Diandra

Diandra
Ancaman


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


*ISTANBUL TURKEY*


“Dara... Mama mohon maafkan Mama Nak! Semua karena Mama kamu terpisah dengan Diandra adikmu,” lirih Nesa menangis dibalik pintu kamar Andara di lantai dua.


Renita mendengar ibunya menangis, ia langsung menghampirinya, dan berusaha menenangkannya.


“Mom’s... sudah jangan menangis, Rere tahu tak mudah untuk Momy dan Kak Dara, tapi tolong jangan menangis ya! Kita bicarakan baik-baik,” ucap Renita menangkup pipi cantik ibunya Nessa.


Andara yang mendengarkan percakapan adiknya, dengan Mamanya. Ia segera bangkit, lalu membuka pintu kamarnya kembali.


KLEK. Pintu kamar itu di buka oleh Andara, menatap Nessa dengan rasa bersalahnya.


“Ma... ini semua tidak seperti yang Mama kira, Dara seperti ini bukan karena Dara membenci Mama!” lirih Andara, ikut berjongkok menggenggam tangan Nessa.


Andara berusaha mengungkapkan kebenaran, namun bibirnya terasa berat untuk mengucapkannya, karena menurut Andara, ini adalah aibnya, ia takut ayahnya tahu dan mengusirnya.


Namun di sisi lain, juga tidak mungkin bisa lebih lama menyembunyikan masalahnya, cepat atau lambat keluarganya akan tahu.


“Kalau kamu tidak membenci Mama, kenapa kamu tidak mau berterus terang sama Mama Nak!”


“Iya kak, lebih baik kalau kakak punya masalah, cerita sama kita Kak, kita keluarga kan? Kecuali Kakak sudah tidak menganggap kami keluarga!” ujar Renita.


Buliran bening kembali terjatuh, menetes dari matanya, Andara semakin tidak kuat melihat mereka yang terus ingin mengetahui masalahnya.


“Ma... aku, aku akan jujur sama Mama, pada kamu juga Renita! Tapi aku mohon, jangan kasih tahu Daddy soal masalahku ini,” lirihnya terbata-bata.


“Kamu percaya Mama kan sayang... ceritalah Nak, kita hadapi semua ini sama-sama!” ucap Nessa lirih, sambil menggenggam tangan putri sulungnya.


“Aku... aku diperkosa Mah!” lirihnya.


DEG.


Bagaikan petir menyambar di siang bolong, hati Nessa terasa sakit. Dunianya terasa runtuh ketika mendengar ucapan Andara.


Ibu Mana yang tidak hancur, ketika mengetahui jika putrinya telah di rusak oleh orang lain.


“Apa!” lirihnya.


“Siapa yang telah melakukan, semua ini padamu Andara? Jahat sekali orang itu,” ucap Nessa merasa marah karena putrinya di lecehkan.


Sementara Renita meremas tangannya sendiri, hatinya ikut merasakan penderitaan apa yang di rasakan oleh Kakaknya.


“Apakah Alexander Alberto yang telah melakukannya Kak?” tanya Renita, menebak.


Rasanya marah sekali Renita pada saat itu, tak terima kakaknya telah dilecehkan, Renita berusaha ingin tahu soal pria yang telah menodai kakaknya itu.

__ADS_1


Namun, setelah mengungkapkan hal itu, Andara segera pergi dari rumahnya. Andara merasa malu, hina dan ternoda.


“Kak... aku mohon, beritahu aku. Siapa yang telah melakukan ini semua Kak?” tanya Renita menggenggam tangan Andara.


Namun Andara bungkam seribu bahasa, ia menghempaskan tangan Renita dan pergi mengambil kunci mobil.


Andara berlari memasuki mobil, menjalankannya dengan kencang, hidupnya hancur seketika.


“Andara... tunggu Mama Nak!” teriak Nessa, namun terlambat putrinya itu sudah pergi.


Sekilas Nessa berbalik, meminta Renita untuk menyusul kakaknya, Andara.


“Re... cepat kejar kakak kamu! Momy tidak akan memaafkan diri Momy sendiri, jika terjadi apa-apa dengan Andara!” lirih Nessa menangis terisak.


“Iya Mih... Renita akan mengejarnya, Momy yang tenang yah!” ucap Renita.


Kemudian segera mengambil kunci mobil, segera bergegas mengemudikan mobil sportnya, mengejar Andara yang sedang di kuasai amarah.


“Ada apa ini Nessa, ke mana Anak-anak?” tanya Hameed.


Perlahan menghampiri istrinya, menangkup wajahnya yang sembab dan basah akibat tangisannya.


“Ada apa? Apa kamu bertengkar lagi dengan Dara?” tanyanya.


“Tidak Mas... maraku hanya kemasukan debu saja kok!” jawab Nessa berusaha menyembunyikan yang terjadi.


“Kamu tidak pandai berbohong sayang, katakan sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya Hameed mendesak Nessa istrinya.


“Aku enggak bohong Mas... ini beneran Cuma kelilipan, lagian apa gunanya aku bertengkar dengan Andara,” ucap Nessa meyakinkan.


“Andara sudah tidak membenciku Mas, dia sudah mulai bisa menerimaku,” ucapnya lagi.


“Betulkah begitu, kalau begitu aku lega rasanya,” ucap Hameed membawa Nessa ke pelukannya.


‘Maafkan aku Mas... aku terpaksa membohongimu,' batin Nessa berada di pelukan suaminya.


Sedangkan Alexander, kini sedang mengunjungi FOUR SEASON HOTEL.


“Di mana, tempat pemotretan itu sedang dilakukan?” tanya Alexander pada salah satu anak buahnya.


“Di Vip rooms, nomor 122 high class Tuan!” jawab anak buahnya tersebut.


“Ya sudah... saya akan segera ke sana!” ucapnya.


Alexander berjalan gontai menuju kamar VIP tempat Zevania sedang melakukan pemotretan.


“Kamu akan menyesal telah berurusan denganku, Zevania!” gumam Alexander terus berjalan menyusuri koridor hotel.


Sementara Zevania, sedang melakukan sesi pemotretan. Mengganti berbagai pakaian dan berbagai gaya, telah dilakukan.

__ADS_1


“Ok... Zevania, kau perfect malam ini,” ucap fotografer yang mengarahkan pemotretan itu.


“Kita coba satu sesi pemotretan lagi!” ucap seorang Fotografer itu.


“Huh. Kau mengerjaiku yah! Ini sudah berapa kali ganti custom, dari tadi sekali lagi, sekali lagi!” protes Zevania, menghela nafasnya mendengus kesal.


KLEK. Suara pintu terbuka, perlahan Alexander melangkahkan kakinya, memasuki ruangan itu. Berseringai menatap Zevania yang terlihat seksi pada saat itu.


DEG.


Zevania melihat kedatangan Alexander, dia tahu keadaannya sekarang terancam. Alexander Pasti akan menerkamnya, karena telah membantu Andara.


“Alex,” gumam Zevania menelan ludahnya, sementara pikirannya ke mana-mana, mulai merasa khawatir ia tahu dirinya sedang dalam bahaya.


Dengan santainya Alexander menghampiri Zevania, yang tengah berpose di depan kamera.


Memeluk Zevania dari arah belakang, tersenyum ke arah kamera yang membidik mereka.


“Tunggu... Alexander, kamu ngapain sih? Saya rasa adegan ini tidak ada dalam---,” seketika mulut Zevania di bekap oleh Alexander.


Namun Zevania memberontak, “ kamu apa-apaan Lex. Lepaskan aku!” bentak Zevania, mengamuk.


“Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja hemmm... kamu tidak akan aku lepaskan, sebelum kau membayarku dengan tubuhmu itu!” ucap Alexander, membentaknya.


Keringat dingin mulai menjalar ke setiap lekuk tubuh Zevania, hatinya mulai merasakan ketakutan luar biasa, kini Zevania tidak bisa melakukan apa-apa, dia masuk dalam sangkar pria buaya itu.


“Jangan macam-macam Alexander Alberto!” sentak Zevania dengan suara lantang.


“Aku tidak ingin macam-macam, aku hanya ingin satu macam. Yaitu memberimu pelajaran, supaya kau tidak ikut campur urusanku!” ucap Alexander dengan tatapan mengerikan.


“Dasar monster!” geram Zevania meludahi wajah tampan, seorang billionaire itu.


“Cuih... menjijikan!” tukas Zevania.


Kemudian Alexander mengelap ludah dari pipinya, dan mengembalikan ludah itu dengan cara mengecup habis mulut penuh itu.


“Rupanya kau ingin bermain ludah denganku!” ucap Alexander menjambak punggung kepala Zevania, menariknya dengan kasar.


“Sini aku ajarkan caranya bermain ludah dengan sopan!” ucap Alexander mengecup bibir seksi Zevania.


“Emmm...,” Zevania tidak bisa melawannya, tenaga Alexander berkali lipat jauh lebih kuat darinya.


Alexander menarik, merobek, dan membuat tubuh modeling itu polos, sedangkan seorang fotografer membidik semua yang terjadi di sana.


Alexander tidak memperkosa Zevania, karena dia tidak tertarik dengan tubuh Zevania, ia hanya tertarik dengan Andara.


“Kau baru tahu, sedang berhadapan dengan siapa kamu!” ucap Alexander dingin.


“Jangan pernah campuri urusanku, atau foto tubuh polosmu itu tersebar luas ke media!” ancamnya.

__ADS_1


__ADS_2