
Dian tersenyum mengejek pada keduanya, "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sifat kalian begitu mirip. Ah tidak, lebih tepatnya Nyonya Livia memang menurunkan sifatnya pada Cilla. Seharusnya Anda malu Nyonya Livia, Anda bersikap sok suci di depan putri Anda. Bersikap seolah - olah Anda adalah ibu terbaik di dunia ini. Anda mungkin ibu terbaik di mata Cilla. Tapi di mata saya, Anda tak lebih dari wanita perusak rumah tangga orang!"
Deg
"TUTUP MULUTMU!! WANITA TIDAK TAHU DIRI. SIAPA KAMU BISA MENILAI MAMAKU SEPERTI ITU!! DIA WANITA TERHORMAT!!" Bentak Cilla
Keributan itu membuat Gama terusik, dia segera mengecek apa yang terjadi. "Ada apa?" tanya Gama panik
Begitupun dengan Aditama. Ia segera melihat keadaan putrinya karena mendengar Cilla berteriak. "Apa yang terjadi? Kenapa Cilla berteriak?"
Aditama tak sengaja menatap ke Diandra. Terlihat jelas, pria itu sedikit terkejut. Tatapannya seperti tatapan kerinduan. Berbeda dengan Dian yang menatap sinis Ayah kandungnya. Kini kubu keduanya saling bersitatap. Diandra bersama Gama dan Cilla bersama Livia juga Aditama.
"Kak Gama, lihatlah perilaku calon istrimu!! Beginikah wanita pilihanmu? Dia dengan kurang ajarnya telah menuduhkan hal keji pada Mamaku!! Harusnya kamu bisa membuka mata!! Masihkan kamu mau memperistri wanita tak punya etika seperti dia?!!"
"Berhenti menghina Diandra, Cilla. Kamu tidak tahu apa - apa!! Sebaiknya kamu bertanya dulu apa yang sebenarnya sebelum menilai buruk seseorang!" ucap Clara kesal. Dia baru saja sampai dan melihat semuanya. Tentu dia tidak terima
"Kenapa Tante selalu membela Diandra? Dia tidak sebaik yang Tante kira!! Jika saja Tante tahu apa yang baru saja dia lakukan, aku yakin Tante akan berpikir seribu kali untuk menjadikannya calon menantu!"
Clara menatap Livia dan Aditama bergantian, "Tolong ajari Cilla untuk lebih bersikap sopan pada orang yang lebih tua! Kalian bertanggung jawab atas perilaku putri kalian. Dia seorang perempuan, alangkah lebih indah jika dia bisa bersikap lebih lembut!"
Sindiran dari Clara membuat Cilla tertohok. Bukan hanya Cilla, Livia juga sakit hati atas penghinaan Clara pada putrinya. "Saya sudah mengajari Cilla dengan sangat baik, Jeng Clara. Dia bersikap seperti itu karena merasa miliknya telah diambil oleh orang lain" niat hati Livia ingin mempermalukan Diandra
"Saya bukan milik siapa - siapa, Tante Livia. Jadi jangan membuat spekulasi yang salah. Dari dulu Anda tahu kalau Cilla hanya saya anggap sebagai adik saya!" jawaban tegas Gama membuat Cilla semakin patah hati.
"Jeng Livia, satu hal yang perlu Anda ingat. Jika kita berbuat baik, balasannya juga baik. Namun jika kita berbuat jahat, balasannya juga jahat. Apapun yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri. Aku rasa kamu lebih paham hal itu!" tegur Clara
__ADS_1
Cilla yang tidak tahan akhirnya meninggalkan kamar. Di susul oleh Livia. Sedangkan Aditama masih berdiam di seberang sana.
"Untuk Anda Tuan Aditama. Saya tidak mau berbasa - basi lagi. Saya mau Anda yang menikahkan Diandra dengan Gama!" Aditama nampak kaget, "Anggap saja ini bentuk tanggung jawab Anda pada Diandra. Putri yang telah Anda sia - siakan selama ini!"
Deg
🍀🍀🍀
Hastari harus menelan kekecewaan karena Dian tak datang ke kantor hari ini. Wanita paruh baya itu keluar dari kantor DV Grup dengan wajah lesu. Ia berharap bisa bertemu dengan Diandra, namun kenyataannya nihil. Dia tak menemukan hasil apapun.
"Kemana sebenarnya Dian pergi? Kalaupun jauh, pasti ponselnya bisa di hubungi"
Ting
Satu notifikasi masuk ke ponsel Hastari. Tentu saja dia langsung membacanya.
Hastari bergegas menuju ke rumah sakit X setelah Saka memberi tahunya jika Vika di rawat disana. Dengan berbekal taksi online, dia segera menuju ke rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir empat puluh lima menit, Hastari tiba di rumah sakit. Ia menelpon Saka untuk mengetahui kamar rawat Vika.
"Kamar Dahlia No. 9"
Dengan langkah sedikit tergesa, Hastari melangkah ke kamar menantunya. Begitu membuka pintu, Hastari di suguhi pemandangan yang kurang enak. Vika terlihat menahan emosi sedangkan Saka seperti menghela nafas.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya nya mendekat ke arah Vika
__ADS_1
"Vika terlibat perkelahian dengan tahanan lain" jawab Saka
"Makanya kurangilah sedikit sikap aroganmu itu. Kamu pasti sudah menyinggung perasaan orang lain hingga terjadi perkelahian"
Vika menatap tajam mertuanya, "Seharusnya Bunda khawatir padaku. Kenapa malah menyalahkan aku!!"
"Tentu saja aku menyalahkanmu! Kamu tidak bisa menjaga diri. Kalau saja kamu bersikap baik pada orang lain, mereka akan bersikap baik juga padamu!"
Jengkel, begitulah yang Vika rasakan sekarang.
"Bagaimana Bun, Bunda berhasil bertemu dengan Dian? Apa dia mau mencabut tuntutannya?"
Pertanyaan Saka membuat Vika geram, "Mas!! Sudah aku katakan tidak perlu mengemis padanya! Lebih baik aku di penjara daripada mengemis iba pada wanita sialan itu!!"
"Kamu memang tidak tahu di diri. Kalau tidak pada Dian, pada siapa lagi kita akan meminta pertolongan? Kamu berharap kami menyewa pengacara untuk membebaskanmu? Kamu harus tahu, Saka yang sekarang bukanlah Saka seperti yang kamu kencani waktu dia masih berstatus suami Diandra! Sekarang Saka tidak punya apa - apa, dan itu semua karenamu!"
"Bun, tolong jangan buat keributan. Ini dirumah sakit!"
Vika tentu tidak terima dengan apa yang mertuanya katakan. "Mas Saka seperti ini karena mantan menantu kesayangan Bunda!! Kenapa malah menyalahkan aku!! Seharusnya dia yang Bunda salahkan!!"
"Kalau saja kamu tidak mengusik rumah tangga Saka dan Diandra, hidup Saka tidak akan susah seperti sekarang!!"
"Bagus, bela saja wanita sialan itu! Mau sampai berbusa pun, nyatanya akulah istri Mas Saka sekarang!"
"Kamu boleh berbangga menjadi istri Saka sekarang. Semoga saja Saka tidak terpikat wanita lain! Kamu tahu kan, karma itu berlaku!"
__ADS_1
"Tidak ada kata karma dalam hidupku! Aku akan tetap memiliki apapun yang sudah menjadi milikku!"
Hastari tersenyum tipis, "Kita lihat saja, semoga yang kamu katakan tidak salah!"