
"Kamu terlihat cantik malam ini" puji Gama
"Terima kasih atas rayuan gombalmu"
Gama terkekeh, "Kamu selalu saja menolakku. Entah itu pujian dan juga cinta"
"Kamu tahu jika aku wanita yang terluka. Tidak mudah bagiku mempercayai mulut buaya seorang pria"
Gama mengangguk, "Jalanku untuk meluluhkan hatimu tidak akan mudah. Tapi aku jelas tidak akan menyerah begitu saja!"
Dian berbalik lalu menatap Gama, "Aku tidak akan menghalangi jalanmu. Tapi kamu berhak berhenti jika jalanmu sudah buntu"
Gama menghampiri Dian, meraih tangan wanita itu lalu melingkarkannya di lengannya yang kekar. "Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupku! Jadi, kamulah yang harus bersiap untuk kalah"
"Semoga apa yang kamu harapkan bisa terwujud"
Gama tersenyum, keduanya berjalan dengan bergandengan tangan menuju ke Ballroom DV Hotel.
Malam ini adalah pembukaan Cabang DV Hotel. Rencana awal, pembukaan ini akan di adakan sebelum tahun baru. Namun karena ada beberapa kendala teknis, maka pembukaan baru bisa di laksanakan malam ini.
Sebagai Tuan rumah, tentu Dian harus datang lebih awal untuk menyambut para tamu. Kehadirannya di Ballroom bersama Gama jelas menyita perhatian para karyawannya. Rasa penasaran mereka sepertinya sudah terjawab. Keduanya bisa di pastikan memiliki hubungan. Jika tidak, mana mungkin keduanya sering terlihat bersama.
Tak berselang lama, para tamu undangan mulai berdatangan. Dian menyapa satu persatu rekan kerjanya. Tentu saja di dampingi oleh Gama. Tak sedikit yang bertanya langsung mengenai hubungan mereka. Keduanya dinilai sebagai pasangan yang cocok. Mereka cantik dan tampan. Selain itu, Diandra dan Gama juga sama - sama pengusaha terkenal. Sungguh pasangan yang sangat serasi. Tak sedikit yang memuji keduanya dan mendoakan mereka agar segera naik ke pelaminan.
Selesai menyapa para tamu dan membiarkan mereka menikmati pesta, Dian menghampiri calon mertuanya yang baru saja tiba.
"Kenapa Mama dan Papa baru datang?"
"Salahkan Papamu yang masih ke toilet!"
"Papa ke toilet juga sebentar. Tadi kan Mama yang dandannya lama!"
Clara tak menghiraukan ucapan David. Dia malah memeluk lengan Diandra. "Sayang, kamu terlihat begitu cantik malam ini" puji Clara
"Terima kasih, Mama juga sangat cantik". Dian membalas senyum calon mertuanya. "Ayo aku antar duduk dulu. Sekalian aku kenalkan pada Paman dan Bibi"
Dian mengantar Clara dan David ke meja dimana ada Yasari dan Damar yang lebih dulu datang.
"Paman, Bibi, perkenalkan, ini Mama Clara dan Papa David, orang tua Gama" Dian mengenalkan orang tua Gama, "
David dan Clara menyalami mereka, "Salam kenal, Saya David dan ini istri saya Clara"
Yasari dan Damar tersenyum, "Salam kenal juga Tuan David dan Nyonya Clara. Senang bisa mengenal kalian. Saya Damar dan ini istri saya Yasari. Yang ini putri saya dan suaminya"
"Salam kenal, Om, Tante" sapa Rani ramah
__ADS_1
"Senang bisa mengenal kalian semua" balas Clara
"Silahkan duduk" ucap Yasari
"Terima kasih"
"Silahkan nikmati dulu hidangannya, aku masih harus menyapa para tamu"
"Pergilah Sayang. Kami akan menunggu disini"
Dian kembali menyapa para tamu, tentu saja masih di temani oleh Gama. Mereka seolah sedang menunjukkan hubungan keduanya. Rekan kerja DV Grup juga sebagian besar adalah rekan kerja Gama, jadi sudah banyak yang mengenal keduanya.
"Sepertinya acara inti akan segera dimulai. Aku akan bergabung dengan yang lainnya" bisik Gama saat ia melihat MC menaiki panggung
"Selamat malam, para hadirin yang berbahagia. Tibalah kita pada acara inti, dimana pembukaan DV Hotel akan segera di laksanakan. Untuk itu, mari kita sambut pemilik DV Hotel, Nona Diandra Veronica Abraham"
Dian tersenyum pada semua tamu, dia berjalan dengan anggun menuju ke atas panggung.
"Lepaskan!! Biarkan aku masuk!!" teriakan dari pintu masuk membuat perhatian semua orang teralihkan termasuk Diandra sendiri. Wanita cantik itu tersenyum menyeringai.
"Biarkan dia masuk!"
Perintah Dian membuat para penjaga mempersilahkan Livia memasuki ruangan. Wanita paruh baya itu berjalan dengan langka memburu, wajahnya terlihat marah.
Satu tamparan ia daratkan tepat di pipi Diandra. Wajah putihnya kini terlihat kemerahan karena tamparan keras dari Livia. Semua tamu di buat terkejur dan bertanya - tanya. Siapa sebenarnya wanita yang menampar Dian tersebut. Riuh bisik - bisik mulai terdengar.
"Kurang ajar, siapa dia berani menampar Dian?!" Rani terlihat emosi, dia akan menghampiri Dian namun dilarang oleh Tri
"Apa - apaan Livia ini! Beraninya dia menampar calon menantuku! Dia belum tahu sedang berhadapan dengan siapa!!"
"Ma, jangan! Kita jangan ikut campur" cegah Gama
"Kamu itu calon suami macam apa, hah!! Tega sekali kamu membiarkan Diandra ditampar di depan banyak orang!" ucap Rani emosi
"Dian bukan wanita lemah. Kita lihat apa yang akan dia lakukan!!" sahut Gama dengan tenang
Rani menatap Gama jengkel, namun tak urung menuruti ucapan pria itu. Itupun ditambah dengan bujukan suaminya.
"Beraninya kamu memamerkan kebersamaanmu dengan kekasih putriku!"
Dian menatap Livia santai, dia hanya diam menunggu apa lagi yang akan Livia katakan.
"Aku minta perhatiannya sebentar!!" Livia berbicara masih dengan nada emosi. "Wanita yang ada di depanku ini tidak seperti yang kalian lihat! Dia ini tidak lebih dari perebut kekasih orang! Dia sudah merebut Gama dari putriku!!"
Banyak pasang mata mulai memandang Dian tak suka. Bukan hanya Dian, banyak pula yang memandang Gama sengit seolah mereka berdua adalah terdakwa.
__ADS_1
"Dia dengan teganya sudah merebut Gama! Bahkan mereka akan menikah sebentar lagi tanpa memikirkan perasaan putriku! Putriku hancur! Putriku terluka dan terpuruk. Tapi lihat, disini kamu malah memamerkan kemesraan dan kebersamaan dengan Gama" Livia mulai berdrama. Wanita itu mulai mengeluarkan air mata palsunya. "Apa yang salah dengan putriku hingga kamu berbuat kejam seperti ini padanya? Kamu juga seorang wanita. Tidakkah kamu memiliki sedikit hati nurani?"
Clara semakin dibuat geram, dia akan berdiri dari kursinya namun lagi - lagi Gama melarangnya.
"Sudah selesai berdramanya Nyonya Aditama?" tatapan Dian terlihat menyeramkan dimata Livia namun wanita itu tetap berusaha terlihat menyedihkan untuk menarik simpati banyak orang.
Diandra menatap Gama, dan dengan segera pria itu menghampirinya.
"Anda tidak bisa membuat fitnah disini, Nyonya Aditama. Anda tahu betul jika saya tidak pernah menjalin hubungan dengan putri Anda!"
"Kenapa kamu tidak mau mengakui Cilla sebagai kekasihmu? Pasti wanita ini sudah mempengaruhimu! Dia pasti sudah merayumu hingga kamu memilih berpaling padanya. Kenapa kamu jadi pria kejam, Gama!!"
"Cukup Nyonya Aditama yang terhormat! Jika Anda berfikir bisa melakukan hal yang sama seperti sepuluh tahun lalu, maka Anda salah besar! Saya bukan Denata Abraham yang memilih mengakhiri hidupnya setelah Anda berhasil merebut Papa Saya!"
Suasana semakin riuh, selama ini publik memang bertanya - tanya dimana keberadaan owner DV Jawelry itu. Sudah sangat lama wanita cantik itu tak terlihat batang hidungnya. Hampir semua tamu mengabadikan momen ini dengan ponsel pintar mereka. Media mulai ramai saat beberapa orang memposting masalah ini.
"A-apa maksudmu! Jangan memutar balikkan fakta!!"
Dian memetik jarinya lalu dilayar mulai terlihat beberapa foto kebersamaan Aditama dan Livia. Bukti perselingkuhan mereka belasan tahun lalu yang tentunya membuat wajah Livia pucat seketika.
"Anda berusaha merebut Gama untuk putri Anda sama seperti saat Anda merebut suami Mama Saya! Kejadian memilukan belasan tahun silam aku pastikan tidak akan pernah terulang kembali!!" Dian berucap penuh penekanan.
Cibiran dan pandangan tidak suka mulai ditujukan untuk Livia. Wajah wanita paruh baya itu semakin terlihat pucat. Keringat dingin mulai memenuhi wajahnya.
"Kalian ingin jawaban dimana keberadaan Denata Abraham bukan?!! Lihatlah wanita ini!!" tunjuk Dian pada Livia, "Ingatlah wajah ini!! Wajah inilah yang sudah membuat Denata Abraham mengakhiri hidupnya!! Wanita inilah yang sudah menghancurkan rumah tangga Denata dan Aditama! Wajah inilah yang membuatku kehilangan sosok Ayah selama belasan tahun!! Dan kalian tahu? Keberadaanku dimata Ayah kandungku tidak pernah terlihat!! Aku bahkan seperti anak yatim piatu meski sebenarnya Ayah kandungku masih hidup!! Dan semua itu karena perempuan ini!!"
Clara menutup mulut tak percaya, dia sungguh tak menyangka jika Livia sekejam itu. Bukan hanya Aditama, Livia juga ikut andil dalam hancurnya masa muda Diandra. Sungguh pasangan yang kejam!
"Diandra!"
Aditama datang di tengah kegaduhan yang terjadi.
"Ah ... Ini dia pemeran utama pria!!"
Acara pembukaan hotel yang seharusnya dimulai menjadi drama keluarga. Kebohongan dan kecurangan beberapa tahun silam akhirnya terbongkar!
Livia nampak kehilangan muka, dia bersembunyi di balik punggung Aditama.
"B-benarkah yang kamu katakan tentang Mamamu?"
Dian menatap Aditama sinis, "Semua yang aku katakan adalah kenyataan!! Mamaku mati bunuh diri semua itu karenamu!! Tidak hanya membuat Mamaku mati!! Kamu juga menelantarkan aku dan berbahagia dengan selingkuhan serta anakmu!!"
"A-aku minta maaf"
"Maaf? Segampang itu kata maaf keluar dari mulutmu?" Dian mengusap sudut matanya. "Dengarkan aku baik - baik!! Sama seperti kamu yang menolak kehadiranku!! Aku akupun akan melakukan hal yang sama!! Aku ... Sudah menganggapmu mati!!!"
__ADS_1