
Tibalah hari dimana resepsi pernikahan Gama dan Diandra di gelar. Seluruh keluarga sudah berada di gedung sejak pagi. Termasuk si pengantin sendiri. Dian tengah dirias oleh MUA sejak tiga puluh menit yang lalu. Dan Gama tampak memperhatikan istrinya. Riasan belum sempurna saja, Dian terlihat begitu cantik. Apalagi nanti setelah riasan selesai.
"Suaminya dari tadi liatin terus, sis. Kelihatan sih, kalau dia sayang banget sama kamu" celetuk MUA
Dian menatap Gama dari pantulan cermin, dan tatapan mereka bertemu beberapa saat. Gama langsung tersenyum pada Diandra.
"Tuh, kan. Dia langsung senyum. Tipe - tipe suami bucin, tuh"
Dian terkekeh, "Dia tampan kan?"
Si MUA mengangguk, "Nggak cuma tampan sih, kelihatan gagah juga. Lihat tuh ototnya, uh... keren!"
Dian menatap MUA kemayu itu, "Dia memang keren"
"Oke, done. Sekarang tinggal pakai bajunga saja"
Dian berdiri menatap wajahnya yang sudah selesai di rias lalu tersenyum. Ia kembali mengingat apa yang kemarin Gama ucapkan.
"Bung, ini si cewek mau pakai baju. Anda tetep mau di situ?" tanya MUA pada Gama
"Apa aku harus keluar? Aku suaminya"
Dian melirik Gama
"Ya udah, kamu disitu aja nggak papa"
Gama berjalan mendekat, si MUA membawa pakaian Dian di dekat wanita itu. "Sekarang buka dulu bathrube nya"
Dian menurut, ia membuka bathrube yang ia kenakan hingga terpampanglah bustier dan hotpant yang menempel indah ditubuhnya. Kulit Dian yang putih dibalut pakaian minim, Dian terlihat seksi dan menggoda.
"Tahan ilernya, Bung" goda MUA, dan tentu saja langsung mendapat tatapan tajam dari si empunya. "Ish, serem juga" ucapnya melihat bagaimana tajamnya tatapan Gama, "Oke sis, masuk ke sini dulu" MUA mengarahkan Dian untuk memasuki gaun bagian tengah. Setelah berada di tengah gaun, perlahan MUA menarik gaunnya ke atas, "Masukin tangannya"
"Done, so perfect!"
Gaun sudah terpasang sempurna di badan Diandra. Kini wanita itu menjelma bak sosok putri dari kerajaan dongeng. Terlihat sempurna.
"Oke, giliran si pria sekarang"
Gama segera berganti pakaian yang senada dengan gaun yang di kenakan sang istri.
"Apa pengantinnya sudah siap?" tanya Clara, "Ah, Sayang. Kamu sangat cantik sekali. Mama sampai pangling"
"Mama bisa saja" sahut Dian tersenyum
Clara menatap Gama yang tengah di rapikan tuxedonya. "Putra Mama juga sangat tampan. Kalian berdua pasangan yang sangat serasi. Jadi tidak sabar pengen segera nimang cucu. Pasti anak kalian nanti tampan dan cantik"
Gama menatap Dian, "Doakan saja, Ma"
"Sudah siap kan? Acaranya akan segera dimulai"
Gama mengulurkan tangannya, dan diterima oleh Diandra. Keduanya berjalan melewati koridor menuju ke Ballroom hotel.
"Dan, inilah dia. Kita sambut mempelai pengantin, Gama dan Diandra!"
Para tamu undangan berdiri ketika kedua mempelai memasuki ruangan. Decak kagum mereka lontarkan pada keduanya karena selain pasangan yang serasi, Keduanya tampan dan cantik. Gama dan Dian menjelma bak pangeran dan ratu seperti cerita dalam dongeng.
Acara demi acara berlangsung dengan meriah, serangkaian prosesi telah mereka berdua lewati. Kini keduanya berdiri di atas pelaminan untuk menyalami para tamu undangan.
__ADS_1
"Aku belum mengatakan, kan? Kamu terlihat cantik malam ini" bisik Gama diiringi senyuman manis yang membuat pria itu terlihat begitu mempesona.
Dian menatap suaminya tak percaya, "Sekarang kau mulai menunjukkan sifat aslimu sebenarnya?"
"Apa?"
"Tukang gombal!"
Gama terkekeh, "Apa ada yang salah jika seorang suami memuji istrinya sendiri?"
"Tidak. Hanya saja jika yang memuji adalah dirimu, rasanya terdengar aneh"
"Selamat untuk kalian berdua! Aku berdoa kalian langgeng sampai tua. Dan yang penting, segera memperoleh keturunan!" ucap Darwin dengan tulus
"Thanks, Bro"
"Selamat untuk kalian berdua. Semoga keluarga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah" ucap istri Darwin
"Terima kasih banyak atas doanya"
"Terima kasih atas bantuanmu, Di. Berkat promosi darimu, usahaku semakin banyak peminatnya. Aku tidak akan pernah melupakan jasamu. Terima kasih juga untukmu kawan" Darwin kembali berucap dengan tulus
"Benar, terima atas atas bantuan kalian berdua. Usaha suamiku semakin berkembang"
"Sama.-.sama. Semoga ke depannya usaha kalian semakin berkembang lagi"
"Win, cepat sedikit! Banyak yang ngantri di belakang!" seru Ramlan
"Sabar cerewet! Ya sudah. Sekali lagi selamat ya. Doa terbaik untuk kalian berdua!"
"Thanks Win, nikmati pestanya ya"
"Terima kasih atas doanya"
"Istriku titip salam, maaf tidak bisa datang"
"Kami paham, usia kandungannya sudah bulan ke sembilan kan?"
"Aku turun dulu, maaf tidak bisa lama - lama"
"Tentu. Terima kasih sudah hadir"
Para tamu tidak hanya di manjakan dengan hiburan yang di isi oleh artis ibukota. Lidah paera tamu juga di manjakan dengan 50 macam hidangan yang tersaji di atas meja prasmanan. Acara berlangsung sangat meriah.
"Rani akan menyanyi"
Dian menatap sahabatnya, "Astaga. Padahal suaranya bisa membuat telinga orang sakit"
Gama tertawa pelan, "Biarkan saja. Yang penting bumil senang"
"Ya kamu benar"
Acara berlangsung hingga pukul sembilan malam. Satu persatu para tamu meninggalkan ballroom hotel. Sedangkan para keluarga, kini mereka beristirahat di kamar yang sudah di sediakan.
Dian dan Gama? Mereka berdua juga sudah berada di dalam kamar pengantin.
"Duduklah, kita makan dulu sebelum beristirahat" ucap Gama
__ADS_1
Dian masih menatap ponsel miliknya
"Ada apa?"
"Aditama mengajak istri dan anaknya pindah ke luar negeri"
"Benarkah?"
"Hm"
"Kamu mau membuka gaunmu?" tanya Gama
"Hm", lagi - lagi hanya deheman yang Dian berikam sebagai jawaban
Gama membantu Dian membuka kancing belakang gaunya. Kemudian memakaikan bathrube pada sang istri setelah gaun terlepas sempurna.
"Sekarang ayo kita makan. Tadi kita belum sempat makan apapun"
Dian mengangguk, dia memang sedikit lapar.
"Kamu suka kopi, kan?"
"Dengan sedikit gula"
Dian membuatkan kopi untuk suaminya. Sesuai permintaan Gama tentunya.
"Ini kopinya"
"Terima kasih, istriku"
Keduanya menyantap hidangan yang ada dengan santai
"Ada yang ingin aku katakan padamu"
Gama menatap sang istri, "Apa sesuatu yang penting?"
Dian tampak ragu, "Bisa dibilang penting juga"
"Baiklah. Apa yang ingin kau katakan?"
"Aku ... Sebenarnya beberapa bulan ini aku berkonsultasi dengan seorang psikolog"
"Lalu?"
"Kamu tidak terkejut?"
Gama tersenyum, "Bukankah pernah aku katakan, aku tahu semuanya tentangmu"
"Ah, aku lupa siapa dirimu"
"Lanjutkan ceritamu"
Dian kembali terlihat ragu, melihat hal itu, Gama berpindah duduk disamping istrinya. "Ada apa, hm?"
Tatapan teduh Gama membuat Dian sedikit merasa tenang. "Aku hanya trauma atas sebuah hubungan", Gama masih menatap teduh sang istri, "Tapi aku tidak pernah trauma tentang-"
"Tentang?", alis Gama terangkat sebelah
__ADS_1
"Making Love" bisik Dian