
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Dian kesal. Sejak keluar dari rumah sakit, Gama tak henti tertawa
"Kamu tidak melihat ekspresi mantan bodohmu itu? Dia terlihat frustasi dan menyedihkan"
Dian memutar bola mata malas, dia jelas masih ingat bagaimana ekspresi shock Saka tadi.
Beberapa Menit Yang Lalu
"Selain menuntutmu atas percobaan pembunuhan atas diriku, aku juga akan menuntutmu dan Saka dengan pasal 284 tentang perzinahan. Jadi- aku pastikan kamu, ah ... Bukan! Maksudku, kalian akan mendekam bersama di dalam penjara! Bukankah aku sangat baik hati?"
"Di ... Kamu serius?" tanya Saka tak percaya sekaligus terkejut. Tubuhnya lemas, terlihat jelas pria itu frustasi mendengar apa yang Dian utarakan.
"Kamu tidak bisa melakukan itu, Diandra! Masalah ini sudah kadaluarsa! Kamu tidak bisa melaporkan kami!" ucap Vika lantang
"Benarkah?" tanya Dian sinis, "Aku punya bukti akurat tentang perselingkuhan kalian. Di tambah lagi, kasus ini baru beberapa bulan. Jadi, sangat bisa jika aku melaporkannya!"
"Kamu memang wanita iblis, Diandra!!" Vika terlihat begitu emosi
"Dan kamu sudah salah karena berurusan dengan wanita iblis sepertiku!" Dian menyeringai
"Di, masalah ini bisa di bicarakan baik - baik" bujuk Saka
Dian menatap Saka tajam, "Vika bahkan menolak mentah - mentah tawaranku! Bukankah dia lebih suka mendekam di penjara? Aku rasa tidak masalah bukan? Aku juga berbaik hati padanya dengan mengirimmu untuk menemaninya!"
"Di ... Vika sedang hamil-"
"Berhenti mengemis padanya, Mas! Dia itu manusia jahat! Dia tidak punya perasaan! Jangan merendahkan harga dirimu di depan wanita seperti dia!"
Dia mengangguk, "Bagus kalau kamu tahu diri, Vik. Sikapmu menentukan sikapku! Kamu baik, aku baik. Kamu kejam, aku kejam! Kamu merebut, akupun begitu! Menyakiti, disakiti kembali! Aku bukan orang baik yang hanya pasrah di perlakukan jahat! Jika bisa, aku akan membuat mereka yang menyakitiku lebih menderita!"
Dian memeluk lengan Gama lalu meninggalkan kamar rawat Vika. Tak tahu sumpah serapah apa saja yang Vika lontarkan, Dian tidak memperdulikannya.
"Kamu lebih kejam dari yang aku duga" bisik Gama
Wanita cantik itu menoleh, "Aku hanya ingin berbagi rasa. Bukankah berbagi itu baik?"
Kembali Ke Saat Ini
"Ada urusan apa lagi yang ingin kamu bereskan?" tanya Gama memecah keheningan
"Aku harus memberi tahu Paman dan Bibi tentang pernikahan kita"
"Orang tua Rani?"
Dian menggangguk, "Mereka adalah pengganti orang tuaku. Hanya saja, belakangan ini aku terlalu sibuk hingga jarang mengobrol dengan mereka. Padahal kami serumah. Mereka keluargaku. Jadi aku harus memberitahukan hal ini pada mereka"
"Baiklah, aku akan menemanimu"
Dian tak bersuara lagi, Gama melanjutkan perjalanan mereka ke rumah Diandra.
__ADS_1
🍀🍀🍀
"Selamat malam, Ran, Bang"
"Selamat ma-" ucapan Rani terhenti saat melihat Gama di belakang Diandra. Ibu hamil itu mendekati Dian, "Kenapa Tuan Gama bisa datang bersamamu? Apa benar gosip di kantor kalau kalian ada hubungan? Lalu orang tuanya juga pernah datang ke kantor juga benar?"
"Akan aku jelaskan sebentar lagi. Paman dan Bibi apa sudah tidur?" tanya Dian balik
"Belum"
"Aku akan memanggilkan mereka" seru Triyoga
"Terima kasih, Bang"
"Silahkan duduk, Tuan Gama" sapa Rani pada Gama
"Terima kasih, Ran. Mulai sekarang kamu bisa panggil aku Gama saja. Jangan panggila Tuan"
Rani menatap Dian seolah bertanya, "T-tentu"
Tak lama, Yasari dan Damar datang bersama Triyoga. Mereka juga terlihat bingung dengan keberadaan Gama yang belum mereka kenal
"Duduklah, Paman, Bibi. Ada yang ingin aku katakan pada kalian"
Mereka mengganguk kemudian duduk di seberang Gama.
"Ada apa, Nak? Tumben kamu memanggil kami" tanya Yasari
Rani berbisik pada suaminya, "Kira - kira apa yang akan mereka bicarakan? Rahasia apa lagi yang akan Dian beritahukan pada kita?"
"Kita dengarkan saja dulu"
Gama menatap orang tua Rani bergantian. "Sebelumnya mungkin kalian belum mengenal Saya. Perkenalkan, Saya Gama Mahaditya. Saya adalah calon suaminya Diandra!"
"WHAT!!" Teriak Rani kaget
"Sayang, kupingku pengang" keluh Tri
"Maaf, Sayang. Aku hanya terkejut!"
Bukan hanya Rani yang terkejut, Yasari dan Damarpun tak kalah terkejut.
"Kalian akan menikah?"
"Benar, Paman. Kami berdua memutuskan untuk menikah" jawab Dian
"Kapan?"
"Minggu ini"
__ADS_1
Jawaban Dian membuat Rani mendelik, "Minggu ini? Kenapa tidak kamu beritahu kami saat kamu akan menikah besok saja!" kesal Rani
"Maafkan aku, Ran. Semua terlalu mendadak"
Mata Rani memicing, "Kamu hamil?"
"Ran!" tegur Damar
"Tentu saja tidak!" bukan Dian yang menjawab melainkan Gama. "Kami menikah cepat bukan karena Dian hamil. Tapi karena orang tuaku ingin kami menikah secepatnya. Kami berdua bukan remaja lagi, jadi lebih cepat lebih baik"
"Bahkan kami di beritahu setelah orang tuanya" Rani semakin kesal
Dian dan Gama saling menatap, "Bukan salah Diandra. Waktunya memang terlalu mepet. Jadi kami baru sempat memberitahu kalian sekarang. Kenapa kami memberitahu orang tuaku terlebih dahulu karena sebagai seorang pria yang memiliki keseriusan, tentu aku harus melibatkan orang tuaku"
Penjelasan Gama membuat Damar tersenyum, "Kami cukup terkejut. Tapi mendengar penjelasan Nak Gama, saya bisa melihat seriusan dan kejujuran darimu. Sebagai keluarga Dian, kami hanya bisa mendukung apapun yang Dian lakukan asal itu baik"
"Yah, kenapa Ayah main setuju saja? Menikah bukan perkara mudah! Apalagi Dian pernah gagal. Aku tahu Dian seperti apa. Hal ini terlalu mencurigakan bagiku! Pasti ada yang mereka rencanakan atau sembunyikan dari kita" Rani menatap Dian dan Gama penuh selidik, "Kalau Dian tidak hamil, pasti ada sesuatu yang mereka tutupi! Sekarang katakan pada kami, apa rencana kalian sebenarnya?!"
"Ran, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Itu privasi mereka berdua. Jika Dian memutuskan untuk menikah, artinya dia sudah memikirkan hal ini dengan matang" tegur Tri
"Kamu tahu sendiri Dian bagaimana, Mas. Aku hanya khawatir dia akan kembali terluka"
"Aku janji akan menjaga Dian dengan baik. Entah bagaimana awal kami bersatu, aku pastikan Dian tidak akan mengulang sakit yang sama seperti dulu. Kamu bisa pegang kata - kataku"
"Semua orang bisa memberikan janji manis jika ingin mendapatkan sesuatu. Semua pria itu sama saja!"
"Termasuk suamimu kalau begitu?" balas Gama
"Itu pengecualian!" jawab Rani tak terima
"Berarti tidak semua pria sama, Ran" Yasari turut menjawab putrinya. "Seperti yang Gama katakan, entah bagaimana awalnya mereka bertemu. Tapi aku yakin, Gama bisa membahagiakan Dian"
"Jangan tertipu penampilan fisiknya, Bun"
"Ran, tidak semua orang itu sama. Dan kamu tidak bisa menyamaratakan semua orang. Kita memang tahu jika Dian pernah terluka dan terpuruk. Tapi dia juga berhak mendapatkan kebahagiaan lainnya. Tangis tidak akan selamanya, begitupun dengan luka. Seiring berjalannya waktu, luka perlahan akan sembuh apalagi jika sudah menemukan obatnya" Damar berbicara dengan bijak
"Kamu yakin akan menikah?" tanya Rani pada Diandra
"Aku yakin, Ran"
"Kamu tidak sedang merencanakan atau penutupi sesuatu dariku kan, Di?"
Dian tersenyum, "Tidak, Ran. Aku hanya berusaha memberikan diriku sendiri kepercayaan pada cinta lagi. Bukankah aku berhak bahagia?"
Rani menghambur memeluk sahabatnya, "Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Semoga kamu selalu bahagia"
Semua orang terharu melihat betapa perhatiannya Rani pada Diandra.
"Terima kasih atas semua doamu, Ran"
__ADS_1
Maaf aku membohongi kalian semua. Aku harap, suatu saat kalian tidak kecewa terhadap apa yang aku lakukan. Bathin Dian