
Livia seketika mati kutu begitupun dengan Cilla. Keduanya bungkam setelah Dian mampu menekan mereka.
"Kita pulang sekarang!" putus Aditama
Cilla terlihat berat meninggalkan rumah Gama. Impiannya hancur sudah bahkan setelah ini mungkin dirinya akan mendapat cibiran dari orang - orang. Bagaimana dia akan menghadapi hujatan masyarakat?
"Jangan senang dulu! Aku tidak akan membiarkan kalian semua bahagia!" ancam Livia
Lihat saja, akan kubalas semua penghinaan kalian suatu saat nanti. Janji Cilla dalam hati
Gadis itu berlari meninggalkan rumah Gama di ikuti oleh Livia. Sementara Aditama, dia nampak menghela nafas berat.
"Terima kasih sudah mau menyaksikan pernikahanku, Tuan Aditama. Tapi semua masih belum berakhir! Anda pasti pernah mendengar istilah, luka dibalas luka. Pengkhianatan di balas pengkhianatan dan nyawa ... Dibalas nyawa!"
Deg
"Lakukan apapun yang kamu mau untuk memuaskan balas dendammu!", Aditama meninggalkan kediaman David.
Setelah kepergian Aditama, keluarga David menemui para tamu. Acara berlangsung hingga pukul sepuluh pagi.
"Kami pulang dulu. Kalau ada apa - apa, segera hubungi kami" pamit Damar dan istrinya
"Tentu. Terima kasih sudah hadir. Maaf kalau harus di selingi drama dulu" sahut David
Damar tersenyum, "Tidak apa. Anggap saja kita sedang syuting sinetron"
Dian terkekeh mendengar jawaban Pamannya. "Terima kasih, Paman, Bibi sudah hadir dalam pernikahanku. Kalian selalu saja ada untukku. Aku menyayangi kalian berdua"
"Jadi hanya orang tuaku saja yang kamu sayang? Aku tidak?" celetuk Rani
"Bumil juga"
Yasari memeluk Dian, "Kamu sudah menemukan keluarga yang baik. Keluarga yang menerima dan menyayangimu dengan tulus. Kamu juga sudah menemukan pria yang baik sebagai suamimu. Bibi harap kali ini kebahagiaan menyertaimu"
"Terima kasih atas doanya, Bi. Bibi benar, aku begitu beruntung sudah bertemu dengan keluarga ini. Mereka sangat baik dan juga menyayangi aku dengan tulus. Tapi aku tetap tidak akan melupakan kalian. Kalian juga keluargaku"
Yasari melerai pelukannya kemudian menatap Gama, "Aku titip Dian padamu, Nak. Sekarang dia adalah tanggung jawabmu. Jaga dia dengan baik. Sayangi dia dengan tulus. Bimbing dia dan tegur dia jika dia salah"
"Tentu, Bibi. Aku akan menjaga dan menyayangi Dian sebaik yang aku bisa"
Yasari mengangguk, "Kamu harus banyak bersabar menghadapinya"
Gama terkekeh, "Pasti"
__ADS_1
Kini giliran Rani yang memeluk sahabatnya, "Selamat Di. Aku berdoa semoga Gama adalah kebahagiaanmu yang terakhir"
"Thank you, bestie"
"Jaga Dian dengan baik" ucap Rani pada Gama
"Kamu tidak perlu khawatir"
Yasari menghampiri Clara dan David. "Terima kasih karena kalian mau menerima Dian dengan sangat baik. Mulai sekarang, aku titipkan dia pada kalian berdua. Anggap dia seperti anak kalian sendiri"
"Tentu Bu. Tanpa diminta pun, kami sudah menganggap Dian sebagai putri kami sendiri"
"Kami lega mendengarnya. Kalau begitu, kami pamit" kali ini Damar yang menjawab
"Hati - hati di jalan"
Mobil yang membawa keluarga Damar perlahan meninggalkan halaman rumah David.
"Satu acara selesai. Tinggal acara resepsi besok. Sebaiknya sekarang kalian istirahat di kamar. Kami juga akan beristirahat" tutur Clara
Dian mengangguk, ia dan Gama berjalan menaiki tangga menuju ke lantai atas. Tentu saja kamar Gama. Begitu membuka pintu, keduanya langsung bertatapan. Entah kapan kamar itu dihias. Dekorasi kamar pengantin lengkap dengan taburan bunga juga gorden yang di desain khusus untuk pengantin baru. Jika Gama memasuki kamar dengan santai, berbeda dengan Dian yang cukup dibuat risih melihatnya.
"Pasti ini kerjaan Mama"
"Apa yang kamu lihat?"
Istri Gama itu menatap suaminya sekilas, "Semua orang tampak membereskan sisa dekorasi. Aku yakin, Livia pasti marah - marah pada mereka"
"Apa kamu senang?"
"Biasa saja"
Gama duduk di sofa, "Sebenarnya aku memimpikan pernikahan sakral yang hikmat"
Dian kembali menatap suaminya, "Memangnya tadi kurang hikmat?"
Pria itu terlihat menghela nafas, "Kenapa harus ada drama segala?"
"Aku hanya ingin Cilla sadar, bahwa tidak semua yang dia inginkan bisa dia dapatkan"
"Itu memang benar. Tapi dengan cara seperti itu, aku yakin Cilla dan Mamanya akan semakin membencimu"
"Aku sudah biasa di benci orang lain"
__ADS_1
"Dan kamu merasa senang?"
Dian membuka anting dan hiasan di kepalanya, tanpa diminta Gama berjalan ke arah Dian, membantu sang istri melepas mahkota yang sejak tadi tersemat di kepala.
Dian menatap suaminya di balik pantulan cermin
"Aku selalu berbuat baik pada semua orang. Dan aku tidak pernah berharap mereka akan membalas kebaikanku. Itu saja. Tapi banyak dari mereka yang justru memberiku luka yang menyakitkan. Jika perbuatan baikku dibalas menyakitkan, salahkan aku membalasnya?"
Hiasan kepala Dian terlepas sempurna, rambut yang tadi di sanggul kecil kini terutai indah.
"Apa dengan membalas perbuatan mereka kamu merasa bahagia? Balas dendam hanya akan menyakiti diri sendiri" Gama memegang pundak Dian, "Lihatlah dirimu di cermin"
Dian pun menatap dirinya sendiri,
"Apa yang kamu lihat?" tanya Gama
"Diriku sendiri"
"Seperti apa dirimu menurutmu sendiri?"
Dian menatap Gama lalu tersenyum, "Kamu mau aku menilai diriku sendiri?"
"Perhatikan dirimu dengan baik" Gama sekali lagi meminta Dian menatap dirinya sendiri. "Kamu cantik. Kamu mandiri. Kamu wanita karier. Selain itu kamu juga bisa mengurus rumah tangga. Tidak semua wanita bisa sepertimu. Kamu wanita hebat dimataku. Dan kamu begitu hebat karena mampu bertahan di tengah masalah yang tidak semua orang bisa mengatasinya. Kamu terlalu berharga untuk terus - menerus terluka, Di. Jika kamu menyayangi dirimu, berhenti menyakiti diri sendiri"
Ada rasa haru mendengar apa yang Gama ucapkan. Gama benar, balas dendam hanya akan menyakiti diri sendiri. Tapi melupakan dan mengikhlaskan semuanya, rasanya masih belum rela.
"Tapi aku bukan malaikat, Gam. Aku masih belum sepenuhnya ikhlas"
Gama duduk bersimpuh di depan Diandra. "Aku tidak akan memaksamu berhenti sekarang. Tapi kalau boleh aku meminta, belajarlah merelakan semuanya dengan perlahan. Aku yakin, hidupmu akan jauh lebih tenang dan damai"
Dian menatap Gama lekat, "Aku tidak mau berjanji. Tapi mungkin, akan kulakukan perlahan"
Gama tersenyum, "Aku tahu kamu adalah wanita yang baik. Dan aku yakin kamu akan menjadi istri dan ibu yang baik untukku dan anak - anak kita kelak"
Pernyataan Gama membuat Dian sedikit salah tingkah, "Gam, aku-"
"Aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu sampai kamu bersedia dengan sendirinya"
"Maaf" ucap Dian penuh sesal
Gama mengusap tangan Dian dengan lembut, "Bukankah aku berjanji akan berjuang? Aku akan sabar, Di"
"Tapi-"
__ADS_1
"Aku tidak hanya akan berjuang menyembuhkan traumamu. Tapi aku juga akan membuatmu mencintaiku"