
...HAPPY READING...
...----------------...
Diandra langsung pergi menuju rumah sakit setelah mengetahui kalau Radit sedang di rawat di sana.
"Uhhh tambang emasku, aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Untuk saat ini Radit cukup bisa jadi penolongku, jadi sebisa mungkin aku harus bisa bekerja sama dengan baik!" gumam Diandra di sela mengemudi.
Kurang lebih memakan waktu perjalanan satu jam, Diandra telah sampai di Medical Center.
TUK-TUK-TUK. Suara high heels saat Diandra melangkah dengan mantap memasuki gedung rumah sakit.
"Andara oh... Andara! Akhirnya kamu datang juga sayang," ucap Milloma baru saja dari kantin.
Diandra menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.
"Oh my ghat... kenapa harus ada Oma di sini," gumam Diandra akan tetapi Milloma tidak mendengar.
Diandra berjalan gontai menghampiri Milloma.
"Oh... Oma, Dara sangat shock setelah mendengar kalau Radit di rawat. Apa sebenarnya yang terjadi Oma?" tanya Diandra berpura-pura menjadi Andara.
'Maafkan aku ya Tuhan, aku tidak bermaksud membohongi orang tua,' batin Diandra.
"Oma juga tidak tahu sayang... calon suamimu itu memang seperti itu. Selalu saja banyak orang yang berniat menyingkirkannya," ujar Milloma.
"Kasihan sekali ya Oma hidupnya," ucap Diandra.
"Iya Dara, hidup Radit itu layak untuk kamu kasihani. Makannya cepat-cepat berikan dia keturunan," ucap Milloma lagi-lagi menyinggung soal anak.
Diandra langsung tersenyum menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ahahaha... Iya Oma, Oma tenang saja kalau sudah menikah pasti Andara akan memberikan keturunan untuknya," ucap Diandra.
Sementara Maxcton terlihat menghampiri mereka.
"Selamat datang di rumah sakit Nona Andara," sambut Maxcton.
"Iya Maxc... terima kasih atas sambutannya," ucap Diandra.
"Anda sudah di tunggu oleh Tuan Radit, Nona!" ujar Maxcton terhadap Diandra.
"Jadi Cucuku sudah siuman Maxc?" tanya Milloma terhadap Maxcton.
"Sudah Nyonya!" jawabnya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku hem..." ujar Milloma memelototi Maxcton.
"Maafkan saya Nyonya, saya lupa!" ujar Maxcton nyengir kuda.
__ADS_1
"Ya sudah! Ayo cepat kita ke kamarnya!" tukas Milloma kesal terhadap Maxcton.
KLEK! Suara pintu di buka oleh Maxcton.
Diandra dan Milloma ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Kau sangat mengkhawatirkan aku Radit, maafkan aku pada saat malam itu telah meninggalkanmu di tengah jalan," ujar Diandra sambil memeluk Radit, yang terbaring di atas bangsal rumah sakit.
"Apa kau sedang menyindirku," ucap Radit pelan. Lantaran ia tahu jika Diandra sedang meledeknya.
"Jangan pura-pura menangis kau terlihat sangat lebay," bisik Radit lagi.
"Aku memang sengaja menyinggungmu, makannya jangan maen nurunin orang di tengah jalan, kamu kena karmanya kan. Dirampok!" ucap Diandra terkekeh.
"Untuk apa kau datang kemari kalau hanya untuk ngajak ribut," ucap Radit pelan.
Milloma senyum-senyum melihat cucunya tampak mesra dengan kekasihnya itu.
"Kalian berbisik-bisik ngomongin apa, kira-kira Oma boleh tahu gak?" tanya Milloma mengalihkan mereka.
"Nenek udah tua jangan mau tahu urusan Anak muda!" ucap Radit menatap nenek angkatnya.
"Baiklah kalau begitu, Nenek sangat senang melihat kalian mesra begini, Andara bersandar di dada bidang Cucu Nenek. Uuuh... gemes, jadi ingat Nenek sewaktu masih muda," ucap Milloma terkekeh.
Diandra reflek bangkit, tak sengaja menekan bagian dada Radit yang terluka akibat perampok.
"Kau... hati-hati makannya kalau mau bangun!" geram Radit menatap tajam pada Diandra.
"Radit... jangan kasar sayang kalau sama perempuan. Calon istrimu kan tidak sengaja!" ucap Milloma.
"Iya sayang maaf... aku tidak sengaja!" ucap Diandra menatap Radit terkekeh.
'Sial... senyuman apa itu, awas kau Diandra," gerutu Radit.
***
Sementara Melissa terlihat mondar-mandir di ruang tengah, ruangan yang biasa ia habiskan sehari-hari. Ketika sedang menunggu pulang putranya jika sedang bekerja.
"Ke mana sebenarnya Radit, ini sudah pagi lagi kenapa dia belum juga pulang?" gumam Melissa.
Sesekali Melissa melihat layar ponsel, namun ia enggan untuk menghubungi putranya itu.
"Huh... aku bisa gila jika terus-menerus memikirkan Radit, aku harus cari tahu di kantornya," ucap Mellisa pada dirinya sendiri.
Dengan segera Mellisa berjalan gontai menuju kamarnya, ia mengambil tas dan pergi menuju kantor putranya.
Sedangkan Zevania baru saja terlihat bangun dari tidurnya, ia keluar dari kamar melihat Melissa yang sudah rapi.
"Tante mau ke mana?" tanya Zevania dari ambang pintu kamar.
__ADS_1
"Bukan urusanmu!" tukas Mellisa menjawab pertanyaan keponakannya, kesal.
"Memang aku peduli!" seru Zevania.
"Kamu tuh ya! Selalu saja membuat Tante kesal!" ketua Melissa pergi dari unit apartemen.
"Huh... ditanya baik-baik jawabnya malah nyolot! Dasar Perempuan Tua!" umpat Zevania mengata-ngatai tantenya sendiri.
Kemudian Zevania berjalan gontai menuju kamar mandi membersihkan diri, di bawah guyuran air yang terjatuh dari shower.
Sementara Andara dan kedua orang tuanya baru sampai di kota Jakarta.
Ini kali pertama Andara menginjak Jakarta setelah dua puluh tahun terpisah dari ibu kandungnya dan saudara kembarnya.
'Selamat datang Jakarta... Diandra. Bagaimana kabarmu saat ini?' ucap dalam hatinya, sambil mengulas senyum di bibir seksinya.
"Selamat datang kembali ke Jakarta Putriku!" ujar Nessa tersenyum memeluk Andara.
Andara mengitarkan pandangan ke sekeliling melihat-lihat sekitar dari bandara internasional yang sudah banyak perubahan, tertata rapi setelah dua puluh tahun ia tak pernah kembali ke Indonesia.
"Sekarang kota Jakarta sangat mewah ya Dad's," ucap Andara meminta pendapat pada Hameed.
"Sekarang sudah semakin maju sayang, jadi Daddy harap kamu betah tinggal di Jakarta!" ujar Hameed.
"Tentu saja Andara akan senang tinggal di sini, inikan kota kelahiran Andara Dad's. Apalagi Diandra pasti sekarang sama seperti Andara!" ucap Andara mengingatkan Nessa pada masa lalunya.
Seketika perubahan signifikan terlihat dari raut wajah ibu satu anak itu, Nessa masih mengingat kejadian di masa lalu yang membuatnya sangat hancur, di mulai dari meninggalnya Sutarman ayah angkatnya.
Hingga dia menemukan keluarga kandungnya, yang tak pernah menganggap keberadaannya.
"Hon... kamu kenapa diam?" ucap Hameed menyadarkan istrinya.
Tiba-tiba saja buliran air mata jatuh, melintas pipi cantik itu.
"Enggak Mas... aku tidak apa-apa!" jawab Nessa langsung masuk ke dalam mobil yang sudah datang menjemput mereka.
Sedangkan Andara hanya menatap kesedihan yang terpancar dari ibu sambungnya.
'Maafkan Dara Ma... Dara enggak bermaksud membuat Mama sedih,' lirih Andara.
"Ayo masuk! Katanya sudah tidak sabar ingin berkeliling kota Jakarta!" ujar Hameed menyadarkan lamunan Andara.
"Iya Dad's..." ucap Andara ikut masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan Nessa hanya menatap jalanan di samping kanan, dari balik pintu kaca mobil.
Sementara Andara merasa tak enak hati melihat ibu sambungnya tiba-tiba diam, tanpa melontarkan sepatah katapun.
Hameed yang menyadari perubahan sikap dari istrinya, ia hanya bisa memaklumi berusaha memberikan waktu untuk Nessa berpikir. bahwa putrinya tidak bermaksud menyinggung perasaan, atau masa lalunya.
__ADS_1