Diandra

Diandra
Sahabat Sejati


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


ISTANBUL TURKEY


Zevania membawa Andara ke salah satu rumah sakit, lantaran ia sangat tidak tega dengan keadaan Andara yang memprihatinkan pada saat itu.


Zevania menatap sendu wajah sahabatnya, mendengkur halus tertidur di kursi jok mobilnya.


Tak berapa lama Zevania telah sampai di rumah sakit, lalu membangunkan Andara.


“Dar... ayo bangun, kita sudah sampai,” ujar Zevania mengguncang pipi Andara.


Perlahan Andara membuka matanya, melihat ke sekeliling dia tahu ini adalah rumah sakit.


“Kamu ngapain bawa aku ke rumah sakit Zee?” tanya Andara terbingung.


“Sudah ayo ikut saja, memangnya itu luka memar-memar enggak mau di obati,” ucap Zevania sambil menunjuk luka lebam di tangan Andara.


Seketika Andara menutupi tangannya.


“Tidak usah, ke rumah sakit... ayo kita pulang saja,” ajaknya.


“Tapi Dar... luka kamu harus di obati, memang siapa yang telah melakukan penganiayaan pada kamu? Jahat sekali orang itu!” seru Zevania geram terhadap seseorang yang telah menganiaya sahabatnya.


Seketika tangisnya pecah saat itu juga, lantaran dirinya bukan cuma di aniaya, akan tetapi dia juga di lecehkan.


“Zee... aku diperkosa,” lirihnya berterus terang terhadap Zevania.


Sontak saja Zevania lemas, meremas tangannya, ia merasa iba terhadap sahabatnya itu.


“Siapa yang telah melakukannya Andara! Siapa laki-laki itu?” tukas Zevania geram.


“Katakan pada aku Dar... orang bejat itu siapa, kita tidak bisa membiarkannya lolos begitu saja!” geram Zevania saat itu juga.


Namun Andara hanya bungkam, lantaran ia mengingat ancaman-ancaman yang terlontar dari mulut Alexander, terdengar sangat mengerikan.


“Dara... katakan. Siapa yang memperkosamu?!” tukas Zevania.


“Baiklah! Kalau kamu tidak mau bercerita, aku tunggu kamu siap menceritakan semuanya padaku, yang terpenting kamu obati dulu luka di tanganmu itu ya!” ujarnya kembali.


Akhirnya Andara mau mengikuti saran dari Zevania, dan turun dari mobil di bantu oleh Zevania.

__ADS_1


Sementara Alexander, baru terlihat datang ke rumah sakit yang sama tempat Andara akan di rawat.


Alexander terlihat di dorong oleh asistennya, menggunakan kursi roda, sementara dua pegawai hotel telah ia suruh kembali setelah sampai di rumah sakit.


“Sial... ini semua gara-gara Andara, kenapa dia selalu saja menolakku, padahal aku tidak akan menyakitinya kalau saja di mau menurut,” gumamnya terduduk di atas kursi roda.


Kemudian, Alexander meminta Marcello mencari keberadaan Andara, agar membawa kehadapannya pada saat itu juga.


“Marcello...,” ucap Alexander.


“Iya Tuan, ada apa?”


“Mendekatlah!” ucapnya, kemudian membisikkan perintah terhadap Marcello.


“Kamu cari tahu, keberadaan Andara dan bawa dia padaku saat ini juga!” ujarnya pelan, namun penuh dengan nada penekanan.


“Baik Tuan... setelah saya mengantarkan Anda, saya akan mencari gadis itu!” seru Marcello membawanya masuk ke ruang perawatan.


“Ya... begitu lebih baik!” sahutnya, memasuki ruangan.


Kini terlihat Andara dan Zevania sedang berkonsultasi dengan psikolog di rumah sakit tersebut, Dokter sekaligus Psikolog itu, meminta Andara untuk di rawat inap meski hanya satu malam.


“Mis Andara... luka-luka Anda sangat serius, saya menyarankan Anda di rawat di sini, besok pagi Anda sudah boleh pulang kok!” ujar Dokter perempuan itu.


“Iya Dok, terima kasih atas sarannya,” ucap Andara menimpali Dokter itu.


“Zee... kalau kamu mau pulang, atau ada keperluan lain silahkan pergi saja, aku enggak apa-apa kok, nanti aku kabarin Daddyku aja,” ucap Andara terhadap Zevania.


“Enggak apa-apa Dar, lagi pula aku tidak ada keperluan apa-apa kok, dah ya kamu istirahat yang tenang, biar aku temani kamu,” ucap Zevania mengelus pipi cantik sahabatnya itu.


“Terima kasih ya Zee, kamu selalu mengerti aku, selalu ada di saat aku membutuhkan aku,” lirihnya.


“Kamu ngomong apa sih Dar... aku ini sahabat kamu, lagi pula aku bisa sesukses sekarang karena bantuanmu,” ucap Zevania menyeka buliran air mata dari pipi Andara.


Sejenak Andara teringat dengan Radit, namun kini ia merasa tidak pantas untuk Radit, karena ia tahu Radit tidak akan menerimanya lagi, setelah tahu dirinya sudah tak suci lagi.


Andara kembali menangis, sontak saja membuat Zevania terenyuh, lalu kembali menenangkan Andara.


“Dar... sudah, jangan nangis lagi. Kalau kamu nangis aku juga ikut sedih,” lirih Zevania ikut menangis di samping Andara, yang terbaring di atas ranjangnya.


Ruangan yang hanya tersekat oleh kain gorden itu, dengan ruangan sebelahnya, tangis Andara terdengar oleh Alexander yang sedang di rawat di ruangan sebelahnya.


Perlahan Alexander bangkit, setelah Dokter yang mengobati juniornya itu pergi.

__ADS_1


Perlahan Alexander mengintip ke ruangan tempat Andara di rawat, tentu saja dia sangat bahagia, karena telah melihat mangsanya di dalam ruangan yang sama dengannya.


‘Andara, dengan Zevania? Oh... jadi mereka ada di sini,” ucapnya dalam hati.


Kemudian Alexander menelepon Marcello, untuk menghubungi Zevania karena seharusnya Zevania melakukan pemotretan malam ini di four season.


“Kamu di mana Marcello?” ucap Alexander menghubungi asistennya dengan suara pelan, lantaran suaranya takut terdengar oleh Andara dan Zevania.


“Saya sedang di jalan Tuan... bukankah Anda meminta saya untuk mencari Miss Andara!” jawab Marcello di seberang sana.


“Iya saya tahu! Kamu sekarang hubungi agensi model yang menaungi Zevania, suruh pemotretan majalah segera di laksanakan!” ucap Alexander dingin sambil mengakhiri panggilan tersebut.


Kembali Alexander kembali mengamati, setiap pergerakan Andara dengan Zevania di ruangan itu.


Tidak berselang lama ponsel Zevania berdering.


DRT... DRT... DRT...[Dering ponsel Zevania]


Kemudian Zevania mengangkat panggilan tersebut.


“Ya halo... kenapa ya Pak?” tanya Zevania terhadap pihak agensi.


“Kamu sekarang di mana? Zevania! Kenapa kamu tidak datang ke lokasi pemotretan?” ucap seseorang di seberang sana.


“Bukankah saya sudah menghubungi pihak Anda Pak, saya ada keperluan mendadak malam ini,” ucap Zevania.


“Saya tidak mau tahu, pihak klien komplain kepada saya, atas ketidakdisiplinan kamu, saya tidak mau tahu segera kamu lakukan pemotretan malam ini!” ucap seseorang di seberang sana memerintah Zevania.


“Halo... halo... ya Tuhan manajemen itu sangat menyebalkan sekali!” umpat Zevania kesal.


Sementara Alexander menyeringai, lantaran ini adalah ulahnya, agar Zevania pergi dan dia segera melancarkan aksinya.


“Ada apa Zee? Siapa yang meneleponmu?” tanya Andara terheran.


“Biasalah, pihak manajemen meminta aku melakukan pemotretan malam ini!” ujar Zevania menimpali Andara.


“Ya sudah, kamu pergilah. Jangan sia-siakan job’s itu, kamu kan tahu, bagaimana susahnya membangun karir di dunia modeling,” ucap Andara mempersilahkan sahabatnya untuk pergi.


“Biarkan sajalah, no problem... saat ini lebih penting itu sahabatku. Uuuuh... my bestie, akutuh sedih jika enggak menemanimu saat masa sulitmu saat ini, lagi pula apa gunanya seorang sahabat jika tidak ada di saat sahabatnya, memerlukan bantuan,” ucap Zevania memeluk Andara, menghiraukan pekerjaannya.


Sementara Alexander, mendengus kesal. Aksinya malam ini harus gagal untuk kembali menggauli Andara.


“Huh... rupanya Zevania berbahaya jika terus berada di samping Andara. Aku harus memikirkan cara, agar Zevania jauh dari Andara!” gumam Alexander.

__ADS_1


Alexander harus gigit jari malam ini, karena usahanya untuk menodai Andara gagal pada malam ini.


“Tidal Radit... tidak Zevania, mereka selalu saja menghalangi rencanaku!” umpat Alexander kesal.


__ADS_2