Diandra

Diandra
Bab 58


__ADS_3

"Dengarkan aku baik - baik!! Sama seperti kamu yang menolak kehadiranku!! Aku pun akan melakukan hal yang sama!! Aku ... Sudah menganggapmu mati!!!" Dian berucap penuh penekanan


Wajah Aditama terlihat sendu. Raut penyesalan tergambar di wajah paruh bayanya. Sayangnya semua itu tidak berguna lagi bagi Dian. Menyesal sekarangpun tidak akan merubah apapun!


Melihat suasana semakin panas, Gama meminta Tri dan David untuk membantunya membubarkan tamu undangan. Acara terpaksa di hentikan.


"Tunggu sebentar!" Clara mencegah kepergian tamu undangan. "Sebelum kalian pulang, saya ingin memberitahukan sesuatu. Acara pernikahan Gama dan Diandra akan di laksanakan minggu depan. Untuk undangan akan segera kami kirimkan. Maaf atas kejadian ini"


Gama berdecak, disaat seperti ini Mamanya masih saja mencari kesempatan.


"Kami minta maaf atas kejadian hari ini. Dan maaf jika acara ini kami hentikan sebelum waktunya" ucap Gama


Tamu undangan satu persatu meninggalkan Ballroom DV Hotel. Kini suasana ruangan sudah sepi, hanya ada anggota keluarga disana.


"Anda lihat! Jika Anda berfikir bisa mempermalukan aku ataupun melakukan hal yang sama pada Mamaku dulu. Maka kamu salah besar, Nyonya Aditama"


"Aku akui kamu tidak bisa di anggap remeh!"


"Sudah aku katakan. Aku Diandra! Bukan Denata! Anda sudah salah memilih lawan!"


Livia menatap Dian sengit, "Kamu memang wanita licik!"


"Berani sekali kamu mengatai menantuku seperti itu!" Clara menghampiri Livia karena tak terima dengan apa yang wanita itu katakan. "Kamulah wanita licik yang sebenarnya!! Berpura - pura baik! Terlihat sempurna dan terhormat. Ternyata aslinya, hah!!" Clara menatap Livia sinis, "Rupanya selama ini kamu bersembunyi di balik topeng palsu! Wajah aslimu yang sebenarnya tak lebih dari sekedar wanita murahan!!"


"Kau!! Beraninya kau berkata seperti itu!!" teriak Livia tak terima


"Ma, jangan membuat masalah lagi! Sebaiknya kita pulang!" ajak Aditama


"Tidak bisa! Clara sudah menghinaku! Aku tidak bisa diam saja!"


"Lawan aku kalau kamu tidak terima!!" ucap Clara tak mau kalah


Clara dan Livia terlihat sama - sama kesal dan emosi. Aditama dan David berusaha menahan istri mereka masing - masing agar tidak semakin menjadi.


"Ma sudah, jangan membuat suasana semakin riuh!" ucap David


"Papa diam saja! Wanita seperti ini memang harus di beri pelajaran!"


"Wanita gila! Aku akan memberimu pelajaran!" balas Livia tak mau kalah


"Ma, jangan berulah lagi! Ayo kita pulang!" pinta Aditama kesekian kalinya


"Sebaiknya Om dan Tante segera pergi. Dan aku peringatkan pada Tante, jangan membuat ulah lagi. Jika Tante masih membuat ulah, maka aku tidak akan tinggal diam!" ancam Gama


"Kalian mainnya keroyokan! Tapi sayangnya aku tidak takut!!"


"Ma, ayo pulang"

__ADS_1


"Papa ini pulang - pulang terus! Harusnya Papa marah pada wanita ini! Dia sudah mempermalukan Mama" tunjuk Livia pada Dian


"Anda mempermalukan diri Anda sendiri Nyonya Livia! Kenapa malah menyalahkan orang lain?" sahut Dian santai


"Wanita ular sepertinya memang tidak akan pernah merasa bersalah! Dia sudah terbiasa bersikap tidak tahu malu!" cibir Clara


"Mak lampir mana punya malu, Tante" imbuh Rani


Dian menatap Livia sinis, "Sekarang silahkan pergi dari sini! Kehadiran Anda berdua sudah tidak diinginkan lagi!"


Livia menatap Dian tajam. Terlihat jelas kebencian dari sorot matanya. Niat hati mempermalukan Dian, justru dirinya sendirilah yang malu.


"Kamu memang anak tak tahu diri!"


"Anak siapa? Aku yatim piatu!" sindir Dian


Tatapan Aditama berubah sendu. Lebih tepatnya seperti tatapan penyesalan. Apalagi mendengar apa yang baru Dian katakan


"Ma, ayo kita pulang"


"Urusan Mama dengan wanita ini belum selesai!!"


"Selain tidak tahu diri. Kamu juga tidak tahu malu, Livia! Sudah di usir masih saja disini! Muka tebal sekali! Wajar sih. Kalau tidak bermuka mana mungkin laku!"


Livia jelas merasa di permalukan. Dia menatap satu persatu orang - orang yang ada di sana.


"Kalau begitu ingatlah seumur hidupmu!!"


Livia meninggalkan hotel dengan perasaan kesal dan marah. Di ikuti Aditama yang terlihat lesu


"Nak, kamu baik - baik saja?" tanya Yasari


Dian tersenyum, "Aku baik - baik saja, Bi"


"Untuk malam ini, bolehkan Dian ikut ke rumah kami?" pinta Clara


Yasari menatap suaminya, kemudian mengangguk. "Tentu, kami titip Diandra. Kalau ada apa - apa, tolong segera hubungi kami"


"Ayo Sayang"


Dian berpamitan pada keluarganya sebelum ikut Clara dan David pulang.


🍀🍀🍀


Seantero negeri tengah panas - panasnya membicarakan mengenai keluarga Abraham. Serta perselingkuhan mantan menantu keluarga konglomerat tersebut. Keberadaan Denata yang selama menjadi pertanyaan publik terjawab sudah. Bukan tinggal di luar negeri seperti kabar yang beredar. Nyatanya, wanita karier itu telah lama meninggalkan dunia dengan cara yang mengenaskan. Tak ayal kabar ini menarik banyak simpati publik. Diandra, putri sekaligus pewaris tunggal DV Grup langsung mendapat banyak dukungan dari masyarakat. Banyak yang mengucapkan bela sungkawa dan mendoakan mendiang Denata.


Disamping itu, kini masyarakat juga mengkritik perselingkuhan Aditama dan Livia. Hujatan dan komentar pedas netizen layangkan di akun sosial media milik Livia. Selama ini, ibu satu anak tersebut memang kerap membagikan kebahagiaan bersama keluarga kecilnya. Bahkan tak jarang Livia juga memamerkan barang - barang mahal yang seringkali ia beli. Setiap foto tak luput dari komenan pedas mereka.

__ADS_1


"Istirahatlah, kamu sudah melewati hari yang berat"


Dian mengangguk, "Mama juga istirahat ya. Mama juga mengeluarkan banyak tenaga tadi"


Clara terkekeh, "Itu belum seberapa. Masih banyak hal yang akan Mama lakukan untuk wanita itu"


"Mama merencanakan sesuatu?" tanya Dian penuh selidik


"Bukan hal yang perlu di pikirkan. Biar menjadi urusan Mama. Sekarang ayo kita istirahat"


Dian merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Ditemani oleh Mama Clara yang khusus menemaninya malam ini.


"Ma"


"Kenapa Sayang?"


"Apa makanan kesukaan Gama?"


Clara segera bangun lalu menatap calon menantunya. "Kenapa kamu menanyakan masakan kesukaan Gama?"


"Aku mau belajar membuka hati. Walau sulit tapi aku akan berusaha. Dan mungkin, bisa dimulai dengan makanan kesukaannya"


"Di-"


"Mama pasti paham bagaimana traumanya aku atas sebuah hubungan. Tiga kali di khianati sangatlah membuatku takut. Aku ragu untuk memulai kembali yang namanya rumah tangga. Tapi melihat kebaikan dan ketulusan Mama, Papa dan juga Gama. Aku jadi menyadari satu hal. Aku sudah mendapatkan keluarga yang sesungguhnya. Keluarga yang mau menerimaku dengan tulus. Bukankah aku tidak punya alasan untuk menpermainkan mereka?"


Clara merasa terharu atas kejujuran Diandra. Dia memeluk Dian dengan hangat "Kami akan selalu ada untuk membantumu, Sayang. Kamu jangan takut. Kita akan hadapi ini bersama, ya"


"Terima kasih, Ma. Aku beruntung bisa dipertemukan dengan keluarga ini" Dian melerai pelukannya, "Tapi ... Tolong Mama jangan mengatakan hal ini dulu pada Gama, ya"


"Kamu malu?" goda Dian


"Aku-"


"Baiklah, rahasia kamu aman di tangan Mama. Mama pasti akan membantumu"


"Sekarang kamu istirahat ya"


Sementara di kamarnya, Gama sedang berbicara dengan seseorang di telpon


"Urus semuanya. Aku mau semuanya segera beres!"


🍀🍀🍀


Selamat sore Kakak. Maaf selama dua hari ini aku tidak up. Si kecil kena campak, rewel banget.


Sebagai gantinya, sore ini aku up dua bab. Semoga kalian suka.

__ADS_1


Terima kasih atas semua dukungannya 🥰🥰


__ADS_2