
Gama terbangun ketika mencium aroma masakan yang menggugah selera. Perlahan mata elangnya terbuka. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, Gama menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Melihat di sebelahnya sudah tidak ada lagi Diandra, ia yakin jika Dianlah yang sedang memasak.
Setelah mencuci muka, Gama turun ke lantai bawah. Dan benar, istri cantiknya itu sedang memasak. Tanpa suara, Gama duduk di kursi dapur, menatap beberapa hidangan yang sudah tersaji di atas meja.
"Sejak kapan kamu duduk di situ?" tanya Dian sedikit terkejut melihat keberadaan suaminya
"Lima menit sepertinya", Gama memperhatikan istrinya yang tengah mengisi air ke dalam teko. "Kamu memasak semua ini?"
"Hm"
"Kamu belanja? Aku lupa mengisi kulkas"
"Tadi aku belanja ke supermarket bawah. Dan aku membeli beberapa bahan masakan"
Dian menuangkan air ke dalam gelas kemudian memberikannya pada sang suami.
"Terima kasih"
"Mau makan sekarang?"
"Boleh. Aku tidak sabar memakan masakanmu"
"Aku tidak tahu rasanya sesuai seleramu atau tidak. Aku hanya bertanya pada Mama apa saja makanan kesukaanmu"
"Jadi kamu khusus memasakkan ini untukku? Sungguh istri yang perhatian" ucap Gama senang
"Aku memasak untuk kita berdua" sahut Dian asal
"Ah, benar. Untuk kita berdua. Tapi spesial masakan kesukaanku"
Dian terkekeh melihat ekspresi senang Gama, "Ini cukup?" tanya Dian saat mengambilkan nasi untuk Gama,
"Cukup. Nanti bisa tambah lagi"
"Kamu seperti anak kecil yang baru pulang main dan kelaparan"
Gama tertawa, "Aku hanya merasa senang karena ada yang memasak untukku selain Mama"
"Aku anggap itu sebagai pujian. Mau makan dengan apa?"
"Aku mau coba semuanya"
Dian mengangguk, dia merasa senang karena Gama nampak antusias dengan hasil masakannya. Berbeda dengan Saka yang justru jarang makan dirumah karena sibuk bekerja, padahal makanan sudah matang.
"Silahkan dinikmati"
"Terima kasih, istriku"
Dian memperhatikan Gama yang mulai menyantap masakannya. Mata suaminya itu terlihat berbinar, "Ini enak sekali. Kamu sungguh pintar memasak"
__ADS_1
Dian tersenyum mendengar pujian dari Gama, lihatlah bagaimana suaminya itu makan. Lahap dan bersemangat. "Kamu tidak makan?"
"Aku makan sebentar lagi. Melihatmu makan dengan lahap, aku merasa kenyang"
"Buka mulutmu"
"Kenapa?"
"Kamu belum makan, kan? Kita makan sepiring berdua saja kalau begitu"
"Eh, tidak usah. Kamu makan saja"
"Tidak ada penolakan, ayo buka mulutmu"
Akhirnya, mereka makan sepiring berdua. Benar - benar romantis.
"Masakanmu enak. Aku yakin, jika kamu masak dirumah, Mama dan Papa akan makan dengan lahap juga"
"Kamu terlalu berlebihan. Masakan Mama juga enak"
Dian akan membereskan bekas piring kotor sisa makan mereka, namun Gama lebih dulu mengambilnya. "Kamu sudah memasak. Jadi biar aku yang mencuci"
"Jangan, aku saja"
"Tidak usah. Kamu duduk saja. Biar aku yang mencucinya"
Dian pun pasrah, dia duduk sambil memperhatikan Gama yang sedang mencuci piring. "Kamu bisa mencuci piring?"
"Aku sering melakukan hal - hal kecil yang menurutku bisa aku lakukan sendiri. Jika hanya mencuci bekas makan seperti ini, aku cukup handal"
Dian tertawa kecil, "Ternyata kamu tidak seperti yang aku kira"
"Ehm ... Semua serba di layani" ucap Dian pelan
Gama justru tertawa, "Aku bukan pangeran. Kenapa juga harus di layani? Kamu terlalu banyak menonton drama sepertinya"
Dian mengangguk, "Sepertinya memang begitu"
"Ayo kita duduk di ruang tamu. Ada hal yang ingin aku katakan padamu"
"Tentang apa? Kenapa sepertinya serius sekali?"
"Aku tidak tahu menurutmu ini serius atau tidak. Tapi cukup penting menurutku"
"Baiklah", Dian mengikuti suaminya sambil membawa cemilan yang tadi dia beli. "Jadi apa yang mau kamu katakan?"
"Kamu sengaja duduk menjauhiku?"
Dian berdecak kesal, "Lalu aku harus duduk dimana?"
Gama menepuk kursi di sampingnya, mengisyaratkan jika Dian harus duduk di sampingnya. Dengan enggan, Dian berpindah ke samping Gama. "Jadi?"
Gama beranjak menuju ke laci kemudian mengambil map dan menyerahkannya pada Diandra. "Bacalah"
Dian menerima map yang suaminya berikan. Dengan seksama, wanita cantik membaca kalimat demi kalimat yang tertera didalamnya.
"Ini?"
"Ya. Semua itu milik Mamamu dan sekarang sudah berpindah tangan padamu!"
__ADS_1
🍀🍀🍀
Saat ini Aditama beserta istri dan anaknya memilih tinggal di perkebunan. Memang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Disinilah mereka bisa hidup dengan damai. Tanpa kemewahan, tanpa cibiran dan hujatan masyarakat. Tapi itu menurut Aditama. Jangan tanyakan bagaimana penolakan Livia dan Cilla. Hidup tanpa kemewahan bukanlah gaya keduanya. Mereka tak henti memberikan omelan dan protes pada Aditama.
"Kalau seperti ini, namanya kita kalah! Enak saja. Diandra sudah mempermalukanku, sekarang malah kita yang harus sengsara! Harusnya kita tetap berada di Jakarta dan melawan wanita sialan itu!"
"Jangan berulah lagi! Mulai sekarang kita harus belajar hidup sederhana!"
"Kalau hidup di pedesaan begini, bukan sederhana lagi, tapi sengsara! Bagaimana bisa Papa menyuruh kami hidup menderita disini!" protes Livia
"Kamu lihat para warga? Mereka tampak sehat. Bahkan sangat sehat. Itu artinya mereka tidak menderita hidup disini!"
"Ya bedalah, Pa. Mereka sejak lahir memang tinggal disini, berbeda dengan kita yang sudah terbiasa hidup di ibukota" imbuh Cilla
"Apa bedanya? Sama - sama hidup!"
"Ish, Papa nih menyebelin benget tahu nggak. Pokoknya aku mau kembali ke Jakarta!"
"Ya sudah sana kembali. Kamu siap di hujat warga dan para netizen?"
Cilla menciut, berbeda dengan Livia yang nampak begitu kesal! "Papamu itu memang menyebalkan dari dulu! Dia sengaja mengurung kita disini karena ingin melindungi anak sialannya itu!"
"Jangan mulai, Livia! Kamu tahu betul kenapa aku membawa kalian kemari!"
Livia kembali berdecak kesal, "Apa kata orang kalau tahu kita tinggal di desa? Mama sudah bilang kalau kita tinggal di luar negeri! Tapi kenyataannya malah-. Huh!!"
Tok Tok Tok
"Cill, bukakan pintu" perintah Aditama
"Papa saja lah. Kok aku? Males gerak, Pa!"
"Ma-"
"Jangan nyuruh Mama. Buka aja sendiri!" potong Livia
Aditama hanya mampu menghela nafas, akhirnya dia sendiri yang membukakan pintu.
"Selamat malam, Tuan"
"Ya. Ada apa malam - malam begini kemari?" tanya Aditama
Alim, si penjaga perkebunan terlihat sedikit ragu.
"Apa ada masalah, Lim?"
"Anu- begini, Tuan. Barusan saya dapat kabar. Katanya besok pemilik perkebunan ini mau datang. Tapi bukannya perkebunan ini milik Tuan?"
Aditama sedikit berfikir, "Kamu dapat kabar itu dari siapa?"
"Dari Pak Darius, Tuan. Barusan beliau menelpon kantor dan meminta saya mempersiapkan penyambutan pemilik perkebunan ini. Saya jadi bingung, Tuan. Tuan kan sudah ada disini, pemilik perkebunan yang di maksud siapa? Apa ada saudara Tuan atau-"
"Sayalah pemilik perkebunan ini"
Aditama dan Alim menoleh pada asal suara. Pria paruh baya itu cukup terkejut melihat kedatangan Diandra.
"Perkenalkan, Saya Diandra Veronica Abraham! Putri dari Denata Abraham. Pemilik sah perkebunan ini!"
Deg
__ADS_1