Diandra

Diandra
Bab 79


__ADS_3

"Apa yang kamu pikirkan, hm?" tanya Gama pada istrinya


"Tidak ada. Aku hanya merasa kasihan pada bayi itu"


"Semua yang terjadi adalah takdir. Kita doakan saja yang terbaik untuk dia. Kelak, dia akan menjadi wanita yang kuat"


"Kamu benar. Beruntung Vika masih mau menerima bayinya. Ternyata dia tidak seburuk yang aku kira"


"Kita tidak bisa menilai orang hanya dari luarnya saja. Mungkin dia memang jahat karena sudah merusak rumah tanggamu dulu. Tapi bisa jadi dia adalah ibu yang baik untuk anaknya. Terbukti dia tidak menolak bayinya"


"Hm"


Gama memperhatikan istrinya, "Apa lagi yang kamu pikirkan?"


Dian menatap suaminya, "Apa yang pernah kamu katakan dulu memang benar. Tidak ada gunanya kita membalas perbuatan jahat orang lain. Tanpa di balaspun, Allah sudah memberikan balasan atas perbuatan mereka. Bukan bayi itu maksudku, tapi keadaan mereka sekarang. Aku cukup terkejut melihat keadaan mereka. Bahkan untuk memesan taksi online saja mereka tidak mampu"


"Itulah kehidupan, Sayang. Semua hanya titipan. Kita tidak boleh lupa diri ketika berada di atas"


Dian tersenyum, "Ternyata kamu orang yang sangat bijak"


Gama ikut tertawa, "Kamu tahu, umurku sebentar lagi tiga puluh enam tahun. Aku bukan remaja atau pria yang baru dewasa. Aku sudah cukup tua"


"Hahah, kamu benar. Tapi kamu masih terlihat awet muda. Orang tidak akan menyangka jika umurmu menjelang empat puluh tahun"


"Itu karena aku merawat diri dengan baik. Tentu saja aku terlihat awet muda. Bahkan aku masih sangat hebat untuk memberimu kepuasan"


"Kan? Kamu mulai lagi"


Gama tertawa, "Kenapa kamu semakin cantik ketika malu begitu, hm?"


"Jangan menggodaku terus. Kamu sudah tua untuk bersikap seperti remaja" Dian mengembalikan perkataan Gama


"Aku mencintaimu"


"Aku tahu" sahut Dian santai


"Kamu mencintaiku?"


Dian menatap Gama, "Mungkin ... Otw"


Tawa Gama menggema, "Kamu selalu bisa membuatku tertawa dengan jawabanmu"


"Memang seharusnya pasangan itu saling melengkapi kan? Kalau aku juga kaku sepertimu, mau jadi apa rumah tangga kita"


"Benar juga"


🍀🍀🍀


Hari ini adalah aniversary pernikahan Gama dan Dian yang kedua. Tidak seperti perayaan pertama dulu, Gama dan Dian memilih mengadakan tasyakuran di salah satu panti asuhan. Semua keluarga turut hadir dalam tasyakuran tersebut. Ada Mama Clara, Papa David, Paman Damar, Bibi Yasari, Triyoga, Rani dan baby Kenzie.


Selain mengadakan pengajian dan doa bersama, Gama dan Dian juga memberikan santuan berupa uang, peralatan sekolah dan kebutuhan panti untuk beberapa bulan ke depan. Tentu saja hal itu disambut bahagia oleh anak - anak kurang beruntung itu.

__ADS_1


"Melihat kebahagiaan mereka, aku juga ikut bahagia. Padahal ini adalah hal kecil tapi terasa besar untuk mereka"


"Kamu benar, Sayang. Terkadang, hal yang kita anggap sepele bisa jadi hal yang sangat berarti bagi orang lain"


Dian memeluk Gama, ia bersyukur mendapatkan pria sebaik suaminya itu. Perjalanan rumah tangga mereka memang baru berjalan dua tahun, namun sudah banyak suka duka yang mereka lewati bersama. Beruntung, baik Dian maupun Gama, keduanya sama - sama saling memahami satu sama lain. Hingga sampai saat inipun keduanya terlihat harmonis dan langgeng.


"Setelah acara ini selesai, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" ucap Gama


"Kamu mau memberiku surprise?"


"Bisa di bilang seperti itu"


"Owh, romantisnya suamiku"


"Kenapa kalian malah bermesraan disini? Ayo acaranya sudah mau selesai. Kita mau berdoa bersama" ucap Clara


"Baiklah, Mamaku Sayang. Ayo" Gama dan Dian berjalan sambil menggandeng tangan Mama Clara


Acara berakhir setelah doa selesai di lantunkan. Dalam setiap kalimat yang terucap, Dian dan Gama mengamininya dengan khusyuk.


"Terima kasih atas kedatangan kalian sekeluarga. Anak - anak terlihat begitu senang hari ini"


"Sama - sama, Bu. Kami juga senang bisa berbagi dengan anak - anak yang ada disini"


"Hati - hati dijalan"


Mama Clara satu mobil bersama Papa David, begitupun dengan keluarga Damar. Mereka akan langsung pulang kerumah. Sementara Dian dan Gama, tentu saja pergi berdua.


"Jadi, kemanakah suamiku ini akan membawaku?" tanya Dian penasaran


"Baiklah, aku menurut saja"


Gama melirik Dian yang tampak menguap beberapa kali. "Kenapa belakangan ini kamu sering sekali mengantuk?"


Dian menatap suaminya, "Entahlah. Sepertinya efek cuaca"


"Benar juga. Kalau begitu, kamu tidur saja dulu. Setelah sampai nanti, akan aku bangunkan"


"Kamu akan bosan kalau menyetir tanpa mengobrol"


Gama tersenyum, "Tidak masalah. Yang penting kamu nyaman"


"Baiknya suamiku?"


Gama mengatur kursi milik Dian agar nyaman untuk tidur. Istrinya itu meringkuk sambil menghadap ke arahnya. Dan itu terlihat lucu dimata Gama.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sekitar hampir dua setengah jam. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah resort mewah yang berada di Kabupaten Serang.


Tak mau membangunkan istrinya yang masih tertidur pulas, Gama justru mengabadikan momen tersebut. Dian tampak cantik meski sedang tertidur. Akhirnya, setelah dua tahun membuktikan cinta dan keseriusannya, Dian mulai membuka hatinya untuk Gama. Walau kata cinta belum terucap dari bibir istrinya itu, tapi Gama tahu, jika Dian sudah mulai mencintainya.


"Mas, kamu merekamku?" tanya Dian kaget, matanya yang tadi sayup - sayup terbuka kini terbuka sepenuhnya

__ADS_1


"Kamu terlihat cantik saat sedang tidur"


"Mana ada orang tidur itu cantik. Waktu tidur, adalah pose terjelek semua orang"


"Mungkin, tapi tidak denganmu"


Dian menatap sekeliling, dia bisa melihat pantai dan beberapa orang yang sedang menikmati keindahan laut didepannya.


"Kita ada dimana?"


"Serang"


"Jadi kamu mengemudi sejauh itu?" tanya Dian tidak percaya


"Tidak masalah bagiku. Yang penting aku bisa merayakan hari jadi kita berdua. Ayo turun, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu didalam"


"Tapi aku tidak membawa apa - apa"


Gama mentoel hidung istrinya, "Aku sudah menyiapkan semuanya. Termasuk baju dinas malammu"


Dian terkekeh, "Kamu memang susah di tebak"


Keduanya turun dan masuk sambil bergandengan tangan. Setelah melakukan reservasi, Gama mengajak Dian menuju ke resort yang sudah dia pesan.


Begitu pintu terbuka, keduanya disuguhi kemewahan yang memanjakan mata. Selain itu, kamar yang langsung menghadap ke pantai membuat suasana semakin terlihat sangat indah. Ada kolam renang juga diluar kamar.


"Kamu sampai menyiapkan kejutan seperti ini. Tapi aku tidak memberimu apa - apa"


"Tetap bersamaku saja sudah hadiah untukku"


Keduanya berpelukan sambil berciuman tipis. Gama membawa Dian dalam gendongannya, persis seperti anak koala. Pria itu kembali mencium bibir merona sang istri. "Aku selalu mencintaimu"


Dian menatap mata Gama, terlihat jelas kejujuran disana.


"Kamu mau hadiah apa dariku?" tanya Dian


"Ungkapan cinta" Dian terdiam, "Aku tahu, kamu sudah mulai mencintaiku kan? Jadi aku mau hadiah sebuah ungkapan cinta"


Dian menggeleng kecil, "Aku tidak bisa memberikannya"


Gama nampak tertegun, "Kenapa? Kamu masih belum sepenuhnya mempercayai bahwa aku mencintaimu?"


"Aku ... aku akui aku mulai mencintaimu tapi aku juga mencintai orang lain"


Mata Gama terlihat sendu, hatinya perih. Tapi jika Dian bahagai bersama orang lain. Mungkin Gama akan berusaha mengikhlaskan. Bukankah mencintai tak harus memiliki? Suami Dian itu menatap istrinya dengan senyum yang dipaksakan. "Siapa orang yang beruntung itu?"


Dian membelai lembut rahang tegas milik suaminya, Gama memejamkan mata menikmati sentuhan yang Dian berikan. Sentuhan yang mungkin tidak akan dia rasakan lagi setelah ini


"Aku tidak mau membuatmu cemburu jika aku mengatakannya"


Gama membuka mata, menatap wajah istrinya yang begitu dekat, "Aku akan menerima apapun, asal kamu bahagia walau itu menyakitkan. Jadi katakan, siapa dia?"

__ADS_1


Dian tersenyum kemudian mencium bibir sang suami. Gama yang terpancing akhirnya ikut terbuai dengan ciuman mereka yang semakin dalam. Ciuman itu terlepas saat keduanya kehabisan nafas. Mereka saling bertatapan beberapa detik. Dari tatapannya, Dian tahu jika Gama ingin jawaban darinya "Dia ... Calon anak kita"


Deg


__ADS_2