Diandra

Diandra
Bab 50


__ADS_3

"Hati - hati di jalan, Gam. Antar calon mantu Mama dengan selamat"


"Pasti Ma, jangan khawatir"


Clara memeluk Diandra, "Jaga kesehatan, Sayang. Ingat pernikahan kalian tinggal enam hari lagi. Jangan lupa besok untuk feeting baju setelah makan siang"


"Iya, Ma. Aku akan selalu ingat pesan Mama. Besok kita langsung bertemu di butik kan?"


"Iya, tapi biar Gama yang menjemputmu" sahut Clara menatap putranya.


"Aku pulang dulu, Ma. Terima kasih atas perhatian Mama"


"Jangan berterima kasih, Sayang. Kamu kan putri Mama. Sudah seharusnya Mama perhatian padamu, bukan?"


Dian memeluk Mama Clara, "Aku sayang Mama"


Deg


Hati Clara berdenyut mendengar kata sayang dari Diandra. Kalimat itu terdengar tulus. Sebagai seorang ibu, Clara bisa merasakan kerinduan yang Dian rasakan untuk Mamanya. Ditinggal oleh orang yang melahirkan kita tentu bukan hal yang mudah. Di tambah sang Ayah yang pergi memilih wanita lain. Clara tak bisa membayangkan seperti apa hancurnya Diandra kala itu.


"Mama juga sayang padamu. Jangan pernah memendam masalahmu sekecil apapun mulai sekarang. Ada kami keluarga kamu"


"Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan keluarga Mama" lirih Dian tulus


Mata Clara nampak berkaca - kaca, wamita paruh baya itu terlihat menahan air mata "Mama jadi melow kan? Sudah, jangan pernah ada sedih - sedihan lagi. Mulai sekarang kita harus selalu bahagia"


Dian terkekeh, "Mama benar. Ya sudah, aku pulang dulu ya, Ma"


"Iya, Sayang. Hati - hati di jalan"


Clara melambaikan tangannya begitu mobil Gama mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah.


"Benar kan yang aku katakan. Kamu dan Mama akan jadi partner yang cocok dalam segala hal"


Dian mengangguk setuju, "Mama orang yang sangat menyenangkan. Dia juga tegas dan cerdas" puji Diandra


"Mama wanita yang sangat lembut. Tapi dia bisa menjadi wanita keras dan tegas jika ada yang mengusik keluarganya"


"Aku percaya itu. Aku melihatnya sendiri tadi. Cilla dan Mamanya pasti kena mental"


"Kita harus baik pada semua orang. Tapi jika kebaikan kita di salah gunakan, tentu kita harus bertindak tegas"


Tanpa mereka sadari, keduanya sudah mulai akrab. Banyak hal yang saling mereka ceritakan. Bahkan perjalanan yang lumayan panjang terasa sebentar karena keduanya asyik bercengkrama sejak tadi.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Kamu mau mampir?" tawar Dian pada Gama


Gama berdecak, "Seharusnya bukan ketika aku mengantarmu ke kantor kamu memintaku mampir, tapi saat aku mengantarmu pulang ke rumah!"

__ADS_1


"Hahah, kenapa aku merasa kamu lebih sensitif hari ini?"


"Masuklah, aku yakin banyak orang yang mencarimu hari ini. Kamu menghilang seharian kemarin"


Dian menatap Gama curiga, "Kamu menyuruh orang untuk memata - mataiku?"


"Tidak! Untuk apa? Aku hanya menduga saja"


"Kamu bohong! Aku tahu, pasti kamu menyembunyikan sesuatu kan?"


Gama menatap Dian, "Kamu punya urusan dengan beberapa orang yang belum selesai. Tentu mereka akan mencarimu!"


Dian mengangguk, "Kamu benar juga"


"Berhentilah kalau kamu sudah merasa tujuanmu telah tercapai"


"Aku rasa itu bukan urusanmu!" sahut Dian sedikit tidak suka


"Kamu boleh balas dendam, itu hak mu. Tapi semua itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Tidak ada kebahagiaan yang akan kamu dapatkan"


Dian menatap Gama sinis, "Apapun yang aku lakukan, semua tidak ada hubungannya denganmu. Jadi berhenti mengatur hidupku! Aku salah sempat mengira kamu orang yang bisa mengerti aku! Tapi nyatanya aku salah!"


Gama menghela nafas, "Aku hanya mengkhawatirkanmu, Di. Kamu-"


"Aku tidak butuh rasa khawatir darimu! Bahkan sejak awal pun, aku baik - baik saja tanpa bantuan siapapun!"


Dian segera memasuki kantornya tanpa menatap ke arah Gama. Ia kesal pada pria itu.


"Astaga! Diandra! Darimana saja kamu, hah!!? Tidak pulang, ponsel juga tidak aktif!!" omel Rani dengan wajah garangnya


"Panjang ceritanya, Ran. Akan aku ceritakan nanti. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. Aku tidak punya banyak waktu!"


"Apa maksudmu kamu tidak punya banyak waktu? Apa terjadi sesuatu? Kenapa belakangan ini kamu menyimpan banyak sekali rahasia, Di!"


Dian tak begitu merespon pertanyaan Rani. Dia tidak mau menjadi perhatian para karyawan yang mulai menatap mereka. Jadi Dian memilih segera menuju ke ruangannya. Tentunya dengan Rani yang mengekor di belakangnya


"Sayang, Diandra mulai bermain rahasia - rahasiaan pada kita!" lapor Rani pada suaminya dengan kesal


"Bang, terima kasih sudah menghandle pekerjaanku"


Rani melipat kedua tangannya di dada. "Apa sekarang aku tidak penting lagi bagimu, Di?"


Astaga, Dian baru saja duduk, tapi bumil yang satu ini malah baperan. "Aku hanya tidak mau membuatmu khawatir, Raniku Sayang! Kamu sedang hamil. Yang terpenting adalag kesehatanmu dan bayimu!"


Tok Tok Tok


Mereka saling lirik sejenak, "Ya masuk"

__ADS_1


"Maaf Bu, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda"


"Siapa?" tanya Tri


"Namanya Tuan Rey"


Diandra menatap Rani sekilas. Sudah lama juga pria itu tak merecoki hidupnya. Sekarang apa yang dia inginkan?


"Baiklah, suruh Dia masuk"


Tak berselang lama, Rey mamasuki ruangan Diandra.


"Long time no see, Kak Rey! Bagaimana kabarmu dan apa yang membawamu kemari?"


Rey menatap Dian dengan penuh kerinduan. "Aku datang karena aku ingin memenuhi ucapanku dulu padamu"


Dian terlihat bingung, "Ucapanku? Ucapanku yang mana ya?"


"Tentang keseriusan. Kamu berkata akan mempertimbangkan kembali cintaku jika aku membawa Almira padamu"


Dian kembali menatap ke arah Rani dan Tri bergantian. "Oke, sepertinya aku pernah mengatakannya. Lalu?"


Rey menghela nafas, "Aku membawa Almira kemari untuk menemuimu" Dian sedikit terkejut, "Benarkah?"


"Al, masuklah"


Semua orang mematap ke arah pintu, beberapa detik kemudian, muncullah seorang wanita cantik dengan wajah sendunya.


"Selamat pagi, Diandra" sapanya


"Oh, selamat pagi. Kalau begitu silahkan duduk"


Almira melangkah dengan anggun, tampilannya modis dan kekinian. Istri Kak Rey sangatlah cantik. Tapi wajahnya terlihat sedih


"Kami pergi dulu, Di" pamit Tri pada akhirnya


Setelah kepergian Rani dan Tri, Dian menyusul Almira dan Rey yang sudah duduk di sofa


"Jadi, apa yang bisa aku bantu?"


Almira menatap Diandra lamat, lalu menghela nafas, "Perkenalkan aku Almira, mantan istrinya Reyhan"


Dian menatap Rey yang terlihat cukup terkejut.


"Kedatanganku kemari atas permintaan Rey. Tapi kalau boleh memohon-" Almira menjeda kalimatnya, "Aku mohon, relakan dia untukku!"


"ALMIRA!!"

__ADS_1


__ADS_2