
"Bawa wanita itu!! Jangan lupa untuk merekam kegiatan kalian! Besok, aku pastikan berita ini akan viral dan menjadi perbincangan seluruh negeri!"
"Baik Nyonya"
Anak buah Livia membawa Dian lalu memasukkannya ke dalam mobil. Sementara Gama, Cilla meminta anak buah Mamanya membawanya dengan mobil terpisah.
"Kalian urus saja wanita itu! Biar Kak Gama menjadi urusanku! Aku akan membawa mobil sendiri!"
"Jangan bertindak bodoh, Cill! Kalau ada apa - apa bagaimana?" ucap Livia khawatir
"Ck, Mama ini! Apa yang bisa di lakukan oleh orang pingsan? Lagipula, aku tidak mau di ganggu!"
"Dasar gadis bodoh! Kamu pikir berapa lama reaksi obat bius itu akan bertahan, hah!! Bagaimana kalau Gama lebih dulu sadar? Yang ada kamu akan kehilangan dia!"
Cilla memutar bola matanya malas, "Untuk kali ini Mama jangan ikut campur urusanku! Mama pastikan saja anak buah Mama menjalankan tugasnya dengan baik!"
"Tidak usaha mengguruiku! Dasar anak keras kepala! Terserah kamu mau melakukan apa! Yang jelas, jangan meminta bantuanku jika terjadi apa - apa!" Livia pergi meninggalkan Cilla
"Memangnya apa yang akan terjadi! Mama memang kolot!"
Gadis itu mengemudikan mobilnya menuju ke salah satu hotel yang sudah ia booking sebelumnya. Setibanya di hotel, Cilla meminta petugas membantunya membawa Gama ke kamar. Gadis itu berhasil mengelabuhi petugas hotel dan mengatakan jika Gama dalam keadaan pingsan akibat mabuk berat. Tentu saja mereka tidak curiga.
Cilla menatap wajah tampan Gama dengan perasaan bahagai. Akhirnya sekarang Gama akan menjadi miliknya. Tidak peduli cara yang ia lakukan salah. Yang terpenting, tujuannya tercapai.
"Akhirnya kamu akan menjadi milikku, Kak"
Dengan perlahan namun pasti, Cilla mulai mendekati Gama. Gadis itu membelai wajah Gama dengan lembut. Mulai dari mata, alis, pipi. Saat akan membelai bibir pria itu, tiba - tiba tangan Gama mencekalnya.
"K-kak Gama" ucap Cilla gugup sekaligus terkejut sebab Gama sudah sadar
Pria itu menyeringai, cekalan tangannya semakin kuat dan tentu saja hal itu membuat Cilla kesakitan. "Kamu pikir, mudah mengalahkan aku? Kamu salah besar, Pricilla! Sayang, keluarlah!"
Mata Cilla terbelalak saat melihat Diandra keluar dari kamar mandi. "Hallo, Cilla sayang" sapa Dian
"B-bagaimana bisa kamu ada disini?!"
Dian tertawa sambil mendekati Cilla, "Kamu mau tahu? Hotel ini milikku dan aku bebas mau berada di sini kapanpun aku mau!"
"B-bagaimana mungkin?! K-kenapa kamu bisa lolos dari anak buah Mama?"
"Semua anak buah Mamamu sebenarnya adalah anak buah suamiku! Mamamu yang bodoh itu ternyata sangat mudah di kelabuhi!"
"Tidak mungkin! Semuanya pasti salah!!"
"Memang inilah kebenarannya, Cilla. Seperti yang suamiku katakan, tidak mudah melawan kami berdua! Tapi aku akan tetap meneruskan rencana yang Mamamu dan kamu buat!"
"A-apa maksudmu?"
__ADS_1
Dian mengambil sapu tangan yang ada di atas laci, "Kamu mau aku di tiduri oleh banyak pria kan? Itu akan jadi kenyataan tapi bukan aku wanitanya, melainkan kamu!"
"T-tidak!! Kamu tidak bisa melakukan itu!!" Cilla terlihat ketakutan
"Kenapa tidak? Sekarang akulah yang memegang kendali!"
"A-aku mohon jangan lakukan itu!!" Cilla menatap Gama, "Kak Gama, kita sudah mengenal lama. Kamu tidak akan tega melakukan itu padaku, kan?"
Gama menggeleng, "Kenapa kamu takut? Padahal sebelumnya dengan yakin kamu meminat anak buah Mamamu melakukannya pada Dian!"
"A-aku-"
"Aku tidak sejahat itu, Cilla. Tapi aku juga bukan orang baik!" Dian menyeringai
"Jangan!! Hhhmmmpppp!"
Cilla akhirnya tak sadarkan diri setelah Dian membekapnya dengan obat bius.
"Semua sudah selesai!", ucap Gama
Pasangan suami istri itu keluar dari kamar. Di depan kamar masih berdiri pada anak buah Gama
"Tugas kalian sudah selesai. Kalian boleh pergi sekarang. Dan ini bayaran untuk kalian!" Gama melemparkan segepok uang kepada anak buahnya
"Terima kasih, Tuan. Senang bisa bekerja dengan Anda"
"Hm"
"Tentu. Aku akan segera menyusulmu"
Kini, wanita cantik itu menatap pemuda bernama Adam itu dengan intens. "Kamu mencintainya bukan?"
Si pemuda mengangguk pelan,
"Masuklah. Sekarang dia milikmu!"
"T-tapi-"
"Kamu pemuda baik. Dia beruntung bisa bersama pria sepertimu. Meski cara ini salah, tapi hanya denganmu masa depannya bisa terselamatkan. Setidaknya setelah ini, dia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi "
"Siapa kamu sebenarnya? Dan apa tujuanmu melakukan semua ini?" tanya si pemuda penasaran
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Dan tujuanku, hanya menyelamatkan masa depannya. Meski aku tak terlalu menyukainya tapi dia berhak bahagia bukan? Dia masih muda, kehidupannya masih panjang. Akan sangat di sayangkan jika masa depannya hancur begitu saja"
Si pemuda tersenyum, "Terima kasih. Meski kita tidak saling mengenal, tapi aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu"
"Selamat bersenang - senang"
__ADS_1
Dian segera pergi menyusul suaminya yang pergi ke kamar lebih dulu. Ia tersenyum melihat suaminya berbaring di atas ranjang sambil menutup mata. Dengan langkah pelan, Diandra membelai lembut pipi Gama.
"Kenapa kamu terlihat semakin tampan, hm?"
Perlahan si pria membuka mata. "Kamu juga terlihat semakin cantik. Apalagi jika tak memakai apapun"
"Mas, berhentilah menggodaku!"
"Hahah, kenapa kamu selalu saja malu?" ucap Gama, "Urusanmu sudah selesai?" tanyanya sambil membawa Dian ke dalam pelukannya
"Hm"
"Lalu apa selanjutnya?"
"Aku sudah melaporkan Livia ke polisi atas kejadian ini. Aku yakin, polisi sudah menangkapnya. Dan Cilla sudah berada di tangan yang tepat"
"Kamu yakin?"
"Tentu. Sebentar lagi Cilla akan menikah dengan Adam" jawab Dian dengan santai
"Bagaimana bisa kamu malah berfikir untuk meminta pemuda itu menikahi Cilla? Maksudku, kenapa tidak kamu biarkan saja dia ikut dipenjara bersama Livia. Bukan urusan kita juga. Lagipula, Cilla juga turut andil ingin mencelakaimu"
Dian mengangguk, "Kamu pikir aku benar - benar berbuat baik pada Cilla? Tentu saja tidak, Tuan Gama Mahaditya. Kehidupan sengsara untuk Cilla baru akan di mulai. Dan ini pasti lebih menyakitkan dibanding hidup dalam penjara" Istri Gama itu tertawa, "Adam memang mencintai Cilla. Tapi tidak dengan ibunya"
"Maksudmu bagaimana?" tanya Gama
"Cilla pernah mempermalukan Adam dan Ibunya di depan umum. Tentu saja Ibunya Adam tidak menyukai Cilla setelah kejadian itu. Menikah dengan Adam, adalah neraka untuk Cilla!"
Gama mengecup pipi sang istri, "Kamu bahkan tahu sampai sedetail itu?"
Dian mengusap bibir suaminya dengan sensual, "Untuk mengalahkan musuh, kita harus mencari tahu kelemahannya bahkan sampai ke akar. Benar kan?"
"Benar sekali! Aku memang tidak salah menikahimu! Selain cantik, baik, pintar memasak dan memuaskanku. Kamu lebih cerdik dari yang aku kira"
"Kenapa harus ada kata itu di tengah kalimat pujianmu?!" sahut Dian kesal
Gama memeluk Dian dengan erat, "Karena itulah kenyataannya. Kamu wanita paket komplit. Dan aku beruntung bisa memilikimu. I Love You, My Wife"
Dian tersenyum "Kamu adalah pria yang pintar menggombal yang pernah aku temui"
Gama terkekeh, "Terima kasih atas pujiannya. Sekarang, ayo kita berpetualang lagi"
Dian menatap suaminya penuh curiga, "Kenapa aku merasa akan ada hal tidak baik yang akan terjadi?"
"Bukan hal tidak baik, tapi pengalaman baru. Memadu kasih di kamar mandi, pasti menyenangkan" bisik Gama
"Sayangnya kamu harus mengubur impianmu itu, Tuan tampan. Aku sedang datang bulan"
__ADS_1
Ngek