
"Nyonya Livia" sapa Dian dengan senyum manisnya
"Tidak menyangka bisa bertemu dengan kalian disini"
"Benar, tidak menyangka ya. Aku pikir, kalian sudah pergi dari Ibukota" sahut Dian
Livia tertawa kemudian menatap Dian dan Gama dengan sinis, "Memangnya kenapa kami harus pergi?! Apa Ibukota ini milikmu?"
"Ayo sayang, kita makan saja" ajak Gama
"Kalau begitu kami duluan" pamit Dian
"Kalian tidak keberatan kan? Kalau kami bergabung dengan kalian berdua?" tanya Cilla
Gama tersenyum tipis, "Maaf, aku hanya ingin makan berdua dengan istriku"
Jawaban tegas Gama membuat wajah Cilla seketika berubah kecut. "Ayo Cill, kita juga makan. Tidak perlu semeja dengan mereka. Untuk apa juga? Bisa - bisa Mama jadi tidak selera makan!"
Livia mengajak Cilla masuk lebih dulu. Gama menoleh pada istrinya, "Jangan hiraukan mereka. Ayo masuk"
Gama mengajak Dian duduk di ujung, sementara Livia dan Cilla berada di depan. Pria itu sengaja mengambil tempat duduk yang jauh dengan mantan tetangganya itu.
Cilla terus saja menatap kedua pasangan suami istri itu dengan tatapan kesal. Tak lama setelah memesan, pelayan mengantar makanan ke meja Gama dan Dian. Entah sengaja mau memanasinya atau tidak. Mereka terlihat begitu romantis, sesekali Gama menyuapi Dian dan begitupun sebaliknya.
"Jangan khawatir. Sekarang biarkan mereka berdua bahagia. Tapi sebentar lagi, kebahagiaan itu akan menjadi milikmu" ucap Livia
Cilla melirik Mamanya, "Kapan itu terjadi? Kenapa Mama belum juga membalas Diandra sialan itu! Melihat mereka berdua mesra, aku semakin iri saja!" kesal Cilla
"Sabarlah sedikit! Kurang dari setengah jam, Gama akan menjadi milikmu!"
Cilla tersenyum menyeringai, ia tak lagi memperhatikan pasangan mesra itu. Gadis itu mulai menikmati makanan yang ia pesan.
"Makanlah yang banyak. Sudah beberapa hari kita makan seperti gembel!"
Cilla terkekeh, "Mama benar juga"
Livia dan Cilla tampak menikmati makanan mereka hingga tak menyadari jika Dian dan Gama sudah meninggalkan restoran.
[Ada apa?] tanya Livia saat anak buahnya menelepon
[Target sudah meninggalkan tempat lima belas menit yang lalu Nyonya]
[Dasar bodoh! Kenapa kau baru menghubungiku sekarang?!!]
Livia kesal setengah mati, "Dasar tidak becus!!"
"Ada apa, Ma?"
"Gama dan Dian sudah meninggalkan restoran beberapa menit yang lalu!"
__ADS_1
Cilla menatap ke arah meja Gama dan benar, sudah kosong disana
"Bagaimana bisa kita kecolongan?"
"Sudahlah cepat selesaikan makanmu! Kita akan cari mereka!"
🍀🍀🍀
Gama dan Dian saling tertawa. Sekarang, Livia pasti sedang marah - marah karena kehilangan jejak mereka.
"Aku yakin, Livia pasti marah - marah!"
"Kamu benar. Aku yakin dia sedang memarahi para anak buahnya"
"Kita akan menemui Rebeca sekarang?"
"Tentu. Kemarin kita sudah membatalkan janji karena ulahmu!"
"Ulahku yang membuat kita berdua keenakan maksudmu?"
"Mas, jangan mulai!"
"Sepertinya bermain di dalam mobil seru juga!"
Dian mencubit lengan suaminya, "Jangan berbuat hal aneh lagi!"
Gama tertawa, "Hanya bercanda, Sayang. Kenapa kamu serius seperti itu? Kamu tidak membayangkannya sungguhan kan?"
"Kamu semakin cantik kalau sedang malu seperti ini" goda Gama
"Kalau kamu tidak mau berhenti, maka aku stop jatah malammu!"
Gama melotot, bisa mati dia kalau Dian melakukannya sungguhan, "Baiklah aku akan diam sekarang!"
Perjalanan menuju ke rumah psikolog yang menangani Dian selama ini cukup jauh. Di tengah jalan, tiba - tiba mobil Gama di cegat oleh dua mobil yang mereka yakini adalah anak buah Livia dan Cilla. Begitu mobil Gama berhenti, beberapa orang turun dan mengelilingi mobil Gama.
"Keluar!!"
Dian dan Gama saling melirik
"Cepat keluar!!"
Begitu keduanya keluar, beberapa orang langsung memegangi Diandra juga Gama. Tentu saja keduanya memberontak, Gama dan Dian sama - sama melawan anak buah Livia. Sayangnya, keduanya kalah karena jumlah mereka yang tidak seimbang. Dian dan Gama berhasil di tangkap anak buah Livia.
"Sebaiknya jangan melawan lagi kalau kalian berdua ingin selamat!"
Gama dan Dian dibawa masuk ke dalam mobil dengan tangan terikat. Entah kemana mereka akan dibawa, yang jelas jalan yang dilewati mengarah ke luar kota. Mobil anak buah Livia yang membawa Dian dan Gama mulai memasuki salah satu kawasan perumahan terbengkalai. Mobil itu akhirnya berhenti disalah satu rumah kosong yang belum selesai dibangun.
"Turun!!"
__ADS_1
Dian dan Gama di seret masuk kedalam rumah. Keduanya di ikat di sebuah kursi kayu tua.
Tak seberapa lama, datang satu mobil lagi dan turunlah Livia bersama Cilla.
"Akhirnya aku bisa menangkap dua tikus got ini!" ucap Livia bangga
"Ma, hanya satu tikus gotnya. Satunya lagi adalah pangeranku!"
Dian tertawa dalam hati, tentu menertawai kedua wanita di depannya.
"Jadi ini cara kalian? Licik dan sungguh cemen sekali!" sarkas Dian
Livia mendekati anak tirinya kemudian memberikan satu tamparan kepada Diandra.
"Beraninya kamu menampar istriku!" geram Gama
Livia tertawa dengan keras, "Istri? Jadi kamu suaminya?!" Livia menatap Gama remeh, "Sayangnya kamu tidak akan bisa menolongnya! Karena apa? Karena mulai sekarang kalian akan berpisah selamanya!"
"Apa maksudmu? Aku tidak akan berpisah dengan istriku!"
"Oh ya?" Livia menjentikkan jarinya. Dua orang muncul membawa sapu tangan. "Ucapkan selamat tinggal masing - masing! Setelah ini Diandra akan menjadi wanita murahan dan Gama akan menjadi milik Cilla selamanya!!"
"Itu tidak akan terjadi!!" teriak Dian
"Kau sungguh keras kepala wanita sialan!!"
Livia membekap mulut Dian dengan sapu tangan yang anak buahnya bawa. Istri cantik Gama itu memberontak namun akhirnya dia tak sadarkan diri.
"Diandra!!" teriak Gama, "Apa yang kau lakukan pada istriku!!"
Livia menatap Gama tajam. "Kau lihat mereka?!" tunjuk Livia pada beberapa orang anak buahnya. "Mereka semua akan menikmati tubuh istrimu!!
"Brensek!! Kau tidak bisa melakukan itu!! Aku akan membunuhmu jika itu terjadi!!"
"Kenapa tidak? Mereka semua sudah tidak sabar menikmati tubuh istri jandamu itu!"
Wajah Gama terlihat dingin di sertai tatapan tajam. "Kak Gama, jangan pikirkan Diandra. Biarkan dia bersenang - senang dengan para pria itu dan kamu ... Kamu akan bersenang - senang denganku!" ucap Cilla percaya diri
Gama meludah, membuat Livia dan Cilla menjadi geram, "Aku tidak sudi tidur denganmu!!"
"Kau memang keras kepala! Tidak masalah kau menolakku. Aku bisa bertindak dengan caraku!!pegangi dia!!" perintah Cilla
"Lepaskan aku!! Lepas!!"
"Simpan tenagamu, Kak. Nanti saja kalau ingin berteriak!"
Gama akhirnya tak sadarkan diri setelah di bekap dengan obat bius oleh anak buah Livia. Ibu dan anak itu saling berpandangan kemudian langsung tertawa bersama.
"Bawa wanita itu!! Jangan lupa untuk merekam kegiatan kalian! Besok, aku pastikan berita ini akan viral dan menjadi perbincangan seluruh negeri!"
__ADS_1
Cilla tertawa puas melihat tubuh Dian dibawa oleh anak buah Mamanya.
Kau sudah tamat, Diandra! Dan Kak Gama, sekarang menjadi milikku selamanya!!'