Diandra

Diandra
Mulai Curiga


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


"Kau! Beraninya kau memasuki kamar rawat saya!" ujar Radit langsung menikam Dokter gadungan itu.


BUGH.


"ARGGGG!" pekik Radit merasa kesakitan karena disikut oleh Dokter gadungan.


Dokter gadungan itu segera lari, lantaran ia takut tertangkap.


"Maxcton... tahan orang itu jangan sampe lolos!" seru Radit dengan lantang, sehingga teriakannya terdengar oleh Maxcton yang berada di luar ruang perawatan Radit.


"Bajingan jangan bermimpi kau bisa lari dariku!" ujar Radit keluar dari kamar rawatnya. "Hey... jangan lari kau!" teriaknya.


Dokter gadungan itu lari terbirit-birit dikejar oleh Maxcton dengan Radit. Sementara Diandra segera memberitahukan petugas sekuriti agar menangkap orang mencurigakan tersebut.


"Kau hadang dia di pintu depan, saya akan hadang dia di pintu belakang!" perintah Radit terhadap Maxcton.


"Hey jangan lari kau!" teriak Diandra pada Dokter gadungan yang hendak menukar obat untuk Radit.


Aksi kejar mengejar pun tak terelakkan, Radit hampir mendapatkan orang itu, namun terhalang oleh para suster yang lewat di depannya membawa seorang pasien.


"Sial! Aku yakin dibalik semua ini pasti ada dalangnya. Siapa yang ingin mencelakai aku sebenarnya?" gumam Radit kesal.


Maxcton berlari menghampiri Radit yang sudah lebih dulu berada di lobby, begitu pun dengan Diandra.


"Maafkan saya Mr Radit, saya gagal mendapatkan orang itu!" kata Maxcton Terengah-engah.


"Tidak apa-apa kau tak perlu minta maaf, ini bukan salahmu," sahut Radit merasakan sakit di bagian kaki lukanya kembali berdarah.


"Radit... kakimu berdarah!" ucap Diandra panik, lalu ia memanggil Dokter agar segera mengobati Radit. "Dokter... tolong teman saya," ucap Diandra meminta pertolongan pada seorang Dokter.


"Maxcton... tolong bantu saya!" ucap Radit. "ARGGGG kaki saya," lirihnya menahan sakit.


"Mr Radit!" ujar Maxcton sambil menopang tubuh pria tampan itu hampir terjatuh.


Sementara dari kejauhan terlihat Milloma dan juga Melissa menatap keberadaan Radit, Maxcton dan Diandra. Milloma terbingung ketika mendengar Diandra meminta pertolongan pada Dokter, mengaku bahwa dia adalah temannya Radit.


"Teman? Jadi mereka hanya berteman?" gumam Milloma menatap nanar pada Radit.

__ADS_1


"Ayo cepat bawa Tuan Radit kembali ke kamarnya!" ucap sang Dokter. " Kenapa kalian membiarkannya keluar ruangan, saya sudah katakan bukan, kalau Tuan Radit ini belum sembuh total!" tukas sang Dokter memperingatkan Diandra dengan Maxcton.


"Cepat bantu saya! Kau jangam memarahi mereka, semua ini bukan salah mereka!" geram Radit pada Dokter, bukan segera menolongnya malah memarahi Diandra dan juga Maxcton.


"Ma-maaf Tuan..." ucap Dokter itu gelagapan.


Kemudian Radit segera dibawa kembali ke dalam ruang perawatan, menggunakan kursi Roda.


Sementara Maxcton masih terheran dengan orang yang berniat mencelakai Radit. Ia pun mulai berhati-hati lantaran tidak ingin membahayakan nyawa Tuannya.


Setelah berada di ruangan, Radit segera berbaring ke ranjangnya.


"Kenapa Anda berlari-lari seperti tadi Tuan? Seharusnya Anda memilikirkan kesembuhan saja, tak usah ikut-ikutan berlarian seperti tadi," ujar sang Dokter.


"HUH... Saya tidak akan mengejar Orang itu, jika Orang itu tidak berniat mencelakai saya!" tukas Radit kesal. "Rumah sakitmu ini kurang sekali untuk pengamanan pasien penting seperti saya!" ucapnya Datar.


"Maafkan saya kalau begitu Tuan..." ucap Dokter tersebut sambil membalut luka Radit dengan perban.


"Sudahlah lupakan!" ucap Radit datar.


"Maxcton... saya ingin kau mencari tahu, siapa sebenarnya yang terus berusaha mencelakaiku! Saya sangat curiga, tidak mungkin ini pekerjaan Orang yang tidak mengenalku!" ujar Radit.


"Tenang saja Tuan... saya akan segera mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini," ucap Maxcton menimpali perkataan bosnya.


"Ini bukan kerjaan kamu kan?" ucap Radit menatap Diandra, raut wajahnya mengisyaratkan kecurigaan terhadap Diandra.


"Kau gila... kau mencurigaiku!" timpal Diandra terkekeh, "Apa untungnya saya mencelakaimu Tuan Radit!" tegas Diandra penuh meyakinkan.


Tiba-tiba saja Milloma dengan Melissa memasuki ruangan tersebut. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini lagi Putraku," ucap Melissa lagi-lagi menghambur kepelukan Radit.


"Hey... jaga batasanmu, kau hanya Ibu tirinya jangan sampai menimbulkan persepsi buruk untuk Cucuku!" ucap Milloma mencurigai jika Melissa mengharapkan cintanya Radit.


"Ahahaha... iya maaf, saya mengkhawatirkan Putra saya apakah salah?" ujar Melissa berusaha meyakinkan Milloma kalau rasa sayangnya terhadap Radit tidak lebih dari rasa sayang seorang ibu.


"Radit, Nenek ingin bicara denganmu!" ucap Milloma menatap Radit.


"Bicara saja Nek, tidak ada yang melarangmu!" sahut Radit terhadap Milloma.


"Nenek ingin bicara denganmu, juga dengan Andara!" ujar Milloma tampak terlihat seriusan.


"Baiklah!" ucap Radit sambil menggerakan tangannya mengusir Maxcton agar meninggalkan ruanga itu.

__ADS_1


Maxcton tampak mengerti dari aba-aba yang diberikan oleh tuannya, lalu iapun keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan Melissa nampaknya belum beranjak dari ruangan tersebut, sehingga Milloma memintanya untuk keluar.


"Kau tidak mendengarkan saya Nyonya Melissa! Saya hanya ingin berbicara dengan Cucu saya juga dengan calon Istrinya!" ucap Milloma tegas mengusir Melissa.


"Kenapa saya harus keluar dari ruangan ini, memangnya apa yang akan kalian bicarakan?" tanya Melissa ingin tahu.


"Ini bukan urusan Anda Nyonya Melissa! Saya minta Anda tinggalkan kami bertiga!" sentak Milloma dengan tatapan sarkastik.


Kemudian tatapan Milloma beralih pada seorang Dokter yang masih berada di ruangan itu. "Kau juga keluar dari ruangan ini Dokter!" perintah Milloma tak ingin dibantah.


Dokter itu langsung bergidik ngeri ketika mendengar suara Milloma penuh penekanan, lalu iapun keluar mengikuti Melissa yang sudah lebih dulu keluar.


DEG.


Mata Radit kini bertemu dengan mata Diandra, terselip tanda tanya besar dari wajah keduanya.


Lantaran ia tahu jika Milloma sangat terlihat marah pada saat ini.


"Nenek mau membicarakan apa dengan kami?" ucap Radit mulai membuka obrolan.


"Kalian berdua tidak sedang membohongi Nenek kan?" pertanyaan Milloma sangat ambigu, Radit tidak tahu maksud pertanyaan dari Milloma, neneknya.


"Maksud Oma?" ucap Diandra mulai ikut berbicara. Pandangan Milloma pun beralih pada Diandra.


"Nenek tidak salah mendengarkan tadi, pada saat kamu meminta bantuan pada Dokter, kalau kamu hanya berteman dengan Radit, apa selama ini kalian hanya berpura-pura pacaran di depan Nenek?" ujar Milloma dan itu membuat Radit dan Diandra diam dengan sekejap.


DEG.


Sejenak Diandra terdiam lidahnya terasa kelu, tak mampu berbicara apa-apa. Begitupun Radit ikut diam seribu bahasa.


"Ayo jawab, kenapa kalian diam? Atau jangan-jangan memang benar ya, kalau kalian ini hanya berbohong soal hubungan kalian?" tukas Milloma menatap keduanya.


"Ahahaha... sepertinya Oma salah mendengar, Andara tidak berkata seperti itu Oma," elak Diandra agar rahasianya tak terbongkar begitu saja.


'Duh... bisa mampus aku dimaki-maki Radit kalau semuanya terbongkar,' batin Diandra tak berani menatap Radit, yang sedang menatap tajam padanya dengan tatapan mendominasi.


"Diam kamu!" bentak Milloma terhadap Diandra. "Radit Oma butuh penjelasan darimu, jawab saja ya atau tidak!" ucapnya Dingin.


KLEK. Suara pintu terbuka seseorang memasuki ruang perawatan Radit.


"Ya ampun... apa yang terjadi denganmu Radit?" ucap orang yang baru saja memasuki kamar rawat Radit.

__ADS_1


Pandangan Milloma pun terjatuh pada orang tersebut.


Kira-kira siapa yang datang, keruangan perawatan Radit?


__ADS_2