Diandra

Diandra
Bab 47


__ADS_3

"Bagaimana, Bun?"


Hastari menggeleng, "Ponsel Dian tidak bisa di hubungi sejak semalam"


"Bunda sudah coba telepon ke rumahnya?"


"Sudah. Mereka bilang Dian tidak pulang semalam. Bahkan pagi ini pun Dian belum lulang. Bunda jadi khawatir"


"Dian itu wanita mandiri, Bun. Dia juga bisa bela diri. Aku yakin dia akan baik - baik saja. Mungkin ponselnya kehabisan baterai"


"Yah, kamu benar. Kalau begitu, Bunda akan berangkat sekarang ke kantornya. Semoga Bunda bisa bertemu dengan Dian. Dan semoga Dian mau bermurah hati. Kamu juga akan pergi mengunjungi Vika, kan? Bersiaplah"


Saka mengangguk, setelah mengantar Bunda sampai di depan teras dan masuk ke dalam taksi online. Saka kembali masuk ke dalam rumah. Suami Vika itu bersiap untuk menjenguk istrinya. Sekarang dia tidak memiliki mobil, jadi Saka harus menggunakan kendaraan online ke manapun dia akan pergi.


Selesai mengunci pintu, Saka menunggu taksi online yang baru dia pesan di depan rumah. Banyak hal yang pria itu pikirkan. Tidak hanya masalah Vika. Tapi juga dirinya yang belum memiliki pekerjaan sekarang. Pengeluaran setiap bulan pasti. Sedangkan Saka tak punya penghasilan. Saat asyik melamun dengan pikirannya, dering ponsel miliknya membuat Saka tersadar dari lamunan.


[Hallo]


[Selamat pagi, apa benar Anda suami saudari Avika Saraswati?]


[Ya, benar, saya sendiri]


[Kami dari kepolisian, Pak. Ingin memberitahukan bahwa istri Anda terlibat perkelahian dengan tahanan lain. Dan saat ini, dia berada di rumah sakit]


Jantung Saka berdetak begitu cepat. Tubuhnya lemas seketika.


[L-lalu bagaimana kondisinya sekarang? Bagaimana dengan kandungannya? Dan istri Saya berada di rumah sakit mana?]


[Istri Anda berada di rumah sakit X. Untuk kondisinya sekarang, kami belum tahu. Saat ini dokter masih memeriksanya]


[Baiklah, terima kasih atas informasinya Pak. Saya akan segera kesana]


Begitu taksi online yang di pesan tiba, tak membuang waktu, Saka segera masuk ke dalam mobil.


"Pak, kita tidak jadi ke kantor polisi. Kita ke rumah sakit X"


"Baik, Mas"


Semoga Vika dan kandungannya baik - baik saja


Saka tak henti berdoa agar istri dan anaknya baik - baik saja. "Pak, lebih cepat sedikit ya"


"Wah, susah Mas. Jam kerja begini jalanan sudah padat"


"Apa tidak ada jalan lain menuju ke rumah sakit, Pak?"


"Hanya jalan utama, Mas"

__ADS_1


Saka hanya mampu menghela nafas kasar. Selain macet, mobil terpaksa berhenti beberapa kali karena lampu merah. Ingin sekali Saka mengumpat, tapi ia tahan. Sesekali ia menatap jam di tangannya.


"Pak, lebih cepat sedikit ya" pintanya lagi


Sang sopir melirik Saka lewat spion, kemudian mengangguk. Perjalanan terasa begitu lama bagi Saka. Jika saja jarak rumah sakit tidak jauh, Saka lebih memilih berlari daripada menunggu seperti ini.


🍀🍀🍀


"Terima kasih, Pak" Saka segera berlari ke dalam setelah memberikan ongkos pada sopir. Ia bertanya pada resepsionis lalu mencari kamar istrinya di rawat. Melihat polisi berjaga, Saka yakin di sanalah Vika berada.


"Maaf, Pak. Saya suami Avika Saraswati"


"Kalau begitu, silahkan Anda masuk"


Saka melangkah terburu, begitu melewati pintu, ia bisa melihat tubuh istrinya terbaring lemah di atas ranjang. Beberapa memar bisa Saka lijat jelas di wajah sang istri. Namun perhatian pertama Saka adalah perut Vika. Perut wanita itu masih membuncit, artinya kandungan Vika baik - baik saja. Hal itu membuat Saka lega sekaligus bersyukur.


"Anda suami pasien?" tanya suster yang menjaga Vika


"Bagaimana kondisi istri saya, sus?"


"Pasien mengalami beberapa luka di wajah dan tubuhnya. Beruntung kandungannya tidak ikut mengalami benturan. Janinnya sehat dan kuat"


"Terima kasih sudah menjaga istri saya, sus"


"Sama - sama, Pak. Karena Bapak sudah ada di sini, saya permisi dulu"


Setelah kepergian suster, Saka duduk di kursi yang ada di samping ranjang istrinya. Pria itu memperhatikan dengan seksama kondisi Vika sekarang. Pelipis, bawah hidung dan juga pipi Vika memar. Lengan sebelah kirinya juga tergores dan mengalami luka lecet.


"A-anak kita baik - baik saja, kan Mas?" tanya Vika terbata


"Dia baik - baik saja. Dia kuat"


Vika mengelus perutnya yang memang masih terasa besar.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Vik?"


Vika menatap Saka sendu. Ada rasa marah, kesal dan emosi karena Vika merasa, suaminya itu mengabaikannya. Sejak kemarin Saka tak menjenguknya sama sekali. Perasaan takut mulai menderanya. Dia di penjara, otomatis Vika tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Bisa saja Diandra memanfaatkan ini untuk merebut Saka kembali.


"Vik, kamu baik - baik saja?"


"Bagaimana bisa kamu bertanya hal itu, Mas! Mana ada keadaan baik - baik saja saat berada dalam tahanan! Kamu pikir enak hidup di dalam penjara?! Aku bahkan tidur hanya beralaskan tikar!"


"M-maksudku bukan seperti itu? Aku menanyakan kondisimu sekarang"


Vika menatap Saka tajam, "Apa yang sudah kamu lakukan untuk membantuku bebas?!"


Saka bungkam, tidak ada yang pria itu lakukan selain memohon belas kasihan Diandra. Dan jika Vika mengetahuinya, Saka yakin, istrinya itu akan sangat marah.

__ADS_1


"Kenapa diam? Kamu pasti tidak melakukan apa - apa kan?" Vika tertawa hambar, "Kamu pasti bahagia karena aku di penjara!"


"Vik, kenapa kamu berkata seperti itu?"


"Kalau kamu peduli, kamu akan berusaha membebaskan aku, Mas! Kamu akan memperjuangkan kebebasanku! Tapi apa buktinya? Kamu seperti orang bodoh sekarang! Kamu hanya berdiam diri tanpa melakukan hal apapun! Atau ... Kamu sengaja mendiamkanku karena kamu berharap bisa kembali pada wanita sialan itu! Benar kan?!"


"Itu tidak benar! Aku sudah berusaha! Aku bahkan membuang harga diriku hanya demi bisa membebaskanmu! Tapi kamu malah menuduhku yang tidak - tidak!"


Vika kembali tertawa, "Kamu pikir aku percaya?"


"Itulah kenyataannya, Vik. Bahkan Bunda pun berusaha membantumu sekalipun kamu selalu membuatnya kesal!"


"Wah - wah. Jadi kalian berdua berusaha membebaskanku dari penjara? Dengan cara apa? Menyewa pengacara? Atau mengajukan penangguhan penahanan untukku? Apa yang sudah kalian perbuat?"


Saka menatap Vika ragu, ia tak yakin untuk memberi tahu.Vika apa yang Dian inginkan.


"Lagi - lagi kamu diam. Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu! Bahkan untuk membuktikannya saja kamu tidak bisa!"


"Aku memohon pada Diandra agar dia mau membebaskanmu! Hari ini Bunda juga menemui Dian untuk memohon hal yang sama!"


Deg


Vika menatap suaminya tak percaya. Bukan menyewa pengacara atau mencari uang untuk membebaskannya, Saka justru menjatuhkan harga diri di depan Diandra. Wanita yang sudah membuat hidupnya seperti di dalam neraka.


"Kamu mengemis pada Diandra?"


Saka menunduk lemah, "Aku tidak punya pilihan lain, Vik"


Vika mengepalkan tangannya, "Mas! Kamu itu seorang kontraktor hebat! Kamu punya kenalan orang - orang hebat! Kamu juga bisa mengajukan pinjaman pada Bank! Kenapa malah mengemis pada wanita sialan itu! Kamu hanya semakin membuatnya menertawakan kita, Mas!!" teriak Vika marah


"Semua orang menjauhiku karena skandal kita! Jika pun aku meminjam uang di bank, apa yang bisa aku jadikan jaminan? Biaya menyewa pengacara itu mahal Vik. Apalagi kasusmu yang bisa masuk pasal pembunuhan berencana!"


"Sekarang aku tahu sejauh apa mengorbananmu untukku, Mas! Kamu terlalu perhitungan dan tidak mau berusaha!"


Saka frustasi menghadapi sikap Vika, "Kamu selalu tidak pernah menghargai apa yang aku lakukan Vik!"


"Bagaimana aku bisa menghargai usahamu kalau kamu mengemis pada musuhku!" Vika terlihat begitu emosi, "Lalu apa yang wanita itu minta sebagai gantinya? Aku yakin Dian tidak mau memberikan bantuan dengan cuma - cuma kan?!"


"Kamu yakin ingin tahu?"


"Ingin tahu bukan berarti aku setuju kamu mengemis padanya, Mas. Aku hanya ingin tahu apa yang wanita sialan itu inginkan?" Vika menatap Saka yang tampak gelisah, "Dia ingin menukarmu dengan kebebasanku?"


Saka menatap Vika kaget, dan hal itu membuat Vika tertawa, "Dia memang wanita iblis! Dia sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk merebutmu kembali!!"


"Tapi aku tak menyetujuinya, Vik"


"Kenapa? Kamu masih peduli padaku? Bukankah kamu ingin kembali padanya? Kenapa kamu tidak menyetujui keinginannya?!" tanya Vika dingin

__ADS_1


Saka tak menjawab, "Dengarkan aku baik - baik, Mas! Aku lebih baik memilih mendekam di penjara seumur hidup daripada menukar kebebasanmu denganku!"


Deg


__ADS_2