
...HAPPY READING...
...----------------...
Radit masih tidak habis pikir dengan ibu tirinya, dahulu mengusirnya, dan sekarang berusaha menggodanya.
“Huh... lelucon apa yang kau berikan padaku Tuhan?” gumamnya sambil menghela nafasnya.
Radit duduk di kursi menatap layar laptopnya, kembali fokus ke dalam pekerjaan, menilai editing untuk poster film yang telah di ajukan karyawannya.
“Ini sangat bagus, gadis ini memang cantik, mirip sekali dengan Andara,” gumamnya, menatap poster film Kekasih Kembarku.
Sementara Diandra terlihat sedang berbincang dengan Maxcton, di temani oleh manajernya Lucy.
“Selamat siang Nona Diandra, Lucy. Saya ingin menyampaikan, pesan dari Mister Radit, kata beliau jika ingin menagih royalti, Anda bisa menghadap langsung kepada Mister Radit,” ucap Maxcton, menyampaikan untaian kata dari Radit, untuk Diandra.
“Baiklah kalau begitu Tuan Maxcton, terima kasih!” ucap Diandra.
“Kalau begitu, saya bisa langsung menemui Tuan Radit kan?” tanyanya.
“Bisa Nona, silahkan Anda temui beliau di ruangannya!” jawab Maxcton sedikit membungkuk di hadapan Diandra, seraya tersenyum.
“Baiklah, ayo Lucy! Kita ke ruangan Tuan Radit!” ajak Diandra pada manajernya.
“Mari Tuan Maxcton, terima kasih atas bantuannya!” ucap Lucy mengikuti langkah Diandra.
Tanpa menunggu lama, Diandra berjalan mendahului manajernya Lucy.
“Produser itu rupanya ingin mempermainkanku! Belum tahu dia seperti apa aku ini!” gumam Diandra melangkah dengan kaki jenjangnya.
“Diandra apa kau yakin akan menemui Tuan Radit?”
“Apa aku tidak terlihat yakin di matamu Lucy!”
Diandra berbalik arah menatap tajam, pada manajernya itu. Lucy langsung menunduk ketika melihat raut kemarahan di mata Diandra, artisnya sekaligus temannya.
“Emmm... iya maafkan aku, telah meragukanmu!” ucap Lucy sambil menunduk.
“Sudah ayo cepat, kita temui orang super duper menjengkelkan itu,” ucap Diandra mengerang kesal.
Kini Diandra berada di depan pintu ruangan Radit, kemudian mengetuknya.
TOK-TOK-TOK. Suara ketukan pintu menyadarkan Radit dari dalam ruangannya.
“Aishhh... menggangguku saja, siapa sih!” gumam Radit.
Kemudian bangkit membukakan pintu untuk seseorang yang ada di depan ruangannya.
KLEK. Suara pintu dibuka oleh Radit, kini mereka saling bertatapan.
__ADS_1
“Selamat siang Tuan Radit yang terhormat,”
Diandra menatap wajah tampan itu, dengan tatapan tajam, dan ekspresi tegas.
Radit menelan ludahnya, ia tidak menyangka Diandra akan berani menemukannya, hingga datang ke ruangan.
“Ada urusan apa Anda menemui saya?” tanya Radit dengan nada yang sedikit kencang.
“Apa kau tidak akan mempersilahkan tamumu ini untuk masuk terlebih dahulu!” ucap Diandra.
“Ayo silahkan masuk,” ucap Radit menatap pada Lucy.
“Tapi hanya kamu yang boleh masuk ke dalam ruangan saya Nona, tidak untuk manajermu ini!” ucapnya lagi.
“Ok baiklah!” ucap Diandra, kemudian meminta Lucy untuk menunggunya. “Lucy... Kamu tunggu di sini ya, jangan ke mana-mana!” tegasnya memerintah.
“Iya, kau tenang saja Di!” ucap Lucy.
Perlahan Diandra memasuki ruangan Radit, kemudian Radit menutup pintu ruangannya.
“Kenapa kau menutup pintunya!” ucap Diandra heran.
“Kenapa, kamu keberatan! Yang akan kita bahas soal rahasia pembayaran kan? Jadi siapa pun tidak boleh ada yang tahu, kecuali saya dan kamu!” ujar Radit.
“Ok baiklah, tidak apa-apa untuk hal itu,” ucap Diandra sambil berjalan ke sofa. “Apa aku boleh duduk di sofamu ini?”
“Tentu saja boleh, memangnya ada yang melarangmu!”
Kemudian Radit pun, ikut duduk di sofa itu.
“Apa yang akan kau bahas denganku?” tanya Radit terhadap Diandra. Padahal sebenarnya Radit sudah tahu maksud kedatangan Diandra.
‘Dasar laki-laki ini, pura-pura tidak tahu lagi, padahal dia yang memintaku untuk menghadapnya. Huh. Dasar menyebalkan!’ ucap Diandra menggerutu di dalam hatinya.
“Nona, kenapa Anda terdiam. Saya berbicara dengan Anda!” ucapnya lagi.
Seketika Diandra tersadar dari lamunan, lalu menimpali Radit.
“Ah ya... saya ingin membahas soal royalti untuk saya, apakah bisa cair dalam waktu dekat ini?”
“Bisa, tapi harus ada syaratnya!” jawab Radit.
“Kenapa harus ada syarat, itukan sudah menjadi hak dan tanggung jawab Anda membayar saya Tuan Radit!” sentak Diandra yang tak bisa mengontrol emosi.
“Kenapa Anda emosi, dan langsung nyolot seperti itu! Saya bicara baik-baik pada Anda, kenapa Anda menjawabnya dengan penuh emosi seperti itu!” ucap Radit mengernyitkan dahinya.
“Nada bicara Anda memang pelan, perkataan Anda juga baik. Tapi saya tidak terima kalau Anda harus memberikan syarat untuk saya, ini tidak fair untuk saya!” tukas Diandra.
“Lagi pula itu hak saya, dan pembayaran royalti itu sudah jadi kewajiban Anda Tuan Radit yang terhormat!” ucap Diandra menatap tajam pada Radit, yang terduduk di sebelahnya.
__ADS_1
“Saya tidak akan memberikannya, lagi pula ini belum saatnya untuk pembagian royalti!” jawab Radit singkat padat dan jelas.
“Kecuali Anda mau menyepakati syarat untuk saya!”
DEG.
Diandra semakin kalang kabut, dia menarik dasi pria tampan itu, menariknya hingga wajah tampan itu berjarak lima centimeter dengannya.
“Dengarkan saya Tuan Radit, saya tidak terima atas perlakuan Anda kepada saya!” ucap Diandra dingin.
“Saya tidak akan, memberikannya. Lepaskan tanganmu, kau mengotori dasi mahalku!” ucap Radit melepaskan tangan Diandra.
“Kecuali kau menyepakati syarat dari saya!” tegas Radit.
Kemudian Diandra bangkit, menghela nafasnya, tidak ada cara lain untuk Diandra, selain menyetujui syarat yang di ajukan Radit.
Pihak debit colector, sedang memburunya, lantaran ibunya yang gemar membeli barang-barang branded memakai credits card miliknya.
‘Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan,' batinnya.
“Baiklah jika Anda tidak ada kepentingan lagi di sini, lebih baik Anda tinggalkan ruangan saya!” ucap Radit dingin mengusir Diandra.
“Baiklah saya menyetujui syarat itu, memangnya apa syaratnya?” Diandra menanyakan syarat yang akan di ajukan Radit.
“Jadi kamu akhirnya menyetujui itu, oke kirim nomor rekening kamu, saya akan transfer sekarang, memangnya butuh berapa juta?” ucap Radit.
“Anda belum menjawab pertanyaan saya! Syarat yang akan Anda ajukan apa?” tanyanya.
“Jadi Pacar pura-pura saya, di hadapan Ibu saya, dan di hadapan Nenek saya, selama tiga bulan!” jawab Radit.
Mata Diandra terbelalak, membulat sempurna, heran dengan syarat yang di ajukan oleh Radit.
“Oh no... No-no-no! Ini tidak adil,” protes Diandra.
“Saya harus tahu alasannya, kenapa harus saya yang berpura-pura, menjadi pacar Anda!”
Perlahan Radit melangkah, menghampiri Diandra yang sudah berdiri di depannya.
“Karena mereka akan percaya, ketika saya mempunyai pacar high class seperti kamu, Nenek saya meminta saya untuk menikah, sedangkan saya masih betah dengan status saya sekarang!” ungkap Radit pada Diandra.
“Oke saya setuju, tapi Anda harus mentransfer lebih dari royalti saya!” ucap Diandra memanfaatkan keadaan.
Tanpa berpikir lama Radit langsung, menanyakan nominal yang di minta oleh Diandra.
“Berapa memangnya nominal uang yang kamu butuhkan?” tanya Radit sambil mengetik di ponselnya.
“Tidak banyak sih, hanya dua millira rupiah!”
“Apaaaaaaa!”
__ADS_1
Radit tercengang, atas nominal uang yang diminta oleh Diandra.