Diandra

Diandra
Bab 72


__ADS_3

"Kalau begitu Kami permisi dulu" pamit Gama


"Sekali lagi terima kasih, Tuan dan Nona"


"Terima kasih banyak atas kebaikan kalian. Semoga Allah membalas kebaikan kalian berdua" ucap Dahlia, istri Alim


"Sama - sama, Bu. Kalau ada apa - apa, segera hubungi saya atau suami saya"


"Pasti"


Gama dan Dian pergi meninggalkan perkebunan. Alim, istri dan anaknya tampak melambaikan tangan ke arah mereka.


"Kamu akan ke kantor hari ini?" tanya Gama


"Ya. Sudah lama aku tidak mengecek keadaan kantor. Bang Tri pasti sangat kerepotan menghandle banyak pekerjaan. Kamu sendiri akan ke kantor kan?"


"Hm. Aku ada pertemuan dengan klien baru"


Dian mengangguk,


Perjalanan yang ditempuh keduanya cukup jauh. Mereka harus menghabiskan satu setengah jam untuk sampai kembali ke kota. Gama tentu saja lebih dulu mengantar istrinya ke DV Grup.


Pukul sembilan kurang lima menit, mobil Gama tiba di pelataran kantor Diandra.


"Nanti pulangnya aku jemput"


"Kalau kamu sibuk, aku bisa pulang di antar sopir"


"Tidak. Aku usahakan pekerjaanku selesai lebih cepat"


"Baiklah, terserah kau saja"


Setelah Dian turun dari mobil, Gama melajukan mobilnya dan perlahan menjauh dari pandangan Diandra.


"Selamat pagi, Bu"


"Pagi" sahut Dian tersenyum. Wanita cantik itu berjalan menuju ke ruangannya. Begitu membuka pintu, Dian bisa melihat Tri dan Rani yang sibuk dengan beberapa file di atas meja.


"Selamat pagi, Ran. Bang"


"Pagi? Ini sudah menjelang siang, Nona!" sahut Rani ketus


Dian terkekeh, "Maaf. Aku masih ada urusan"


Rani tak sengaja melihat bekas merah di leher sahabatnya itu. "Ah ya. Aku paham kok. Kamu kan pengantin baru"


Tri menatapa istrinya yang cekikikan, lalu menggelengkan kepala


"Apa hubungannya?" tanya Dian bingung


"Tidak ada" Rani berjalan ke arah Dian kemudian memberikan cincin yang ada di saku bajunya, "Ini"


"Kenapa kamu memberiku cincin?"


"Itu milik si pelakor!"

__ADS_1


Dian memeriksanya, benar saja. Ada nama Saka di dalamnya. "Maksudmu Vika?"


"Iyalah, siapa lagi!"


"Bagaimana bisa cincin ini ada padamu?"


Rani menatap Dian dengan senyum mengejek,


Flash Back On


"Semua ini gara - gara kamu, Mas!!'


"Ya maaf"


"Maaf. Maaf!! Aku itu malu, Mas! Gara - gara kamu nggak punya uang, aku jadi di hina orang!"


"Aku kan mengira uangnya cukup. Ternyata biaya periksa mahal juga!"


"Kamu itu hidup dijaman modern Mas!! Semua serba mahal!!"


"Maaf, Vik"


Setelah keduanya pergi, Rani segera ke kasir. Dia membayar kekurangan tagihan milik Vika dan meminta cincin itu dengan mengaku sebagai saudara dari Saka. Awalnya petugas kasir terlihat ragu. Tapi jangan sebut dirinya Rani jika tidak berhasil mendapatkan apa yang dia mau.


Flash Back Off


"Aku juga mendapatkan kartu identitas milik Saka"


Dian menatap Rani tak percaya, "Memangnya mau kamu apakan kartu identitas itu, hm?" Dian menatap Tri yang masih sibuk dan seolah tak terganggu dengan apa yang di lakukan istrinya. "Bang, kamu tidak takut anakmu akan bertingkah seperti ibunya?"


Dian berdecak, "Aku lupa jika kalian kompak dalam segala hal"


"Tentu saja! Suamiku memang tiada duanya" Rani memeluk Dian, "Bagaimana kalau kita gunakan saja kartu identitas Saka untuk meminjam uang"


"Jangan gila! Kamu bisa kena masalah nanti!" tolak Dian


Rani tertawa, "Aku juga tidak mungkin melakukannya. Uang berapa yang bisa di pinjam dari identitas Saka? Toh tidak penting juga! Lagipula, aku sudah mengembalikannya lewat ojol!"


"Kamu serius?"


"Dia sudah mengirimnya dua jam lalu" jawab Tri


Dian terlihat cengo, "Sejak hamil, kamu terlihat lebih bar - bar. Aku yakin anakmu pasti laki - laki"


"Tebakanmu memang benar, Di"


"Jadi keponakanku laki - laki?"


Tri dan Rani kompak mengangguk, "Aku yakin, mak lampir itu akan kebakaran jenggot saat tahu cincinnya hilang"


"Lalu apa yang akan kamu rencanakan?"


Rani menatap Dian misterius, hal itu membuat Dian menatap curiga pada sahabatnya, "Kamu jangan melibatkan aku untuk hal - hal yang aneh!"


"Serahkan semuanya padaku!"

__ADS_1


🍀🍀🍀


Dian masih menyelesaikan pekerjaannya meski jam kantor telah usai. Beberapa jam lalu Gama memberinya pesan, suaminya itu mengatakan masih mengerjakan beberapa pekerjaan.


Wanita itu masih saja fokus dengan file - file yang berada di atas meja. Saking fokusnya, tanpa sadar jam sudah menunjukkan angka sembilan.


"Kenapa Gama belum menghubungiku lagi?", Dian mulai merasa cemas. Hal ini persis seperti yang Saka lakukan dulu. Tidak ada kabar, sering pulang terlambat dan sering pula ke luar kota. Istri cantik Gama itu mulai menghubungi suaminya. Sayangnya ponsel Gama tidak aktif


"Mungkin baterai ponselnya habis", Dian berusaha berfikir positif


"Sebaiknya aku pulang sekarang"


Setelah mengemasi barang - barangnya, Dian meminta sopir kantor untuk mengantarnya pulang.


"Mau diantar ke rumah atau ke rumah mertuanya, Bu?"


"Ke apartemen, Pak. Nanti saya tunjukkan jalannya"


"Baik"


Selama perjalanan, Dian tak mengucap satu patah katapun. Hatinya berusaha tenang tapi kenyataannya tidak segampang itu. Rasa takut mulai menghinggapi dirinya. Perasaan was - was dan curiga mulai menguasai hatinya. Jika Saka yang ia kenal bertahun - tahun bisa mengkhianatinya, tidak menutup Gama juga bisa melakukan hal yang sama. Apalagi perkenalan mereka yang terbilang begitu singkat.


"Sudah sampai, Bu"


"Ah, iya. Terima kasih banyak, Pak"


Dian turun kemudian masuk melalui lobi. Dia harus naik lift untuk sampai di lantai delapan, tepatnya di unit milik suaminya.


Sampai di unit Gama, rupanya pintu masih terkunci. Beruntung Gama sudah memberitahunya pin apartemen. Jadi Dian bisa masuk dengan mudah. Sepi, gelap, tentu saja. Suaminya belum pulang. Dian menghidupkan lampu lalu langsung menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Segelas air dingin terasa membasahi kerongkongan Dian yang sejak tadi gersang.


Pikiran negatif tak henti mengisi benaknya. Dimana Gama? Sedang apa Gama? Bersama siapa Gama? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul dalam kepalanya.


Pyar


Dian tak sengaja menyenggol gelas yang berada di atas meja karena tangannya mulai tremor. Badannya mulai berkeringat dingin. Bayangan dimana dirinya mengikuti Saka dan berakhir melihat mantan suaminya bercinta dengan wanita lain mulai membayangi Dian kembali namun kali ini, wajah Gama lah yang terlihat.


"T-tidak. Gama berbeda dengan Saka" Dian berusaha meyakinkan dirinya sendiri


"*Ka, kamu sungguh luar biasa"


"Kamu tidak akan menyesal, sayang"


"Aku suka dengan gaya dan caramu memuaskan aku"


"Aku senang kamu menyukainya, Vik*"


"Arrggghhh!!", Dian memukul dada yang terasa sesak berkali - kali. "Gama tidak sama dengan Saka! Dia berbeda! Dia berbeda!!"


Dian tersungkur, wanita cantik itu memeluk lututnya dengan badan bergetar hebat. Perlahan, Dian mulai merangkak untuk menuju ke kamar, sayangnya bayangan menyakitkan pengkhianatan Saka tak henti berputar dalam kepala.


"Gama berbeda, Gama-", Dian tak sadarkan diri bertepatan dengan Gama yang baru saja tiba.


"Diandra!!"


🍀🍀🍀

__ADS_1


Dian masih trauma guys


__ADS_2