Diandra

Diandra
Bab 37


__ADS_3

"Kamu akan di penjara, Vika. Aku tidak peduli meski kamu hamil! Tapi ... Kalau kamu mau bernegosiasi denganku, aku akan membebaskanmu asalkan ... Kamu bercerai dengan Saka!"


Deg


"Brensek!! Beraninya kau!!", Vika marah seperti orang kesetanan


"Bawa dia masuk kembali, Pak. Saya tetap melanjutkan kasus ini!", Dian baranjak meninggalkan Vika dan yang lainnya


"Wanita sialan! Kau akan menyesal melakukan semua ini padaku!! Lepaskan!! Aku akan memberinya pelajaran!!"


Saka dan Hastari hanya bisa jadi penonton tanpa bisa melakukan apa - apa.


"Mas!! Bebaskan aku dari sini!!" teriaknya pada Saka


Saka hanya mampu menatap istrinya dengan nanar. Wanita itu terus memberontak saat polisi membawanya. Setelah Vika di masukkan ke dalam sel kembali, Saka segera menyusul Diandra. Beruntung wanita itu belum pergi jauh.


"Di ... Tunggu!"


Mantan istri Saka itu berbalik, ia menatap Saka dengan santai. "Seorang pria yang di pegang adalah omongannya, Ka. Tapi lihat dirimu! Kamu seperti bunglon yang selalu berubah bentuk dimanapun dia berada! Tadi bilang cinta, sekarang kembali mencintai selingkuhannya!" skak Dian


Saka menunduk, ia sadar dirinya memang tidak tegas. Di satu sisi, ia ingin kembali pada Dian. Dia masih mencintai mantan istrinya itu. Di sisi lain, ia juga tak tega melihat Vika di penjara dalam keadaan hamil. Bagaimanapun, anak dalam kandungan Vika adalah anaknya.


"Di ... Aku minta maaf-"


"Sudah sangat banyak maaf yang kamu ucapkan!! Tapi apa? Kamu selalu mengulang kesalahan yang sama berkali - kali! Jika kamu belum bisa menentukan pilihan, sebaiknya jangan banyak membual! Semua yang kamu katakan seperti angin lalu! Tidak pernah ada buktinya! Aku merasa, sejak kamu berhubungan dengan Vika, kamu jadi pria pecundang, Ka!"


Deg


Hastari menatap mantan menantunya. Ia merasa apa yang di katakan Dian memang benar adanya. Wanita yang melahirkan Saka itu juga merasa putranya berubah sejak mengenal Vika. Saka menjadi kurang tegas, tidak seperti saat bersama Diandra dulu.


"Nak, atas nama Saka, Bunda minta maaf" lirih wanita paruh baya itu


"Bunda tidak pernah salah. Untuk apa meminta maaf atas kesalahan orang lain. Jangan pernah lakukan itu, Bun. Jangan mau merendahkan diri Bunda sendiri"


Dian menatap Saka, "Kamu lihat, Ka? Kamu membuat Bunda rela merendahkan harga dirinya hanya demi membelamu. Kamu tidak seperti Saja yang dulu! Saka yang selalu menjaga Bunda dari hal apapun!" Dian melipat kedua tangannya. "Aku akan membebaskan Vika tapi kamu harus menceraikannya!"


Saka terlihat terkejut, bisa di lihat jelas dari raut wajahnya. "Di apa tidak ada pilihan lain?" tawar Saka


"Apa Vika memberiku pilihan lain saat dia ingin memilikimu?"


Deg


Saka bungkam.


"Aku tidak akan tawar - menawar, Ka. Kita sedang tidak menentukan kesepakatan harga. Kamu setuju, aku cabut laporannya. Kamu tidak setuju, maka proses hukum tetap berjalan"

__ADS_1


Dian menghampiri Hastari, "Maaf kalau aku membuat menantu Bunda susah. Tapi apa yang dia lakukan kali ini sudah melebihi batas"


"Vika bersalah, dan orang yang bersalah memang sudah sepantasnya mendapatkan hukuman. Tapi sebagai sesama wanita, Bunda ingin kamu membuka sedikit nuranimu, Nak. Bunda tahu apa yang kamu lakukan sekarang bukanlah kemauanmu yang sebenarnya"


Dian tersenyum, Hastari tahu betul dia seperti apa. "Aku sayang Bunda"


"Bunda juga menyayangimu. Jaga dirimu baik - baik"


"Tentu. Aku permisi dulu, Bun"


Dian meninggalkan mantan suami serta mantan mertuanya. Wanita membuka aplikasi online untuk memesan taksi. Dia tidak tahu jika seseorang berada di belakangnya saat ini. Entah darimana dan kapan pria itu datang.


"Sudah selesai urusanmu, calon istriku?"


Dian berbalik menatap Gama terkejut. "Kamu belum pulang?"


Pria tampan dan matang itu melipat kedua tangannya. "Apa kamu memintaku pulang? Kamu hanya berkata, tunggu disini saja"


Ingin sekali Dian tertawa saat Gama menirukan ekkpresinya. "Aku lupa" kekehnya pelan


"Sekarang kamu masih ada urusan lagi? Sudah jam setengah sebelas malam" ucapnya sambil menatap jam tangan di tangan kirinya.


"Aku akan pulang"


"Aku akan pulang naik taksi"


Jawaban Dian membuat pria itu menatapnya tajam. "Kalau kamu akan pulang sendiri, untuk apa memintaku menunggu!" sahutnya kesal


"Cih! Sekarang kamu merajuk? Baiklah, ayo kita pulang. Dasar perjaka tua ambekan!" jawab Dian saat melihat wajah Gama terlihat kesal.


"Aku masih bisa mendengar cibiranmu!"


"Jangan mulai!"


Pria itu tak menyahut. Ia segera berjalan menuju mobilnya. Tanpa mereka sadari, Saka melihat keduanya.


"Ada hubungan apa Dian dengan pria itu?"


"Ka, kamu bicara apa?" tanya Hastari


"Ah, tidak ada. Ayo sekarang kita pulang"


🍀🍀🍀


Perjalanan terasa hening. Jalanan tidak sepadat pagi hari, membuat laju mobil Gama sedikit lebih cepat.

__ADS_1


"Kamu tidak mau makan dulu?"


Dian menatap calon suaminya, "Aku tidak makan di atas jam sembilan"


Gama tertawa pelan, "Kenapa wanita suka sekali menyiksa diri? Tubuh kurus kering begitu, harusnya kamu makan lebih banyak"


Tubuh kurus kering? Tentu saja Dian tak terima dengan apa yang Gama katakan. "Kamu katarak? Seharusnya kamu bisa membedakan mana seksi mana kurus! Tubuhku ini ideal. Dan masalah tidak makan di jam malam, itu karena aku menjaga tubuhku agar tetap ideal! Pria tidak berpengalaman sepertimu tentu tidak akan tahu hal seperti itu"


"Besok ikut aku melakukan medical cek up"


"Untuk apa?" tanya Dian heran


"Tentu saja untuk mengetahui kesehatanku secara menyeluruh. Bukankah kamu calon istriku? Aku mau kamu tahu kalau aku sehat seratus persen. Dan mataku tidak katarak seperti yang kamu bilang!"


Dian tertawa keras, hal itu membuat Gama cukup terkejut. Wanita cantik itu semakin cantik jika sedang tertawa.


"Pantas saja Mamamu mengatakan takut aku berubah pikiran. Ternyata di balik tampanmu yang terlihat begitu dewasa, kamu memiliki sifat kekanak - kanakan"


Gama tertawa miring, "Terus saja mengataiku sekarang, Sayang. Aku pastikan kamu akan menyesal sudah mengataiku kekanak - kanakan setelah kita menikah!"


Deg


Dian membeku, dia menatap Gama. Pria di sampingnya itu terlihat sedikit menakutkan di matanya.


Suasana seketika sunyi. Gama fokus pada kemudinya. Sedangkan Dian, dia mulai di buat khawatir pada pria itu.


Apa aku batalkan saja rencanaku, ya. Kenapa Gama membuatku sedikit takut. Aku belum mengenalnya jauh. Sebatas informasi tidak bisa di jadikan patokan untuk mengenal dia seperti apa sesungguhnya.


"Turun!"


"Hah, apa?" tanya Dian bingung


"Kamu mau di dalam mobil atau ikut aku!"


"Mau kemana?"


Gama tertawa, "Apa aku membuatmu takut? Kenapa ekspresimu seperti itu?" ejeknya


"Takut padamu? Tentu saja tidak!"


"Benarkah?" Gama mencondongkan badannya, namun Dian lebih dulu mendekatkan dirinya. Reflek Gama memundurkan badan.


"Kenapa mundur? Kamu takut?" sekarang Dian yang mengejek Gama. "Aku jadi ragu. Jangan - jangan kamu setuju dengan dramaku karena kamu-"


Cup

__ADS_1


__ADS_2