Diandra

Diandra
Perkelahian


__ADS_3

...HAPPY BIRTHDAY...


...----------------...


"Aku tidak sedikit pun, ingin menyakiti Kakakmu Renita!"


"Lantas... apa sekarang yang telah kamu perbuat sekarang, ha!" sentak Renita, menatap tajam pada pria bule berperawakan tinggi itu.


Alexander terdiam tanpa bisa berkata apa-apa lagi, lantaran yang di katakan oleh Renita memang benar, dirinya itu penyebab penderitaan Andara.


Kemudian Renita meminta pada Alexander untuk meninggalkan rumah sakit itu, dan melupakan kakaknya.


"Pergi dari sini, dan jangan pernah bermimpi kau akan mendapatkan cintanya Kak Dara!" usir Renita terhadap Alexander.


"Baik, aku akan pergi! Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak akan menyerah sampai di sini!" tegas Alexander berjalan meninggalkan Renita.


Alexander sangat kecewa dengan perlakuan keluarga Andara kepadanya, namun ia tidak bisa menyalahkan mereka.


Lantaran ini semua karena ulahnya sendiri.


"Aku akan mendapatkan cintamu Andara, apapun akan kulakukan, semuanya demi mendapatkan kamu!" gumam Alexander.


Sementara Hameed baru menyelesaikan mandi, terlihat berjalan gontai di koridor rumah sakit, menghampiri Renita putrinya.


"Re... kenapa kamu berada di luar Nak?"


Renita tersadar lalu menoleh. "Dad's... enggak , kebetulan aku hanya ingin di luar sebentar!" ucap Renita.


"Owh... begitu ya! Ayo kita masuk, kita lihat keadaan Kakakmu!" ajak Hameed terhadap putrinya, sambil merangkul bahu putrinya itu.


"Ayo!" ucap Renita melangkahkan kakinya, bersama Hameed ayahnya.


Hameed perlahan berjalan mendekati putri sulungnya, Andara. Mengecup puncak kepalanya serta mengelusnya.


"Jangan buat Daddy dan Momy khawatir lagi sayang," kata Hameed tersenyum.


"Maafkan Dara ya Dad's... Dara tidak bisa menjaga diri Dara sendiri, Dara sudah kotor Dad's!" lirih.


"Sssst... Anak Daddy tidak boleh menangis, semua ini ujian dari Tuhan sayang, kamu tidak boleh menyalahkan diri kamu sendiri!" ucap Hameed menguatkan putrinya.


Nessa pun ikut menguatkan Andara putri sulungnya, meskipun dia bukan putri kandungnya, tapi Nessa sangat menyayanginya lebih dari apa pun di dunia ini.


"Dara... benar kata Daddy kamu. Semua ini bukan salah kamu Nak, kamu hanyalah korban, kamu harus kuat ya kamu tidak sendirian sayang," lirih Nessa memeluk Andara.


"Benar kata Momy Kak, kamu tidak sendirian. Kita keluarga lain kali kalau punya masalah Kaka cerita sama aku ya," ucap Renita menggenggam erat tangan Andara.


Andara tidak kuat menahan tangisnya, seketika pecah begitu saja ia terharu atas perlakuan adik dan ibunya, yang selalu dia anggap tak menyayanginya.

__ADS_1


Buliran bening melintas membasahi wajah cantik tanpa polesan make up itu.


"Hey... kenapa kamu menangis? Sudah cup-cup-cup!" ucap Hameed menyeka buliran air mata dari putrinya.


"Dara terharu Dad's, padahal selama ini Dara selalu bersikap cuek pada Mama dan Renita, Dara selalu menganggap Mama tidak menyayangi Dara, tapi ternyata Dara salah menilai mereka," lirih.


Dengan air mata bercucuran Andara menatap adik dan ibu sambungnya.


"Mama... maafkan Dara ya, atas sikap Dara selama ini!" lirihnya.


"Enggak apa-apa sayang, semua ini bukan salah kamu," ujar Nessa memeluk Andara.


lalu Andara menoleh lagi pada Renita adiknya, hasil pernikahan kedua dari ayahnya.


"Re... maafkan Kakak yah! Sini peluk Kakak sayang!" lirih Andara.


"Kakak tidak perlu minta maaf, Kakak tidak salah apa-apa kok," kata Renita menghambur kepelukan Andara.


Hameed mengulas senyuman, ia bahagia melihat tiga wanita cantik yang selalu menemani hidupnya.


Sejenak Hameed menghela nafasnya, mengingat putri yang satunya lagi, yaitu Diandra adik kembaran Andara, yang sekarang tinggal bersama dengan mantan istrinya, Sessi.


***


*INDONESIA*


"Radit kok lama banget sih! Sudah hampir sejam ini," gumamnya sambil melihat arloji di tangan.


Zevania mondar mandir di depan terminal kedatangan, menunggu Radit yang akan menjemputnya.


"Hukhhh. Menyebalkan..." ucap Zevania menghela nafasnya kesal.


Tiba-tiba saja sebuah taksi berhenti tepat di depannya.


Sopir taksi itu menurunkan kaca kemudinya, bertanya pada Zevania.


"Nona Zevania ya?" tanya si sopir terhadap Zevania.


"Iya saya sendiri Pak!" jawabnya.


"Tolong angkat barang-barang saya ya Pak!" perintah Zevania terhadap sopir itu.


"Siap Nona!" sahut pak sopir.


Kemudian Zevania masuk ke dalam taksi itu, setelah sopir itu selesai memasukan barang bawaan Zevania ke dalam bagasi, lalau berangkat mengantarkan Zevania ke tempat tujuannya.


Sementara Radit masih bertarung dengan komplotan preman yang berusaha merampoknya.

__ADS_1


BUGH. Radit berhasil memukul salah satu kawanan perampok itu.


Dengan gagahnya ia berdiri menantang dua preman lainnya, untuk bangun menghadapinya lagi.


"Ayo bangun! Kalian pikir saya takut dengan kalian!" sentak Radit.


"Dasar sialan berani sekali kau menantang kami, dasar bule gila!" ujar preman itu mengeluarkan pisau dari kantong celananya.


Preman itu pun kembali menyerang Radit, dengan pisau tajam di tangan.


Hufff.


Radit menggerakkan tubuh kekarnya dengan lihai, menangkap tangan preman itu lalu memelintirkan.


"Aduh-aduh-aduh..." pekik preman yang menggunakan senjata tajam itu, merasa kesakitan akibat tangannya di pelintiran oleh Radit.


"Kau tinggal pilih, pisau ini mau menusuk ke kepala kamu atau tubuh kamu?" ancam Radit.


"Ampun Tuan, jangan lakukan itu Tuan. Saya dan teman-teman saya minta maaf!" ucap preman berkepala plontos itu.


"Kenapa tidak dari tadi kau memohon ampun padaku hem..." tukasnya menghempaskan.


BUGH. Radit menendang preman berkepala plontos sehingga terjatuh menindih dua kawannya yang sudah tak berdaya.


"Kalian cari mati jika berani melawan saya!" murka Radit menatap ketiga preman itu.


Radit segera kembali kedalam mobilnya, namun pada saat itu Radit membelakangi sekawan preman.


Disaat Radit lengah, preman yang menggenggam pisau kembali bangkit, berlari ke arah Radit berniat akan menusuknya.


Seketika Radit menoleh, reflek dia kaget menendang preman tersebut sehingga kakinya tergores, celana yang dikenakannya robek pisau itu berhasil melukai kulit putih itu.


"Sial! Kalian cari mati rupanya!" geram Radit menatap tiga preman itu bangkit dan menertawakan.


Darah mengucur dari kakinya, tak di rasakan Radit kembali menyerang sekelompok preman itu.


"Hahaha... kau pilih menyerahkan barang berhargamu atau kau mau mati Tuan?" ujar pria berkepala botak itu tertawa meremehkan.


"Kali ini tidak ad ampun untuk kalian!" sentak Radit dengan tatapan tajamnya.


Radit menyerang tiga preman itu dengan brutal, membabi buta ia melepaskan pukulan demi pukulan. Sehingga ketiga preman itu jatuh terhuyung, hingg mereka tak mampu untuk bangkit lagi.


"ARGGGG!" pekik salah satu preman itu, merasakan kesakitan dengan luka lebam di wajah, melihat salah satu temannya terkulai sudah tak bernyawa, dia merasa ketakutan.


Begitu juga dengan Radit terkulai lemah habis tenaga, kemeja putih yang di pakainya berlumuran darah, luka di berbagai tubuh kekarnya terasa perih.


Radit dengan segera meninggalkan lokasi kejadian itu, ia mengemudikan mobil dengan sangat cepat, tubuhnya lemah kehilangan banyak tenaga, sementara luka di kaki tak berhenti mengucurkan darah.

__ADS_1


__ADS_2