
Bagi setiap orang masalah itu mudah untuk diselesaikan, namun lain dengan sosok Dirga, dia sama sekali tidak pernah menemukan cara bagaimana menyelesaikan masalah pribadinya itu, sudah setiap hari masalah yang menimpanya sekarang ini menjadi tekanan bagi kehidupannya. Kepribadiannya bahkan harus berubah menjadi nakal agar dia bisa merasa bebas, tidak terbebani oleh masalah itu, Dirga juga mencari kesenangannya sendiri, apa pun Dirga lakukan asal itu bisa membuat dia nyaman.
Malam ini Dirga sendirian di kamarnya―yang berada di lantai dua―duduk di balkon rumah sambil memegang gitar, memandangi Jakarta dari atas rumahnya. Memang, rumah yang Dirga huni ini cukup besar, berlantai dua, bahkan malam hari suasana di sekitar area rumahnya terlihat jelas, dia sendiri lebih sering berada di balkon rumah menikmati setiap cahaya kecil yang memantul ke arah matanya.
Walaupun rumahnya besar, tapi tinggal di sini membuat Dirga merasa seperti orang asing. Dirga jarang sekali melihat kedua orang tuanya naik ke atas, bahkan masuk ke kamarnya untuk menemui dia, membangunkan dia tidur di pagi hari, atau hanya untuk melihat apakah anak mereka masih ada? Semua itu jarang sekali Dirga dapatkan, mungkin bisa dibilang tidak pernah sejak hampir satu tahun.
Kenapa dengan kedua orang tuanya? Mereka sibuk dengan kerjaan masing-masing, hingga Dirga―anak mereka sendiri tidak pernah diperhatikan layaknya anak kesayangan orang tuanya. Dirga ini anak tunggal. Dirga kerap sekali cemburu melihat orang tua temannya datang ke sekolah, mengurusi masalah yang diperbuat anaknya, menasihati, memperhatikan dengan penuh kasih sayang. Hanya kata “cemburu” membuat dia jadi semakin frustrasi sendiri saat melihat yang lain bersama orang tua mereka.
Hal yang paling Dirga inginkan saat ini adalah kebahagiaan. Akan tetapi, kebahagiaan yang Dirga maksud belum pernah dia rasakan satu kali pun. Siapa sih yang gak mau bahagia, semua orang pasti menginginkannya, apa pun caranya pasti mereka lakukan asal membuat perasaan mereka bahagia.
Ahh, kalau Dirga terus mengingat masalah yang saat ini dia rasakan, air matanya seakan mau menetes mengiringi suasana. Dirga masih duduk di balkon rumahnya, memangku gitar. Perlahan Dirga mulai memetik senar gitar itu hingga menghasilkan suara yang merdu. Lagu-lagu tentang kerinduan sering sekali Dirga nyanyikan saat sedang sendiri, mengingat dia memang seperti hidup sendiri di rumahnya saat ini, hanya ada Bi Siti―pembantu di rumah Dirga. Orang tuanya ke mana? Orang tuanya kadang ada, kadang gak ada. Mereka sering pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Tiba-tiba pesan masuk ke ponselnya. Entah itu dari siapa, yang pasti tidak ada nama pengirimnya. Dirga menghentikan memetik gitarnya, pandangan matanya mengarah pada ponsel yang terletak di sebelah kanannya. Dia membuka pesan itu.
“Hai, Dirga. Selamat malam”
Begitulah pesan yang diterima Dirga. Tidak ada nama pengirim, Dirga sendiri tidak tahu itu nomor siapa. Hanya dibaca, tanpa harus membalasnya, Dirga kembali menaruh ponselnya di sebelah kanannya.
Lagi dan lagi ponselnya berbunyi untuk kedua kalinya. Dirga menatap layar ponselnya, dia kaget melihat isi pesan itu. Dirga mengangkat ponselnya. Jarinya mulai mengetikkan sesuatu, namun tulisan itu kembali dihapusnya karena menurutnya itu tidak terlalu penting untuk dibalas. Pesan itu tadi dari Rafika.
“Assalamualaikum, Tuan Dirga!”
Dirga mendengar suara orang mengucapkan salam sambil mengetuk pintu kamarnya. Dirga berdiri, berjalan mendekati pintu, lalu membukanya. “Ehh, Si Bibi. Ada apa, Bi?” tanya Dirga setelah membuka pintunya, melihat ada Bi Siti sedang berdiri di balik pintu.
“Itu, ada teman-temannya nunggu di depan.”
“Iya-iya, Bi. Bilang sama mereka, ‘Dirga-nya lagi ganti baju’”
“Iya, Tuan.” Bi Siti berbalik ingin berjalan kembali ke depan rumah, namun terhenti seketika saat Dirga mencekalnya.
“Bi, Dirga mohon jangan panggil Dirga ‘Tuan’. Pliss ... panggil aja ‘Dirga’ atau ‘Nak’. Anggap aja Dirga ini anak Bi Siti sendiri,” pinta Dirga dengan raut wajah sedih.
Raut wajah Bi Siti langsung bingung, dia tidak mengetahui bahwa sebenarnya Dirga tidak mau dipanggil “Tuan”. Bi Siti juga ragu dengan permintaan Dirga yang mau dianggap sebagai anaknya sendiri, karena jelas Dirga itu adalah anak majikannya. Kalau Bi Siti manggil Dirga dengan sebutan nama, itu sepertinya tidak menghargai derajat mereka sebagai pembantu dan anak majikan. Bi Siti jadi bingung dengan permintaan Dirga.
“Tapi ....” Bi Siti tertunduk ragu.
“Nggak apa-apa kok, Bi. Bibi tahu sendiri kan mama sama papa gak pernah ada buat Dirga, jadi Dirga butuh perhatian yang lebih, Bi. Dirga butuh tempat berkeluh kesah saat dalam masalah. Bibi gak usah ragu atau takut, anggap aja Dirga ini anak Bibi sendiri,” pinta Dirga dengan wajah tulusnya.
“Iya-iya, Nak.” Bi Siti mulai memanggil Dirga “Nak”. Lalu Bi Siti kembali berjalan menuju pintu rumah untuk menyampaikan perkataan Dirga tadi.
Dirga sendiri langsung mengganti pakaiannya. Dirga keluar kamar setelah selesai berpakaian rapi, tidak lupa juga dengan kunci mobilnya.
Langkah kakinya menuruni setiap anak tangga menuju lantai satu. Dirga terlihat sedikit bersemangat saat tahu ada teman-temannya yang datang.
“Ehh, Ayu ...,” ucapnya ketika melihat ada Ayu sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Malam, Di,” sapa Ayu.
Ayu tidak datang sendirian, dia datang berdua dengan Rafika. Rafika tidak menyapa Dirga seperti Ayu, dia hanya tersenyum mengangguk di hadapan Dirga sendiri. Benar-benar suasana yang tidak pernah Dirga duga sebelumnya.
Biasanya, teman-teman Dirga yang sering datang ke rumahnya itu kalau gak Udik, ya, Rahman. Mereka bertiga sering menghabiskan malam bersama-sama mengelilingi Jakarta dengan mobil Dirga, atau ke kosan Rahman hanya untuk nongkrong-nongkrong saja. Tapi kali ini yang datang bukan teman cowoknya, melainkan teman ceweknya bersama murid baru yang juga baru Dirga tahu.
“Silakan masuk dulu,” suruh Dirga.
Mereka bertiga duduk di kursi sofa ruang tamu.
Ini rumah apa istana? Megah banget, puji Rafika dalam hati. Matanya menyusuri setiap bagian yang ada di sekitarnya, dia takjub dengan rumah yang Dirga tinggali.
Besar dan mewah, itulah gambaran rumah Dirga. Sunyi dan kesedihan, itulah gambaran yang cocok untuk perasaan Dirga kala tinggal di rumahnya.
“Orang tua lo ke mana, Di?” Ayu langsung membahas tentang keberadaan kedua orang tua Dirga. Sontak saja hal itu membuat Dirga sedikit tidak nyaman untuk membahasnya.
Wajah Dirga terlihat langsung datar, tanpa menatap ke arah Ayu yang tadi bertanya. Dirga mengeluarkan ponsel di saku celananya, dia lebih memilih main game daripada membahas tentang keberadaan orang tuanya.
Baik Ayu ataupun Rafika, mereka berdua menyaksikan Dirga sedang asyik bermain game di ponselnya sendiri. Kesal dengan sikap Dirga yang seperti kekanak-kanakan, Ayu mengambil paksa ponsel Dirga dan meletakkannya di atas meja.
“Dirga, ini gue lagi ngomong, dengerin kek. Lo jangan asyik main game mulu. Maaf, kalau pertanyaan gue tadi agak kurang enak,” kata Ayu.
“Tadi kenapa lo gak balas pesan gue, Di? Gue juga teman lo, kan?” tanya Rafika lirih seperti sudah berteman dekat dengan Dirga.
Dirga mengerutkan dahinya. “Teman? Sejak kapan kita kenal?” Dirga asal bicara di hadapan Rafika―yang saat ini sangat berharap bisa menjadi teman dekatnya.
“Di, lo jangan gitu sama Rafika―”
Perkataan Ayu dipotong oleh Dirga. “Lah, emang gue belum tahu dengan dia, kan?” Dirga menunjuk Rafika yang duduk di sebelah Ayu.
“Gue mau kok jadi teman lo, Di. Gue juga mau jadi tempat lo curhat tentang masalah lo sekarang, gue akan bantu lo keluar dari zona sedih ini, Di.” Rafika masih berniat ingin menjadi teman dekat Dirga, bahkan Rafika mau membantu menyelesaikan masalah Dirga saat ini, entah dia sendiri sudah tahu atau belum permasalahan sebenarnya.
“Mending lo ajak dia pulang aja, Yu,” suruh Dirga. Dia menyuruh Ayu agar mengajak Rafika segera pulang.
Sontak perasaan Rafika seperti tercabik-cabik setelah mendengar perkataan dari Dirga itu. Rafika tidak menyangka bahwa dia diusir oleh Dirga. Hal ini tidak pernah dia dapatkan selama hidupnya, kelakuan Dirga memang membuat Rafika dan Ayu kecewa.
Mereka berdua berdiri.
“Kalau begitu kami pulang dulu, Di. Ohh iya, besok sekolah jangan bolos lagi,” ucap Ayu. Kemudian mereka segera pergi keluar menuju mobil Rafika, lalu meninggalkan rumah Dirga.
***
Hari yang cerah menyinari SMA Cakrawala Jakarta. Semua murid terlihat sedang ramai berada di kantin sekolah. Seperti hari biasanya, kantin pasti sangat ramai dikunjungi para murid yang sudah kelaparan.
Dirga berjalan bersama Udik dan Rahman menuju kantin sekolah. Seketika mereka terhenti karena ada salah satu siswi kelas sepuluh yang memberikan surat kepada Dirga secara langsung. Setelah Dirga menerimanya, mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan menuju kantin. Tiba-tiba saja Dirga berhenti di depan tong sampah, dan dia membuang surat yang diberikan adik kelasnya tadi tanpa mengetahui isinya terlebih dahulu.
“Bu!” seru Dirga kepada penjaga kantin setelah berada di sana. Dirga menggeser tempat duduk seseorang, dia mengambil alih tempat orang itu.
Tak perlu bagi Bu kantin menanyakan apa yang akan dipesan oleh Dirga, karena dia sendiri sudah tahu apa yang biasanya Dirga pesan.
__ADS_1
Penjaga kantin itu berjalan mendekati Dirga dengan membawa pesanannya. Bu kantin menaruh pesanan Dirga di hadapannya, lalu kembali ke tempatnya.
Bakso dan jus, menjadi pesanan Dirga hampir setiap hari saat di kantin. Udik dan Rahman juga memesan makanan dan minuman yang sama dengan Dirga. Selang beberapa saat, pesanan mereka sampai. Mereka bertiga menyantap makanan itu sambil mengobrol.
“Ehh, lo tahu kan murid baru di kelas kita itu?” tanya Rahman menunjuk Dirga.
Dirga hanya mengangguk.
“Kenapa?” tanya Udik.
“Dia itu ingin dekat sama lo, Di. Kemarin gue denger kalau dia minta nomor lo sama Ayu. Kayaknya sih dikasih.”
“Iya, terus urusannya sama gue apaan?” tanya Dirga dengan santai.
“Ya, lo kan jomblo, udah dia aja sikat, lumayan lo dapet yang cantik gitu,” saran Rahman.
“Mau cantik gimana juga gue gak peduli sama dia. Kalau lo mau sama dia, ambil aja buat lo.”
Dirga memang sulit sekali membuka hatinya untuk siapa pun, dia tidak mementingkan pacaran untuk saat ini, yang Dirga butuhkan sekarang ini adalah cara untuk menyelesaikan masalahnya, dan merasakan kebahagiaan keluarga. Dirga tidak pernah terpikirkan untuk mencari pacar lagi, atau mendekati cewek di sekolahnya. Kalau memang dia benar mau nyari pacar, Dirga pasti bisa dengan cepat dapatin pacar. Banyak kok cewek yang suka dengannya, Dirga tinggal milih kalau dia mau, tapi sayangnya dia belum kepikiran untuk pacaran lagi.
Ponsel Dirga yang terletak di atas meja bergetar, telepon masuk dari Ayu. Dia mengangkatnya.
“Iya, ada apa, Yu?” tanya Dirga setelah mengangkat telepon dari Ayu.
“Lo di mana sekarang?”
“Gue di kantin.”
“Ya udah, gue ke sana sekarang.”
Dirga langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Tak butuh waktu lama bagi Ayu untuk pergi ke kantin. Sekarang mereka sudah berada di kantin, tatapan mata Ayu menyapu semua orang yang sedang berada di kantin. Ayu dan Rafika mendekati Dirga setelah tahu keberadaannya.
“Lo kok gak pernah balas pesan Rafika, kenapa?” tanya Ayu, membela Rafika.
Sedangkan, Rafika yang berdiri di samping Ayu hanya diam mendengarkan apa yang akan mereka katakan.
Dirga selesai dengan makanannya. Dirga menghadap ke arah Ayu yang berdiri di sampingnya. “Iya, Yu. Iya! Entar gue balas pesan teman lo. Jadi lo gak usah capek-capek lagi nyamperin gue ke sini untuk nyuruh balas pesan teman lo.”
“Hai, Dirga!” Tiba-tiba salah satu siswi menyapa Dirga dari belakangnya. Siswi itu berjalan ke arah depan Dirga, dan dia sekarang tepat berada di depannya.
Suasana seketika menjadi tidak nyaman untuk Dirga sendiri. Ketika Indira datang, Dirga terlihat kurang nyaman dengan keberadaannya di sana. Indira menatap Dirga dengan tatapan yang dulu pernah membuat Dirga luluh, namun sekarang tatapan itu tidak pernah digubris oleh Dirga. Percuma baginya untuk kembali melihat ke arah Indira kalau hanya akan menjadi siksaan untuknya.
Indira tersenyum pada Dirga. Tangannya ingin menggapai lengan Dirga, namun ditepis begitu saja oleh Dirga sendiri. Indira langsung merasa kurang nyaman dengan perlakuan Dirga padanya. Indira tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini di hadapan banyak orang.
“Dia akan gantiin posisi lo yang dulu!” Dirga menunjuk Rafika yang sedang diam di samping Ayu. Perkataan itu jelas ditujukan untuk Indira.
“Gue tahu lo belum bisa move on dari gue, Di,” ucap Indira begitu saja.
“Gue udah move on dari lo!” tegasnya, “masih kurang jelas? Gue udah move on dari lo, dan yang gantiin posisi lo, Rafika!” Di kalimat akhir ada penekanan di setiap katanya.
Pernyataan Dirga membuat semuanya tercengang, termasuk Rafika sendiri yang tak menyangka bahwa Dirga mengatakan seperti itu. Ucapan yang dikeluarkan Dirga itu membuat semuanya terdiam. Benarkah Dirga lebih memilih Rafika daripada Indira? Atau jangan-jangan ini hanya akal-akalan Dirga untuk menghindar dari Indira.
Lengan Rafika digenggam oleh Dirga. Dirga mengajak Rafika untuk pergi dari kantin menuju ke kelas mereka. Rafika berjalan tergesa-gesa mengiringi langkah kaki Dirga yang ingin cepat pergi dari sana.
Kejadian apa ini? Mantan pacar Dirga begitu saja datang menghampiri mereka yang sedang mengobrol di kantin, membuat suasana menjadi kacau.
“Jalannya cepat!”
“Sabar, gue gak bisa jalan buru-buru,” kata Rafika, masih meneruskan langkahnya mengikuti Dirga.
Mereka masuk ke kelas. Dirga langsung menyuruh Rafika duduk, dan menjelaskan semua tentang perkataannya tadi. Rafika kaget, hatinya seketika merasakan sakit yang amat dalam. Intinya Dirga menjelaskan bahwa kejadian di kantin tadi jangan dianggap serius, dia tidak sungguh-sungguh dengan pernyataannya tadi.
Rafika terdiam setelah mendengarkan penjelasan dari Dirga.
Maunya Dirga apaan, sih? Kok tega bikin anak orang jadi berharap gitu. Dirga seakan berkuasa atas diri Rafika saat di kantin tadi, Dirga bahkan tidak peduli dengan perasaan Rafika kini. Terpenting dia sendiri sudah menghindar dari Indira.
Wajah Rafika ditekuk bersedih. Ahh, Rafika juga mengerti kalau Dirga tidak terlalu serius saat di kantin tadi, dia paham dengan situasinya. Tapi kenapa harus dia yang dipilih untuk menghindari Indira! Lagian mereka juga baru kenal, dan Rafika sendiri perlahan mulai tahu bagaimana sifat Dirga sebenarnya. Ya, jadi dia tidak perlu menanggapi hal tadi secara berlebihan.
“Jangan pernah buat orang lain berada di dalam zona nyaman lo, kalau lo sendiri menganggap semua itu candaan.” Perkataan itu spontan saja keluar dari mulut Rafika. Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa dia sadari bahwa orang yang berada di depannya saat ini adalah Dirga.
“Terserah gue mau ngapain. Makanya, kalau punya perasaan jangan terlalu mudah diajak serius,” cibir Dirga.
Rafika duduk di kursi, sedangkan Dirga sendiri berdiri di hadapannya dengan satu kaki naik ke atas kursi yang Rafika duduki. Dirga perlahan mendekatkan wajahnya, hingga membuat Rafika sendiri bingung harus berbuat apa. Rafika menatap mata Dirga. Mereka kini saling tatap dengan suasana kelas masih kosong.
“Gue beritahu sama lo, jangan mudah ngasih hati lo buat orang. Risikonya lo akan sakit.”
Dirga meninggalkan Rafika sendirian di dalam kelas setelah dia mengucapkan kata yang sulit dicerna oleh Rafika sendiri. Dirga menuju lapangan basket untuk mengisi waktunya saat ini.
Beberapa siswi mulai berteriak ketika Dirga masuk ke lapangan basket. Hal ini membuat semua murid kaget, lantaran Dirga sudah lama tidak bermain basket, tapi kali ini dia sudah berdiri di lapangan basket dan ingin bermain bersama yang lainnya.
“Dirga!!”
“Dirga! Love you!”
Terdengar suara para siswi meneriakkan namanya. Terbukti, Dirga memang sangat populer di sekolahnya. Dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas banyak siswi mengidolakannya, dengan paras yang tampan, tubuh tegap, penampilan keren, Dirga menjadi satu-satunya cowok yang paling banyak disukai oleh para siswi.
Sekarang Dirga sedang bermain basket bersama kelas sebelas lainnya. Jam istirahat memang sering sekali ada orang yang bermain basket, terlebih lagi olahraga itu banyak disukai oleh para murid cowok di SMA Cakrawala. Teriakan para siswi terdengar saat Dirga berhasil memasukkan bola basket ke ring dengan jarak jauh. Kehebatan Dirga dalam bermain basket masih sama seperti dulu.
Dirga kembali merebut bola basket dari tangan lawan, dia melewati beberapa musuhnya dengan sangat lincah, Dirga bermain dengan teman-temannya sangat kompak. Mereka saling mengoper bola tanpa ada yang berniat menguasai bola sepenuhnya. Dirga menangkap bola yang dioper temannya dengan tangan kanannya, dan langsung melompat memasukkan bola itu ke dalam ring. Masuk. Kembali teriakan para siswi terdengar mengiringi keberhasilan Dirga memasukkan bolanya.
“Dirga!” teriak Ayu yang berada di pinggir lapangan.
Dirga memutar pandangannya mengarah pada Ayu yang memanggilnya. Dirga berlari mendekatinya.
__ADS_1
“Ini minumnya,” Ayu menyodorkan sebotol minuman pada Dirga.
Ayu memang sangat perhatian dengannya. Dirga menerimanya, dan langsung meminumnya. Terlihat juga ada Rafika di sana sedang berdiri di samping Ayu, namun Rafika sendiri lebih memilih untuk diam ketimbang ikut bicara.
Entah kenapa Rafika dibuat kaku saat berada di hadapan Dirga sekarang. Apa karena masalah yang di kantin tadi? Apa mungkin Rafika masih teringat dengan perkataan Dirga waktu di kelas tadi? Pastinya, Rafika tidak mau membuat suasana mereka berdua terganggu, dia lebih memilih untuk diam saja.
Terdengar suara bel masuk pelajaran selanjutnya berbunyi, mereka bertiga segera pergi menuju kelasnya.
“Capek,” keluh Dirga setelah duduk di kursinya.
“Makanya, nggak usah main basket kalau capek,” cibir Ayu.
“Gue lagi ngidam main basket, Yu.”
Perkataan Dirga sontak membuat seisi kelas tertawa.
Dirga mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Dirga mendapati pesan masuk di whatsapp dari Rafika sangat banyak, wajar saja kalau tadi Ayu menghampirinya di kantin. Padahal Rafika hanya ingin berteman dengannya, tapi Dirga sendiri tidak pernah menanggapinya dengan sungguh-sungguh. Dirga hanya membiarkan pesan dari Rafika menumpuk di whatsapp-nya tanpa dibaca.
Rasa penasaran menghampiri Dirga, dia ingin membuka apa isi pesan dari Rafika, namun egonya masih menahan niatnya itu. Secepat mungkin jari telunjuknya langsung menekan pesan dari Rafika. Ada sepuluh pesan yang diterima oleh Dirga, dan tiga telepon masuk dari Rafika. Sebenarnya dia mau ngapain, sih? Gak jelas, cibir Dirga dalam hatinya. Pesan itu dia baca satu per satu―yang pada intinya tetap Rafika ingin menjadi teman dekat Dirga, dan dia mau membantu menyelesaikan permasalahannya.
Dirga berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Rafika di kursinya.
“Kalau lo mau jadi teman gue, silakan. Asal, lo gak harus tahu apa permasalahan gue sekarang, paham?”
Rafika menatap Dirga dengan sedikit takut. Dalam hatinya bahagia karena Dirga mau menerima dia menjadi temannya. Tapi pada kenyataannya Rafika dibuat gugup dengan sikap Dirga sekarang ini.
“Rafika akan bantu buat nyelesain masalah lo, Di,” sambung Ayu, menengahi mereka.
“Gak usah! Gak perlu repot-repot buat terlibat dalam masalah gue, lo urus hidup lo sendiri dan nikmati kebahagiaan lo sendiri,” tegas Dirga tertuju pada Rafika. Lalu, dia berjalan kembali menuju kursinya.
Guru yang akan mengajar di kelas mereka pun masuk untuk segera memberikan materi.
“Alah, Pak Botak lagi yang ngajar, bosen gue,” celetuk Dirga dengan suara sedikit pelan. Akan tetapi perkataan Dirga didengar oleh Pak Efendi.
Pak Efendi, guru yang mengajar pelajaran sejarah di kelas mereka. Memang, Pak Efendi selalu berpenampilan tanpa rambut, tapi itu bukan untuk dicela oleh para muridnya, Pak Efendi sangat marah kalau dia dipanggil “Pak Botak”. Guru lain pun pasti akan marah kalau ada yang menjuluki atau memanggil kurang sopan.
“Siapa yang bilang Bapak botak tadi?!” bentak Pak Efendi.
Semua murid di kelas menahan tawa setelah mendengar perkataan Pak Efendi, termasuk juga Dirga sendiri.
“Kalau gak ada yang mau ngaku, sekarang akan Bapak laporkan kepada kepala sekolah kalau semua murid kelas kalian kurang sopan terhadap guru!” ancam Pak Efendi.
“Udah, ngaku aja, Di,” bisik Udik menyuruh Dirga ngakuin kesalahannya.
“Ogah! Ngapain gue mau ngaku, yang ada entar gue dapat masalah lagi,” balas Dirga berbisik pada Udik.
“Saya, Pak.”
Dirga kaget melihat Rafika berdiri mengakui bahwa dia yang tadi sudah mengatakan itu. Semua orang di kelas juga bingung dengan keberanian Rafika menanggung semuanya. Akan jadi masalah besar ini, sesal Dirga dalam hatinya.
Rafika keluar dari tempat duduknya, berjalan menuju Pak Efendi.
“Saya yang tadi bilang begitu, Pak. Maaf sebelumnya karena sudah lancang bilang begitu,” kata Rafika tertunduk di hadapan Pak Efendi.
Dengan berani Rafika mengakui kesalahan yang bukan dia perbuat. Kesalahan itu bahkan bisa menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri, tapi Rafika begitu saja mengakui itu sepenuhnya kesalahan dia. Orang macam apa Rafika ini? Kenapa dia mau membantu Dirga bebas dari masalah?
Ayu menatap Dirga dengan penuh amarah.
Kesalahan tetaplah kesalahan, dan kesalahan yang diperbuat harus dipertanggung jawabkan. Dirga berdiri dari kursinya, menghampiri Pak Efendi yang mulai marah-marah sama Rafika.
“Saya yang ngomong begitu tadi, Pak,” terang Dirga yang sudah berdiri di hadapan Pak Efendi.
Pak Efendi pun jadi bingung siapa yang sebenarnya mencela dia tadi. Dirga dan Rafika saling mengakui bahwa salah satu dari mereka yang mencela Pak Efendi. Baik Rafika ataupun Dirga, keduanya tidak ada yang mau mengalah, mereka tetap mengakui bahwa salah satu dari mereka sudah mencela Pak Efendi.
Mau apa sebenarnya Rafika ini? Dia masih saja bersikeras membantu Dirga.
“Sudah, kalian berdua cepat pergi ke lapangan upacara dan langsung hormat pada bendera, sekarang!” suruh Pak Efendi pada mereka berdua.
Mereka berdua segera berlari menuju lapangan upacara untuk menjalankan hukuman. Dirga dan Rafika langsung hormat mengarah pada bendera di ujung tiang. Terik matahari mulai membakar kulit mereka berdua.
“Kenapa lo mau ngakuin kesalahan yang bukan lo perbuat?” tanya Dirga. Mereka berdua masih hormat di bawah terik matahari.
Rafika menatap Dirga. “Gue kan udah bilang sama lo, gue mau jadi teman lo dan mau ngebantu lo buat nyelesain masalah pribadi lo. Gue tahu kenapa lo jadi seperti ini sekarang, Ayu udah cerita ke gue. Kalau ada masalah itu jangan dipendam sendiri, nanti jadi beban buat kehidupan lo. Lo bisa berbagi kesedihan dengan teman-teman lo, semuanya pasti mau bantu kok, gak usah ngerasa gak enak hati ngelibatin orang dalam masalah. Gue tahu lo itu sebenarnya ingin cepat masalah lo selesai, tapi lo sendiri gak tahu cara nyelesainnya gimana.”
Mereka berdua kini saling tatap dengan suasana yang mulai serius.
“Gue gak mau kalau banyak orang terlibat dalam masalah gue. Cukup gue sendiri yang ngerasain gimana sakitnya berjuang mencari kebahagiaan di keluarga. Lo gak usah ikut dalam masalah gue.”
“Dengan berjuang sendiri apa bisa buat masalah lo jadi selesai?”
Dirga hanya diam. Dia kembali menghadap ke depan, mengalihkan pandangannya.
“Gue ada buat ngebantu lo untuk nyelesain masalah. Gue, Ayu, Udik, dan Rahman mau hidup lo itu tenteram, nyaman, bahagia setiap harinya, bukan malah jadi begini. Jadi anak nakal bukan pilihan yang tepat, Di! Lo pasti tahu kenapa gue atau yang lainnya sangat ingin membantu lo. Walaupun gue teman baru lo, gue tahu apa yang lo rasain, Di. Gue gak mau teman gue ada yang nggak bahagia. Keluarga itu penting, Di!” Rafika sedari tadi serius dengan perkataannya. Air matanya mulai keluar perlahan seiring perkataan yang dia ucapkan sendiri.
Benar yang dikatakan Rafika, keluarga itu penting. Teman-teman Dirga terus berusaha membujuk Dirga agar mereka membantu menyelesaikan masalahnya. Sikap mereka sebagai teman harus diapresiasi setinggi-tingginya, apalagi Rafika, dia sendiri padahal teman barunya Dirga, tapi setelah mengetahui permasalahan pribadi Dirga, Rafika berkeinginan menyelesaikan permasalahan temannya itu.
Dirga sendiri hanya menatap ke depan seperti patung. Tidak ada perkataan lanjutan darinya atau mau menerima niat baik Rafika untuk membantu dia menyelesaikan masalah.
Waktu terus berputar hingga kini pelajaran Pak Efendi sudah selesai, bersamaan dengan itu juga hukuman Dirga dan Rafika berakhir.
Tanpa ada perkataan atau ajakan, Dirga langsung saja menarik lengan Rafika menuju kantin sekolah. Sepanjang perjalanan Rafika terus mengiringi Dirga yang menariknya dengan paksa.
Mereka berdua sudah berada di kantin sekarang. Dirga memesan dua gelas es teh untuk mereka berdua. Dia tahu kalau Rafika juga haus karena menerima hukuman tadi, makanya dia memesan dua es teh untuk mereka. Dirga tidak berkata apa pun, dia hanya menyuruh Rafika meminum es tehnya.
Setelah itu, mereka berdua kembali ke kelas bersama-sama.
__ADS_1
Benar-benar Rafika dibuat kebingungan dengan sikap yang ditunjukkan Dirga tadi terhadapnya. Kemarin Rafika menerima perlakuan yang kurang baik dari Dirga, bahkan Dirga sampai tadi pagi masih cuek dengan dia, tapi setelah mereka dihukum Pak Efendi tadi, sikap Dirga terhadap Rafika berubah. Apakah Dirga sudah menganggap bahwa Rafika temannya? Ahh, itu gak penting sekarang, yang pastinya Rafika terlihat bahagia setelah mendapatkan perlakuan baik dari Dirga.