


Dian tersenyum, "Aku hanya tidak mau kamu juga ikut memikirkannya"


Gama menghela nafas, "Kamu tahu? Dalam berumah tangga, bukan hanya kesenangannya yang harus dibagi. Tapi kesedihannya juga. Mengetahui kamu menyimpan semuanya sendiri membuatku merasa seperti suami yang tidak berguna. Aku sedih, marah pada diri sendiri dan ingin sekali aku mengatakan padamu, ada aku yang bisa kamu jadikan tempat berbagi. Tapi aku lemah, aku tak mampu melakukannya karena aku takut kamu pergi karena merasa tidak nyaman denganku"


Dian tertawa, "Kamu terlalu dramatis, Sayang. Mana mungkin aku meninggalkan pria sebaik dirimu. Aku bukannya tak mau berbagi, hanya saja, aku takut jika apa yang menjadi keinginanmu ternyata tidak bisa aku berikan"


"Tapi semua kekhawatiran kita akhirnya sudah berakhir. Allah memberikan kado terindah untuk kita dihari bahagia"


"Kamu benar. Dan aku tak henti bersyukur akan itu"


Mereka berdua saling memeluk satu sama lain. "Kamu mau makan lagi?"


"Oh benar juga ya, hehe"


"Tapi aku mau makan es krim"


"Es krim? Baiklah aku akan meminta karyawan resort membawakannya kemari"


Dian menggeleng, "Aku ingin yang ada di supermarket?"


Gama menatap istrinya sebentar, "Kalau yang ini apa bisa di sebut ngidam?"


"Sepertinya iya"


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi"


Dian terlihat begitu girang, dan itu membuat Gama tertawa. Tak lupa pria tampan itu memakaikan jaket pada sang istri agar tidak kedinginan. Keduanya keluar kamar dan menuju ke minimarket yang ada di seberang resort.


"Terima kasih atas bayaranmu! Aku pergi dulu"


Suara itu terdengar tidak asing, Dian menoleh ke belakang, tepatnya ke arah suara.


Bukankah itu Vika? Kenapa dia memakai pakaian seksi seperti itu? Lalu dimana Saka, pria yang bersamanya tadi bukan Saka.


"Kok berhenti? Kamu lihat apa?"


"Ah ... Tidak. Sepertinya aku salah lihat"


"Jadi beli es krimnya?"


"Tentu saja"

__ADS_1


Dian menyangkal pikirannya, mungkin dirinya memang salah lihat. Keduanya masuk ke dalam minimarket.


"Jadi mau yang rasa apa?"


Dian tampak memperhatikan beberapa es krim yang ada di dalam Ice box. "Yang rasa stawberry saja"


"Satu atau dua?"


"Dua. Untukmu satu" jawabnya menyengir


Setelah membayar es krim tersebut, Gama dan Dian keluar dari minimarket. "Mau makan dimana?"


"Disini saja, biar seperti di drama - drama korea. Makan es krim di depan minimarket"


Gama duduk didepan sang istri, "Kamu mau berlibur ke Korea?"


"Tidak"


"Kenapa?"


"Tuan Gama?" sapa seseorang


Bukankah dia pria tadi? Bathin Dian


"Oh, Pak Nevan. Apa kabar?"


"Aku baik" Pria bernama Nevan itu menatap Dian sekilas, "Dia istri Anda?"


"Ah iya. Kenalkan, Diandra"


"Saya Nevan"


"Diandra"


"Anda sedang liburan juga?" tanya Gama


"Hanya main. Tapi aku sudah mau pulang. Partnerku sudah pulang duluan"


Gama yang sudah paham siapa Nevan sudah mengerti maksud pria tersebut.


"Maaf, tadi aku tidak sengaja melihat Anda dengan seorang perempuan. Wajahnya mirip seperti temanku. Kalau boleh tahu, siapa nama wanita tadi?", Gama menatap istrinya sedikit heran


"Namanya Vika"


Dian dan Gama saling menatap, suami Dian itu kini paham maksud pertanyaan istrinya tadi.


"Kalau begitu aku duluan ya" pamit Nevan


"Tentu"


Begitu Nevan pergi, Dian langsung menatap suaminya. "Mungkin benar tadi memang Vika"


"Maksudmu, istrinya Saka?"


Dian mengangguk, "Mungkin kamu salah orang, Sayang. Lagipula yang namanya Vika banyak. Bisa jadi hanya kebetulan"


"Tapi tadi wajahnya mirip sekali dengan Vika. Tapi pakaiannya seksi" Dian kembali menatap suaminya, "Memangnya partner apa yang temanmu maksud?"


"Partner tidur"


Deg

__ADS_1


__ADS_2