
...HAPPY READING...
...----------------...
*ISTANBUL TURKEY*
Perlahan Andara duduk di samping sofa yang kosong dekat Hameed ayahnya.
Menghela nafasnya, menerima pinangan Alexander terhadapnya, hatinya bergulat dia terpaksa melakukan itu, lantaran Andara tidak ingin Alexander membongkar sesuatu yang telah terjadi di antara mereka.
“Aku... aku menerima lamaranmu Alexander Alberto!” lirih Andara berusaha menahan emosinya.
Sementara Alexander tersenyum penuh kemenangan, dia lega karena Andara tidak bisa berkutik di hadapan kedua orang tuanya.
“Terima kasih Andara, aku sangat bahagia sekali honey!” ujarnya sembari mencium tangan Andara.
EKHEM. Hameed berdeham kala Alexander mencium tangan putrinya, segera Alex kembali melepaskan tangan Andara.
“Terima kasih Om... Tante, kalian telah menerima pinangan saya!” ucapnya.
Kemudian Hameed kembali bertanya, pasalnya yang dia tahu Andara sedang berpacaran dengan Radit.
“Tunggu... saya perlu menjelaskan dan perlu mengetahui, sudah sejauh mana hubungi kalian selama ini? Andara jangan katakan kalau kamu mengkhianati Radit, kalian kan sudah bertunangan Nak!” ujar Hameed.
Tiba-tiba saja Alexander tercengang, lantaran hubungan Andara dengan Radit sudah ke tahap itu.
“Andara, jawab Daddy? Jangan pernah bermain-main dengan namanya perasaan sayang, kamu tahukan konsekuensinya?” ucap Hameed kembali menegaskan.
Darah Andara berdesir hebat, mengalir di setiap pembuluhnya, memaksa memancing emosionalnya. Namun Andara memilih bungkam seribu bahasa, ketika Hameed bertanya soal hubungannya dengan Radit.
“Aku a---,” seketika ucapan Andara di jeda oleh Alexander begitu saja.
“Mereka sudah putus Om, Radit mengkhianati Putri Om yang baik hati ini!” sela Alexander di saat Andara akan berbicara.
‘Alexander... beraninya kau memfitnah Radit, manusia licik bermuka dua!’ batin Andara, hanya bisa menelan ucapannya kembali.
“Owh... jadi seperti itu ya! Kalau begitu saya mau menegaskan pada kamu Nak Alexander, tolong jaga dan lindungilah Putri Om ini ya, jangan sakiti hatinya!” tegas Hameed mengingatkan Alexander.
‘Hati Andara sudah di sakitinya Dad’s... laki-laki ini sudah merenggut kesucian Dara,' lirih Andara, hanya bisa berkata-kata dalam hatinya, tanpa bisa mengungkapkan kebenaran.
__ADS_1
Nessa menatap wajah putrinya yang sendu, dia mengetahui bahwa ada kejanggalan di antara hubungan Andara dengan Alexander.
Naluri seorang ibu tidak pernah bisa dibohongi, sekalipun putrinya berusaha menyembunyikan kebenaran itu.
Nessa tahu jika Andara sedang berada di fase dilema saat ini, ingin rasanya dia berbicara dengan Andara, namun sikap Andara yang selalu dingin terhadapnya, membuat Nessa mengurungkan niatnya.
‘Ada apa denganmu Nak... kenapa wajahmu tidak nampak bahagia seperti itu?’ tanya Nessa dalam hatinya.
Kemudian Alexander berpamitan terhadap Hameed dan juga Nessa, dia sudah mendapatkan keinginan terbesarnya, memiliki ratu modeling di negara itu, sebagai koleksi cintanya.
“Om... Tante... kalau begitu saya pamit yah! Om pokoknya tenang saja, Andara akan saya bahagiakan, karena saya sangat menyayanginya!” ucap Alexander sambil menyalim tangan keduanya.
Perlahan Alexander melangkah pergi, meninggalkan rumah megah Billlionaire asal Arab itu.
“Huh. Akhirnya kini kamu ada dalam genggamanmu Andara! Oh... honey, aku sangat senang bisa memilikimu!” ucap Alexander berseringai, sambil mengemudikan mobilnya.
Perlahan pergi menjauh dari kediaman keluarga Andara.
Sementara Andara, sangat sedih karena merasa telah mengkhianati cintanya Radit.
TAK-TAK-TAK. Suara langkah kaki Andara, berlari menuju kamarnya, sambil menyeka buliran bening yang menetes dari matanya.
Renita yang sadar dengan kesedihan kakaknya, ia langsung menyusul Andara ke kamarnya.
“Kakak tidak kenapa-kenapa dek, kakak lagi ingin istirahat saja!” sahut Andara dari dalam kamarnya.
“Kakak baik-baik saja kan? Ya sudah kalau kakak tidak Kenapa-kenapa, Rere kembali ke kamar Rere ya!” seru Renita meninggalkan kembali pintu kamar kakaknya.
Nessa yang sadar akan hal itu, langsung berusaha berunding dengan Hameed suaminya.
“Mas... Aku kok melihat Andara kayak yang murung gitu ya? Jangan-jangan Dara tidak bahagia dengan lamaran yang dilakukan Alex!” ujar Nessa terhadap suaminya.
“Kamu tahu dari mana Ma, kalau Andara tidak bahagia dengan lamaran Alex,” sahut Hameed menimpali istrinya.
“Mas aku ini Ibunya, aku tahu kalau Putriku lagi sedih, Andara tidak murung seperti itu selama ini, dia selalu ceria Mas, tapi lihat setelah Alexander datang ke rumah sikap Dara jadi berubah!” ujar Nessa terus berusaha meyakinkan suaminya.
Kemudian Hameed bangkit, memegang kedua pundak istrinya.
“Ma... jangan khawatirkan Putri kita, dia sudah dewasa, dia sudah bisa memilih mana yang baik dan yang salah! Untuk apa Dara menerimanya jika itu membuatnya menderita!” ucap Hameed meyakinkan.
__ADS_1
Kemudian Nessa kembali duduk, dan berusaha meyakinkan hatinya meski masih ada keraguan.
“Daripada aku terus bertanya-tanya seperti ini, lebih baik aku tanyakan langsung pada Andara, dan mengajaknya mengobrol,” gumam Nessa meninggalkan kamarnya.
“Kamu mau ke mana Ma?” tanya Hameed terhadap istrinya, yang perlahan meninggalkan kamar.
“Aku mau menemui Andara Mas... aku khawatir dengan keadaannya,” ucap Nessa.
Kemudian menghampiri kamar putrinya.
“Andara!” seru Nessa.
“Ini Mama Nak... tolong buka pintunya!”
Kemudian Andara bangkit dan membuka pintu kamarnya, membiarkan ibunya memasuki kamar.
“Kenapa Ma?” tanya Andara terlihat cuek.
Namun Nessa tahu jika ada kesedihan, di mata putri sulungnya itu.
“Andara... kenapa matamu sembab Nak? Kamu menangis, kamu kenapa hem... ayo cerita pada Mama!” ucap Nessa berusaha mencari tahu masalah yang sedang di hadapi putrinya itu.
Andara yang sadar dengan kekhawatiran ibunya, Andara langsung berusaha menutupi masalah yang sedang di hadapinya.
“Mama ada-ada saja, siapa yang menangis... tadi aku kelilipan Ma, ini bukan menangis, sudah ya Ma! Andara ngantuk banget!” elak Andara berusaha menutupi masalah sendirian.
“Dara tapi Mama, masih ingin ngobrol sama kamu Nak!” ujar Nessa.
Namun Andara meminta Nessa untuk meninggalkannya sendirian.
“Ma please... Andara perlu istirahat, besok banyak kerjaan yang harus di selesaikan, Mama tolong pergi saja dari kamar aku ya!” ucapnya sambil menarik tangan Nessa keluar dari kamarnya.
“Andara... Please ceritalah sama Mama Nak! Sudah berapa tahun lamanya ini sayang, kenapa kamu selalu bersikap seperti ini sama Mama?” ucap Nessa memohon pada Andara, agar dirinya di maafkan atas kesalahan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya.
BRUG. Pintu kamarnya terpaksa Andara tutup, lantaran ia tidak ingin rahasianya terbongkar.
Andara terduduk menyandar pada pintu, menyusut ke lantai, ia menangis terisak.
“Maafkan Dara Ma... ini sama sekali tidak ada hubungan dengan masalah kita di masa lalu, Andara sudah memaafkan Mama!” lirihnya.
__ADS_1
Buliran air mata jatuh bercucuran begitu saja, Andara tidak kuat menahan rasa sedihnya.
“Radit... andaikan saja kamu ada di sini saat ini Dit, kamu lihat Radit, aku sedang berada di titik terendahku, kamu ke mana sekarang Radit!” lirih Andara, terisak dalam tangisnya.