Diandra

Diandra
Bab 73


__ADS_3

"Diandra!!"


Gama berlari menghampiri istrinya. Pria tampan itu segera mengangkat tubuh Dian dan membawanya ke kamar.


"Kamu kenapa, Di"


Gama menghubungi Ramlan dan meminta sahabatnya itu datang. Selain itu, ia juga mengabari orang tuanya untuk kemari. Sembari menunggu, Gama mengganti pakaian istrinya tak lupa menyeka tubuh Dian yang berkeringat.


Tak berselang lama, Ramlan datang. Pria itu segera memeriksa Diandra.


"Bagaimana, Lan?"


"Sepertinya Dian mengalami gangguan kecemasan. Sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau terapis"


Gama mengangguk, "Aku akan melakukan saranmu. Terima kasih sudah memeriksanya"


"Kalau ada apa - apa, hubungi aku segera"


"Hm, tentu"


"Bagaimana kondisi Dian, Gam?" tanya Clara panik


"Bagaimana kondisinya, Lam?" tanya David


"Dian mengalami gangguan kecemasan"


Clara nampak begitu sedih, dia segera ke kamar Gama untuk melihat keadaan menantunya.


"Aku pamit dulu, Om"


"Terima kasih, Lan"


"Sama - sama"


Setelah kepergian Ramlan, Gama dan David menyusul ke kamar.


"Tenanglah, Nak. Gama sudah ada disini. Dia sudah pulang" Clara nampak menenangkan menantunya.


"Benarkah?" tanya Dian menatap mertua perempuannya


"Iya, Nak. Dia ada di depan. Gama sedang mengantar Ramlan"


Di depan kamar Gama dan David saling bertatapan


"Kenapa kamu bisa pingsan?" tanya Clara pelan


"Aku-" Dian tak melanjutkan kalimatnya, wajahnya kini terlihat cemas, "Dia tidak bisa di hubungi. Nomornya tidak aktif. Gama juga tidak mengirimiku pesan lagi. Aku - " Dian mengusap wajahnya, "Aku hanya takut kejadian Saka terulang kembali. Awalnya Saka jarang mengirim pesan, lalu sering pulang terlambat. Lama - kelamaan dia sering keluar kota. Pada akhirnya aku di ceraikan begitu saja. Bagaimana ... Bagaimana kalau kejadian itu terulang lagi? Aku terlalu takut untuk membayangkannya. Saat - saat dimana aku mulai mengetahui kenyataan bahwa Saka selingkuh membuatnya terpuruk. Apalagi saat aku melihatnya langsung. Aku harus bagaimana kalau kejadian itu kembali terulang lagi?", Dian terlihat begitu cemas,


Clara mengusap sudut matanya dan kembali memeluk menantunya itu, "Itu tidak akan terjadi. Gama tidak akan melakukan hal yang sama dengan mantan suamimu. Percayalah pada Mama"


"A-aku ingin percaya. Tapi terasa begitu sulit. Saat ini aku hanya bisa percaya pada diriku sendiri"

__ADS_1


Sedih, marah pada diri sendiri dan merasa bersalah. Itulah yang Gama rasakan kini. Seharusnya ia bisa pulang lebih cepat, seharusnya dia mengirimi istrinya pesan sebelum baterai ponselnya habis.


"Semua ini salahku, Pa. Harusnya aku lebih peka terhadap kondisi Diandra"


David mengusap bahu putranya, "Jadikan ini pelajaran untukmu. Setelah ini, Papa yakin kamu akan jadi suami yang lebih peka"


Clara menatap ke arah pintu, ia tahu jika Gama ada disana. "Mama mau keluar sebentar ya. Biar Gama yang menemani kamu. Kalau kamu butuh Mama, Mama ada di depan"


Dian mengangguk, Clara keluar dari kamar. "Temani dia, Gam. Dia butuh kamu sekarang"


"Tentu, Ma"


"Mama dan Papa akan menginap disini malam ini. Besok, kalau kondisi Dian sudah lebih baik, kalian tinggal di rumah saja untuk menghindari kejadian seperti ini terulang lagi"


"Iya, Ma"


Gama masuk ke dalam kamar, saat ini Dian sedang duduk bersandar. Suami Dian itu segera duduk di samping istrinya, "Maaf" kata itulah yang mampu Gama ucapkan


Dian menggeleng pelan, "Kenapa kamu minta maaf?"


"Kamu begini karena aku"


Dian tersenyum, "Semua bukan salahmu. Aku saja yang terlalu lemah"


Gama memeluk istrinya dengan erat, "Seharusnya aku mengabarimu dulu sebelum ponselku kehabisan baterai. Harusnya aku bisa menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat. Dan harusnya aku menepati janjiku untuk menjemputmu di kantor. Maaf, Di. Maaf"


Dian mengusap punggung Gama pelan, "Aku yang harusnya minta maaf. Maaf karena kamu harus menikahi wanita seperti aku. Harusnya kamu tidak usah menikahiku, Gam. Dari awal aku sudah mengatakannya padamu. Aku berbeda dengan wanita lainnya. Jalanmu akan sulit, Gam. Kamu bisa berhenti se-"


"Tapi seperti inilah aku, Gam. Kamu sudah melihat bagaimana lemahnya aku"


"Semua orang punya kelemahannya sendiri! Tidak ada satu orangpun yang sempurna termasuk aku dan juga kamu! Dan aku menerima kamu apa adanya. Aku harap kamu juga begitu!"


"Tap-"


"Hatiku telah memilihmu. Diriku telah juga memilihmu, itu karena aku mencintaimu. Dan mencintai, harus bisa menerima, memahami dan mengerti pasangan yang telah kita pilih"


Dian menatap Gama lekat,


"Aku mencintaimu, Di. Aku akan membuktikan bahwa dengan cinta yang kumiliki, kamu pasti akan sembuh"


*Semoga yang kamu ucapkan adalah kenyataan, Gam. aku akan menjadi wanita yang paling beruntung jika itu memang kenyataan.


🍀🍀🍀*


"Loh, iki kan kartu identitasnya Saka. Bunda dapat darimana?" tanya Saka


"Tadi ada ojol yang kirim"


"Terus cincinnya mana?" tanya Saka lagi


"Cincin apa? Dia cuma ngantar kartu ini saja kok"

__ADS_1


Bagaimana bisa kartu identitas ini di kirim ojol tanpa cincinnya Vika. Apa ada seseorang yang sudah mengambilnya?


"Memangnya ada apa, Ka?" tanya Bunda heran


"Tidak ada. Aku pergi sebentar ya, Bun"


"Mau kemana? Aku ada urusan sebentar"


Saka segera pergi, ia harus memastikan hal ini. setelah berjalan ke depan komplek, Saka menunggu angkot yang lewat. Namun hingga hampir setengah jam, tidak ada satupun angkot yang lewat.


"Tumben tidak ada angkot, mana uangku cuma cukup buat naik angkot lagi!" gerutu Saka


Sementara di rumah, Vika yang baru saja bangun tidur tampak mencari keberadaan suaminya.


"Dimana Mas Saka?"


"Dia pergi, katanya ada urusan"


"Urusan apa?!"


"Mana aku tahu! Dia pergi setelah kartu identitasnya dikirim oleh ojol"


Vika menatap mertuanya heran, "Maksud Bunda kartu identitasnya Mas Saka di kirim ojol, begitu?"


"Hm"


"Apa ojol itu juga memberikan cincin?"


Hastari memutar mata malas, "Nggak Saka, nggak kamu! Kenapa pada tanya cincin! Memangnya cincin apa sih?"


Vika tak menjawab pertanyaan mertuanya, ia pergi begitu saja meninggalkan Hastari


"Dasar tidak sopan. Bagaimana bisa dia malah pergi begitu saja!" omel mertua Vika tersebut


Vika mengambil dompet dan ponselnya, tiba - tiab dia melihat satu notifikasi


Terima kasih, cincinnya Mas Saka. Aku sangat menyukainya


Tanpa menunggu, Vika segera menelpon nomor asing tersebut. Sayangnya sudah tidak aktif


Beberapa menit kemudian, satu pesan kembali datang


Aku sudah menunggumu, Mas. Kamu tidak lupa dengan janji kita kan?


Sekali lagi Vika menelpon nomor itu, tapi lagi - lagi tidak aktif. Mau menelpon Saka? Ponsel suaminya itu sudah di jual beberapa hari yang lalu.


Ting


Aku mencintaimu, Mas Saka


"Brensek!! Beraninya Saka selingkuh di belakangku!!" Vika melempar ponselnya hingga terbelas menjadi dua, "Kamu tidak bisa mempermainkan aku seperti ini, Ka!! Lihat saja, akan kubuat selingkuhanmu itu menyesal!!"

__ADS_1


__ADS_2