
"Akhirnya aku bisa membalasmu, Diandra!" Cilla menyeringai
Duar
Suara tembakan terdengar menggema, hal itu membuat semua orang panik
"Darimana suara itu berasal? Cepat periksa!" perintah Vika
Anak buah Vika dan Cilla seketika berpencar, Dian dan Mama Clara saling menatap lalu tersenyum.
"Hei, kamu jaga wanita tua itu!" perintah Cilla pada salah satu anak buahnya, "Biar aku yang menjaga Diandra!"
"Sebaiknya kita bawa Diandra ke markas! Disini terlalu berbahaya" saran Vika
"Siapkan mobil. Kita akan menuju ke markas!" tukas Cilla
"Kalian mau bawa kemana menantuku!" tanya Mama Clara
"Diamlah wanita cerewet! Kamu tidak perlu banyak tanya!"
"Dasar wanita gila! Beraninya kamu berkata seperti itu pada orang tua!"
Cilla tak menggubris perkataan Mama Clara. Wanita itu segera membawa Dian menuju ke mobil.
"Jangan bawa menantuku!!" teriak Mama Clara
"Tutup mulutnya dengan lakban!"
Anak buah Vika segera menutup mulut Mama Clara dengan lakban. Tentu saja wanita itu memberontak. Dengan sekuat tenaga, Mama Clara berusaha melawan, sayangnya hanya sekali sendal, anak buah Vika membuat ibu Gama terjungkal.
"Kita ke markas sekarang!" perintah Cilla pada sopir
Tidak menjawab dengan kata - kata, si sopir hanya menganggukkan kepala.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, mereka tiba disebuah kawasan perumahan yang terbengkalai. Mobil kemudian berhenti di depan rumah tua berlantai dua. Beberapa orang terlihat berdiri di depan rumah, dan segera menyambut kedatangan bos mereka.
"Kalian berjaga di depan! Jangan sampai ada orang yang masuk!"
"Baik Nona!"
Cilla membawa Diandra masuk ke tengah ruangan. Persis di bagian kiri ruangan, ada sepasang kursi. Lalu Cilla mrndudukkan Dian disalah satu kursi usang berdebu tebal itu.
"Kamu lihat? Tidak ada suamimu disini! Sekarang kamu benar - benar tamat, Diandra!"
Dian menatap Cilla tanpa rasa takut, "Kalau aku tamat, maka kita akan tamat bersama!" sahut Dian
Plak
Satu tamparan Cilla layangkan ke pipi mulus Dian. Bukannya kesakitan atau marah, Dian justru tertawa. "Silahkan tampar aku sepuasnya, Cill. Meski aku mati sekalipun, kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan!"
"Kamu terlalu banyak bicara, wanita sialan!"
Plak
Kali ini giliran Vika yang memberikan tamparan ke wajah Diandra. "Kalian suka bermain keroyokan rupanya!"
"Kenapa? Kamu takut" tanya Vika, "Sekarang akan menjadi hari terakhirmu hidup di dunia ini Diandra! Jadi tidak usah menyombongkan diri. Kau akan lenyap setelah ini!"
"Kalian bukan Tuhan yang menentukan hidup seseorang. Dan aku yakin, akan ada pertolongan yang datang padaku"
Keduanya tertawa keras, "Silahkan saja kamu berharap! Tapi lihat buktinya! Tidak ada yang datang membantumu! Kamu ... Dan anakmu akan mati disini!!"
"Benar yang Vika katakan! Setelah ini, tidak akan ada lagi pengganggu di hidup kami!" Cilla tertawa, "Kamu akan mati, Diandra! Dan semua dendamku akan terbalaskan!"
Vika mendekati Dian kemudian mengusap kepala mantan madunya itu, lalu menarik rambut Dian dengan kuat. "Awwrrh" ringisnya
"Rasa sakit yang kamu rasakan belum seberapa dengan apa yang kamu perbuat pada kami! Kamu tidak hanya membuat hidup kami menderita, Diandra. Tapi kamu juga menghancurkannya hingga lebur! Jadi ... Akan lebih baik jika kamu mati! Karena kamu adalah sumber kesialan kami!"
"Kalau begitu, silahkan bunuh aku kalau bisa!" tantang Dian
"Dasar wanita sundal, aku akan benar - benar membunuhmu!" Cilla mengeluarkan pisau dari saku celananya, "Kau akan mati sekarang juga!"
Cilla berlari ke arah Diandra, namun lagi - lagi terdengar suara tembakan. Hal itu membuat Cilla terkejut dan reflek menjatuhkan pisaunya. "Cepat lihat situasi! Jangan sampai tempat ini di ketahui orang suruhan Gama!"
"Kamu jaga Diandra, aku akan mengecek keadaan di luar!" seru Vika
__ADS_1
"Tidak perlu melihat keadaan luar, Nona semuanya aman!"
Deg
Cilla dan Vika menatap pria yang mereka ketahui adalah sopir yang membawa mereka kemari
"K-kak Gama!"
"Apa kabar para wanita iblis?" tanya Gama menyeringai
Gama masuk di ikuti beberapa anak buahnya yang langsung mengepung Cilla, Vika dan anak buah mereka. Melihat banyaknya anak buah Gama, hal itu membuat kedua wanita itu panik. Apalagi saat para bodyguard Gama langsung mengelilingi mereka.
"B-bagaimana mungkin dia bisa menemukan kita?" bisik Vika, Cilla hanya menatap tanpa jawaban
Gama menghampiri sang istri, "Kamu baik - baik saja, Sayang?"
"Aku baik, Mas. Tapi bagaimana bisa kamu-"
"Nanti saja kamu bertanya, Sayang. Aku akan membereskan dua cecurut ini dulu! Sekarang, kamu ke mobil dulu" Gama menatap anak buahnya sebelum pergi, "Sebagian urus anak buahnya. Dan pastikan kedua wanita itu tidak lepas!"
Cilla dan Vika yang mendengar perkataan Gama seketika gugup. Pria itu tidak bisa di anggap remeh, buktinya keberadaan mereka sejauh ini masih bisa diketahui.
Sepertiga anak buah Gama menyerang anak buah Vika dan Cilla. Perkelahianpun tak bisa di hindari. Terjadi baku hantam di antara kedua kubu. Vika semakin panik saat melihat banyak anak buahnya yang tumbang
"Lepaskan aku!!" Cilla memberontak saat berhasil di tangani anak buah Gama, begitupun dengan Vika.
"Lepaskan kami!!" teriak Vika
Gama datang lalu mendekati dua wanita itu sambil tersenyum, tentu senyuman yang terlihat menyeramkan di mata keduanya. "Kalian pergilah, biar mereka menjadi urusanku!" titah Gama pada anak buahnya
"Kau manusia terkutuk, Gama!! Lepaskan kami!!"
"Kalian berharap akan bebas setelah menampar istriku? Kamu bahkan menjambak rambutnya! Huh ... Jangan mimpi!"
Gama semakin mendekat hingga berada tepat di depan wajah Cilla dan Vika.
"Rupanya ancamanku tempo hari tidak membuat kalian sadar, hm?"
"Kami hanya membalas apa yang Dian lakukan?!" sahut Vika tak terima
"Memangnya apa yang istriku lakukan?! Apa salah Dian jika Mamu di penjar?" tanya Gama pada Cilla, kemudian menatap Vika, "Apa salah Dian jika kamu diceraikan oleh Saka? Akupun jika menjadi Saka pasti akan menceraikanmu! Tidak ada seorang suami yang mau pada seorang istri yang sudah tidur dengan pria lain!"
"Kamu tidak bisa menyamakan dirimu yang hina dengan istriku! Dian wanita terhormat, seorang istri sah dari sebuah ikatan pernikahan. Sedangkan dirimu! Kamu layaknya wanita murahan yang mengobral diri tanpa sebuah ikatan!"
Bug
Gama menoleh ke belakangan saat ada seseorang yang memukul punggungnya.
"M-maaf Kak" ucap Cilla gugup
Kesempatan ini dimanfaatkan Vika untuk kabur. Namun dengan mudah bisa ditangkap oleh anak buah Gama.
"Bawa mereka berdua ke kantor polisi!"
"KAMU TIDAK BISA MELAKUKAN ITU!!" teriak Vika
"Aku pastikan kalian berdua akan membusuk didalam penjara! Tangkap mereka berdua, Pak!"
Beberapa orang polisi datang kemudian membawa Cilla dan Vika.
"Lepaskan! Aku tidak bersalah!"
"Kamu akan membayar semua ini, Gama!!"
Akhirnya dua wanita itu di tangkap dan bawa ke kantor polisi. Gama menghela nafas lega. Semua sudah berakhir sekarang.
"T-tuan, Nyonya-", ucap anak buah Gama tergopoh
"Kenapa dengan istriku?!"
"Nyonya mengalami pendarahan"
Gama berlari menuju ke mobil, "Sayang, apa yang-", ucapannya terjeda melihat darah keluar di antara kedua kaki Dian, "Cepat ke rumah sakit!!" teriak Gama panik, "Kenapa istriku bisa pendarahan seperti ini?!"
"Tidak tahu, Tuan. Nyonya baik - baik saja tadi, tiba - tiba dia mengerang dan waktu saya lihat, sudah seperti ini!"
__ADS_1
Sopir segera melajukan mobil menuju rumah sakit,
"Sayang, bertahanlah!"
"Mas, aku-"
"Jangan bicara lagi, Sayang. Aku mohon bertahanlah, jangan menutup mata ya. Lebih cepat lagi, Pak!!" perintah Gama
Gama tampak khawatir dan tegang, dalam perjalanan dia terus mengajak Dian bicara agar istrinya tetap dalam keadaan sadar.
Padatnya jalanan membuat mereka tak kunjung sampai. Gama ingin sekali mengumpat, namun dalam satu sisi ia tetap harus memanjatkan doa untuk keselamatan istri dan calon anaknya.
"Pak, bisa lebih cepat lagi!"
"Baik Pak"
Hatinya tak henti melafalkan lantunan doa, Gama berusaha tegar melihat sang istri yang semakin terlihat lemah, "Bertahanlah, Sayang. Aku mohon. Kamu wanita kuat. Kamu pasti bisa bertahan"
"Kita sudah sampai, Tuan"
Gama membuka pintu kemudian langsung membawa sang istri, "Suster!! Tolong istri saya!!"
Beberapa petugas dengan sigap membawa brankar kemudian membawa Dian menuju ke unit gawat darurat. "Maaf, Pak Anda dilarang masuk"
"Tapi aku suaminya!"
"Saya tahu, biarkan kami menangani pasien dulu"
Beberapa selang kemudian, Dokter masuk ke dalam ruangan. Tak berselang lama, dokter kembali keluar
"Dengan keluarga pasien?"
"Saya suaminya!"
"Pasien harus segera di operasi. Silahkan ikut suster ini untuk menandatangi surat persetujuan"
Deg
Dengan langkah lunglai, Gama mengikuti suster tersebut. "Silahkan tanda tangan disini, Pak"
Tangan Gama bergetar, antara khawatir dan takut ia segera membubuhkan tanda tangannya. Setelah menandatangani surat persetujuan, Gama menuju ke ruang operasi.
"Kami akan segera melakukan tindakan. Perbanyak doa, Pak. Semoga ibu dan bayinya selamat"
"Tentu!" lirih Gama
Gama menuju ke ruang operasi. Dia tampak rapuh. Pakaiannya yang biasa rapi, kini tampak kusut disertai noda darah di kemeja yang ia kenakan.
"Gam, bagaimana keadaan Diandra?" tanya Mama Clara yang datang bersama Papa David
"Dia di operasi, Ma"
Mama Clara menutup mulutnya terkejut, "Bagaimana bisa terjadi seperti ini?"
"Entahlah, Ma. Aku sendiri tidak tahu" lirihnya pelan
Papa David yang melihat kerapuhan putranya hanya mampu menyemangati dan ikut berdoa untuk keselamatan sang menantu. "Kita perbanyak doa, Papa yakin Dian akan selamat"
Gama mengangguk lesu, ketiganya menunggu dengan perasaan harap - harap cemas.
Setelah menunggu selama berjam - jam, lampu operasi dimatikan. Tak lama dokter pun keluar
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, dok?"
"Putri Bapak lahir dengan sempurna"
"Alhamdulillah" seru ketiganya
"Lalu bagaimana dengan istri saya, dok?"
Dokter menatap Gama sekilas, "Kami sudah melakukan operasi sesuai dengan prosedur, Pak. Tapi istri Bapak-"
"APA YANG TERJADI DENGAN ISTRIKU!!"
"Gam, tenanglah" ucap Papa David
__ADS_1
"KATAKAN APA YANG TERJADI DENGAN ISTRIKU!!"
"Kami minta maaf"