
"Kita mau kemana?" tanya Dian saat suaminya itu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan
"Jalan - jalan" Gama menatap sang istri, "Kamu pernah makan di pinggir jalan?"
"Dulu sering"
Gama mengangguk, "Ayo", Pria tampan itu menggandengan tangan sang istri. "Gam, kita bukan remaja lagi. Apa tidak terlihat lebay jika bergandengan tangan?"
"Peduli apa dengan omongan orang? Biarkan saja!"
Cuek, dingin dan terkesan ketus, begitulah kesan pertama orang ketika melihat Gama. Tapi di balik semua itu, Gama adalah tipe perhatian, penyayang dan romantis.
Keduanya sampai di satu warung lesehan yang menjual nasi goreng dengan aneka campuran. Ayam, kambing, sapi, sosis dan ikan asin.
"Kamu mau makan apa?"
"Samakan saja denganmu"
"Nasi goreng kambing kamu mau?"
"Boleh"
Gama memesan dua porsi nasi goreng kambing dan dua gelas teh hangat. Mereka duduk di lantai yang di lapisi karpet dengan meja kecil di tengahnya.
"Silahkan, Mas Gama"
"Terima kasih, Kang Edi"
"Ini pacarnya? Cantik pisan, Mas"
"Istri Saya"
Dian tersenyum, "Owh, pantesan udah lama nggak kemari. Mas Gama sudah nikah rupanya. Ya sudah, selamat menikmati ya"
"Kamu sering makan di sini?"
"Lumayan sering. Kalau lembur, aku pasti mampir kemari"
Dian mulai memakan nasi gorengnya dan rasanya benar - benar enak.
"Bagaimana? Enak?"
"Enak"
Gama tersenyum melihat Dian makan dengan lahap.
"Kenapa hanya melihatku? Kamu tidak mau makan?"
"Melihatmu makan rasanya aku sudah kenyang. Bagaimana kalau aku memakanmu saja seperti semalam?"
__ADS_1
Uhuk Uhuk Uhuk
Gama menepuk punggung Dian pelan, kemudian memberikan teh hangat pada istrinya itu. "Hati - hati kalau makan"
"Salahmu! Kenapa membahas hal seperti itu saat makan!"
"Kenapa kamu malu, semalam saja-"
"Gam, please! Kamu membuatku malu! Lihat banyak yang menatap kita!"
Gama memperhatikan sekitar dan benar, banyak yang menatap ke arahnya.
"Biarkan saja. Ayo makan lagi. Sudah malam"
Lihatlah, tanpa rasa bersalah pria itu malah bersikap santai. Benar - benar.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Saka memperhatikan keduanya. Niat hati mencari angin segar, Saka justru melihat pemandangan yang menyesakkan hatinya.
*Sepertinya kamu sudah bahagia bersama pria itu, Di. Aku berharap kamu selalu bahagia walau dalam hati kecilku masih ada rasa tidak rela.
🍀🍀🍀*
"Kenapa kita tidak pulang ke rumah Mama saja?" tanya Dian karena Gama justru membawanya pulang ke apartemen
"Aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu berdua denganmu"
Disadari atau tidak, perhatian kecil Gama perlahan - lahan membuat Dian terbuai. Namun rasa takut yang mendominasi, membuatnya tak begitu saja percaya pada Gama. Trauma akan sebuah hubungan membuat Dian membatasi perasaannya pada lawan jenis, termasuk pada suaminya sendiri. Meski dia berusaha membuka diri dengan memberikan hak bathin pada Gama, rasa percaya itu belum sepenuhnya ada.
Dian menggeleng, "Aku masih belum mengantuk"
Gama ikut naik ke atas ranjang, dia menatap Diandra lekat, "Sudah sejauh apa perkembangan pengobatanmu?"
"Kenapa kamu bertanya tentang pengobatanku?"
"Karena aku ingin ikut andil dalam menyembuhkan traumamu"
Dian menatap Gama, "Gam, kamu tahu betul jika aku belum sepenuhnya mempercayaimu"
"Aku tahu. Dan aku akan selalu bersabar untuk itu" Gama menggenggam tangan Dian, "Kamu sekarang istriku. Dan aku yang bertanggung jawab atas dirimu. Apapun yang terjadi padamu, jangan pernah menyembunyikan apapun. Bahkan hal terkecil sekalipun"
"Tanpa aku cerita, bukankah kamu tahu semua hal tentangku?"
Gama terkekeh, "Aku hanya berjaga - jaga"
Dian menatap Gama serius, "Apa arti pernikahan bagimu?"
Gama merebahkan kepalanya di paha sang istri. Wajahnya menghadap ke perut Diandra. Tangan kekarnya melingkar di pinggang ramping istri cantiknya itu. "Hubungan halal yang dilandasi akan cinta, kepercayaan, kejujuran dan rasa kasih sayang"
Cup
__ADS_1
Gama mengecup perut Dian lembut, "Mungkin sulit mempercayai apa yang aku katakan karena kamu berkali - kali merasakan pengkhianatan dari orang - orang yang kamu percaya. Aku tidak memintamu percaya. Tapi yang perlu kamu tahu, saat hatiku sudah menentukan pilihannya, aku akan menjaganya seumur hidup"
"Kata - katamu terdengar manis"
"Aku mencintaimu, Di. Bahkan jika harus menukar nyawaku sekalipun, aku rela melakukannya"
"Gam-"
"Aku akan terus membuktikan padamu, seberapa besar aku menyayangi kamu. Dan suatu saat aku yakin, kamu akan percaya dan kamu akan membalas cinta yang aku berikan"
Gama kembali mencium perut Diandra, "Aku berharap, akan segera hadir buah hati di antara kita. Selain untuk melengkapi kebahagiaan rumah tangga kita. Hadirnya anak akan menumbuhkan cinta di antara kita"
Dian terkekeh pelan, "Orang yang menikah karena perjodohanpun bisa memiliki anak. Dan lihat, pada akhirnya mereka tetap bercerai. Anaklah yang di korbankan. Bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa anak akan menumbuhkan cinta pada orang tuanya?"
"Itu karena tidak ada cinta di antara keduanya. Tapi rumah tangga kita, aku memiliki cinta yang besar untukmu. Dan aku akan mempertahankan itu. Karena apapun yang sudah menjadi milikku, tidak akan aku biarkan direbut atau berpindah jadi milik orang lain"
"Bagaimana jika si wanita yang memilih menyerah?"
Gama mengubah posisinya menjadi duduk, "Sebelum itu terjadi, akan kubuat kamu mencintaiku!"
"Kamu benar - benar ingin memiliki anak denganku?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku hanya khawatir"
"Apa yang kamu khawatirkan?"
Tatapan Dian berubah sendu, "Dulu Saka memintaku untuk menunda momongan. Bagaimana jika aku kesulitan memiliki anak. Sedangkan harapanmu begitu besar"
Saka seketika menyadari kekhawatiran istrinya, "Maafkan aku, Di. Seharusnya aku memahamimu dulu sebelum memaksakan keinginanku"
Dian menggeleng, "Boleh aku berkata jujur?"
"Tentu saja"
"Aku sedang berusaha membuka diri untuk memulai rumah tangga ini dengan serius. Aku sudah di pertemukan dengan keluarga yang baik. Sungguh tidak tahu dirinya aku jika aku mempermainkan mereka. Apalagi melihat kesungguhanmu. Aku tahu kamu adalah pria baik. Yang kamu katakan beberapa waktu lalu memang benar. Pernikahan bukanlah sebuah permainan yang mudah di mulai dan di akhiri. Tapi rasa takut lebih menguasai perasaanku. Sekalipun kamu sudah mulai menunjukkan keseriusan dan bukti cintamu, itu belum mampu membuatku percaya padamu seratus persen. Semua hal yang kamu lakukan sekarang, sama seperti yang Saka lakukan padaku di awal - awal hubungan kami. Tapi buktinya, dia juga memberiku luka. Aku hanya takut kamu berbuat hal yang-"
"Ssttt. Jangan di teruskan. Aku paham kekhawatiranmu. Aku paham rasa traumamu. Aku senang kamu mau jujur padaku, Di. Artinya kamu benar - benar mau membuka diri untukku dan rumah tangga kita. Tapi aku minta, jangan pernah mencemaskan masalah pengkhianatan lagi. Selama bersamaku, jangan pernah berfikir jika aku akan menduakan atau meninggalkanmu. Karena sampai aku matipun, itu tidak akan pernah terjadi"
Dian menitikkan air mata, "Hei, kenapa kamu malah menangis?", Gama mengusap air mata istrinya
"A-aku ingin sekali melakukan yang kamu katakan, Gam. Ingin! Tapi semua tidak semudah yang kamu katakan. Rasa khawatir, rasa takut, rasa was - was. Setiap saat selalu menghantuiku. Menerorku tiada henti. Dan membuatku sering berfikir buruk. Aku belum bisa melawannya. Aku Bahkan setelah terapi berbulan - bulan, aku belum bisa melewati tahap itu"
Gama memeluk sang istri, hatinya ikut nyeri mendengar kejujuran Diandra. "Ada aku, Di. Ada Mama, Papa, Rani dan juga keluarganya yang akan selalu mendukungmu. Membantumu untuk sembuh. Aku janji. Aku akan mendampingimu sampai kamu benar - benar pulih"
"Aku hanya takut kamu tidak bisa bertahan denganku, Gam. Aku takut kamu menyerah suatu saat nanti. Lalu meninggalkan aku seperti yang lainnya"
"Hei, itu tidak akan pernah terjadi. Dengarkan aku!" Gama meminta Dian menatap dirinya, "Jika itu sampai terjadi, maka kamu boleh membunuhku!"
__ADS_1
🍀🍀🍀
Gama keren nggak sih?