Diandra

Diandra
Bab 89


__ADS_3

Tidak terasa, usia kehamilan Diandra sudah memasuki bulan terakhir. Perkiraan dokter, istri Gama itu akan melahirkan dua minggu lagi.


Sejak Vika mendatangi kantornya beberapa bulan lalu, Gama melakukan penjagaan ketat terhadap sang istri.


Bukan sekali dua kali ada yang berusaha mencelakai dirinya dan juga sang istri, beruntung anak buahnya selalu bertindak tepat waktu.


"Aku khawatir meninggalkanmu sendirian, Sayang" seru Gama


Dian tersenyum, wanita berperut buncit itu menghampiri sang suami kemudian memakaikannya dasi. "Tidak perlu khawatir. Ada Mama dan Papa. Juga ada anak buahmu yang selalu menjagaku. Kalau kamu tidak pergi, kamu akan melewatkan peluang besar"


Gama menghela nafas, hari ini dia harus pergi keluar kota untuk urusan bisnis. Jika saja bukan urusan penting, Gama tak akan tega meninggalkan istrinya.


"Kalau ada apa - apa, segera hubungi aku ya"


"Pasti, Sayang. Jangan khawatir"


"Kamu sudah mau berangkat, Gam?" tanya Mama Clara


"Iya Ma"


"Hati - hati ya"


Gama mengangguk, "Aku titip istriku ya. Jaga Dian baik - baik"


"Kamu tidak perlu cemas. Ada Papa dan Mama yang akan menjaga istrimu. Kamu pergilah. Semakin cepat kamu menyelesaikan pekerjaanmu, semakin cepat pula kamu pulang" ucap Papa David


"Tentu. Kalau begitu aku pergi dulu ya" Gama mencium kening sang istri, tak lupa mencium little by kesayangannya. "Papa berangkat ya, Sayang. Kamu baik - baik di perut Mama"


"Iya Papa" sahut Dian


Dengan berat hati Gama meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua. Perlahan, mobil yang Gama kendarai mulai meninggalkan pelararan rumah.


"Ya sudah, kita masuk ke dalam ya"


"Iya Ma"


Ketiganya masuk kedalam rumah. Papa David masuk ke ruang kerja, sedangkan Dian dan Mama Clara masuk ke dalam kamar baby K, calon anak Dian dan Gama.


"Semua sudah siap ya? Mama sudah tidak sabar melihat betapa cantiknya cucu Mama nanti"


Dian tersenyum, Ia dan sang suami memang sudah mempersiapkan kamar untuk bayi perempuan mereka, tentu saja lengkap dengan semua keperluan baby di dalamnya.


"Ini baju yang kita beli minggu lalu?" tanya Mama Clara

__ADS_1


"Iya Ma. Aku belum sempat memasukkannya ke dalam lemari. Mama tahu kan, Mas Gama tidak membiarkan aku melakukan kegiatan apapun"


Mama Clara terkekeh, "Benar juga. Ya sudah, biar Mama yang menatanya"


Dian mengangguk, ia membantu membuka paper bag berisi baju dan sepatu milik baby K.


"Lucu - lucu sekali bajunya. Mama semakin tidak sabar"


"Aku juga, Ma. Dia pasti sangat lucu dan menggemaskan"


Setelah selesai membereskan pakaian baby K. Mama Clara menemani Dian jalan - jalan di halaman rumah.


"Apa ada keperluan lain yang belum dibeli?"


"Semuanya sudah, Ma"


Mama Clara menatap menantunya, "Terima kasih ya, Di"


"Terima kasih soal apa, Ma?"


Wanita paruh baya itu mengusap lembut lengan menantunya, "Terima kasih sudah hadir dalam keluarga kami. Terima kasih karena kamu mau menerima Gama apa adanya. Sejak menikahi kamu, Gama terlihat selalu bersemangat dan bahagia. Padahal dulu Mama mengira, Gama akan melajang seumur hidup"


Dian tersenyum, "Akulah yang harusnya berterima kasih karena Mas Gama mau menerima aku apa adanya. Padahal dia tampan, mapan dan romantis, harusnya dia bisa mendapatkan seorang gadis, tapi dia malah memilihku yang seorang janda. Aku juga berterima kasih pada Mama dan Papa yang juga dengan tangan terbuka mau menerima dan menyayangi aku dengan tulus seperti anak kalian sendiri"


"Aku beruntung memiliki suami seperti Mas Gama"


"Gama juga beruntung memiliki istri sepertimu"


"Owh ... Aku terharu mendengarnya. Kalian adalah menantu dan mertua yang harmonis"


"Cilla!"


Rupanya bukan hanya Cilla, ada Vika dan beberapa orang yang Dian yakini adalah anak buah keduanya.


"Bagaimana bisa kalian masuk! Papa!! Penjaga!!" teriak Mama Clara


Tawa Vika dan Cilla menggema, "Teriaklah sampai besok, tidak akan ada yang mendengar kalian berdua!"


Para pengawal Gama sudah jatuh pingsan. Begitupun dengan Papa David


"Tidak mungkin! Banyak pengawal yang menjaga rumah ini" ucap Mama Clara


"Oh ya? Tapi sayang, semua pengawal itu sudah berhasil kami lumpuhkan!"

__ADS_1


"Itu hal yang mustahil!!"


Cilla mengangguk, "Benar juga. Selama ini, Gama menjaga istrinya seperti emas! Bahkan kami berkali - kali gagal mencelakai Diandra. Tapi hari ini, keberuntungan tengah berada di pihak kami. Tentu saja hal itu sudah kami rencanakan sejak lama. Lebih tepatnya, setengah tahun lalu!"


"Biadap kamu Cilla. Iblis kamu!!"


Cilla tertawa keras, "Aku iblis? Lalu bagaimana dengan menantumu itu?" tunjuk Cilla pada Dian "Apa dia seorang malaikat? DIA ITU LEBIH JAHAT DARIPADA AKU!! DIA ITU IBLIS YANG SESUNGGUHNYA!!"


"Cill, simpan tenagamu. Lebih baik kita berdua bersenang - senang. Sepertinya menjadi dokter bedah dadakan akan sangat menyenangkan. Kamu lihat perut Diandra, kan?" Vika memprovokasi"


"Ah kamu benar juga. Ada yang mengataiku iblis. Jadi alangkah baiknya kalau aku menjadi iblis sungguhan!"


"Kalian tidak akan bisa melakukan itu. Gama pasti akan segera datang!"


"Bermimpilah yang tinggi, Nyonya Clara. Itu tidak akan terjadi!!"


Dian berpegangan dengan Mama Clara, "Apa yang kalian inginkan?"


Vika dan Cilla maju mendekati Diandra, "Tentu saja kamu, Diandra!"


"Kalau aku yang menjadi target kalian. Maka lepaskan semua orang!"


"Di, apa yang kamu katakan?!"


"Tenanglah, Ma. Semua akan baik - baik saja"


"Bagus! Kami akan melepaskan semua orang dan kamu sebagai gantinya!"


"Tidak! Jangan, Di. Apa yang kamu lakukan?" cegah Mama Clara


Dian menatap mertuanya sambil tersenyum, "Semua akan baik - baik saja, Ma"


"Tap-"


"Percayalah!"


Dian melepaskan genggaman tangan Ibu mertuanya kemudian melangkah ke arah Cilla dan juga Vika.


Cilla tersenyum melihat Dian tak seolah tak punya kekuatan.


"Akhirnya aku bisa membalasmu, Diandra!"


Duar

__ADS_1


__ADS_2