
"Jadi?" tanya Dian tenang namun terdengar menyeramkan
"Cuma main - main aja, Ma"
"Main - main?" Dian memelototkan matanya, "Kamu mau balapan motor loh Kris! Kamu bilang main - main? Kalau kamu jatuh bagaimana?"
Kristal memutar bola matanya malas, "Cuma naik motor cepat kok, Ma. Bukan balapan"
Gama menahan tawa mendengar jawaban putrinya. Setelah Kenzie menelpon dan mengatakan jika Kristal tidak ada di sekolah, Gama langsung mencari keberadaan sang putri. Tentu saja dengan melihat GPS yang ia pasang diam - diam pada ponsel putrinya.
"Apa bedanya?!"
"Ish, Mama nih. Kris lapar Ma. Kasih makan dulu kek, apa minum gitu. Ini malah langsung di sidang"
"Oma sudah masak ayam laos kesukaanmu"
"Oma emang the best", Kristal mengacungkan jempolnya pada Oma
Dian langsung menatap tajam mertuanya, membuat Oma Clara seketika melipir karena takut kena omelan menantunya.
"Kapan kamu nggak bikin Mama pusing, hah?"
"Anak muda, Ma. Mumpung masih bebas, Mama kan pernah muda juga. Masa - masa sekolah adalah masa untuk mencoba berbagai hal. Ya kan, Pa?"
Gama hanya mengacungkan jempolnya
"Tapi tidak melakukan kegiatan seperti anak laki - laki, Kris!"
"Sudahlah, Sayang. Jangan banyak marah - marah, nanti tensimu bisa naik. Kristal sudah janji tidak akan mengulanginya lagi kok"
"Kapan aku janji, Pa?" tanyanya bingung
"Kamu lupa apa yang Papa katakan di dalam mobil?"
Gadis itu berusaha mengingat - ingat, dan seketika matanya mendelik, "Kan aku belum bilang iya, Pa"
"Sudah kok"
"Memangnya apa yang kamu janjikan, Mas?"
Kristal menggeleng seolah meminta Papanya untuk tidak bercerita, "Kristal akan masuk pesantren kalau mengulanginya lagi"
"Enggak!!" sangkalnya cepat
"Oke. Mama setuju. Kita deal!"
Kristal terlihat lesu, "Aku di tipu dan di keroyok orang tua sendiri. Sadis!" ucapnya hendak pergi
"Nggak mau makan ayam laos dulu?" tawar Diandra
Gadis itu berbalik dan berlari cepat menuju ke meja makan.
Dian menghela nafas, "Bandelnya ini yang membuatku geleng - geleng kepala menghadapi kelakuan putrimu"
"Dia berbeda dengan gadis lainnya"
"Sangat berbeda"
Gama memeluk istrinya, "Sebaiknya kita cepat menemui Rani dan Tri, semakin cepat rencana perjodohan itu kita lakukan, semakin aman pula putri kita. Aku yakin, Kenzie bisa menjaga Kristal dengan baik"
"Kamu yakin dengan rencana ini? Bagaimana kalau Kenzie sudah memiliki kekasih?"
"Kita tanyakan dulu. Nanti bisa di bicarakan lagi"
🍀🍀🍀
"Kristal jalan!"
"Loh, kok pagi sekali. Nggak nungguin Kenzie?" tanya Mama Dian
"Udah chat. Aku berangkat sama Mang Ali saja"
"Ya sudah, kamu sarapan dulu"
"Nanti aja di kantin", Kristal menyalami Mamanya, "Dah, Mama"
__ADS_1
"Hati - hati"
Tak berselang lama, Gama menuruni tangga, "Kristal belum bangun?"
"Sudah berangkat"
"Tumben pagi?" tanya Gama sedikit heran
"Nggak tahu. Mungkin masa pengenalan lingkungan sekolah hari ini jamnya lebih pagi, kan hari terakhir", Dian menyiapkan kopi dan sarapan untuk suaminya, "Ini sarapannya, Mas"
"Terima kasih, Sayang"
🍀🍀🍀
Kristal tiba di sekolah pukul enam lewat sepuluh menit. Masih ada lima puluh menit lagi sebelum jam masuk sekolah. Gadis cantik itu berjalan menuju ke kantin, suasana masih sangat sepi. Murid yang datang pun hanya bisa di hitung jari.
"Bu, pesan nasi sotonya satu ya. Sama air mineral"
"Baik, Neng. Tunggu sebentar ya"
Kristal duduk di bangku kosong bagian pojok, dia mengeluarkan ponsel lalu berdecak saat membaca chat dari kontak yang ia beri nama Sky
[Anak Papa]
"Sialan si Langit! Rese banget dia ngatain gue anak Papa"
"Loe emang anak Papa, Kris"
Kristal sontak menoleh ke samping dan terkejut melihat Langit duduk di sampingnya, "Langit udah jadi arwah! Bisa - bisanya dia nyamperin gue di sini"
Pletak
"Awhh" Kristal mengusap dahinya yang sakit karena sentilan tangan Langit
"Bego! Loe beneran Langit?"
Pemuda itu terkekeh, "Gue arwah seperti yang loe bilang"
"Kok loe bisa masuk sekolah ini? Loe kan bukan murid sini?"
"Silahkan Neng"
Tanpa dosa Langit membuka air mineral milik Kristal lalu meninumnya, "Itu punya gue, bege!"
"Gue pesenin lagi!" jawabnya kemudian berdiri, tak lama Langit kembali dengan membawa air mineral lalu menaruhnya di depan Kristal, "Loe nggak ada jaim - jaimnya ya, kalo makan" ucap Langit melihat cara Kristal makan
"Kalo makan secuil - secuil, nasinya keburu ngembang. Kalo makan lelet keburu kenyang"
Tawa Langit menyembur membuat beberapa murid yang mulai berdatangan melihat ke arah mereka, "Loe emang beda, Kris. Nggak salah hati gue jatuh sama loe"
Kristal menenggak air mineralnya hingga kandas, "Kita ini musuh, nggak ada ceritanya musuh cinta - cintaan. Kalaupun ada itu hanya di novel aja!"
"Tapi gue yakin kalau loe adalah belahan jiwa gue, Kris"
"Alay banget loe. Belihan jiwa. Kayak loe tahu aja apa itu belahan jiwa. Hati loe aja loe bagi rata ke cewek - cewek loe yang alay itu. Nggak usah ngomongin belahan jiwa di depan gue! Enek dengernya. Lagian, gue nggak suka cinta - cintaan!"
"Kris"
"Hm" sahutnya sambil mengambil uang didalam dompet
"Loe normal kan?"
Bug
Langit meringis mendapat pukulan di lengannya, "Mulut loe ngomong sekali lagi, gue gibeng lebih keras!"
"Gue udah bayar makanannya"
"Oh, thanks", Kristal memasukkan uangnya ke dalam saku
"Gitu doang?" tanya Langit tak percaya
"Loe ngarep apa lagi? Gue kan udah bilang makasih! Pamrih amat loe jadi orang!"
Langit kembali tertawa,
__ADS_1
"Sinting loe ketawa mulu. Mending balik sana ke habitat loe. Gue mau sekolah!"
"See you soon, Kristalia"
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Kristal bersiap - siap menuju ke aula.
"Kris!" panggil Kenzie
"Apa?" sahutnya cuek
"Kok kamu nggak bilang kalau mau pergi sama Mang Ali. Tadi aku jemput kamu"
Kristal hanya melirik sekilas, "Kan udah chat. Kamu nggak baca paling!"
"Ken, acaranya segera di mulai" ucap Yazna
"Oke", Yazna segera pergi
"Nanti pulang sama aku! Jangan ngilang kayak kemarin - kemarin lagi!"
"Kalo aku pulang sendiri, kamu bisa bebas nganterin cewek itu pulang!"
"Maksud kamu Yazna?"
"Tahu. Nggak kenal juga"
"Tapi aku udah janji sama Mama buat jagain kamu. Apa kata mereka kalau kamu selalu pulang sendiri. Mereka pasti mikir aku nggak bisa jagain kamu"
Kristal merasa jengah, "Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa ngurus diri sendiri. Nggak perlu cari muka kalau kamu sendiri nggak ikhlas ngelakuinnya!"
Kristal meninggalkan Kenzie, gadis itu bukan tidak tahu kalau Ken merasa keberatan untuk menjaganya. Pemuda itu hanya merasa sungkan pada orang tuanya saja. Hubungan mereka sejak kecil memang tidak terlalu akur. Dan Kristal tidak mau di cap sebagai beban orang lain.
"Ken, acaranya akan segera di mulai"
"Oke!"
Acara hari ini adalah inagurasi. Acara ini sengaja di adakan untuk menyambut para siswa dan siswi baru. Dan alasan kenapa acaranya di adakan pagi hari adalah agar esok semua siswa baru langsung siap mengikuti pelajaran.
Ada beberapa pengisi acara yang sengaja di datangkan oleh osis untuk menghibur para murid baru.
"Oke, tidak perlu berlama - lama. Langsung saja kita mulai acara pagi ini. Semua setuju?"
"Setuju!" sorak para siswa
"Baiklah, kita sambut grub band yang tidak asing lagi, inilah dia The Virgo!"
Semua siswa terlihat bersorak apalagi saat para personil mulai naik ke atas panggung.
"Kris! Ada Langit"
"Tahu. Tapi udah balik" sahutnya sambil asyik memainkan game favoritnya
"Balik apaan! Noh orangnya di depan!"
Kristal menatap ke arah panggung dan benar saja, ada Langit disana.
"Ngapain dia di situ?"
"Ngamen!"
"Gue cari uang recehan dulu!" Kristal merogoh saku kemejanya
Jawaban Kristal membuat Nando berdecak, "Loe bego banget! Masa iya ngamen di atas panggung. Dia mau nyanyi Kris! Nyanyi!"
"Ya kan sama aja ngamen, bodoh!"
"Dia ngisi acara Kris! Mereka itu The Virgon!"
"Serius loe?"
"Seratus rius!!"
Kristal nampak memperhatikan Langit yang bersiap dengan gitarnya
"Oke. Selamat pagi semuanya. Langsung aja! Lagu ini gue persembahin buat orang yang spesial di hati gue" sorak sorai teriakan para gadis memenuhi aula. Semua penasaran siapa wanita yang di maksud vokalis tampan tersebut, "Lagu ini teruntuk kamu, My Kristalia!"
__ADS_1