Diandra

Diandra
Bab 56


__ADS_3

"Mana tua bangka itu! Kenapa dia lama sekali?" kesal Clara


"Ma, jangan sembarangan mengatai orang. Kalau dia tiba - tiba datang dan mendengar umpatan Mama bagaimana?" tegur David


"Biarkan saja! Kita sudah hampir satu jam menunggu! Memangnya kita tidak punya kerjaan lain? Kalau saja ini tidak menyangkut kebahagiaan putra - putriku, aku tidak mau membuang - buang waktu! Kurang kerjaan!"


"Maaf saya baru datang" ucap Aditama dengan nada sedikit menyesal


"Lain kali tolong tepat waktu, Tuan Aditama. Kamu juga sama sibuknya dengan Anda!"


"Ma!" tegur David. Clara melipat kedua tangannya acuh


"Saya minta maaf karena sudah datang terlambat, Pak David dan Bu Clara"


"Ya sudah, silahkan duduk Pak Aditama" sambut David


Aditama duduk di samping David, berseberangan dengan Clara.


"Jadi apa yang ingin-"


"Saya tidak mau basa - basi lagi! Saya mengudang Anda kemari ingin membicarakan tentang pernikahan Gama dan Diandra!" potong Clara cepat. David hanya bisa menghela nafas melihat betapa tidak sukanya sang istri pada calon besannya tersebut. Padahal sebelum dia tahu tentang Dian, hubungan Clara dan keluarga Aditama baik - baik saja.


"Begini, Pak Aditama. Anda paham betul bagaimana hukum pernikahan dalam islam. Anda adalah Ayah kandung Diandra. Jadi, Andalah yang harus menikahkan mereka" ucap David


Aditama nampak menghela nafas, "Bagaimana saya bisa menikahkan satu putri saya jika putri saya yang lainnya mencintai mempelai pria" lirih pria paruh baya itu, "Entah kenapa saya berfikir, Dian sengaja ingin menikah dengan Gama hanya untuk balas dendam. Dia ingin membalas saya melalui Cilla"


"Bagaimana bisa Anda punya pikiran picik seperti itu, Taun Aditama! Anda menuduh anak Anda sendiri? Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang seperti Anda! Setelah bertahun - tahun, Anda menelantarkan Diandra, bukannya pelukan hangat dan penyesalan yang Anda tunjukkan, tapi sebuah penolakan! Anda seolah lupa jika memiliki anak lainnya!" geram Clara


"Saya tahu Dian seperti apa" jawab Aditama


"Bagaimana bisa Anda berbicara begitu setelah Anda menelantarkannya bertahun - tahun! Orang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Begitupun dengan Diandra. Jadi Anda tidak bisa menyimpulkan jika Diandra yang Anda kenal dulu masih sama dengan Diandra yang sekarang!"


Yang di katakan Clara memang benar. Dian sekarang sedikit berbeda dengan Diandra dulu.


"Yang Anda katakan benar. Dian memang sedikit berubah. Dia tidak seperti putriku yang dulu"

__ADS_1


"Itu semua karena sikap Anda sendiri! Anda tidak pernah mau menemuinya! Anda lepas tangan dalam semua hal termasuk nafkah untuk putri kandung Anda! Anda lebih mengutamakan keluarga baru Anda. Mencukupi segala kebutuhan mereka dengan sangat baik. Memberikan kasih sayang berlimpah untuk Cilla dan melupakan putri kandung Anda yang lain! Sikap Anda mencerminkan ketidak-adilan!"


Aditama menatap Clara dengan tatapan yang sulit di artikan. Bukan tatapan marah. Bukan juga tatapan penyesalan.


"Aku dan Diandra sudah memiliki kehidupan masing - masing. Dan lebih baik berjalan seperti itu saja"


Bukan hanya Clara yang merasa geram mendengar ucapan enteng Aditama, David pun dibuat geram. Namun ia berusaha menahan kekesalan hatinya dan membujuk Aditama mau menjadi wali nikah di pernikahan Gama dan Dian.


"Pak Aditama, Anda tidak bisa menolak kenyataan. Bagaimanapun Dian juga putri Anda, tidakkah Anda memikirkan bagaimana perasaannya? Ayahnya masih hidup namun dia memilih tidak peduli. Sebagai seorang anak, saya yakin Dian sedih. Apalagi saat melihat betapa Anda sangat menyayangi Cilla"


"Kahadiran saya di hidup Dian sudah tidak berarti. Dian hidup lebih baik tanpa Saya"


"Anda sungguh egois dan keras kepala!"


"Anda tetap tidak mau menikahkan Dian dan Gama?" tanya David untuk terakhir kalinya


Aditama terlihat sendu, "Saya menyerahkan pernikahan ini pada kalian. Untuk wali nikahnya, kalian bisa memanggil penghulu sebagai wali hakim"


"Anda adalah Ayah terkejam yang pernah saya tahu!!"


"Kalau sudah tidak ada yang ingin kalian katakan, saya permisi dulu!" Aditama meninggalkan Clara dan David begitu saja


"Ma, tenanglah" David mengusap bahu sang istri


"Bagaimana bisa ada Ayah seperti Aditama?! Dia bukan hanya kejam! Tapi juga tidak punya hati!! Semoga hidupnya tidak pernah damai!!


"Sudahlah. Kita sudah mendengar keputusan Aditama. Jangan beritahu Dian soal ini. Masalah dokumen dan persiapan pernikahan biar menjadi urusan Papa"


"Iya! Lebih baik kita fokus pada persiapan pernikahan Gama dan Diandra! Jangan memikirkan pria tidak waras itu!"


Clara melirik suaminya, "Kenapa kamu malah tertawa"


"Tadi kamu mengatainya tua bangka. Sekarang pria tidak waras. Entah besok kata apa lagi yang akan sematkan untuknya"


"Ck. Dia memang pantas dikatai seperti itu! Sudah! Ayo kita pulang! Tahu seperti ini lebih baik Mama mengurus catering dan dekorasi! Buang - buang waktu saja!"

__ADS_1


"Jangan marah - marah. Kamu belum punya cucu. Nanti malah sudah tua waktu cucumu lahir"


"Enak saja! Aku masih muda dan akan selalu awet muda! Dan aku akan bermain sepuasnya dengan cucuku nanti! Aku akan minta Dian melahirkan cucu yang banyak untukku!"


"Menantumu bukan kucing, Ma"


"Siapa yang bilang Dian kucing?" jawab Clara kesal, "Aku hanya minta tiga atau empat cucu!" jawab Clara tak mau disalahkan


"Baiklah. Terserah Mama saja. Ayo kita pulang"


🍀🍀🍀


"Jadi mereka sudah fetting baju pengantin?"


"Benar Nyonya. Nyonya Clara juga sudah memilih gedung, dekorasi dan cetering. Semua sudah selesai di persiapkan" lapor seseorang di seberang sana


"Tolong awasi terus. Dan laporkan semua yang kamu tahu setiap waktu!"


"Baik Nyonya"


"Jadi mereka akan benar - benar menikah?" tanya Cilla sendu


"Sayang, masih ada waktu. Sebelum akad di gelar, masih ada kesempatan menggagalkan pernikahan Diandra dan Gama! Kamu jangan khawatir!" Livia berusaha menenangkan putrinya


Cilla menatap Mamanya, "Tapi bagaimana caranya, Ma? Mama tahu sendiri bagaimana Kaka Gama menolakku. Dia hanya menganggapku adik. Tidak lebih!" ucap Cilla khawatir


"Gama menerimamu atau tidak itu masalah belakangan. Yang penting kamu bisa bersatu dulu dengan Gama. Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Apalagi kamu dan Gama sudah mengenal lama"


"Benarkah seperti itu?"


"Tentu saja. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri. Masalah Diandra, itu akan menjadi urusan Mama"


Cilla menatap Mamanya lamat, "Ma"


"Ada apa, Sayang?"

__ADS_1


"Apa benar yang Dian katakan, jika Mama adalah perusak rumah tangga Mamanya dulu?"


Deg


__ADS_2