
Vika menatap dari jauh rumah yang ia tinggalkan sejak kemarin. Ingin sekali ia masuk, namun rasa malu dan gengsi lebih menguasai dirinya.
Setelah meninggalkan apartemen Nevan, Vika mau tak mau harus membuka ponselnya. Dengan keberanian tinggi, ia berusaha menghilangkan raaa takut tentang hal yang ia khawatirkan. Vika bisa bernafas lega karena tidak ada pemberitaan apapun mengenai dirinya. Rupanya, yang Gama ucapkan kemarin hanyalah gertakan belaka.
"Sedang apa kamu berdiri disini?!"
Tubuh Vika membeku saat mendengar suara sang mertua. Ia berusaha menetralkan rasa terkejutnya lalu menatap ibu dari suaminya itu. Perempuan paruh baya itu menenteng dua kresek belanjaan.
"Aku kebetulan hanya lewat"
"Hanya lewat? Kamu yakin?" cibir Hastari
Vika menatap wanita itu malas, "Memangnya kenapa kalau aku lewat disini? Apa ada larangannya?"
Hastari berlalu meninggalkan menantunya, namun setelah beberapa langkah, ia berhenti kemudian menoleh ke arah samping, "Kalau mau pulang, pulang saja. Hilangkan gengsimu itu. Yazna juga merindukan ibunya!"
Deg
Mendengar nama Yazna, hati Vika bergetar. Bagaimanapun, ia seorang ibu. Ibu yang menyayangi putrinya.
Setelah menghela nafas berkali - kali, akhirnya Vika memutuskan pulang. Setibanya di depan rumah, ia bisa melihat putrinya sedang duduk di teras.
"Yazna"
Putri kecilnya itu menoleh, "Unda", dengan langkah ngesot, Yazna berusaha menghampiri ibunya. Vika yang melihatnya merasa sedih, ia akan menghampiri sang putri, namun Yazna sudah lebih dulu di ambil oleh Saka.
"Mas"
"Kamu masih berani pulang?"
"A-apa maksudmu. Apa aku tidak boleh pulang?"
Saka menatap Vika datar, ia membawa Yazna masuk kemudian di ikuti Vika di belakangnya. Saka menyerahkan Yazna pada Bunda, kemudian menarik tangan Vika keluar rumah. Hastari merasa bingung dengan sikap putranya, namun ia tak berani bertanya karena Saka terlihat marah.
"Mas, kamu mau bawa aku kemana?" tanya Vika saat Saka memasukkannya ke dalam mobil.
Melihat sikap Saka, firasat Vika sudah tidak enak. Apa mungkin ada hubungannya dengan ancaman suaminya Diandra?
__ADS_1
"Mas, sebenarnya kamu mau bawa aku kemana?"
Cit
Duk
"Awwh" seru Vika ketika dahinya terpentur dasboard. Ia menatap Saka dengan kesal, "Sebenarnya kamu ini kenapa, hah?!"
"Sejak kapan?" tanya Saka datar
"A-apa maksudmu?"
Saka menatap istrinya tajam, "Sejak kapan kamu menjadi simpanan duda itu?!"
Deg
Bibir Vika terasa kelu, bahkan untuk membantah apa yang Saka katakan, ia tak mampu.
"Sebenarnya apa yang ada dalam otakmu hingga kamu melakukan hal itu! Berapa yang kamu terima dari pria brensek itu!"
Saka tertawa sinis, "Kamu masih mau membantah? Jangan berkelit, Vik. Aku sudah tahu semuanya!!"
"Tapi aku benar - benar tak tahu apa yang kamu bicarakan, Mas. Siapa yang sudah memfitnahku? Katakan siapa orangnya?!" tantang Vika
Saka mengusap rambutnya frustasi, ia kecewa. Sangat kecewa. "Kamu tahu? Aku bahkan lebih memilihmu daripada Diandra! Aku mengkhianati dia hanya demi bersamamu! Tapi ini balasan yang aku terima?"
"Oh, jadi Diandra orangnya?"
"Jangan menuduh orang lain! Kamu sendirilah yang salah! Kamu masih mau membantahnya? LIHAT INI!!"
Saka melemparkan ponselnya pada Vika, benar saja, videonya bersama Nevan sudah sampai ke tangan Saka. Gama sialan! Tenyata dia tak menyebarkan video itu melainkan langsung memberikannya pada Saka.
"Kamu percaya dengan ini? Semua ini fitnah!"
"Fitnah? Fitnah darimana? Suara bahkan tubuh dan wajah di pelaku wanita adalah kamu! Kamu!! Tidak ada satu hal pun yang bisa kamu sangkal!"
"Kamu lebih percaya orang lain dan video itu? Sekarang semua serba canggih, Mas. Itu video editan!"
__ADS_1
Saka tertawa, istrinya masih saja menyangkal yang sebenarnya terjadi
"Aku kecewa padamu, Vik! Aku sungguh tak percaya kamu tega melakukan ini. Kamu tahu, aku menerimamu apa adanya. Bahkan aku tega menyakiti Diandra hanya untuk memilihmu. Bahkan aku memilihmu untuk mengandung anakku, walau kenyataannya, putriku lahir tidak sempurna!"
Deg
Jantung Vika berdebar begitu keras. Ia tak menyangka Saka akan mengucapkan hal itu tentang putrinya.
"Jadi kamu menyalahkan aku atas kecacatan Yazna? Tanya Vika lirih
Saka menatap sang istri. "Aku tak menyalahkanmu! Kamu tahu betul bagaimana aku menerima dan menyayangi Yazna. Hanya saja,seharusnya kamu bisa berpikir setelah semua yang terjadi! Dengan lahirnya Yazna seperti itu, Allah sedang menegur kita. Kita sudah berbuat dosa! Kita sudah menyakiti banyak orang! Seharusnya kita bertaubat. Menyadari kesalahan yang kita lakukan dan memperbaiki diri. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu justru membuatku kecewa dengan hal apa yang kamu lakukan. Kamu tak ubahnya wanita malam, Vik! Kamu menjual diri hanya karena kesenangan semata!"
"Aku tidak menjual diri!! teriak Vika tak terima.
"Oh ya, tidak menjual diri? Lalu apa yang kamu lakukan selama dua tahun ini? Apa kamu sudah menikah dengan duda itu?" tanya Saka sinis
"Aku tidak pernah menikah dengan pria lain selain denganmu Mas! jangan menuduh sembarangan!"
Saka mengangguk, "Kamu tidak menikah dengannya bukan? Itu artinya kamu melakukan perbuatan zina, Vik! Kamu tak ubahnya wanita yang menjual dirinya!" Saka berusaha menahan amarahnya.
Vika menatap suaminya kecut, "Aku tidak menjual diri, Mas!! Sudah aku katakan berkali-kali aku tidak menjual diri!! Aku terpaksa melakukannya! Aku melakukan semua itu karena desakan hidup! Aku butuh uang! Aku harus memenuhi kebutuhanku karena kamu sendiri belum bisa memenuhi semua kebutuhan yang aku inginkan! Aku jenuh. Aku lelah dengan keadaan kita!"
Vika mengeluarkan segala keluh kesahnya. "Kamu tahu? Berapa susu yang Yazna habiskan dalam seminggu? Berapa banyak kebutuhan dapur yang harus kita beli! Kamu pikir, dari mana uang untuk semua itu? Siapa yang membantu keuangan keluarga kita kalau bukan aku!"
Saka tertawa masam, jujur ia sakit hati atas apa yang baru saja istrinya katakan. Artinya, Vika melakukan semua ini karena dirinya! Dialah alasan Vika menjual tubuhnya pada pria lain. Sebagai seorang suami, Saka merasa harga dirinya di nodai.
"Kamu benar, Vik. Semua terjadi karena aku tak mampu memenuhi semua kebutuhanmu. Aku juga tak pernah bertanya berapa banyak kebutuhanmu dan juga Yazna. Untuk itu, aku minta maaf"
"Mas-"
Saka menatap Vika kemudian tersenyum, "Selama hidup bersamaku, kamu pasti sangat menderita kan? Aku tulus meminta maaf dan setelah ini, kamu bisa mencari pria lain yang tentunya lebih baik di banding aku!"
"A-apa maksudmu, Mas. Kamu-"
"Avika Saraswati, aku mentalakmu! Mulai sekarang, kamu bukan istriku lagi!!"
"T-tidak mungkin!"
__ADS_1