
Tin Tin
"Itu pasti Kenzie" seru Dian, "Kris! Cepat. Ken sudah datang!"
"Biar aku cek dulu" ucap Gama
Papa dari gadis remaja berusia enam belas tahun itu akan beranjak, tapi lebih dulu sang putri berjalan menuruni tangga.
"Ini dia idola kita" ucap Oma Clara
Kristalia, putri Diandra dan Gama itu kini sudah beranjak remaja. Hari ini, dia akan mulai memasuki masa sekolah menengah atas. Dengan pakaian hitam putih serta kepang dua, Kristal terlihat begitu imut.
"Jangan di tekuk begitu wajahnya. Kamu itu bukan anak kecil lagi" goda Opa David
Kristal berjalan ke arah meja makan kemudian mencomot roti panggang yang ada di atas meja.
"Kris, Kenzie sudah menunggu daritadi"
Kristal hanya melirik Mamanya, kemudian menatap jam tangan yang ada di tangan kirinya, "Masih jam enam kurang sepuluh menit. Ini terlalu pagi!"
Gama terkekeh, "Tapi jangan lupa jika sekarang awal kamu masuk SMA"
"Iya Pa"
Remaja cantik itu berpamitan kepada semua keluarganya satu per satu.
"Ingat ya! Jangan jadi pembuat onar seperti waktu SMP!" peringat Dian
"Aku hanya membela diri" sahutnya asal
Dian berdecak. Asal tahu saja, putrinya itu memang tumbuh seperti gadis pada umumnya. Tapi sifatnya tak ubah seorang anak laki - laki. Kegemarannya adalah bela diri. Pakaian pun semuanya kaos dan celana. Tidak ada dress apalagi aksesoris remaja putri pada umumnya. Jika ada yang bertanya apakah Kristal pernah terlibat perkelahian atau masalah disekolah. Maka jawabannya adalah ya. Tak jarang Gama harus ke sekolah karena menerima panggilan atas ulah putrinya.
"Cepatlah. Kenzie akan kesal kalau menunggu terlalu lama" ucap Oma
"Baiklah. Aku berangkat dulu"
"Mama antar!"
Kris cuek saja. Dia terlihat dingin dan menyebalkan sama seperti Gama pada awal - awal dulu.
Melihat Diandra, Ken segera turun dari motornya. Putra dari Rani dan Triyoga itu tumbuh menjadi remaja yang tampan. Jarak dua tahun antar Ken dan Kris membuat Dian memilih sekolah yang sama dengan anak sahabatnya untuk menyekolahkan sang putri. Setidaknya, akan ada Ken yang mengawasi Kristal nanti.
"Pagi Ma"
"Pagi, Ken" sapa Dian tersenyum
"Sudah siap kan?" tanya Ken pada Kristal
"Hm"
"Kris, jawab dengan benar" tegur Mamanya
"Sini kuncinya, biar aku yang nyetir!" ucap Kristal
"Aku saja!" tolak Ken, ia segera berpamitan pada Diandra kemudian naik ke atas motor sport miliknya. Dengan santai, Kris naik di bagian belakang.
"Kami berangkat Ma"
"Hati - hati"
Setelah kepergian Kristal dan Kenzie, tak lama Gama menghampiri sang istri
"Dia sudah besar ya?" ucap Gama, Dian berbalik lalu menatap sang suami.
"Ya. Sekarang putri kitan sudah remaja"
__ADS_1
"Aku jadi semakin khawatir dengannya"
"Kenapa?"
Gama memeluk Diandra, "Kamu lihat kan, betapa cantiknya dia. Kristal itu termasuk idaman para pria. Bagaimana kalau dia akan di dekati seorang pria lalu di permainkan?"
"Kamu tahu betul kalau Kristal itu jago bela diri, Sayang" Dian mencubit pipi suaminya gemas
"Iya. Tapi tetap saja. Sejago - jagonya dia menjaga diri, kalau hatinya sudah terpikat pada seorang pria. Dia akan lemah juga"
Dian tertawa, "Maksudmu bucin?"
"Seperti itulah"
Dian mengusap lengan sang suami untuk menenangkan kekhawatiran Gama, "Jangan khawatir, Sayang. Aku tahu siapa putriku, dia pasti bisa menjaga diri dari rayuan para pria buaya. Lagipula, sepertinya sampai sekarang belum ada yang berhasil menarik perhatiannya. Dia seperti anti pada semua laki - laki kecuali Nando dan Kenzie"
Gama menatap istrinya, lalu tersenyum "Bagaimana kalau kita jodohkan saja Kristal dengan Kenzie?"
🍀🍀🍀
"Pulangnya nggak usah nungguin. Gue pulang sama Nando" ucap Kristal begitu turun dari motor Kenzie
"Sudah aku katakan berkali - kali. Jangan pakai loe gue. Pakai aku kamu!" tegur Ken
"Huh! Oke! Pulangnya tidak usah menungguku! Aku mau pulang bareng Nando!" ulang Kristal kesal
"Mama Dian udah nitipin kamu ke aku. Jadi aku nggak mau tahu! Kamu harus pulang sama aku!"
"Ck! Kalau aku bilang pulang sendiri ya pulang sendiri! Ribet!" Kristal menendang motor Kenzie, hal itu membuat para fans Kenzie menganga tak percaya.
"Berani banget dia nendang motornya Kenzie?"
"Iya juga. Baguslah, artinya dia bukan saingan kita deketin Kenzie"
"Iya juga sih. Udah yuk masuk"
"Pagi, Ken" sapa Yazna
"Pagi, Yaz"
Keduanya berjalan beriringan. Tentu banyak yang iri pada Yazna. Banyak gadis cantik dan sempurna, namun Kenzie malah dekat dengan Yazna yang pincang. Bukan sekali dua kali Yazna mendapat bullyan, namun berkat ketegasan Kenzie, tidak ada yang berani mengganggu gadis itu lagi.
"Ken, acara segera di mulai" lapor salah seorang siswa
"Oke. Kita ke aula sekarang"
Hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah, semua siswa dan siswi baru akan melakukan serangkaian kegiatan yang di pandu oleh OSIS. Begitupun dengan Kristal dan Nando, sahabatnya.
"Kris, nanti sore ada tanding sama Langit" bisiknya
"Berapa duit?"
"Lima juta"
"Oke. Deal"
Tanpa mereka sadari, Kenzie memperhatikan keduanya.
"Gadis bar - bar"
"Kamu bilang apa, Ken?"
"Ah ... Tidak. Ya sudah, ayo kita mulai acaranya"
🍀🍀🍀
__ADS_1
Tepat jam lima sore, acara masa perkenalan lingkungan sekolah telai usai untuk hari pertama. Kenzie sudah mengirim pesan pada Kristal untuk menunggunya di parkiran karena ia masih harus rapat dengan anggota osis.
Usai rapat dengan para angotanya, Ken segera menuju ke parkiran. Sayangnya, Kristal tidak ada disana. Ia bertanya pada satpam, ternyata satpam juga tak melihat Kristal. Pemuda itu berdecak, ia segera menghubungi Kristal, sayangnya ponsel gadis itu tidak aktif.
"Dia selalu saja mencari masalah! Yang ada aku akan di marahi Mama"
Ken segera naik ke atas motornya, ia mulai menyalakan mesin lalu meninggalkan halaman parkir. Pemuda itu berhenti saat melihat Yazna berdiri di depan gerbang
"Belum di jemput, Yaz?"
"Ayah masih ada rapat"
"Ya sudah sama aku aja, yuk"
"T-tapi Ken-"
"Udah, ayo aku anterin pulang"
Akhirnya Yazna naik ke motor Kenzie dan menerima tawaran pemuda itu untuk mengantarnya pulang.
Sementara itu, di salah satu sirkuit balap, Kristal berdiri bersama Nando tengah menunggu kedatangan rivalnya.
"Jadi nggak nih? Loe bohongin gue ya?"
"Eh ... Enggaklah Kris. Langit emang ngajakin tanding sore ini"
Kristal berdecak, "Kalau sampai dia nggak dateng, gue suruh dia ganti celananya pake rok aja!"
"Gue disini, Kristalia!" sahutnya dengan senyum menyeringai
Angkasa Langit Pradipta, pemuda yang biasa di sapa Langit itu merupakan musuh Kristal sejak SMP. Keduanya seperti minyak dan air yang tidak bisa di satukan. Namun selalu di pertemukan.
"Akhirnya, dateng juga loe! Punya nyali ternyata!"
Langit tertawa, "Loe terlalu sombong, Kris. Gue nggak pernah kalah. Gue hanya mengalah pada wanita"
"Bulshit!! Orang seperti loe mana bisa di percaya"
Langit menatap Kristal lekat, "Kali ini kita tanding sungguhan. Kalau loe kalah, gue mau loe jadi pacar gue!"
"Pacar?" Kristal tertawa, "Sorry ya Lang! Sampai kutu lebaran pun, gue nggak mau jadi pacar loe. Playboy kadal!"
"Hahaha, gue suka sikap angkuh loe Kris! Kelak, loe bakal gue jadiin istri!"
"Cih! Gue nggak mau pisang bekas!"
"Kris! Loe sadar barusan ngomong apa?" tanya Nando sedikit takut
"Sadarlah bego! Gue masih melek ini!" sahutnya kesal
"Oke. Gue pegang omongan loe Kris. Kita lihat siapa yang akan kalah"
"Jangan banyak ngomong loe. Buruan, gue udah nggak sabar buat ngalahin loe!"
Langit menyeringai, keduanya mulai menaiki motor masing - masing, mesin sudah dihidupkan dan keduanya telah siap untuk di tandingkan.
"Oke. Kita hitung ya. Satu ... Dua ... Ti-"
"Kristalia!!"
🍀🍀🍀
Cerita ini mulai menceritakan kisah anak - anak mereka ya Kakak.
Semoga kalian suka
__ADS_1
Maaf beberapa hari ini up nya selalu malam. Kerjaan di dunia nyata padet banget. Ini pun di selingi nulis. Kadang bahkan nggak update kalau benar - benar nggak sempat. Kadang up tapi nggak cepet lulus review.
Makasih yang masih setia membaca kisah Diandra. Semoga ke depannya bisa lebih sering up 🙏🙏