
Pagi ini, hal yang tidak ingin terjadi kini terdengar lagi di rumah keluarga Dirga. Kedua orang tuanya terlibat keributan lagi dengan ego masing-masing, mereka kembali ribut gara-gara Dirga tak kunjung pulang ke rumah sampai hari ini. Semua orang sudah tahu kenapa Dirga pergi dari rumah, ya, karena keributan itu membuat kenyamanannya terganggu.
Bastian terlihat turun dari kamarnya langsung menuju ruang tamu. Dan di situ ternyata sudah ada Wulandari sedang duduk santai menonton televisi setelah tadi sempat terlibat cekcok dengan suaminya ketika di kamar.
“Ini! Begini kamu kalau di rumah! Nonton, nonton dan nonton terus, nggak ada hentinya!” hardik Bastian di hadapan istrinya.
Akibat perkataan itu, Wulandari jadi tersinggung. Dia menatap ke arah suaminya. “Gak ada habisnya, marah, marah dan marah terus! Kamu yang selalu benar!” balasnya.
“Begitulah sifatmu, kayak anak kecil!”
“Pusing setiap hari harus dengerin kamu ngoceh mulu. Urus tuh masalah Dirga di sekolah, jangan cuma bisanya marah-marah aja.”
“Kamu kan ada. Kenapa masih harus aku yang mengurusnya? Aku sibuk dengan kerjaan!”
“Kalau kamu sibuk dengan kerjaan, aku juga sibuk dengan kerjaan!”
Wulandari berdiri pergi meninggalkan suaminya menuju dapur.
Bi Siti yang sedari tadi mendengar pertengkaran antara kedua majikannya itu merasa tidak nyaman dengan sikap mereka berdua setiap hari. Masing-masing tidak pernah ada yang mau mengurusi masalah Dirga, masing-masing hanya mementingkan urusan kerjaan, anak mereka pun sampai-sampai kurang perhatian.
Tentang kepergian Dirga dari rumah. Bi Siti pasti sudah menduga bahwa Dirga akan pergi dari rumah saat tahu kedua orang tuanya sudah pulang dari luar kota. Dirga sudah bisa menebak kalau ada orang tuanya di rumah pasti keributan menyelimuti rumah mereka. Tidak pernah kenyamanan yang diinginkan Dirga terpenuhi. Jangankan ketenangan, dibangunkan pagi-pagi saja oleh salah satu orang tuanya Dirga sudah merasa senang. Tapi itu tidak pernah dia dapatkan.
Dirga masih belum pulang sampai pagi ini, Dirga masih berada di tempat Rahman entah sampai kapan, pastinya dia ingin ketenangan yang tidak akan pernah berbaur dengan keributan. Andai saja kebahagiaan itu bisa dibeli, mungkin Dirga akan selalu memilikinya setiap waktu, setiap detik bahkan.
Jangan tanyakan apakah Dirga menangis atau enggak saat mendengarkan kedua orang tuanya bertengkar. Dari lubuk hatinya raut wajah tidak pernah bisa dibohongi, berkali-kali saat sendiri Dirga sering menahan air matanya dengan paksa hanya karena tidak ingin menangis di depan banyak orang. Terkadang, Dirga melupakan kesedihannya dengan cara bermain game di ponselnya, itu cukup untuk menghibur hatinya yang lelah setelah dihantui rasa sedih.
“Bibi tahu Dirga di mana sekarang?” tanya Wulandari pada Bi Siti saat berada di dapur.
“Gak tahu, Nyonya.” Bi Siti harus berbohong pada majikannya itu untuk menutupi di mana Dirga sekarang berada. Bi Siti memang tahu ke mana Dirga pergi setiap di rumahnya ada pertengkaran, atau Dirga tidak pulang beberapa hari. Ya, Dirga selalu ke tempat Rahman.
“Serius Bibi gak tahu?” tanyanya sekali lagi memastikan.
Dengan tertunduk takut, Bi Siti menjawab, “Iya, gak tahu.”
Wulandari mencari nomor teman anaknya yang bisa dihubungi untuk menanyakan keberadaan Dirga. Berharap ada salah satu yang tahu di mana Dirga berada sekarang ini. Jari telunjuknya mulai mencari kontak teman anaknya satu per satu. Dia menekan salah satu nomor, dan langsung meneleponnya.
“Assalamualaikum, Nak,” sapa Wulandari pada seseorang di teleponnya.
“Waalaikumsalam, Tante. Ada apa, ya?”
“Begini, Dirga kabur lagi dari rumah, kamu tahu di mana dia sekarang?”
“Dirga kabur lagi? Astaga Dirga ... ada masalah apalagi sih emangnya, Tan?”
“Tante dan Om cekcok pas Dirga lagi ada di rumah. Ya, mungkin dia gak mau denger Tante dan Om bertengkar, makanya Dirga sampai pergi dari rumah. Dirga juga sempat adu mulut dengan Papanya.”
“Nanti kalau Indira tahu keberadaan Dirga, pasti Indira beri tahu Tante. Kalau begitu Indira mau belajar dulu, ini lagi di sekolah.”
“Ya sudah, belajar yang rajin. Assalamualaikum.”
Tidak ada balasan lagi setelahnya karena sambungan telepon mereka sudah terlebih dahulu ditutup Indira.
Orang yang ditelepon Wulandari adalah Indira, mantan pacar anaknya dulu. Memang sih Indira itu sudah kenal dengan keluarga Dirga, dia juga tahu kalau kedua orang tua Dirga sering terlibat cekcok, ya, karena dulu Dirga sendiri sering sekali mengajak Indira ke rumahnya, makanya dia sudah tahu apa yang terjadi di keluarga Dirga.
Sebenarnya, Indira juga merasa kasihan dengan masalah yang dialami Dirga saat ini, tapi mau gimana lagi, ini semua sudah ada jalannya masing-masing. Dengan perhatian yang Indira punya, dia sendiri sering mengingatkan Dirga agar lebih bersabar dalam menghadapi masalah ini. Dia juga sebenarnya ingin sekali merangkulnya saat Dirga sedang sedih, tapi mereka tidak pantas untuk melakukan itu lagi, karena sudah tidak ada hubungan spesial di antara keduanya.
Kalau ada yang bilang Indira jahat, memang dia jahat. Dulu, penyebab Dirga memutuskan Indira lantaran Dirga melihat dengan matanya sendiri kalau Indira sedang berpacaran dengan orang lain di kelas mereka. Bukan hanya itu, Indira waktu itu sangat dekat sekali dengan sosok cowok yang merusak hubungan mereka, bahkan Dirga melihat dengan jelas kalau Indira dicium oleh orang itu. Gimana gak marah coba? Dirga sempat marah-marah dengan orang itu, dia terlibat perkelahian dengan selingkuhan Indira, sampai-sampai orang itu dihajar habis-habisan oleh Dirga, hingga membuat orang itu berlumuran darah.
Semenjak itulah Dirga memutuskan hubungan dengan Indira dan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah lagi berhubungan, bahkan komunikasi dengan orang yang namanya Indira Citra Kirana.
Semua itu sudah jadi bagian dari masa lalu. Sekarang waktu membuat semuanya menjadi berbeda, silih berganti sosok pengganti Indira mulai mendekat di kehidupan Dirga, namun tak satu pun yang berhasil memikat hati Dirga sendiri. Karena kejadian di masa lalu membuat Dirga sulit untuk membuka kembali hatinya untuk cewek lagi.
Di tempat lain. Wulandari masih saja berusaha menelepon teman Dirga lainnya, masih dengan harapan yang sama―agar bisa tahu keberadaan anaknya di mana sekarang ini. Dia kembali menelepon seseorang. Namun, tidak ada yang mengangkat sama sekali. Wulandari sudah beberapa kali mencoba menghubungi teman-teman anaknya, namun masih tidak membuahkan hasil.
Dia kembali berjalan menuju ruang tamu dengan membawa segelas minuman cokelat hangat.
Masih sama dengan sebelumnya, Wulandari kembali duduk santai di sofa sambil menonton drama Korea kesukaannya. Dia sendiri lebih suka menghabiskan waktu menonton televisi saat di rumah dibandingkan seperti orang-orang lain yang hobinya ke mall, belanja banyak barang, atau mencari kesenangan. Menurutnya, itu sama sekali tidak akan menghilangkan stres.
Langkah kaki kembali terdengar mendekati area ruang tamu. Siapa lagi kalau bukan Papanya Dirga, Bastian. Tanpa tahu penyebabnya, dia langsung marah-marah di hadapan istrinya karena mengetahui seragam sekolah Dirga tidak ada di lemarinya, dan beberapa pakaian sehari-harinya juga terlihat tidak ada, sepatu dan jaket yang sering Dirga kenakan juga tidak ada di balik pintu kamarnya.
“Dirga pergi dengan pakaiannya! Coba kamu berusaha cari keberadaannya, Dirga di mana sekarang! Ngapain dia, lagi dengan siapa dia, coba usaha sedikit! Jangan nonton mulu! Ahh, sudah capek ngelihat sifatmu yang begini!” bentak Bastian pada istrinya.
Bastian bahkan tidak tahu kalau dari tadi istrinya itu sudah berusaha menghubungi teman-teman anaknya. Apa pun yang sedang dilakukan Wulandari semuanya terasa salah mulu di hadapan sang suami, kadang usahanya tidak pernah dihargai. Wulandari menghela napas panjang. Dia berdiri, menghadap ke arah suaminya.
“Jangan asal marah-marah sama orang! Dari tadi aku sudah mencoba menghubungi teman-temannya Dirga, tapi gak ada hasil! Usahamu sendiri gimana? Dari tadi diam di kamar nggak jelas!” Mereka berdua kembali terlibat cekcok.
Satu sama lain tidak ada yang mau mengalah, mereka masih saling menyalahkan atas kepergian Dirga yang entah sampai saat ini ke mana.
Bastian terdiam mendengar ocehan dari istrinya itu, dan dia sekarang merasa tersudutkan. “Aaaaaaakkhh!” teriaknya kesal, “cari tahu di mana Dirga sekarang!” Setelah itu, dia pergi begitu saja dari rumah dengan menggunakan mobilnya.
***
Di pinggir lapangan banyak para siswi yang sedang berkumpul melihat para murid cowok sedang bermain basket. Olahraga satu ini menjadi daya tarik untuk murid-murid cewek menyaksikannya, beberapa siswi menilai anak basket itu keren, ganteng-ganteng, juga tinggi-tinggi lagi. Ada juga yang berpendapat pacaran dengan anak basket itu pasti akan cepat dikenal banyak orang. Terbukti, dulu Indira Citra Kirana pernah berpacaran dengan anak basket, ya pacaran dengan Dirgantara.
SMA Cakrawala ini juga terkenal dengan pemain-pemain basketnya yang bagus-bagus, kemampuan pemain-pemain basket di SMA ini bisa dibilang sudah profesional. Bahkan, SMA Cakrawala Jakarta ini sering mendapatkan juara umum dalam kejuaraan basket tingkat SMA.
Sekarang masih jam istirahat terakhir, para murid masih memenuhi kantin sekolah. Terlihat juga anak-anak kelas sebelas mendominasi kantin hari ini, termasuk juga ada anak-anak kelas 11 IPS2.
Dirga, Rahman dan Udik kini sedang berada di kantin menikmati makanan mereka masing-masing. Suasana di kantin sedang ramai-ramainya, beberapa siswi sengaja duduk mendekati Dirga hanya untuk bisa melihatnya dari dekat. Dirga sendiri merasa risi dengan beberapa murid yang terfokus dengannya, berkali-kali dia bilang sama Udik kalau gak suka ketika makan ada yang menatapnya serius.
__ADS_1
Namun, Udik menganggap itu hal biasa. Ketampanan memang menarik semua para cewek yang ada di sekitarnya, terlebih lagi cara Dirga yang keren membuat orang-orang jadi ingin sekali mendampinginya.
Ketika sedang asyik mengobrol bersama Udik dan Rahman, tiba-tiba tamu yang tidak diundang datang.
“Ehh, ada jailangkung, nih,” cibir Udik, melihat kedatangan Indira.
Kedua temannya tertawa.
Indira yang merasa tersinggung langsung menarik rambut panjang Udik. Otomatis Udik sendiri berteriak kesakitan. Bukannya dibantu, ehh, Dirga dan Rahman malah tertawa puas melihat ekspresi Udik yang kesakitan. Indira melepaskan tangannya dari rambut Udik, dia mengelap tangannya ke baju Udik sendiri.
“Awas kalau lo masih ngatain gue!” ancam Indira mengepalkan tangannya di depan wajah Udik.
“Gak usah baper gitu juga kali,” cetus Udik.
“Udah cium aja, Dik, siapa tahu Indira suka tuh sana lo,” suruh Rahman asal bicara.
“Gue sih mau aja, Man,” kata Udik, menatap ke arah Indira, “tapi lo mau, gak?”
Perkataan itu membuat Indira tidak bisa menahan amarahnya lagi. Kembali untuk kedua kalinya Indira menarik paksa rambut Udik tanpa belas kasihan. “Ngapain gue dicium lo, ogah!” Indira memalingkan matanya ke arah Dirga. “Kalau Dirga yang nyium, gue baru pasrah,” katanya dengan diiringi senyum semringah. Indira melepaskan rambut Udik.
“Gue yang ogah nyium lo!” hardik Dirga.
“Udah, lo sama Udik aja. Dirga udah ada Rafika tuh yang rela dicium,” ucap Rahman asal bicara lagi.
Spontan Dirga langsung memukul kepala Rahman, membuat Rahman sendiri kesakitan. Perkataan Rahman yang asal-asalan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja, Dirga marah dengan temannya itu kalau bicara gak bisa nyaring lagi, asal ceplos gitu aja.
“Rafika dan Indira beda, Man!” tegas Dirga, “Rafika memang cantik, tapi dia gak mudah dicium kayak lo.” Dirga dengan tegas berbicara seperti itu di hadapan Indira sambil menunjuknya. Kenapa Dirga? Dirga benar-benar tidak nyaman setelah kedatangan Indira di meja mereka. Dia menyindir tentang masa lalu Indira.
“Nggak, Di. Lo gak tahu yang se―”
Perkataan Indira terhenti setelah tahu Ayu dan Rafika datang mendekati mereka. Ternyata, dari tadi Ayu dan Rafika sudah mendengar obrolan mereka. Kedatangan mereka berdua membuat semuanya terdiam sesaat, Dirga sendiri langsung fokus dengan ponselnya. Udik juga fokus dengan ponselnya, sedangkan Rahman melanjutkan menyantap makanannya. Mereka bertiga menyibukkan diri masing-masing, seperti tidak terjadi apa-apa barusan.
Indira langsung memutar bola matanya, tatapannya mengarah ke Rafika yang berdiri di sampingnya.
“Kenapa Rafika dateng semuanya jadi diam gini?” tanya Indira yang entah ke siapa. “Lo tahu gak, Dirga itu milik gue!” Indira membuat pernyataan di hadapan Rafika bahwa Dirga masih pacarnya, padahal waktu itu sudah jelas bahwa Dirga bilang Rafika itu adalah pacarnya yang sekarang.
Dirga mengubah suasana sekarang menjadi romantis. Dia berdiri dan menarik tangan Rafika memaksanya untuk duduk di kursinya tadi. Dirga juga menarik satu kursi untuk tempat dia duduk. Sekarang mereka duduk berdekatan, dan tanpa disangka oleh siapa pun, Dirga menyuapi Rafika dengan bakso yang dipesannya tadi.
Orang-orang kembali terdiam sesaat. Rahman dan Udik sudah tahu kalau ini adalah cara Dirga untuk membuat Indira illfeel dan segera pergi dari hadapannya. Benar, raut wajah Indira langsung merasa kesal kala melihat kemesraan Dirga dan Rafika.
“Aaaaa lagi, Sayang,” suruh Dirga agar Rafika membuka mulutnya biar dia bisa menyuapinya lagi.
Rafika menuruti permintaan Dirga yang seolah benar-benar pacarnya sekarang ini. Dua kali Rafika menerima suapan dari Dirga. Rafika tersenyum sambil mengunyah makanan itu, mereka berdua juga saling tatap. Sementara Indira masih saja kesal sendiri melihat kelakuan Dirga terhadap Rafika.
Pandangan Rafika terarah ke tisu yang ada di sebelah kanannya, dia mengambil beberapa lembar tisu itu―berniat mau mengelap mulutnya sendiri, tapi dengan cepat Dirga mengambil tisu yang ada di tangan Rafika, dan langsung mengelap bersih mulut cewek yang kini dianggapnya sebagai pacar itu.
“Uuuhhh ....” Ayu mencoba ikut memancing amarah Indira.
Kejadian saat ini benar-benar membuat Rafika tersenyum semringah. Dia seolah ratu yang diperhatikan penuh oleh rajanya. Suasana apa yang Rafika rasakan kali ini? Uuhhh... lo beruntung banget Rafika bisa kenal sama Dirga. Teman-teman mereka pun jadi iri dengan keromantisan yang terjadi antara Dirga dan Rafika.
Karena kekesalannya terus memuncak, akhirnya Indira memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa ada perkataan lanjut darinya.
Setelah Indira benar-benar pergi dari kantin, Dirga pun kembali dengan sikapnya seperti biasa. Seketika Dirga berhenti membuat Rafika seolah ratunya, keromantisan mereka hanya sebentar. Lain halnya dengan Dirga yang sudah terlihat tenang, Rafika sendiri masih tersenyum membayangkan kelakuan Dirga terhadapnya tadi. Kenapa lagi dengan Rafika ini, dia seolah merasakan kebahagiaan sesaat yang sulit untuk dilupakan.
“Udah nggak usah senyum-senyum gitu,” kata Dirga saat melihat Rafika. Kemudian dia berdiri, mengambil ponselnya di atas meja. Dirga mendekati Bu kantin untuk membayar makanannya, lalu kembali lagi ke meja mereka. “Ayo pergi, Man, Dik,” ajak Dirga pada teman-temannya.
“Entar aja, Di. Lo gak mau ngajak Rafika gitu?” sindir Ayu.
Tanpa menanggapi perkataan Ayu, Dirga dan kedua temannya berjalan pergi dari kantin kembali ke kelas.
Di dalam kelas mereka kembali duduk santai sambil menunggu bel masuk pelajaran selanjutnya berbunyi. Dirga duduk di kursinya dengan kaki terjulur panjang naik ke atas meja, Udik duduk di kursi depan meja Dirga, sedangkan Rahman duduk di atas meja di samping Udik. Dirga mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan seperti biasa dia memainkan game.
“Ehh, lo lihat nggak ekspresi Rafika tadi waktu Dirga menyuapinya?” tanya Rahman pada Udik.
Udik sendiri sibuk dengan ponselnya, dia melihat semua status whatsapp yang ada di kontaknya. “Gue lihat. Si Rafika baper tuh pasti,” kata Udik demikian.
“Lo bisa aja buat anak orang baper, Di,” ujar Rahman menatap Dirga, “ajarin gue dong, Di.” Rahman lanjut tersenyum merayu agar Dirga mau mengajari dia cara romantis kayak di kantin tadi.
Dirga menutup game-nya, dan fokus pada perkataan Rahman tadi. “Gue gak mau tanggung jawab kalau Rafika benar-benar baper tadi,” katanya.
“Nah, lo ... tanggung jawab, Di, kasihan tuh anak orang jadi senyum-senyum sendiri,” lanjut Rahman.
“Udah, Rafika buat gue aja ya, Di?” Udik tersenyum kurang jelas.
Rahman langsung tertawa setelah mendengar ucapan Udik. “Mana mau Rafika sama lo!” ejeknya.
Telinga Udik seakan mendapatkan hinaan dari jin yang memancing emosinya. Udik langsung menarik kerah baju Rahman dan hampir saja memukulnya, beruntung sekali Dirga cepat melerai mereka berdua.
Bodoh kalau mereka berdua sampai berkelahi di hadapan Dirga. Mereka bertiga itu teman, sesama teman itu harusnya saling melindungi, menjaga, bukan malah saling memukuli, menyiksa. Dirga berdiri, menarik kerah baju mereka berdua. Tanpa diketahui oleh Rahman atau Udik, Dirga langsung membenturkan kepala mereka berdua pelan.
“Gimana, sakit?” tanya Dirga pada mereka berdua.
Baik Rahman ataupun Udik, mereka berdua meringis kesakitan akibat benturan kepala yang dipaksa Dirga tadi. Tanpa menjawab pertanyaan Dirga, mereka berdua masih terus mengelus-elus kepala di bagian yang terbentur tadi.
“Teman yang baik itu saling menjaga, bukan menyakiti. Paham kalian?!” bentaknya.
“Iya, gue paham, Di,” jawab Udik sambil tertunduk.
“Gue juga paham, Di,” ujar Rahman yang masih mengelus kepalanya.
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti ketika mendengar suara bel masuk pelajaran jam selanjutnya berbunyi. Mereka bertiga segera duduk di kursi masing-masing. Udik kembali ke kursinya di samping Dirga, sedangkan Rahman berada di kursi tempat duduk Udik tadi.
Satu per satu murid kelas 11 IPS2 memasuki kelas, dan langsung duduk di kursi mereka masing-masing. Ayu dan Rafika terlihat baru saja masuk ke kelas. Mereka berdua langsung berjalan mendekati Dirga di kursinya, seketika Dirga langsung mencari kesibukan sendiri agar tidak menanggapi perkataan mereka berdua nantinya.
Lagi, dan lagi ponsel menjadi alasan Dirga untuk tidak terfokus pada Ayu ataupun Rafika. Dirga kembali bermain game di ponselnya dengan asyik sendiri. Padahal, Ayu berkali-kali memanggil namanya, namun Dirga tetap tidak mendengarkan panggilan Ayu.
Rafika dengan cepat mengambil ponsel milik Dirga, dia menahannya.
“Jangan pernah menganggap orang di sekitar lo gak ada, atau lo akan merasa kesepian,” ucap Rafika dengan kata-kata bijaknya.
Tatapan apa lagi yang ditunjukkan Dirga kali ini? Dirga menatap Rafika dengan serius setelah mendengarkan kata-kata itu tadi. Dia sendiri tidak menyangka akan mendapatkan sindiran dari Rafika secara langsung. Dirga terdiam sejenak, hingga akhirnya berdiri untuk memberanikan diri membalas kata-kata Rafika.
“Kalau lo emang peduli sama gue, jangan pernah sekalipun lo anggap gue sendiri.”
Lo gak sendiri kok, Di. Di sini ada gue yang mau membagi perhatian sama lo, jadi lo gak akan pernah merasa sendiri, ucap Rafika dalam hatinya. Mereka berdua saling memandang dengan serius. Rafika menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyuman. “Lo nggak akan pernah sendirian lagi, Di,” lanjut Rafika, mengembalikan ponsel Dirga, kemudian berjalan kembali menuju kursinya.
Ayu juga kembali ke kursinya.
Ucapan terakhir dari Rafika itu langsung diterima oleh Dirga. Sebenarnya lo mau ngapain sih, Ra? Gue gak mau ngelibatin lo atau yang lainnya dalam kehidupan gue. Dirga kembali berucap dalam hatinya. Dia duduk lagi ke kursinya.
Guru yang mengajar mereka masuk, dan mereka segera belajar.
Sepanjang pelajaran berlangsung Dirga seperti biasanya, dia tidak pernah mencatat materi atau mendengarkan penjelasan dari guru yang mengajar. Dirga sendiri masih terpikirkan dengan ucapan Rafika terakhir tadi. Memang, Dirga memang gak pernah sendirian, kan ada Ayu, Rahman, Udik dan orang-orang lain yang kenal dengannya. Sebenarnya apa maksud Rafika mengatakan hal itu tadi?
Pemikiran Dirga buyar karena mendengar bel pergantian pelajaran berbunyi. Dirga mencoba melupakan perkataan dari Rafika tadi.
“Sekarang masuk pelajaran apa, Man?” tanya Dirga pada Rahman.
Rahman menoleh ke belakang. “Olahraga, Di.”
“Astaga!” Dirga menepuk dahinya.
Gawat, kali ini benar-benar gawat untuknya. Dirga tidak membawa baju olahraga, dan pastinya hukuman murid yang tidak membawa baju olahraga ketika jam pelajaran berlangsung, maka murid itu tidak akan diabsen, otomatis tanpa keterangan. Dirga mulai bingung dengan situasi sekarang ini.
“Gue nggak bawa baju olahraga, Man.”
“Dirga, Dirga! Lo gimana, sih?” Rahman tidak bisa berbuat apa pun dalam situasi saat ini.
“Lo gak akan diabsen oleh guru, Di,” ucap Udik.
“Man, lo bawa mobil gue ya entar,” pinta Dirga.
“Emang lo mau ke mana?” Rahman lanjut bertanya.
“Gue pulang duluan, Man. Tapi jangan sampai ada yang tahu. Kalau ada yang nanyain gue, bilang aja gue lagi di toilet.”
What? Dirga mau pulang duluan, berarti dia mau minggat lagi. Karena tidak membawa seragam olahraga, akhirnya Dirga memutuskan untuk pulang lebih dulu sebelum bel pulang berbunyi. Tanpa ada rasa takut akan ketahuan, Dirga berani mengambil keputusan ini. Dirga segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, lalu memberikan kunci mobil kepada Rahman.
“Lo serius mau minggat lagi, Di?” tanya Rahman memastikan. Rahman sendiri bingung bagaimana menjelaskan kepada guru nantinya, dia takut akan menjadi masalah besar dan dia terlibat.
“Gue serius. Percuma gue masuk kalau gak diabsen sama guru olahraga, mending gue pulang duluan.”
Dirga serius dengan perkataannya tadi.
Guru olahraga yang mengajar mereka masuk sebentar ke dalam kelas untuk memberitahukan pada semua murid agar segera mengganti seragam dan langsung berkumpul di lapangan. Dirga pun tertunduk menutupi wajahnya agar nanti bisa pulang lebih dulu, dan guru tidak tahu kalau dia datang.
Semua murid sudah keluar menuju ruang ganti baju, hanya tersisa Dirga, Rahman, dan Udik di kelas sekarang.
Dirga meminta pada kedua temannya itu untuk mengikuti dia menuju ke belakang kelas―tempat yang biasanya para murid minggat―mengawasi kalau ada guru yang melihatnya.
Mereka sudah berada di belakang kelas. Dirga mencari balok kayu besar yang biasanya dipakai para murid untuk memanjat pagar. Setelah ketemu, Dirga langsung menyandarkan balok kayu yang terlihat sudah di pasang beberapa kayu kecil―sebagai pijakan―itu ke dinding.
Tugas Rahman dan Udik hanyalah mengawasi sisi kiri kanan takut ada guru yang melihat Dirga naik.
“Aman, Di,” kata Udik memastikan kondisi di sekitar sudah aman.
Tanpa membalas perkataan Udik, Dirga langsung naik ke atas balok kayu itu dan melompati pagar. Dia berhasil keluar tanpa ketahuan oleh guru ataupun murid lain. Tidak ada kode yang diberikan Dirga setelah dia sudah berada di luar area sekolah. Dirga segera menghentikan angkot yang ingin melewatinya. Dirga langsung naik, dan pulang begitu saja.
Sedangkan, Rahman dan Udik segera menuju ruang ganti baju. Setelah itu, mereka berdua langsung menuju lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga. Guru olahraga itu mengabsen satu per satu muridnya dengan teliti. Namun, saat giliran nama Dirgantara dipanggil, tidak ada yang menjawab.
“Dirgantara!” seru guru olahraga itu sekali lagi. Tapi tetap tidak ada jawaban.
“Dirga ke mana, Man?” bisik Ayu bertanya pada Rahman yang posisinya tidak jauh dari dia.
“Eee, itu ....” Rahman jelas sekali kelihatan ragu-ragu untuk berbohong pada Ayu. Mengatakan hal yang sebenarnya juga dia tidak akan berani. Raut wajah Rahman tegang saat Ayu masih menatapnya.
“Man!” seru Ayu yang membuat Rahman kaget.
“Iya,” jawabnya, “emm ... Dirga tadi ada di ... toilet! Iya, tadi gue lihat dia ke arah toilet.” Rahman menjawab dengan kebohongan yang sudah dirancang Dirga tadi. Lalu dia tersenyum gak jelas waktu Ayu masih menatapnya.
“Owhh, iya-iya.” Ayu percaya begitu saja dengan perkataan Rahman. “Dirga ada di toilet, Pak,” kata Ayu kepada guru olahraga itu.
Guru itu juga percaya begitu saja dengan perkataan Ayu. Setelah absen selesai, mereka semua disuruh untuk pemanasan terlebih dahulu. Setelahnya baru mereka diberikan bola futsal. Mereka hari ini olahraga bermain futsal. Lapangan olahraga bercampur dengan lapangan upacara, jadi mereka bermain di sana sesuai dengan garis lapangan yang ada.
Selama pelajaran olahraga berlangsung tidak ada tanda-tanda kalau Dirga kembali dari toilet atau wajahnya kelihatan di pinggir lapangan. Ayu berjalan mendekati Rahman yang sedang istirahat di pinggir lapangan, dia duduk di sampingnya.
“Dirga ke mana, Man? Seriusan kan tadi dia ke toilet?” tanya Ayu yang mulai ragu.
“I―iy―iya, Yu!” jawab Rahman terbata-bata.
__ADS_1
Bel pulang sekolah menyelamatkan Rahman dalam situasi Ayu yang ingin menginterogasinya. Beruntung sekali bagi Rahman mendengar bel itu. Rahman langsung bergegas menuju kelasnya untuk mengambil tasnya, setelah itu dia menuju parkiran dan menghindari jalan yang akan dilalui Ayu ataupun Rafika. Dari parkiran, Rahman segera pulang mengendarai mobil Dirga dengan kecepatan standar.
Tidak dijelaskan Rahman pun sebenarnya Ayu ataupun Rafika sudah tahu kalau Dirga pulang duluan, sebab sepanjang pelajaran olahraga tadi Dirga sama sekali tidak kelihatan. Tunggu saja hari senin nanti, apakah Dirga akan mendapatkan masalah atau Dirga tidak ketahuan sama sekali? Wajar kalau Dirga memberanikan diri untuk minggat, hari ini terakhir sekolah, dan besok libur. Jadi dia akan masuk sekolah lagi di hari senin. Ahh, Dirga sendiri gak peduli mau dapat masalah atau tidak. Dia tinggal menunggu masalah apa yang nantinya akan didapatkan di hari senin. Semua murid sudah pulang.