Diandra

Diandra
Tersadar


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


NIT-NIT-NIT. Suara mesin alat medis terdengar nyaring di ruang yang sunyi, Andara perlahan membuka mata, mengitarkan pandangan ke sekeliling, ia tahu jika sekarang ia sedang berada di rumah sakit.


"Dad's... Daddy!" ucap Andara dengan suara masih lemah.


Hameed yang tertidur di sofa langsung terbangun, tersenyum melihat putrinya telah siuman.


"Andara... syukurlah kamu sudah siuman Nak! Daddy sangat mengkhawatirkanmu, sayang!" ucap Hameed mengelus puncak kepala putri sulungnya.


"Dad's... maafkan Andara, sudah membuat Daddy khawatir," lirih.


"Enggak sayang... tidak perlu minta maaf pada Daddy ya, seharusnya Daddy yang minta maaf sama kamu, karena tidak bisa melindungi kamu," lirih Hameed tak kuasa dengan kesedihan.


Andara terheran lantaran Hameed tiba-tiba berucap seperti itu.


"Kenapa Daddy berbicara seperti itu?" tanya Andara lirih.


"Sudah Nak, jangan di bahas ya!" ucap Hameed tak mau membuat Andara sedih.


"Eh... Nona Andara sudah bangun, biar saya periksa dulu ya Tuan, Nona Andaranya," ucap seorang Dokter, yang akan memeriksa keadaan Andara.


"Iya silakan Dokter," ujar Hameed.


Kemudian Hameed keluar dari ruangan putrinya itu.


Tidak berapa lama Nessa dan Renita pun datang, membawa makanan dan baju ganti untuk Hameed.


"Mas... kamu kok di luar? Kenapa enggak nunggu di dalam mas?" ucap Nessa menyadarkan Hameed suaminya.


"Dad's, Kak Dara sudah siuman?" tanya Renita antusias, setelah melihat Andara sedang di periksa oleh Dokter.


Hameed menganggukkan kepalanya, lalau tersenyum penuh haru.


Nessa pun mengucap rasa syukurnya, lantaran Tuhan mendengar setiap lantunan Do'anya.


"Benar Mas... Putri kita sudah siuman?" ucap Nessa dengan mata mulai berkaca-kaca, ia sangat bahagia lantaran putrinya berhasil melewati masa kritis.


"Iya sayang, Putri kita sudah siuman..." ucap Hameed tersenyum.


"Yaudah Mas, kamu sarapan... setelah itu kamu mandi ya! Biar aku dan Renita yang menemani Andara!" ucap Nessa.


Hameed pun menurut pada istrinya, ia segera bergegas menuju kamar mandi rumah sakit, membawa tas pakaiannya.


Sementara Alexander bangkit dari ranjang perawatan, kembali ingin menemui Andara.


Alexander berjalan gontai, menghampiri Nessa dan Renita yang terlihat berjaga.

__ADS_1


"Sial... kenapa musti ada mereka di sana!" gumam Alexander.


Ia terpaksa harus berhadapan lagi dengan Nessa dan Renita, ibu dan adiknya Andara.


"Selamat pagi Tante!" sapa Alexander dengan tidak tahu malu.


Sekilas Nessa menoleh, ia sangat marah melihat pria yang telah melecehkan putrinya.


"Mau apa kamu ke sini lagi! Bukankah semalam sudah saya katakan, saya tidak ingin melihat wajah menjijikan kamu lagi!" tukas Nessa.


"Tante... saya hanya ingin mengetahui keadaan Andara Tante, tolong ijinkan saya untuk bertemu dengannya," ucap Alexander memohon.


Renita mulai kesal ketika Alexander terus meminta untuk bertemu dengan Andara, kakaknya.


"Apa kau tuli hem... kau tidak dengar atau tidak tahu malu!" ketus Renita.


"Kamu Pria terbajingan dan tidak tahu malu Alexander!" murka Renita.


"Aku tahu, aku memang bajingan. ijinkan aku menebus semua dosaku pada Andara!" ujar Alexander.


"Percuma Alexander... mau menebus seperti apa pun, keluarga kami tetap tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan Andara lagi!" tegas Nessa menatap tajam pada Alexander.


"Sudah Mi, jangan tanggapi Pria brengsek ini!" ujar Renita mengajak ibunya untuk masuk ke dalam ruangan Andara.


KLEK.


Renita dan Nessa memasuki ruangan Andara, terlihat di dalam ruangan itu ada Dokter dan juga perawat.


"Tentu saja boleh, Nyonya. Anda kan orang tuanya!" kata Dokter itu, lalau menasehati Andara.


"Nona Andara, mulai sekarang Anda hanya perlu memperbanyak makanan yang sehat saja, dan jangan lupa di minum obatnya ya! Semoga cepat sembuh," ucap Dokter itu seraya tersenyum.


"Iya Dokter... terima kasih," ucap Andara membalas senyuman.


"Kalau begitu saya permisi mau menangani pasien lain," kata Dokter.


"Oh iya... silakan Dok!" ujar Renita mempersilakan.


Kemudian Dokter tersebut keluar dari ruangan Andara.


Sementara Alexander hanya bisa menatap Andara dari balik pintu kaca.


'Andara... andai saja, kamu juga memiliki perasaan yang sama sepertiku. Kamu tak perlu semenderita ini!' lirih Alexander, menatap keberadaan tiga orang yang berada di dalam ruangan.


Sementara Nessa dan Renita, terlihat sedang menghibur Andara, sesekali Andara tersenyum merasa terhibur oleh perhatian orang terdekatnya.


"Nak... kamu mau buah? Biar Mama kupaskan ya?" ucap Nessa.


"Enggak usah Ma! Dara juga bisa kok, ngupas sendiri," katanya.

__ADS_1


"Kamu baru sembuh sayang... Mama tidak akan mengijinkan kamu melakukannya," ucap Nessa.


"Benar kata Momy kak, kamu jangan menolaknya. Lagian ini untuk kebaikanmu juga!" seru Renita.


"Iya... terserah kalian kalau begitu," sahut Andara tersenyum.


Lalu Nessa menceritakan semua yang telah terjadi saat Andara koma, dan menceritakan terkait kepindahan mereka ke Indonesia.


"Kamu tahu enggak sayang... kita akan pindah ke Indo, dan kamu bisa memulai karir di sana," ungkap Nessa.


Andara terdiam sejenak, kemudian angkat bicara soal kepindahan mereka yang terdengar sangat mendadak.


"Loh... kenapa kita akan pindah ke Indonesia Ma? Ada apa sebenarnya, semua ini bukan karena masalah aku kan?" tanya Andara.


"Bukan dong sayang... kebetulan Daddy kamu akan membangun cabang perusahaan di sana, dan mengembangkannya," ucap Nessa membeberkan.


"Terus, perusahaan Daddy di sini bagaimana?" tanya Andara.


"Kakak tidak perlu khawatir lah, yang akan memegang kendali perusahaan Daddy di Istanbul aku kak," ujar Renita tersenyum simpul.


"Owh... jadi pindah ke indo hanya kita bertiga Ma?" tanya Andara lagi.


"Betul, hanya kita bertiga!" serunya.


Alexander yang mendengarkan percakapan mereka sangat gusar, lantaran usaha untuk memiliki Andara akan sangat kecil, karena jika Andara pindah ke Indonesia mereka akan terpisah jauh.


'Tidak, ini tidak boleh terjadi! Andara akan tetap berada di Turkey. Tidak akan pergi ke manapun!' ucap Alexander dalam hati.


Alexander mengepalkan tangannya kesal, memukul tembok di depannya.


BUGH. Suara Alexander saat meninju tembok terdengar hingga ke dalam ruangan.


"Suara apa itu?" ucap Nessa menoleh ke sumber suara.


"Paling orang iseng Mi," kata Renita meyakinkan ibunya.


Padahal iya tahu, suara itu bersumber dari Alexander yang memukul tembok, perlahan Renita melangkahkan kakinya, ia akan menemui Alexander.


"Kamu mau ke mana Renita?" tanya Nessa menghentikan langkah putri bungsunya.


"Renita mau ke toilet sebentar mi," dusta Renita.


"Yaudah, jangan lama-lama." ujar Nessa.


Renita keluar dari ruang perawatan Andara, mengitarkan pandangan ke sekeliling mencari batang hidung Alexander.


"Di sini kau rupanya!" seru Renita mengalihkan Alexander.


"Halo Adik ipar... bolehkah aku menemui Kakakmu?" ujar Alexander.

__ADS_1


"Ijinkan aku bertanggung jawab pada Kakakmu Renita, aku mencintainya!" tegas Alexander.


"Aku tanya sama kamu, apakah dengan cara menyakiti pantas di katakan cinta? Kau sangat egois Alexander!" tukas Renita marah terhadap Alexander yang tak mau mengerti.


__ADS_2