Diandra

Diandra
Bab 84


__ADS_3

"Awas Pak!!", teriak Dian, sopir yang mengemudi mobil seketika berhenti mendadak saat ada mobil yang tiba - tiba melintas didepan mobil mereka.


"Anda tidak apa - apa Nyonya?" tanyanya khawatir


Sejak mengetahui kehamilan sang istri, Gama sengaja mempekerjakan sopir untuk mengantar istrinya jika ingin pergi ke manapun.


Dian menghela nafas, perutnya sedikit kram. Namun beberapa detik kemudian tak terasa lagi. "Aku tidak apa - apa, Pak"


"Anda yakin, Nyonya. Apa perlu saya hubungi Tuan Gama"


Dian menggeleng, "Tidak perlu. Bapak lanjut menyetir saja. Kita sudah hampir sampai di kantor Mas Gama"


"Baik Nyonya"


Sopir kembali melajukan mobil. Dian sendiri mulai berfikir tentang kejadian tadi. Sepertinya kejadian tadi bukanlah kebetulan. Ia yakin ada orang yang sengaja melakukan hal itu.


"Kita sudah sampai, Nyonya"


Dian tersadar dari lamunannya, "Ah iya. Terima kasih, Pak. Bapak bisa langsung pulang. Nanti saya pulang dengan Mas Gama"


"Baik Nona"


Wanita cantik itu turun dari mobil. Tak lupa membawa paper bag berisi makan siang yang khusus ia siapkan untuk sang suami.


Banyak karyawan yang menyapa Dian ramah. Selain cantik, Dian juga dikenal sangat baik dan ramah. Tentu saja hal itu membuat banyak orang menyukainya.


"Tuan Ada?" tanya Dian pada sekertaris Gama


"Ada Nyonya. Silahkan langsung masuk saja"


"Terima kasih"


Tanpa mengetuk pintu, Dian memasuki ruangan sang suami. "Mas"


"Sayang, kamu sudah datang?" Gama berdiri menyambut kedatangan istrinya, "Ayo duduk dulu"


Setelah keduanya duduk, Dian membuka isi paper bag yang ia bawa kemudian membukanya


"Kamu memasak sendiri?" tanya Gama


"Tentu saja"


Suami Dian itu menghela nafas, "Kan aku sudah bilang, kamu jangan banyak melakukan aktivitas yang membuatmu lelah"


"Hanya memasak kok. Kamu jangan berlebihan begitu, dong Mas. Aku tidak akan kelelahan kalau hanya memasak. Lagipula, kalau aku diam saja rasanya sangat bosan"


"Baiklah. Tapi kalau kamu merasa lelah, kamu harus berhenti"


"Tentu. Sekarang kamu makan dulu ya"


"Kita berdua yang akan makan" putus Gama


Dian mengangguk, keduanya menikmati makan siang dengan nikmat. Sesekali Gama menyuapi istrinya begitupun sebaliknya.


Setelah semua makanan itu habis, Dian menutup dan memasukkan kembali kotak makan ke dalam paper bag.


"Mas, ada yang ingin aku ceritakan"


"Ada apa, hm? Sepertinya serius sekali"


"Tadi dalam perjalanan kemari, tiba - tiba ada mobil yang melintas di depan mobilku. Dan sepertinya hal itu memang di sengaja"


Gama tak mampu menyembunyikan keterkejutannya, "Tapi kamu tidak apa - apa? Kenapa kamu tidak langsung cerita tadi! Pak Umam juga kenapa tidak menghubungiku!"


Dian mengusap bahu sang suami, "Aku yang meminta Pak Umam tidak memberitahumu. Dan aku juga sengaja memberitahumu setelah kita makan siang. Kalau aku langsung bercerita tadi, kamu tidak akan makan siang"

__ADS_1


Gama menatap istrinya intens, "Kenapa kamu masih peduli padaku, padahal kamu baru saja mengalami insiden tidak menyenangkan"


Dian tersenyum, "Karena kamu suamiku. Tentu aku peduli. Dan lagi, aku baik - baik saja"


"Kamu yakin? Apa little by kita baik - baik saja? Aku yakin Pak Umam pasti berhenti mendadak tadi"


Dian menghela nafas, "Tadi perutku sempat kram"


"Kita ke dokter sekarang!" tegas Gama


Dian mengangguk pasrah, Gama menggandeng tangan sang istri keluar dari ruangannya. "Batalkan semua metting hari ini. Aku akan pulang cepat!" ucapnya pada sang sekertaris


"Baik Tuan"


Dian tahu jika sekarang Gama sangat khawatir pada dirinya. Bahkan selama perjalanan ke rumah sakit, wajah Gama tampak serius.


Begitu tiba dirumah sakit, tanpa diminta, Gama langsung menuju ke ruangan dokter Mey. Entah kapan suaminya itu menghubungi dokter keturunan Tionghoa tersebut. Mereka bahkan masuk tanpa antri.


"Aku mau memeriksakan kandungan istriku, dok" ucap Gama to the point


dr. Mey menatap Dian kemudian tersenyum, "Tentu"


Dibantu oleh suster, Dian melakukan tensi darah. Kemudian dr mulai memeriksa kondisi janin Diandra melalui USG. "Semuanya baik. Tidak ada masalah. Janinnya tumbuh dengan sehat dan sesuai dengan usianya. Bahkan sudah ada detak jantungnya"


"Benarkah dok?" tanya Gama tak percaya


"Tentu. Umur janinnya sudah menginjak sebelas minggu. Kalian ingin mendengar detak jantungnya?"


"Apa bisa dok?" tanya Gama lagi


dr. Mey tersenyum, "Tentu bisa"


Jedug jedug jedug


"Itu suara jantung anak kita"


Dian mengangguk di sertai senyum, "Tadi aku sempat mengalami kram dok. Tapi hanya beberapa menit. Apa tidak berpengaruh pada janinnya?" tanya Dian,


"Kram perut saat hamil muda itu biasa terjadi. Rahim terus mengalami perkembangan. Selain itu, perubahan hormon juga bisa memicu terjadinya kram perut. Tapi apalagi kram terjadi dalam waktu yang lama disertai flek, maka hal itu perlu diwaspai. Apa kamu sering mengalami kram?"


Dian menggeleng, "Tidak dok. Hanya tadi saja"


"Selama tidak ada keluhan lain, kalian berdua tidka perlu khawatir. Saya lihat janinnya juga sehat kok"


"Sykurlah dok. Saya hanya terlalu khawatir pada kondisi istri saya"


dr. Mey kembali tersenyum, "Suami khawatir itu hal yang lumrah. Apalagi pada kehamilan pertama. Jaga pola makan, perbanyak makan makanan yang mangandung asam folat. Jangan lupa vitamin dan susu hamilnya juga. Serta lakukan pemeriksaan secara rutin"


"Tentu dok"


"Ada lagi yang ingin di tanyakan?"


"Tidak ada. Kalau begitu, kami permisi dulu dok. Terima kasih banyak atas pemeriksaan dan saran dokter"


"Sama sama"


🍀🍀🍀


"Mulai sekarang, jangan pergi kemanapun kalau tidak denganku" ucap Gama begitu mereka ada dirumah


"Tapi kamu kan sibuk, Mas"


Gama menatap istrinya, "Semua demi keselamatan kamu, Sayang"


Dian menghela nafas, inilah yang akan terjadi jika ia mengatakan yang sebenarnya pada Gama. Tapi Dian sadar, apa yang Gama katakan memang benar adanya. Semua demi keselamatannya.

__ADS_1


"Sekarang kamu istirahat dulu ya. Aku mau pergi sebentar"


"Kamu mau kemana?" tanya Dian khawatir


"Ada hal yang harus aku urus. Sebentar saja" bujuk Gama


"Jangan lama - lama ya. Setelah urusanmu selesai, cepatlah pulang"


Gama memeluk istrinya, "Tentu. Aku hanya cari angin segar. Kamu mau titip sesuatu?"


Dian menggeleng, "Cepatlah pulang"


"Iya. Sekarang tidurlah dulu"


Setelah memastikan istrinya tidur, Gama segera keluar dari kamar.


"Kamu mau kemana malam - malam seperti ini Gam? Apa dia ingin sesuatu?" tanya Mama Clara


"Ada urusan sebentar"


"Tumben?" tanya Mama Clara heran


"Biasalah, Ma. Aku pergi dulu ya"


Gama berjalan menuju ke mobilnya. [Bagus! Tahan dia. Aku segera datang]. Gama memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia segera melajukan mobilnya ke tempat dimana anak buahnya berada.


🍀🍀🍀


"Lepaskan aku!!" teriak seorang pria


"Diamlah!! Kalau kamu tidak bisa diam, aku akan menutup mulutmu dengan pistolku!!"


Brak


Gama menendang pintu hingga keras, "Dimana bajingan itu?"


"Dia disini, bos!!"


Wajah Gama terlihat seperti iblis pencabut nyawa. "Jadi kamu yang berusaha mencelakai istriku?"


"A-aku tidak sengaja!"


"Tidak sengaja?" Gama menyeringai,


Bug


"Arrgg" si pria itu mengerang kesakitan saat Gama menendang kakinya


"Katakan sekali lagi kalau kamu tidak sengaja" pinta Gama


"A-aku minta maaf! Aku sungguh tidak bermaksud untuk mencelakai istrimu. Aku hanya disuruh. Aku melakukannya karena aku butuh uang!"


Bug


Bug


Bug


Gama berkali - kali memukul pria itu, mendengar alasannya hanya karena uang, Gama naik darah.


"Tikus kecil sepertimu, sangat mudah untuk aku singkirkan! Kamu tidak ada harganya jika dibandingkan dengan istriku! Beraninya kamu mau menukar istriku dengan uang!! BEDEBAH!!"


Tidak hanya pria tadi yang ketakutan, anak buah Gama juga ngeri melihat kemurkaan Tuannya.


"Patahkan kedua kakinya!"

__ADS_1


__ADS_2