
Dian menghela nafas berat, hari ini entah kenapa semua orang membuatnya kesal.
"Sebaiknya aku pulang saja. Mungkin tidur bisa membuatku lelahku sedikit terobati"
Dian membereskan semua berkas yang tadi sempat ia kerjakan lalu mematikan laptop. Tak lupa memasukkan ponsel ke dalam tas. Wanita cantik itu merapikan pakaiannya kemudian menyambar tas miliknya dan bersiap pulang. Namun baru dua langkah, pintu ruangannya terbuka, siapa duga yang muncul adalah Gama dengan senyum menjengkelkannya.
"Kenapa kamu datang di waktu yang-"
"Apa kedatangan kami mengganggumu, Di?" tanya Clara yang baru saja masuk bersama suaminya
Dian tersenyum canggung, "Tidak sama sekali Tante, Om, ayo silahkan masuk"
Dian meletakkan kembali tas miliknya di atas meja. Lalu mempersilahkan calon mertuanya duduk.
"Mau minum apa, Tante, Om?"
"Disini tamumu ada tiga. Kenapa hanya dua orang yang kamu tawari minum?" celetuk Gama
"Oh maafkan aku Tuan Gama. Aku lupa kalau juga ada kamu" Dian terkekeh pelan. Gama? Pria itu memberenggut sambil melipat kedua tangannya.
Clara dan David saling melirik lalu tersenyum. "Kalian terlihat manis sekali"
Dian menatap calon ibu mertuanya. "Jadi Om dan Tante mau minum apa?
"Tidak perlu repot-repot. Sebenarnya kedatangan kami untuk bertemu dengan Mamamu. Tapi mereka berdua mengatakan untuk menemuimu dulu. Bagaimana kalau kita pergi menemui Mamamu. Sekalian nanti kita pergi untuk makan malam bersama di luar" Usul Clara
Senyum Dian berubah Sendu. Namun setelahnya ia kembali tersenyum. "Tante benar-benar ingin bertemu dengan mama sekarang?"
"Tentu saja Nak. Banyak yang ingin tante bahas dengan mamamu perihal persiapan pernikahan kalian. Rasanya Tante sudah tidak sabar" ucap Clara antusias
"Ma!" tegur Gama
"Ck, Kenapa kalau Mama antusias? Lebih ceoat bertemu, maka lebih cepat pula kami menentukan semuanya. Mama juga tidak sabar ingin bertemu dengan besan Mama. Dia pasti orang yang menyenangkan"
"Sudah jangan berdebat terus. Memangnya kalian tidak lelah selalu berdebat ketika bertemu? Sebaiknya kita berangkat sekarang supaya tidak terlalu malam" David menengahi percakapan istri dan putranya
"Benar yang Om katakan. Sebaiknya kita berangkat sekarang karena rumah Mama lumayan jauh dari sini" Dian menimpali
"Loh, memangnya kamu dan Mamamu tinggal terpisah? Tante kira kalian tingga serumah"
"Maunya seperti itu sih, Tante. Tapi Mama memang harus pindah rumah"
Gama dan David saling menatap. Mereka seolah berbicara menggunakan telepati. Dan yang pasti, hanya mereka yang tahu.
"Jangan banyak bertanya, Ma. Nanti Mama juga akan bertemu dengan Mamanya Diandra"
__ADS_1
"Baiklah sebaiknya kita berangkat sekarang supaya tidak terlalu malam"
Dian berjalan beriringan dengan Clara sedangkan Gama berjalan beriringan dengan Papanya. Kedatangan Gama dan kedua orang tuanya tentu menarik perhatian beberapa karyawan yang bekerja di kantor DV Grup. Mungkin sebagian dari mereka sudah tidak asing dengan sosok Gama. Pria tampan itu memang beberapa kali datang ke kantor. Kematangan dan ketampanannya tentu membuat kaum hawa terpesona. Banyak yang bertanya-tanya dan menerka-nerka. Ada hubungan apa sebenarnya di antara keduanya?
"Kamu naik mobil bersama Gama saja. Kebetulan Om membawa mobil sendiri. Jadi nanti Gama bisa sekalian mengantarmu pulang"
"Sebenarnya aku bawa mobil sendiri Tante" tolak Dian halus
"Jangan dong. Lebih baik kalian pergi berdua saja. Kalian harus menghabiskan banyak waktu bersama sebelum nanti di pingit dan tidak boleh bertemu satu minggu penuh" Ucap Clara menggoda.
Mobil Gama dan mobil David sudah terparkir di lobby. Pria tampan itu segera menuju ke mobilnya dan meninggalkan Dian begitu saja. Hal itu tentu membuat Clara berdecak kesal. "Lihat turunan mu itu! Kenapa ada manusia dingin dan tidak romantis sepertinya! Bagaimana bisa dia meninggalkan calon istrinya seperti ini? Dasar bujang lapuk!"
David hanya mampu menghela nafas. "Jangan lupakan kalau bujang lapuk yang kamu maksud juga putramu"
Perdebatan dua orang paruh baya itu membuat dia tertawa pelan. Rasa suntuk dan penat yang sempat dia rasakan tadi lumayan berkurang. "Ih calon menantuku tertawa. Kamu kelihatan cantik jika tertawa, Di"
Dian menatap calon mertuanya. "Sebenarnya aku tidak terlalu jauh berbeda dengan Gama, Tante. Belakangan ini aku memang sangat jarang sekali tertawa"
"Rupanya kalian pasangan yang cocok" Kekeh Clara.
Tin Tin
Gama membunyikan klakson mobilnya.
"Sudah tidak romantis! Sekarang dia malah membunyikan klakson begitu! Coba lihat bagaimana cara putramu memperlakukan calon istrinya!" Seru Clara pada suaminya.
"Oh sayang, vetapa beruntungnya putraku mendapatkan calon istri yang pengertian sepertimu. Semoga setelah menikah nanti kamu betah dengan sikap menyebalkan Gama"
Dian hanya tersenyum, perempuan cantik itu segera menghampiri Gama yang sudah berada lebih dulu di dalam mobilnya.
"Benar kata orang, jika dua orang perempuan sudah bertemu mereka pasti akan lupa waktu" cibirnya
"Perempuan itu lebih tahu bagaimana cara menghabiskan waktu dengan baik. Tidak seperti para pria yang selalu dingin dan kaku. Lebih tepatnya tidak menyenangkan!"
Gama tidak menyahut, pria itu segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kantor DV Grup. Di belakang mobil Gama, ada mobil David yang mengikuti mereka.
"Kenapa kamu tidak bertanya di mana alamat rumah Mamaku?" Tanya Dian pada Gama.
Gama menatap Diandra sekilas. "Bukankah sudah aku katakan jika aku tahu semua hal tentangmu Diandra Veronica Abraham"
Dian mengangguk. Dia lupa jika sedang berhadapan dengan Gama Mahaditya. Pria yang entah siapa dan mengapa bisa tahu semua hal tentang dirinya.
Perjalanan diwarnai keheningan. Baik Gama maupun Dian tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Merasa bosan, wanita cantik itu menekan tombol audio di mobil Gama. Terdengar seorang penyanyi yang sedang hits saat ini melantunkan lagunya.
Jika memang ini tak ada harapan
__ADS_1
Mengapa aku yang harus jadi tujuan?
Saat hatimu terluka, aku yang jadi obatnya
Tanpa pernah kau hargai cinta dan kasih yang setulus ini
"Kenapa lagunya pas sekali"
"Apa maksudmu?" Dian menoleh ke arah Gama
"Tidak ada maksud"
Dian mengernyit kesal, "Dasar tidak jelas!" Gama terkekeh pelan.
Mereka menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya. Kamudian Gama membelokkan mobilnya memasuki kawasan pemakaman umum di salah satu daerah.
Kaduanya pun turun di ikuti dengan Clara dan David.
"Kenapa kita malah pergi ke pemakaman?"
Dian tersenyum, "Karena Mamaku tinggal di sini"
Clara tercekat, dia merasa bersalah pada Dian. Sejak tadi dirinya yang paling semangat ingin bertemu dengan besannya. Siapa sangkan jika Mamanya Dian sudah meninggal.
"Di ... Maafkan Tante, Tante tidak tahu jika Mamamu sudah meninggal" sesalnya lirih
"Tidak apa - apa Tante. Aku yang memang tidak mengatakannya pada kalian"
Clara memeluk calon menantunya, "Oh Sayang. Tante sungguh minta maaf. Kamu pasti sedih setiap Tante mengatakan ingin bertemu dengan Mamamu kan?" Dian menggeleng, dia mulai mengulurkan tangan dan membalas pelukan Mama Gama. Rasanya begitu hangat dan nyaman. Bahkan wangi tubuh Clara mengingatkan Dian pada Mamanya.
"Jangan sedih lagi. Mulai sekarang, kamu adalah anakku. Panggil aku Mama dan panggil Om David Papa, sama seperti Gama"
"Tap-"
"Jangan menolak. Sekarang kamu juga anakku. Putriku. Dan kami berdua adalah orang tuamu"
Dian mengangguk, dia begitu menikmati pelukan dari Mama Clara. Gama dan David yang melihatnya pun merasa terharu. Melihat Dian dengan mata berkaca - kaca, mereka paham jika Dian pasti merindukan Ibunya.
"Sekarang Papa paham kenapa Dian yang menjadi jodohmu"
"Kenapa?"
"Karena Allah memberinya keluarga kedua melalui kita. Setelah ini, Dian tidak akan kesepian lagi"
Gama tersenyum, "Dia sudah terlalu lama terluka. Sudah saatnya dia merasakan kebahagiaan"
__ADS_1
"Kamu benar. Setelah kalian menikah, jaga dia lebih baik lagi. Pastikan tidak pernah ada air mata lagi yang keluar dari matanya"
"Aku tidak bisa berjanji, Pa. Tapi aku akan menjaga Dian sebaik yang aku bisa"