
"Tumben masak banyak, Sayang?" tanya Gama saat melihat masakan di atas meja begitu banyak
"Tadi Rani menelpon, katanya dia mau kesini"
"Kamu sudah mengatakan rencana kita pada Rani?" Dian menggeleng,
"Kenapa belum?" tanya Gama heran
"Kata Kristal, Ken sudah punya pacar. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita dan merusak hubungan orang, kan?"
Gama terlihat kecewa, "Padahal Ken adalah kandidat terbaik untuk Kristal"
"Sudahlah, Mas. Jangan terburu - buru masalah jodohnya Kristal. Dia masih kelas satu SMA. Biarkan dia meraih mimpinya dulu. Serahkan semuanya pada Allah"
Gama menghela nafas, "Iya juga, Sayang. Mungkin aku terlalu over protektif sampai memikirkan jodohnya Kristal sekarang. Padahal dia masih remaja"
"Masak apa, Ma?" tanya Kris yang baru datang. Babi dol kedodoran, rambut di kepang asal, sungguh tidak seperti gadis pada umumnya, "Kok banyak amat masaknya. Mau ada tamu ya?"
"Tante Rani dan keluarganya mau datang" jawab Oma Clara
"Ish, pasti ada si batu juga"
"Batu? Siapa?" tanya Gama heran
"Kenzie maksudnya, siapa lagi" sahut Diandra
Gama dan Dian saling menatap kemudian tertawa, "Sepertinya mereka memang tidak cocok kalau disandingkan. Putrimu kelihatan tidak menyukai Kenzie"
"Mungkin kita lebih baik menjadi keluarga saja, daripada besan"
"Kalian bisik - bisik begitu, pasti sedang membicarakan aku ya?" tuduh Kris
"Tidak lah, ini masalah orang dewasa. Anak kecil tidak boleh dengar"
"Ih ... Mama sama Papa emang nyebelin" Kristal mencomot bakwan jagung yang ada di atas meja, lalu memakannya
"Kris, nanti kalau kamu makan, tamunya nggak kebagian" tegur Dian
"Pelit amat sama anak sendiri. Lagian bakwannya sepiring milik buto ijo gitu. Dimakan se komplek juga cukup"
Tawa Gama pecah begitupun dengan Oma Clara, nenek gaul itu sampai memegangi perutnya, "Piringnya buto ijo. Hahahah, memangnya kamu pernah makan sama buto ijo? Ada - ada saja mulutmu kalau ngomong"
Dian ingin tertawa tapi ia tahan, "Kris, kamu lanjutkan gih masaknya"
"Males ah, Ma"
"Biasanya kamu suka masak. Kok sekarang males sih?"
"Kan udah banyak yang di masak, Ma. Udah komplit. Mau masak apa lagi coba?"
"Udang balado sama gurami pedas manisnya belum"
"Oma saja yang masak. Masakan Oma kan top markotop"
"Kalau menu itu, yang paling pas buatan kamu"
Kristal terlihat ogah. Jelas saja, kedua menu itu makanan kesukaan Kenzie. Maksudnya apa coba meminta dirinya yang masak.
"Mama mau mandi dulu. Oma juga belum mandi. Jadi, kamu lanjutin masaknya ya"
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan, mereka semua meninggalkan Kristal sendirian,
"Mbok Atun"
"Saya, Neng"
"Mbok aja yang masak ya. Saya lagi malas"
"Nanti Mbok di marahin Nyonya, Neng"
"Udah. Itu mah urusan saya. Makasih Mbok"
Kristal melipir pergi ke halaman belakang. Masak untuk si batu. Ogah dia.
"Daripada masak untuk si batu, mending rebahan dulu"
Kristal duduk santai di gazebo. Tak lupa mendengarkan musik dari ponselnya kemudian memejamkan mata.
Dian baru saja selesai berganti pakaian. Rani mengirim pesan dan mengatakan sudah ada di jalan. Ia bergegas ke dapur dan meminta Kristal untuk berganti pakaian,
"Loh, kok Mbok yang masak? Kristal mana?"
"Anu Nyonya, Neng Kristal bilang lagi malas. Jadi minta Mbok yang masak"
"Anak itu benar - benar. Sekarang Kristalnya mana?"
"Tadi ke belakang, Nyonya"
Dian segera menuju halaman belakang. Dan benar saja, putrinya itu tertidur di gazebo.
"Kris! Bangun!"
"Kristalia!!"
Sayup - sayup mata itu terbuka, "Eh, Mama" ucapnya kemudian menutup mata lagi
"Kalau kamu nggak bangun, uang jajan Mama potong lima puluh persen!"
Seketika Kristal memelototkan mata, "Emak - emak sukanya ngancam! Hidup emak - emak Indonesia!!"
Diandra berkacak pinggang, "Cepetan cuci muka terus ganti baju. Tante Rani sekeluarga sudah di jalan"
"Pentingnya buat aku apa, Ma? Kan cuma makan malam doang. Sisain dikit aja biar aku makan nanti"
"Ya nggak bisa gitu lah. Itu namanya nggak sopan! Pokoknya ganti baju sekarang!"
Kristal beranjak dengan manyun, tak lupa hentakan kakinya seperti pasukan baris - berbaris.
"Nyonya, tamunya sudah datang"
"Ah, iya"
Dian segera masuk ke dalam rumah, rupanya Gama, Mama Clara dan Papa David sudah menyambut Rani sekeluarga
"Maaf, aku tadi masih di belakang"
"Nggak papa, santailah Di. Kayak sama siapa aja"
"Ya sudah ayo masuk dulu"
__ADS_1
Meski sudah seperti keluarga sendiri, Keluarga Damar tak pernah seenaknya main masuk saja. Keakraban memang terjalin, tapi adab tetap di nomor satukan.
Mereka mengobrol di ruang tamu, camilan dan minuman sudah tersedia disana.
"Bagaimana kabar kantor, Bang?" tanya Dian
"Semuanya baik"
Gama dan para lelaki asyik mengobrol soal pekerjaan, sedangkan Mama Clara tampak asyik bercerita dengan Bunda Yasari.
Rani yang duduk di samping Dian pun membisikkan sesuatu, "Di, Kristal sudah punya pacar belum?"
"Tidak ada. Memangnya kenapa?"
"Kalau kita besanan sepertinya lucu juga"
Dian menatap Kenzie yang sejak tadi hanya diam dengan ponselnya
"Bukannya Kenzie sudah punya pacar"
"Kata siapa? Ken itu jomblo"
"Selamat malam semuanya" sapa Kristal
Dian tersenyum canggung, lihatlah penampilan sang putri. Baju hitam kedodoran, celan jins robek dan rambut di ikat kuda, tanpa riasan. Memang ini bukan pertama kalinya, tapi Dian sudah memberi tahu Kristal untuk berpenampilan lebih feminim, rupanya apa yang dia ucapkan hanya di anggap sebagai angin lalu.
"Malam, Kris. Kamu terlihat semakin cantik dari hari ke hari" puji Rani
"Thank you, Mami"
"Makanannya sudah siap Nyonya" ucap Mbok Atun
"Kalau begitu ayo kita makan malam dulu" ajak Papa David
Semua orang menuju ke ruang makan, Gama duduk bersebelahan dengan Diandra, Rani dengan Tri sedangkan Kristal duduk berseberangan dengan Kenzie
"Silahkan di nikmati hidangan yang ada"
"Terima kasih banyak Pak David sekeluarga sudah repot - repot menjamu kami"
"Jangan sungkan begitu, Paman. Kita kan keluarga" ucap Gama, "Ya sudah ayo langsung saja. Kalau bicara terus, kita tidak makan - makan"
Semua orang makan dengan hikmat, terkecuali Kristal dan Kenzie yang tampak biasa saja.
"Setelah ini, Ken akan kuliah dimana?" tanya Gama
"Sepertinya Ken berminat untuk ke Harvard"
"Wah, bagus sekali. Harvard merupakan universitas terbaik di dunia nomor lima"
"Ken, kamu belum punya pacar kan?" pertanyaan dari Mamanya membuat Ken menoleh dengan wajah dinginnya,
Bisa - bisanya Mama tanya hal seperti ini di situasi seperti sekarang. Menyebalkan!
"Kalau diam artinya belum kan?" sahut Rani sendiri
"Memangnya kenapa kamu tanya hal seperti itu sama Ken, Ma?" tanya Tri
Rani tersenyum menatap semua orang, "Aku ingin menjodohkan Ken dengan Kristal"
__ADS_1
Uhuk - Uhuk