
"Dia ... Calon anak kita"
Deg
Tatapan Gama yang tadi sendu berubah menjadi terkejut. Mata pria tampan itu berkaca - kaca.
"S-siapa?"
"Our future child. I am pregnant. Eight weeks" Dian tersenyum pada suaminya, "Hei, kenapa kamu menangis?" tanya Dian sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi suaminya
Gama menurunkan Dian, kemudian dia berlutut dan mencium juga memeluk perut Dian dengan sayang, "Thank you, honey. Terima kasih sudah memberikan kado terindah dalam hidupku. Terima kasih karena kamu sudah mau mengandung anakku dan-"
"Ssttt", Dian menutup bibir suaminya dengan jarinya, "Jangan seperti itu. Akulah yang harus berterima kasih padamu. Kamu dengan sabar menghadapi sikapku. Kamu begitu sabar menemani dan membantuku untuk sembuh. Kamu juga selalu membuktikan cintamu padaku tanpa kenal kata menyerah. Kamu berhasil membuktikan ketulusanmu dan membuatku tidak takut lagi menghadapi hidup berumah tangga. Akulah yang harusnya berterima kasih, bukan kamu"
Gama kembali memeluk istrinya, "Apapun itu, aku tetap berterima kasih. Di usiaku yang tidak lagi muda, aku sangat bahagia karena akan segera menjadi Ayah"
Dian terkekeh, "Awalnya aku takut tidak bisa memberikan keturunan padamu, Mas. Aku bahkan berkonsultasi pada dokter tanpa sepengetahuanmu karena aku tahu kamu ingin segera memiliki anak"
"Aku tahu semua yang kamu lakukan, Sayang. Aku sengaja membiarkanmu karena aku takut kamu merasa tidak nyaman jika aku mengetahuinya. Terima kasih atas pengorbananmu. Makan daging dan sayur, susu, yoga, bahkan kamu lebih banyak menghabiskan waktu dirumah daripada bekerja. Semua yang kamu lakukan bukan hanya alasanmu ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Tapi kamu sedang menjalankan anjuran dokter "
Dian kembali memeluk suaminya, "Kamu mengetahui semunya tapi tidak mengatakannya. Kamu adalah orang yang paling memahami aku. Dengan kamu berpura - pura, setidaknya kamu tidak membuatku insecure pada diriku sendiri"
"Aku melakukannya untuk membuatmu nyaman. Jika kamu merasa nyaman, kamu tidak akan merasa tertekan. Kamu bisa menjalani hari - harimu seperti biasa dan yang jelas, kamu bahagia menjalaninya. Itulah yang terpenting"
"Thank you, my husband. We love you. I and your child"
"Me too. I love you both"
"Anak ini menjadi kado terindah di ulang tahun pernikahan kita yang kedua"
Gama mengecup kening Diandra, "Tentu. Mulai sekarang aku akan lebih ekstra lagi menjaga kalian berdua"
"Aku percaya itu"
🍀🍀🍀
Gama masih saja menatap Dian, padahal sekarang istrinya itu sedang tertidur pulas setelah berenang bersamanya tadi. Gama tersenyum, ia baru menyadari memang ada perubahan pada istrinya belakangan ini. Setiap dirinya pulang kantor, Dian akan menyambutnya dan langsung menciumi tubuhnya. Saat malam, Dian baru akan tertidur jika dalam pelukannya. Selain itu, Dian juga jarang mengiriminya pesan seperti biasa. Istrinya itu lebih suka bersamanya langsung ketimbang bertukar kabar lewat pesan. Kadang tiba - tiba, Dian sudah berada di kantornya dengan alasan yang menurutnya lucu, mengecek apakah dirinya sudah makan apa belum tanpa membawakannya makanan.
"Ternyata sudah ada kamu di perut Mama, Sayang. Terima kasih sudah hadir di antara kami. Kamu akan menjadi pelengkap kebahagiaan Papa dan Mama"
"Kamu mengajaknya bicara padahal dia masih berbentuk gumpalan darah"
"Apa aku membangunkanmu?"
"Tidak. Aku memang sudah bangun. Aku lapar" Dian terkekeh
__ADS_1
"Kenapa baru mengatakannya? Ayo kita makan sekarang. Mau makan di sini atau makan di resto?"
"Makan di resto saja. Sepertinya suasananya enak"
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang"
"Tunggu. Aku mau cuci muka dulu"
"Tidak usah" sahut Gama datar, "Jangan sampai kamu terlihat cantik di depan orang lain. Kamu hanya boleh terlihat cantik didepanku"
Dian terkekeh, "Kamu mulai posesif ya? Duh ... Suami posesifku"
"Ayo. Jangan sampai anak kita kelaparan"
"Baiklah, tapi setidaknya biarkan aku bercermin dulu"
🍀🍀🍀
Suasana restoran benar - benar menyenangkan seperti yang Dian duga. Dekorasi menarik dan di lengkapi spot foto yang semakin membuat pengunjungnya betah. Serta di luar resto ada juga meja pengunjung yang menghadap langsung ke arah pantai. Sungguh suasana yang menyenangkan.
"Kamu mau makan apa?"
"Kepiting sepertinya lezat"
"Apa ini termasuk ngidam?" tanya Gama penasaran
"Baiklah, untuk kali ini boleh. Tapi jangan terlalu sering. Dan harus diselingi makanan sehat lainnya"
"Oke Tuan Gama. Sisanya kamu yang pilih makanannya"
"Deal"
Gama memesan beberapa makanan yang menurutnya nikmat dan memiliki gizi yang tinggi. Dua puluh menit kemudian, pesanan mereka datang. Dian menatap suaminya yang tersenyum ke arahnya, "Mas, kamu memesan sebanyak ini? Kita hanya berdua loh"
"Kita bertiga, jangan lupakan little by kita"
"little by?"
"Karena belum tahu dia laki - laki atau perempuan, maka aku menamainya little by"
Dian kembali terkekeh, "Kamu ada - ada saja. Tapi bagus juga. Kita akan memanggilnya little by"
"Karena kamu yang membawa little by, jadi kamu harus makan banyak"
"Kamu salah deh, Mas. Wanita hamil tidak harus makan banyak. Yang penting gizinya terpenuhi tidak lupa ditambah susu hamil juga vitamin"
__ADS_1
"Begitukah?"
"Tentu"
"Baiklah, ayo kita makan sekarang"
Setelah mengetahui kehamilan sang istri, Gama yang perhatian jadi semakin perhatian. Pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu membuat para wanita yang melihatnya iri dengan perhatian yang Gama berikan.
"Diandra"
Keduanya menoleh saat mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka.
"Saka"
Pria itu tersenyum, "Kamu mau bergabung dengan kami?" tawar Gama
"Apa boleh?"
Gama menatap Dian yang terlihat sedikit keberatan, "Tentu saja. Duduklah"
Saka menatap Dian yang terlihat enggan dengan kedatangannya. Jujur, Saka memang sengaja menghampiri keduanya saat ia tak sengaja melihat Dian dan Gama berada disini juga. Tidak bisa di pungkiri, Saka merindukan mantan istrinya itu.
"Apa kabar kalian berdua?" tanya Saka begitu ia sudah duduk didepan Gama
"Kami berdua baik" sahut Gama, "Kamu sedang ada pekerjaan di daerah sini?"
Saka mengangguk, "Aku menangani proyek baru di dekat sini"
Gama mengangguk,
"Bagaimana kabar putrimu, Ka?" tanya Dian
"Dia baik - baik saja" sebenarnya Saka merasa canggung berada di tengah - tengah mereka. "Kalian sedang berlibur?"
"Kami sedang merayakan aniversary kami yang kedua"
"Ah ... Selamat kalau begitu. Kalau aku tahu, mungkin aku akan membawa hadiah untuk kalian berdua"
Dian menatap Saka risih, "Maksudku sebagai tanda terima kasih karena kalian pernah menolong istriku dulu"
Gama tersenyum, "Tidak usah. Dulu hanya kebetulan saja kami lewat. Jadi bisa menolongmu. Lagipula kami sudah mendapat kado terbaik dan terindah di aniversary kedua kami"
"Oh ya?"
"Hm. Istriku sedang hamil. Sebentar lagi kami akan memiliki anak"
__ADS_1
Deg