Diandra

Diandra
Bab 83


__ADS_3

"Jadi benar. Kamu adalah simpanan Nevan? Atau mungkin, kamu simpanan dari salah satu pengusaha yang datang ke pesta ini?"


Tangan Vika mengepal erat, dia kembali menatap Diandra, "Omong kosong apa yang kamu katakan, hah!! Jangan memfitnah orang sembarangan!!"


Dari nada suaranya, Dian bisa menebak saat ini Vika sedang cemas. Bisa jadi apa yang ia katakan memang benar. Padahal Dian hanya memancing Vika.


"Kalau memang yang aku katakan tidak benar, kenapa kamu terlihat cemas?"


Kini wajah Vika terlihat tegang, "Aku tidak cemas! Kenapa juga aku harus cemas?! Semua yang kamu katakan tidak benar! Jadi jangan melebihi batasanmu!"


Dian menghela nafas, "Kamu harus tahu satu hal, Vik! Aku sama sekali tidak tertarik untuk mencampuri urusanmu! Mau apapun yang kamu lakukan, tidak ada pentingnya untukku. Tapi, karma tetaplah ada. Apapun yang kita lakukan, itu akan kembali pada diri kita sendiri!"


Istri Gama itu meninggalkan Vika di dalam toilet


"Sayang, kenapa lama sekali? Kamu tidak apa - apa kan?" tanya Gama khawatir


"Kamu menyusulku?"


"Tentu saja. Kamu bilang sebentar. Tapi hampir dua puluh menit, kamu belum juga kembali. Jadi aku menyusulmu. Aku takut terjadi sesuatu padamu"


Dian memeluk lengan sang suami, "Aku tidak apa - apa, Sayang. Ayo kita kembali ke dalam sekarang"


Vika keluar setelah Dian dan suaminya pergi. Perempuan itu menatap Dian penuh benci. "Aku harus melakukan sesuatu sebelum Dian tahu dan membongkar semuanya"


🍀🍀🍀


Pesta telah usai, para tamu satu per satu telah meninggalkan Ballroom hotel. Begitupun dengan Gama dan Diandra.


"Kita langsung pulang atau kamu mau mampir ke suatu tempat dulu?"


Dian menoleh pada suaminya, "Langsung pulang saja. Aku sedang tidak ingin sesuatu"


"Little by tidak ngidam?"


Dian terkekeh, "Tidak Papa"


"Benar kamu tidak mau makan sesuatu? Tadi kamu hanya makan cake"


Dian tampak berfikir, "Nasi goreng sepertinya enak"


"Mau mampir ke Abang nasi goreng atau restoran?"


"Bagaimana kalau Papa Gama yang masak?"


Gama menoleh ke sang istri, "Kamu mau nasi goreng buatanku?"

__ADS_1


Dian mengangguk cepat, membuat Gama merasa gemas. "Baiklah. Setelah sampai dirumah, aku akan langsung membuatkannya untukmu"


Jika pasangan Dian dan Gama sedang dalam perjalanan pulang, beda lagi dengan Vika. Wanita itu justru masuk kedalam salah satu kamar hotel yang berada di lantai tiga.


"Sudah selesai?" tanya seorang pria pada Vika


"Hm"


"Kenapa wajahmu kusut begitu? Pestanya membosankan?"


Vika menatap pria di depannya, "Aku mau kamu melakukan sesuatu untukku!"


"Apa? Sepertinya serius sekali"


"Ada seorang wanita yang mulai mencurigaiku. Aku mau kamu melenyapkannya"


Pria itu menatap Vika serius, "Berikan alasan yang masuk akal kenapa aku harus melenyapkannya?"


Vika menatap pria itu tajam, "Apapun alasanya, itu tidak penting untukmu!"


"Ya sudah, aku tidak mau melakukannya!"


Vika menghela nafas kesal, "Karena dia selalu saja menjadi penghalang kebahagiaanku!"


Pria itu tersenyum, "Masuk akal. Baiklah, sepertinya aku bisa membantumu" Vika tersenyum, "Tapi imbalan apa yang bisa aku dapatkan jika aku berhasil melenyapkannya?"


Si pria tertawa, "Kenapa kamu masih bertanya? Aku sangat mencintai uang. Tentu saja aku mau uang! Lima ratus juta"


Vika mendengus, "Kamu pikir aku punya uang sebanyak itu? Jangan melunjak!" kesalnya


"Kalau begitu, lakukan saja sendiri. Kamu pikir menghilangkan nyawa seseorang resikonya tidak tinggi?! Aku juga harus menyiapkan beberapa hal"


"Baiklah. Aku akan memberikan imbalan yang kamu minta jika kamu berhasil!"


"Baiklah, deal!"


Vika pergi meninggalkan si pria tadi. Wanita itu memesan taksi online untuk pulang. Tapi sebelumnya, ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sama seperti saat ia meninggalkan rumah.


"Ibu Vika?"


"Ya" Vika masuk ke dalam mobil, "Sesuai alamat, Pak"


"Baik"


Perjalanan dari hotel menuju ke rumah membutuhkan waktu empat puluh lima menit. Tepat pukul sepuluh lewat lima belas, Vika sampai dirumah. Begitu sampai dirumah, Vika langsung disambut dengan keberadaan Saka serta raut wajahnya yang tampak dingin dan menatapnya curiga.

__ADS_1


"Darimana saja kamu?"


Perempuan itu melenggang masuk tanpa menghiraukan pertanyaan sang suami.


"Aku bertanya padamu, Vik!"


Vika berbalik kemudian menatap Saka kesal, "Aku cari angin"


"Cari angin? Kamu sadar! Kamu pergi sejak pagi! Dan sekarang sudah larut. Kamu tahu apa yang terjadi pada Yazna tadi setelah kamu pergi?!"


"Kenapa dengan Yazna?" tanya Vika dengan nada khawatir


Saka tertawa masam, rasanya ingin sekali ia marah pada istrinya itu.


"Yazna jatuh dari tempat tidur!" sahut Hastari


"Apa?!" Vika tak mampu menahan keterkejutannya


"Kamu terkejut? Atau hanya akting?" sindir Hastari


"Bunda tahu betul bagaimana aku menyayangi anakku!" jawab Vika tak terima


"Menyayangi?" Hastari tertawa sinis, "Menyayangi seperti apa yang kamu maksud? Kamu bahkan jarang memandangnya! Jarang membawanya keluar dan belakangan ini kamu sibuk dengan dirimu sendiri!"


"Itu karena aku tidak mau Yazna dihina orang lain! Di pandang sebelah mata dan di tatap jijik oleh orang - orang! Tapi di balik semua itu, aku sangat menyayangi Yazna"


"Kalau kamu menyayangi anakmu, kamu tidak akan meninggalkannya sendirian hingga ia jatuh seperti tadi!" kini Saka yang berbicara


Vika yang merasa terintimidasi, tertawa miris. "Hanya karena kesalahan kecil, kalian berdua melampiaskan semuanya padaku? Aku hanya manusia biasa! Aku punya rasa bosan dan jenuh juga!"


"Terlepas dari apapun yang kamu rasakan, itulah kodrat dan tanggung jawabmu sebagai seorang ibu. Setiap perempuan yang memiliki anak pasti merasakannya! Kalau kamu belum siap melakukan tugasmu untuk menjadi seorang ibu, ya jangan memiliki anak!"


"CUKUP!!", teriak Vika, "Aku lelah dengan semua yang terjadi! Sekarang terserah kalian mau melihat dan menganggapku seperti apa. Jika aku dimata kalian memang tidak pantas dan tidak bisa mengurus Yazna dengan baik, silahkan kalian saja yang merawatnya!"


"Apa maksudmu?" tanya Saka


Hastari menatap menantunya cukup terkejut,


"Aku sudah cukup bersabar hidup bersamamu dan juga Bundamu! Aku juga sudah berusaha menjadi ibu yang baik untuk Yazna. Tapi jika semua yang aku lakukan tidak berharga dimata kalian, aku menyerah! Aku akan pergi dari rumah ini!"


Mata Saka terbelalak, "Kamu mau meninggalkan putrimu?"


Vika menatap Saka sinis, "Bukankah aku bukan ibu yang baik? Kamu saja dan Bunda yang merawat Yazna!"


"Vika!!"

__ADS_1


"Biarkan saja, Ka! Biarkan istrimu itu pergi. Jika dia pergi, Bunda yakin kehidupanmu dan Yazna akan jauh lebih baik!!"


Deg


__ADS_2