
...HAPPY READING...
...----------------...
Melissa meneliti rumah megah bak istana dari balik kaca mobil, namun ia enggan untuk turun dari mobil, Melissa hanya mengawasi rumah itu, menunggu Radit dengan Diandra keluar.
“Rumah siapa sebenarnya ini?” gumam Melissa, sekilas ia melirik nama pemilik rumah.
(MILLOMA MANSION)
“Milloma? Siapa sebenarnya orang ini, dan apa hubungannya dengan Radit?” Melissa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sementara Radit dan Diandra bersama Milloma masih berada di meja makan nan megah itu.
“Bagaimana Andara makanannya, enak?”
Milloma bertanya pada Diandra dengan tersenyum.
“Enak Oma saya sangat suka, apalagi itu uuuh, wah banget deh pokoknya!” ujar Diandra seraya tersenyum.
“Nenek sangat suka gaya kamu, setelah ini Nenek akan memperlihatkan ruangan-ruangan yang ada di dalam rumah ini,” ucap Milloma.
“Ah ya... nanti kita lihat ya Oma,” ucap Diandra menyipitkan matanya manja terhadap Radit.
‘Dih... apa-apaan ini cewek!’ batin Radit menatap geli pada Diandra berlaku genit padanya.
Radit segera menyelesaikan makannya, dan segera kembali ke ruang keluarga.
Lalu di suguhkan lagi teh hangat oleh pelayan di rumah itu.
“Silakan Tuan,” ucap pelayan sambil meletakan secangkir teh.
“Ya terima kasih!” ujar Radit.
DRT-DRT-DRT. Ponsel Radit tiba-tiba saja bergetar, lalu ia mengangkat sebuah panggilan tersebut.
“Halo selamat malam, dengan siapa ini?” ucap Radit sambil menyimpulkan kakinya.
“Radit, ini aku Zevania! Kamu bisa tolong aku enggak?” ucap Zevania di seberang sana.
Radit langsung bangkit dari tempat duduknya, ia kaget lantaran tiba-tiba saja dia di telepon oleh Zevania padahal Radit sudah mengganti nomor.
“Zee, benar ini kamu?” tanya Radit terkejut.
“Iya Dit ini aku, aku di Indonesia. Kamu jemput aku di bandaralah, aku enggak tahu soalnya!” ucap Zevania di seberang sana.
“Oke, aku ke sana sekarang!” seru Radit mengakhiri sambungan teleponnya.
Kemudian Radit segera menghampiri, nenek Milloma dan juga Diandra yang masih berada di meja makan.
“Ayo kita pulang!” ucap Radit tiba-tiba mengajak Diandra untuk pulang.
Namun Milloma malah mencegahnya.
“Kenapa buru-buru pulang? Bukannya kalian mau menginap!” seru Milloma.
Seketika Radit dan Diandra menatap Milloma secara bersamaan.
“Hah... menginap!” kata Radit dan Diandra berbarengan.
“Kata siapa kita mau menginap?” ujar Radit heran dengan neneknya.
__ADS_1
“Nenek ingin kalian menginap, apa kalian tidak bisa mengabulkan permintaan orang tua yang sesederhana itu?” ucap Milloma, lalu berbicara lagi.
“Nenek ingin cepetan menggendong anak kalian!” ujarnya lagi.
Diandra dan Radit terbelalak kaget, dengan permintaan konyol nenek Milloma itu.
“Nenek, yang benar saja... kita kan belum menikah!” gerutu Radit memprotes neneknya.
Diandra memijat keningnya, heran dengan permintaan neneknya Radit.
‘Ini gila, Nenek sama Cucu benar-benar otak nakal!’ batin Diandra.
Saat Diandra akan bicara namun di sela oleh Radit, sehingga ia menelan lagi ucapannya.
“Enggak Nek, lain kali saja ya! Radit ada pekerjaan yang lain soalnya!” ucap Radit mencari alasan.
“Iya Nek, benar yang di katakan Radit. Aku juga ada pemotretan malam ini,” dusta Diandra agar Milloma percaya pada kebohongan mereka berdua.
“Ya sudah! Tapi lain kali kalian harus menginap, tidak ada kata penolakan!” ujar Milloma.
“Iya Nek, Radit janji!” seru Radit.
Kemudian Diandra menyalim tangan Milloma, begitu juga dengan Radit, namun dari kejauhan Melissa selalu mengawasi mereka.
“Ayo kita pulang sayang!” ajak Radit terhadap Diandra, merangkul pinggang Diandra.
‘Dasar buaya buntung, mencari kesempatan dalam kesempitan rupanya,' batin Diandra kesal, lantaran Radit merangkulnya.
Radit dan Diandra berjalan gontai menuju mobil, sedangkan Milloma tersenyum dari ambang pintu menatap kepergian mereka.
Radit membuka pintu mobil, untuk Diandra, lalau Diandra pun masuk.
“Kenapa merangkulku barusan? Kamu nyari kesempatan dalam kesempitan ya!” ketus Viona duduk sejajar bersama Radit.
“Hati-hati kalau ngomong, aku melakukan itu. Semata-mata hanya untuk meyakinkan Nenek!” kata Radit meyakinkan.
“Harus ya! Dengan cara merangkul?” ujar Diandra kesal.
“Ahhhh... anggap saja kau wanita beruntung karena telah berhasil aku rangkul, wanita lain banyak loh yang ngantri demi aku!” ucap Radit dengan percaya diri, membanggakan dirinya sendiri.
Diandra tercengang, lantaran Radit dengan percaya dirinya berkata seperti itu, seolah Diandra gadis jauh dari kata standar untuk bisa bersandar dengannya.
“Itu bagi wanita lain ya, sorry aku sih enggak!” ketus Diandra.
Namun Radit tak menimpali Diandra, ia hanya fokus pada kemudinya.
Sementara Melissa terus mengikuti mereka dari belakang.
“Mau ke mana lagi sebenarnya Anak itu? Bukannya pulang!” gerutu Melissa terus mengikuti Radit.
Lalu lintas terlihat ramai lancar pada malam itu, Radit menuju Bandara.
Diandra merasa ketakutan karena Radit membawanya ke bandara.
“Kenapa kita ke bandara?” tanya Diandra pada Radit yang terfokus pada kemudinya.
“Aku mau menjemput sepupuku, kenapa memangnya? Ada yang salah!” sahut Radit menimpali Diandra.
“Kenapa tidak mengantarkan aku pulang lebih dulu, ini kan jalannya searah!” tukas Diandra kesal.
“Yaudah kalau kamu ingin pulang, pesan saja taksi online!” seru Radit tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1
“Baik turun... dasar Pria menyebalkan!” ketus Diandra turun dari mobilnya.
BRUG!
Diandra membanting pintu mobil, ia sangat kesal pada Radit, lantaran sama sekali tidak mencegahnya ketika ia turun dari mobil.
Radit pergi begitu saja, menuju bandara untuk menjemput Zevania.
Namun di tengah perjalanan ia memutar arah lagi, lantaran ia teringat pada Andara pada saat malam pertengkaran mereka.
CITTTTT. Radit menghentikan mobilnya tepat di depan Diandra, lalu menurunkan kaca mobil.
“Hey... ayo cepat naik, aku antarkan kamu pulang dulu!” seru Radit dari dalam mobil.
Sementara Diandra tidak menggubrisnya, hanya terfokus pada layar ponsel.
“Hey... apa kau tuli! Ayo naik!” tukas Radit di buat semakin kesal.
Perlahan Diandra menundukkan kepalanya menatap Radit dari balik pintu kaca yang terbuka.
“Aku punya nama Tuan Radit, perlu Anda ketahui, saya tidak butuh tumpangan Anda, permisi!” ujar Diandra, berlalu dari Radit.
Diandra menaiki taksi online yang telah di pesannya.
“Sial, perempuan tidak tahu terima kasih! Ngapain... juga aku bela-belain muter arah hanya gara-gara perempuan gila itu!” gerutu Radit melanjutkan perjalanan.
MUM-MUM-MUM. Radit pergi dengan mobilnya menuju bandara untuk menjemput Zevania.
Sedangkan Melissa, kehilangan jejak Radit lantaran terlalu fokus mengawasi Diandra.
“Ah sial... aku kehilangan jejak Radit!” gumam Melissa kesal.
“Ya sudahlah! Lebih baik aku kembali ke apartemen!” ujar Melissa, memutar arah kembali ke apartemen.
Dalam perjalanan menuju bandara, tiba-tiba saja Radit di hadang oleh beberapa orang yang tidak di kenal.
Memintanya untuk turun dari mobilnya.
“Hey! Turun kau, serahkan uang dan barang berharga lainnya!” ujar pria berwajah seram itu.
Sementara yang lainnya, terlihat sedang berjaga-jaga.
“Oh... sial! Apalagi ini, begundal-begundal jalanan, mau cari mati rupanya!” ujar Radit meremehkan.
Dengan gagahnya Radit keluar dari mobil, menghadapi orang yang menodongnya.
“Kalian mau apa dari saya!” ucap Radit dingin.
“Serahkan uang dan barang-barang berhargamu!” tukas pria botak berbadan besar itu.
“Kalian mau uang?” tanya Radit.
“Iya cepat serahkan uangmu!” murka pria botak, seperti ketua dari sekelompok orang itu.
“Kerja dong! Saya juga mendapatkan uang dengan cara bekerja!” tukas Radit terdengar menantang.
“Dasar sialan, mau nyari mati kau rupanya!” sentak sekelompok orang tersebut.
Salah satu dari mereka menyerang, Radit. Namun Radit mampu menghindari mereka, berkat ilmu bela dirinya.
HIATTTT
__ADS_1