
Dian menoleh ke arah Gama sekilas. "Tolong pergi dari hidupku selamanya! Pergilah sejauh yang kamu bisa agar kita tidak akan pernah bertemu lagi!"
Rey menatap Dian nanar, kalimat yang baru saja Dian lontarkan tidak hanya mengubur dalam - dalam impiannya untuk bersatu dengan wanita yang ia cintai itu. Tapi juga meremukkan seluruh jiwa dan raganya.
"Diandra, Tante mohon jangan hukum Rey seperti ini. Semua yang terjadi adalah kesalahan Tante, Rey tidak tahu apa - apa" mohon Saskia
"Tolong mengertilah posisiku, Tante! Aku akan menikah. Bagaimana perasaan suamiku nanti jika aku masih terikat dengan pria dari masa laluku?"
Gama tidak menyangka Dian akan mengatakan hal itu. Secara tidak langsung, dialah alasan Dian menolak kehadiran Rey lagi dalam hidupnya.
"Apakah pertemanan sekalipun begitu mustahil untuk kamu kabulkan?" Saskia masih berusaha membujuk Diandra
Dian tertawa pelan, "Tidak ada pertemanan murni antara pria dan wanita. Lagipula aku ingin menjauh dari semua masa lalu yang menyakitkan itu"
"Jangan paksa Dian lagi, Ma. Benar yang Dian katakan. Lebih baik dia menjauh dari semua hal yang pernah membuatnya terluka"
"Tapi Rey-"
"Semua ini pantas aku dapatkan, Ma. Menerima maaf dari Dian saja sudah cukup bagiku" Rey berjalan ke arah Gama, "Tolong jaga Dian dengan baik. Buat dia bahagia, dia sudah terlalu lama menderita"
Gama tersenyum, "Tidak perlu khawatir. Selama aku masih bernafas, aku pastikan Dian baik - baik saja"
Mendengar keseriusan Gama, Rey yakin dia bisa membahagiakan Diandra. Sepertinya, kali ini Dian sudah menemukan pria yang tepat.
Dian sendiri merasa terharu mendengar ucapan Gama. Di sadari atau tidak, dia mulai hanyut akan pesona dan perhatian seorang Gama Mahaditya.
"Aku percaya kamu bisa menjaga Dian dengan baik" Rey menatap Dian, "Berbahagialah setelah ini, Di. Aku pamit. Aku akan pergi menjauh seperti yang kamu inginkan. Tapi, jika suatu saat kamu butuh bantuanku, hubungi aku. Nomorku masih sama seperti dulu"
"Selama ada aku, aku pastikan Dian tidak akan meminta bantuanmu" sahut Gama
Rey tersenyum masam. "Aku percaya" Rey menatap Dian untuk terakhir kalinya, "Selamat tinggal, Diandra"
🍀🍀🍀
"Kenapa kamu senyam - senyum tidak jelas seperti itu? Berbeda sekali dengan sikap awalmu yang sok dingin dan kaku!" ledek Diandra
"Aku hanya terharu" jawab Gama yang masih fokus dengan setir mobilnya.
"Oh ya? Coba katakan apa yang membuatmu terharu?" tanya Dian menghadap ke arah Gama
"Secara tidak langsung. Aku menjadi alasanmu menolak Rey"
Dian menatap Gama tak berkedip, lalu kemudian tertawa, "Jadi kamu baper? Astaga, aku tidak menyangka kamu seperti ini" lagi - lagi Dian mengejek Gama, "Itu hanya alasanku, Tuan Gama. Jangan di bawa perasaan. Aku ini wanita tanpa perasaan. Jadi jangan berharap lebih!"
Gama mengangguk, "Tidak masalah kamu menyangkalnya sekarang. Tapi setelah kita menikah, bersiaplah mendapat banyak kejutan dariku"
"Kenapa aku ngeri mendengarnya. Apa ... Sebaiknya aku mundur dari pernikahan ini?" tanya Dian pura - pura bersedih
"Sayangnya aku tidak memberimu pilihan untuk mundur!"
Dian tertawa, "Aku tidak akan menjilat ludah sendiri. Dan sepertinya, akan lebih menyenangkan jika kita bekerja sama"
""Aku tidak mau di libatkan dalam dramamu. Yang aku inginkan adalah real! Kehidupan kita secara nyata"
"Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi!"
Gama terkekeh, "Sangkallah sebisa yang kamu inginkan. Tapi saat nanti kamu terbukti menelan ludah sendiri-" Gama menatap Dian lekat, membuat wanita itu juga menatapnya. "Aku minta kompensasi!"
"Hahaha, kamu mau minta kompensasi? Padahal apa yang kamu katakan tidak akan pernah terjadi"
Gama menghentikan mobilnya, "Kenapa kita berhenti?"
"Lihatlah sekeliling, kita sudah sampai", Gama memutar kepala Dian ke arah dekat pintu masuk dimana Mama Clara sudah menunggu mereka. "Dan Mamamu, sudah menunggu kita"
Dian membuka sabuk pengaman dan hendak turun, namun Gama menahannya. "Aku belum mengatakan kompensasinya padamu!"
"Apa itu penting? Mama sudah menunggu kita!"
Gama menggeleng, "Tidak bisa! Kamu harus dengarkan aku dulu",
Dian memutar mata malas, "Apa!!?"
Gama mendekatkan wajahnya membuat Dian reflek mundur ke balakang, "Aku ingin kamu melahirkan lima anak untukku!"
Plak
"Kamu kira aku kucing?!! Tidak ada!! Enak saja! Kamu pikir gampang melahirkan? Kamu saja aku ogah!!"
Gama mengusap lengannya yang terasa kebas, "Kamu selalu saja KDRT!"
"Makanya jaga omonganmu! Dasar sinting!"
Dian turun dari mobil dengan sedikit berlari ke arah Mama Clara. Kemudian di susul oleh Gama.
"Maaf kami baru sampai. Mama sudah dari tadi?" tanya Dian sungkan
"Lumayanlah, untuk melihat kalian ber ... Ehem!"
Dian berdecak dalam hati, pasti Mama Clara mengira mereka kembali berciuman tadi.
__ADS_1
"Ya sudah, sebaiknya kita masuk ke dalam biar cepat selesai" ajak Gama
Ketiganya masuk kedalam dan langsung di sambut oleh pemilik butik yang tak lain adalah teman baik Mama Clara.
"Selamat datang Clar. Akhirnya setelah membeli baju puluhan tahun disini. Kamu memesan baju pernikahan juga"
"Harusnya kamu menanyakan kabar dulu, Mber" protes Clara
"Untuk apa? Baru dua hari lalu kamu kemari"
"Ck, kenapa kamu membuka rahasia. Oh ya, kenalkan ini calon menantuku, Diandra"
"Diandra, Tante"
"Panggil saja Tante Amber", Amber memperhatikan Dian dengan seksama
"Sepertinya menantumu tidak asing" bisik Amber
"Dia owner DV Jawelry"
"Kenapa mereka bisik - bisik?" tanya Dian pada Gama
"Biasa, ibu - ibu akan heboh jika bertemu teman yang klop"
"OMG, mimpi apa kamu punya menantu sehebat ini. Aku iri! Aku iri!" suara Amber yang cempreng membuat Dian dan Gama terkejut. Keduanya pun saling berpandangan.
"Iri tanda tak mampu. Sudah ah, aku mau lihat gaunnya. Pokoknya aku mau yang bagus"
"Aku pastikan kamu tidak akan kecewa. Dengan gaun rancanganku, Dian akan terlihat seperti bidadari hidup"
"Mama lebay sekali"
"Gam, Mama bisa mendengarmu!"
Amber dan Dian terkekeh,
"Sudah, jangan berdebat. Ayo akan aku tunjukkan gaunnya", Amber mengajak mereka masuk ke ruangan khusus gaun pengantin. "Semua ini rancangan terbaru. Aku tidak tahu selera Dian seperti apa. Tapi aku yakin, Dian akan menyukai salah satunya"
Ada banyak gaun pengantin dan semuanya terlihat memukau.
"Bagaimana kalau yang ini. Ini terlihat mewah dan berkelas" Amber menunjukkan salah satu gaunnya
"Terlalu terbuka. Ganti!" protes Gama
"Aku akan menikah, bukan memamerkan tubuh calon istriku!"
Amber terkikik geli, "Sepertinya Gama akan menjadi suami posesif yang bucin!"
Melihat wajah dingin Gama, Amber menghentikan kikikannya.
"Baiklah, ganti saja ya"
Clara berdecak kesal, namun yang Gama katakan ada benarnya juga. "Ya sudah, Mber, ganti yang lain saja. Sayang, kamu mau gaun model seperti apa?"
"Belum tahu, Ma. Aku akan melihat - lihat dulu"
Dian memperhatikan beberapa jejeran Gaun yang terpajang rapi dan apik. Dian menyentuh salag satu gaun itu
"Sudah aku bilang, jangan memilih gaun terbuka. Kamu mau memamerkan tubuhmu pada pria lain?"
Amber membisikkan sesuatu pada telingan Clara, "Dia posesif!"
Clara hanya tersenyum, "Gam, coba kamu saja yang pilih. Pilih saja salah satu gaun yang menurutmu cocok untuk Dian. Nanti tinggal di betulkan sedikit jika Dian merasa kurang cocok"
Mata Gama mulai memantau sekeliling, matanya menelisik. Dan akhirnya, pilihan Gama jatuh antara dua gaun yang menurutnya cocok untuk Diandra.
"Yang ini"
"Atau yang ini!"
Tunjuk Gama pada gaun pilihannya.
"Kalau yang ini, bagaimana?"
Tanya Dian menunjukkan satu gaun.
"Terlalu terbuka di bagian atas!" komen Gama
"Bukankah ini hampir sama dengan gaun pilihanmu?" tanya Dian sedikit kesal
__ADS_1
"Perhatikan baik - baik! Ini berbeda! Gaun pilihanmu terbuka di bagian dada dan bahu. Sedangkan pilihanku tidak terlalu tertutup!"
Dian menghela nafas kasar, "Untuk apa membawaku kemari kalau aku tidak diberi pilihan untuk memilih?"
Clara dan Amber hanya terkekeh sambil menonton drama dua insan yang akan segera menikah itu.
"Tidak usah banyak protes! Pilih salah satu yang kamu suka dari gaun itu!"
"Oke! Oke. Aku lihat dulu!"
Dian memperhatikan kedua gaun pilihan Gama. "Aku pilih gaun yang pertama" putus Dian
"Ternyata selera kita sama", jawaban Gama membuat Dian memutar mata malas
"Kalian so sweet sekali. Tante yang melihatnya jadi gemas"
"Oke, jadi gaunnya fiks yang ini ya?" tanya Clara
Dian dan Gama kompak mengangguk, "Baiklah. Sekarang kita coba gaunnya. Ayo Di, Tante akan membantumu"
Diandra mengikuti Amber ke fitting room. Biasanya, calon pengantin yang akan mencoba gaunnya akan di bantu oleh karyawan. Namun karena Clara teman dekat sekaligus teman baiknya, Amber sendiri yang turun tangan.
"Kulit kamu bagus sekali. Pasti sering perawatan ya?" tanya Amber sambil membetulkan gaun yang Dian kenakan.
"Jarang, Tante. Aku tidak punya terlalu banyak waktu untuk mengurus diri" aku Dian jujur
"Kalau sudah menikah, perawatan tubuh itu penting. Apalagi kalau sudah melahirkan. Jangan sampai kamu mengabaikan penampilan. Suamimu itu ganteng. Pasti banyak yang ngincar"
Dian tertawa dalam hati, suami palsu maksudnya.
"Iya Tante. Aku akan ingat pesan Tante" jawab Dian basa basi
Krek
Tirai dibuka dan menampilkan Dian yang terlihat begitu cantik.
"Bagaimana Gam, cantik kan?"
Jujur Gama terpesona, bukan hanya cantik. Dian terlihat memukau.
"Gam, Tante Amber bertanya" Clara menyikut lengan putranya
Gama berdehem, "Cantik"
"Apanya yang cantik, Gam? Gaunnya atau orangnya?" goda Amber
"Dua - duanya" sahutnya dengan nada dingin
"Gama memang jual mahal, Di. Tapi nanti kalau kamu sudah hidup bersama dia. Kamu akan tahu bagaimana sifat aslinya"
"Ma" tegur Gama
Clara tak menghiraukan, dia justru berjalan ke arah Diandra. "Putri Mama cantik sekali. Betapa beruntungnya Gama menjadi suamimu"
"Kami sama - sama beruntung, Ma"
"Clar, kamu lihat dulu. Mungkin ada yang kurang dengan gaun ini" pinta Amber
Clara memperhatikan detail gaun yang sudah menempel indah di tubuh Diandra. Sempurna, itulah kata untuk menggambarkan gaun tersebut. Bukan hanya gaunnya, tapi Dianlah yang membuatnya semakin terlihat sempurna.
"Perfect, Mber. Rancanganmu tidak pernah mengecewakan" puji Clara
"Terima kasih pujiannya. Bagaimana menurutmu, Di? Apa kamu merasa ada yang kurang dengan gaunnya?"
"Tidak ada Tante. Gaun ini terasa pas dan nyaman"
"Syukurlah, aku senang melihatnya. Setelah ini, giliran Gama yang fetting jasnya. Gam, kamu mau melihat - lihat dulu?"
"Biar Dian yang memilihnya, Tante"
"Bagaimana, Di? Kamu yang akan memilihkan tuxedo untuk Gama?" Dian mengangguk
Amber menatap Clara, Mama dari Gama itu mengangguk disertai senyum di bibirnya, "Baiklah, aku akan bantu Dian ganti baju dulu. Setelah itu, aku akan mengantarnya memilih tuxedo yang cocok untuk Gama"
Butuh waktu dua puluh menit untuk berganti pakaian. Setelah berganti lagi dengan pakaian biasa, Amber mengantar Dian ke ruangan tuxedo pria.
"Ada banyak pilihan, silahkan kamu pilih yang menurutmu cocok untuk Gama"
"Tentu, Tante. Aku akan melihat - lihat dulu"
Dian memperhatikan satu persatu tuxedo karya Tante Amber. Semuanya bagus, tapi ada satu yang menurutnya sangat pas dan cocok untuk Gama
"Bagaimana kalau yang ini saja!" kompak Dian dan Gama
Clara terkekeh pelan, "Kalian kompak sekali. Jangan lupa, setelah akad, kalian harus kompak untuk segera memberikan Mama cucu"
Ngek
__ADS_1