
...HAPPY READING...
...----------------...
Zevania merengkuh dirinya, dia merasa hancur saat dilecehkan oleh Alexander, dan di ambil beberapa fotonya, dengan tubuh polos.
Buliran air mata jatuh bercucuran, Zevania terguncang saat itu juga, hatinya hancur berkeping bagaikan pecahan kaca yang jatuh berserakan.
"Alexanderrrr!" jerit Zevania menangis sejadi-jadinya.
Perlahan Zevania bangkit, mengambil helai
demi helai bajunya. Sambil menangis, sementara fotografer menatapnya penuh nafsu.
***
Sementara Andara mengemudi mobil, mengebut di jalanan. Di ikuti oleh Renita, adiknya.
Lantaran Renita sangat mengkhawatirkan kakaknya itu.
"Ini semua gara-gara kamu Alexander, aku tidak akan memaafkanmu!" lirih Andara di sela mengemudi.
"Aku akan membunuhmu jika memang perlu, bajingan!" umpatnya, namun masih terus mengemudi dengan cepat.
"Sebenarnya kamu mau ke mana kak, siapa sebenarnya yang telah menodaimu?" lirih Renita mengkhawatirkan Andara.
Tanpa Sadar Andara telah keluar dari kota Istanbul, dia melewati jalanan kota dengan penuh emosi kemarahannya di tumpahkan begitu saja.
Hingga dari arah lain terlihat truk dengan sopir yang mengantuk.
TIT-TIT-TIT... Suara klakson di bunyikan oleh pengendara lain, berusaha mengingatkan Andara, namun semua itu tak di dengar olehnya.
Hingga pada satu titik, Andara tersadar bahwa dia akan bertabrakan dengan kendaraan berjenis truk.
"Akhhhhh!" teriak Andara. Membanting stir, bersyukur tidak bertabrakan langsung dengan mobil yang di kendarainya.
BUGHHHH.
Mobil Andara terbang bebas, jatuh ke ladang yang berlumpur.
Namun Andara masih berusaha keluar dari dalam mobilnya.
Sementara truk yang hampir menabrak mobil Andara, menabrak pembatas jalan hingga rontok.
Mobil truk pengangkut tepung sagu itu, jatuh menghalangi jalan.
Serentak para pengguna jalan yang lain pun, menginjak pedal remnya mendadak.
CITTTTT. Bunyi ban mobil mengerem hingga bau sangit, jika tercium baunya.
Renita yang melihat mobil kakaknya terjun bebas ke ladang, ia terkesima hingga lemah lunglai tak berdaya, anggota tubuhnya terasa lemas ketika melihat kakaknya, jadi salah satu yang terlibat dalam kecelakaan itu.
"Kak Dara!" teriak Renita histeris.
__ADS_1
Para pengguna jalan, turun dari masing-masing mobilnya, datang menolong Andara.
Renita berusaha menghubungi mobil ambulance, untuk segera datang ke lokasi kejadian.
Beberapa saat kemudian, terdengar raungan suara ambulance berdatangan, mengangkut para korban kecelakaan.
Setelah mobilnya berhasil di derek, Andara segera di keluarkan dari dalam mobil mewah itu, segera di larikan ke rumah sakit.
Sedangkan Nessa masih menunggu kedatangan dua putrinya di rumah, sesekali Nessa melihat ke arah pintu depan rumahnya.
"Kenapa mereka belum pulang juga sampai sesore ini?" gumamnya mencemaskan kedua putrinya.
Nessa berjalan bolak balik, di dalam rumah. Hatinya tidak tenang sebelum melihat dua putrinya pulang dengan selamat.
"Andara... kenapa kamu harus pergi Nak! Maafkan Mama Dara, semua ini terjadi karena Mama!" gumam Nessa menyalahkan dirinya sendiri.
Kemudian Nessa ke kamarnya lagi, mengambil ponsel, lalu menghubungi Renita.
Namun Renita sangat susah untuk di hubungi.
"Aduhhh... Renita, angkat dong! Kenapa tidak mengangkat telepon dari Momy Nak!" gerutu Nessa.
Hatinya mulai tak tenang, membayangkan hal yang tak memungkinkan.
Sejenak Nessa menarik nafas, perlahan membuangnya.
"Tidak Nessa, Anak-anakmu pasti baik-baik saja," gumamnya
Nessa berusaha meyakinkan dirinya sendiri, berusaha berfikir positif, terhadap keadaan dua putrinya.
*MEDICAL CENTER HOSPITAL*
Renita mengikuti para petugas medis, yang membawa kakaknya Andara.
Buliran air mata jatuh bercucuran dari matanya, membasuh pipi cantik nan putih itu.
"Kak... kamu harus bertahan demi aku dan Momy kak!' lirih Renita.
Hingga akhirnya tiba di Ruang ICU, Dokter dan beberapa suster berdatangan, untuk menangangi Andara.
Sementara para wartawan mulai berkerubung, memenuhi sekitar ruang ICU, mereka bertanya kepada Renita, namun sama sekali tak di tanggapi oleh Renita.
Renita berdiri, menatap nanar kakaknya dari balik pintu kaca ruangan ICU. Andara terbaring lemah, tak sadarkan diri, lantaran Andara jatuh ke ladang yang berlumpur, bersyukur tidak ada luka yang serius.
Namun jiwanya sudah dapat dipastikan, jika terguncang.
DRT-DRT-DRT. Getar ponsel baru terasa oleh Renita, ia mengambil ponsel di saku celananya.
Renita sangat terkejut, melihat telepon dari ibunya hingga ratusan kali.
"Halo Mom's... maaf, baru bisa mengangkat telpon dari Mommy," ucap Renita dengan nada pelan.
"Kamu di mana? kenapa belum pulang, ini sudah larut malam, bagaimana dengan kakakmu?" tanya Nessa di seberang sana, mengkhawatirkan dua putrinya.
__ADS_1
"Mom's, tolong dengerin aku baik-baik. Momy sama Daddy, tolong segera datang ke rumah sakit Medical yah!" ucap Renita meminta Nessa dan Hameed agar menyusulnya.
"Ada apa ini Renita, kenapa Momy dan Daddy harus menyusul kamu ke rumah sakit?" ucap Nessa terbata-bata.
"Kak Andara Mom's... kecelakaan!" lirih Renita.
"Apa kecelakaan," ucap Nessa nyaris terjatuh.
Bersyukur Hameed melihatnya, hingga akhirnya berhasil menopang tubuh istrinya.
"Nessa ada apa ini? kamu kenapa sayang?" tanya Hameed menopang tubuh lemah itu.
Buliran air mata terjun bebas, menyapu pipi cantik perempuan yang sudah tak muda lagi itu, Nessa terjatuh ke pangkuan suaminya.
"Kamu kenapa hemmm... apa yang membuatmu menangis?" tanya Hameed menyeka air mata Nessa.
Namun Nessa tak langsung menjawab pertanyaan suaminya, mulutnya terasa berat untuk menceritakan hal buruk yang telah menimpa putrinya.
DEG.
Hameed mengelus pipi yang di penuhi oleh buliran bening itu, memeluk istrinya berusaha menenangkannya.
Sementara di seberang sana, Renita masih mendengarkan suara ibunya, memastikan bahwa ibunya, masih mendengarkan suaranya.
"Mom's... Momy masih di situ kan? Mom's please, jawab Renita! Jangan buat Renita khawatir Mom's," ucap Renita panik.
Kemudian Hameed penasaran, ia ingin tahu apa sebenarnya yang telah terjadi, sekaligus ingin mengetahui penyebab istrinya menangis.
Hameed mengambil ponsel yang tergeletak di lantai. Melihat panggilan tersebut dari putrinya, Hameed langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo... Renita, ada apa? Kenapa Momy sampai menangis, apa yang kamu lakukan terhadap Momy kamu?" tanya Hameed.
"Dad's... cepat ke rumah sakit Medical, Kak Dara kecelakaan Dad's," ungkap Renita.
Sontak saja hal itu membuat Hameed terkejut, namun ia kuat dalam menghadapi situasi seperti ini.
"Kecelakaan?" ucap Hameed tercengang.
"Iya Dad's... tolong ke rumah sakit yah!" pinta Renita terhadap ayahnya.
"Kamu tunggu di sana, jagain Kakak kamu yah!" ucap Hameed dengan nada suara memelan.
Renita menutup saluran panggilan itu, kembali memandangi Andara yang masih di tangani oleh Dokter.
"Kak... aku mohon bertahanlah, Kak. Masih banyak kisah yang belum kita lalui Kak," liring.
Namun tiba-tiba saja, Renita kepikiran soal laki-laki yang telah menodai kakaknya itu.
"Aku berjanji akan membalas laki-laki kurang ajar itu," gumam Renita merekatkan rahangnya.
Renita sangat murka, dengan kejadian berentet menimpa kakaknya secara bertubi-tubi.
Terlihat selang infus, menusuk ke tangan Andara, dan alat medis lainnya.
__ADS_1