
...HAPPY READING...
...----------------...
DRT-DRT-DRT. Dering ponsel Alexander berbunyi saat Alvazo akan mengucapkan kalimat.
"Sebentar Alva saya menerima panggilan telepon dari asisten saya dulu!" ujar Alexander menggerakkan tangan memberi aba-aba terhadap Alvazo.
Alexander melangkahkan kakinya ke ruang privasi yang ada di balik ruangannya, lantaran ia akan membahas soal Andara dengan Marcello.
Sementara Alvazo menunggu di ruang kerja Alexander Alberto.
"Sial, berani sekali dia menyela ucapanku!" tukas Alvazo kesal.
***
"Halo, ada apa Marcello? Apa kau sudah mengetahui negara mana yang mereka tuju?" tanya Alexander terhadap Marcello di seberang sana.
"Iya Tuan... saya sudah mengetahui negara tujuan mereka! Mereka akan menuju Jakarta Indonesia!" ucap Marcello menjawab pertanyaan Tuannya.
"Apa! Ini tidak boleh terjadi, bisakah kamu menggagalkan perjalanan mereka, Marcello!" ujar Alexander geram.
"Mereka sudah menaiki pesawat Tuan!" ucap Marcello.
"Lantas kenapa kau baru menghubungi saya. Dasar bodoh kamu! Seharusnya dari tadi kau menghubungi saya, sebelum mereka berangkat!" tukas Alexander memaki Marcello.
"Maafkan saya Tuan," ucap Marcello.
"Dasar bodoh! Sudahlah, cepat kau kembali ke kantor!" tegas Alexander mengakhiri percakapan.
Alexander kembali mengantongi ponsel, lalu bergegas menuju ruangan kerja.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu Tuan Alvazo!" ujar Alexander.
"Oh ya... tidak apa-apa, Tuan Alexander!" ucap Alvazo.
Kemudian Alexander duduk di kursi kebesarannya, dan menanyakan soal keputusan Alvazo terkait saham perusahaannya.
"Bagaimana, kau sudah mendapatkan jawaban atas permintaan saya kan?" ujar Alexander.
"Baiklah saya akan memberikan saham itu pada Anda, tapi setelah saya mendapat kuasa penuh atas perusahaan itu, Deal!" ucap Alvazo mengulurkan tangan.
Lalu Alexander menjabat tangan Alvazo, menyetujui tawaran itu.
"Ok, deal!" balas Alexander berseringai.
'Kau bodoh Alvazo, kau sangat gampang di bodohi,' ucap Alexander dalam hati, memiliki rencana licik lainnya.
'Kau boleh tertawa sekarang Alexander, tapi setelah aku mendapatkan semua perusahaan Ayahku, aku pastikan kau tidak akan mendapatkan sepeserpun!' seringai Alvazo menatap Alexander sambil berjabat tangan.
Setelah mereka menemui titik negosiasi dalam kerjasama untuk menyingkirkan Radit, Alvazo melepaskan jabatan tangannya.
"Oke kalau begitu saya permisi Tuan Alexander! Saya masih banyak pekerjaan lain, yang harus di selesaikan," ucap Alvazo.
"Baiklah, terima kasih telah repot-repot mengembalikan berkas kerjasama ini!" ujar Alexander sambil memegang map merah di tangan.
__ADS_1
Alvazo segera pergi dari ruangan Alexander, sambil mengambil ponsel di saku jas.
Kemudian menelepon anak buahnya yang ditugaskan untuk mengawasi Radit di Indonesia.
"Halo, bagaimana keadaan Radit? apakah kalian berhasil menyingkirkannya?" ucap Alvazo berbicara dengan seseorang di belahan negara sana.
"Maaf Tuan... sepertinya Tuan Radit hanya terluka sedikit saja, dia berhasil kabur saat kami mau menghabisinya!" ucap seseorang di seberang sana.
"Saya tidak mau tahu! Kalian awasi perkembangannya. Saya tidak ingin lagi mendengar kegagalan!" geram Alvazo.
"Baik Tuan, saya akan selalu mengawasi Tuan Radit!" jawab orang itu.
"Bagus, segera kabari saya jika ada informasi lain!" ujar Alvazo menutup panggilan tersebut.
Alvazo berjalan gontai di koridor kantor perusahaan Alexander, ia tidak sadar jika Marcello menguping pembicaraannya dengan anak buahnya, yang akan menyingkirkan Radit.
Marcello segera menemui Alexander di ruang kerja.
TOK-TOK-TOK.
Suara ketukan pintu terdengar oleh Alexander, ia sedikit mengencangkan suaranya mempersilahkan masuk pada seseorang yang akan memasuki ruangan.
"Masuk!" teriak Alexander agar terdengar oleh seseorang dibalik pintu.
"Permisi Tuan," ucap Marcello memasuki ruangan.
"Ya, duduk dan dengarkan saya bicara!" tegas Alexander.
"Saya ingin kamu menyuruh Anak buah kamu mengawasi gerak-gerik Alvazo, dan kamu awasi Radit di Indonesia!" perintah Alexander.
Kemudian Alexander mengambil selembar tiket pesawat untuk Marcello dari laci meja kerjanya.
"Dan ini tiket keberangkatan kamu, pergilah ke Indonesia! Ingat perintah saya awasi Andara jangan sampai dia dekat lagi dengan Radit!" perintahnya.
"Siap Tuan saya akan laksanakan tugas ini dengan sebaik mungkin!" ucap Marcello menyanggupi perintah dari tuannya.
"Bagus! Cepatlah pergi, lusa kau harus sudah berada di Indonesia!" ujar Alexander menggerakkan tangan menyuruh Marcello keluar dari ruangan.
Marcello segera bergegas menuju ruangannya, lantaran ia di pindah tugaskan ke perusahaan Alexander yang berada di Indonesia.
***
*Indonesia*
*Medical center Hospital*
Radit perlahan membuka matanya, setelah mengalami koma beberapa hari ini.
Radit mengitarkan pandangan ke sekeliling ia tahu jika dirinya sedang berada di rumah sakit.
"Akhhhhh!" pekik Radit merasakan kesakitan di bagian kakinya yang terluka akibat goresan oleh kelompok orang yang hampir merampoknya.
"Tuan... lebih baik Anda jangan banyak bergerak dulu. Anda masih belum sehat total Tuan," ucap Maxcton.
"Max... tolong kau hubungi Diandra! Aku mencemaskannya, pada malam itu dia pulang sendirian. Saya menurunkannya di tengah jalan," ucap Radit meminta tolong terhadap Maxcton agar menghubungi Diandra.
__ADS_1
"Baik Tuan, saya akan menghubunginya sekarang," ucap Maxcton, bangkit dan mencari kontak Diandra di ponsel.
"Tunggu sebentar Tuan, saya akan menghubungi Nona Diandra!" ujar Maxcton.
"Ya!" jawab Radit.
Maxcton berjalan gontai keluar dari ruang perawatan Radit, saat Dokter memeriksa keadaan kesehatan Radit, yang baru pulih.
Sementara Diandra masih di lokasi shooting, seperti biasanya dia mengerjakan projects film Kekasih Kembarku yang ia bintangi.
DRT-DRT-DRT. Getar ponsel menyadarkan Diandra yang sedang di rias oleh make up artist.
"Tunggu sebentar, saya mengangkat telepon dulu!" ujar Diandra terhadap make up artist.
Di sana terlihat Lucy dan beberapa pemeran lain.
"Halo... dengan siapa saya bicara?" tanya Diandra terhadap orang menggunakan nomor baru.
"Nona Diandra, saya Maxcton hanya ingin mengetahui keadaan Anda saja, ini atas perintah Tuan Radit," ucap Maxcton di sebrang sana.
"Saya baik-baik saja! Memangnya kenapa?" sahut Diandra menanggapi Maxcton.
"Syukurlah kalau Anda baik-baik saja. Tuan Radit meminta maaf atas kejadian pada malam itu, dia tidak bermaksud menurunkan Anda di tengah jalan, katanya!" ucap Maxcton menyampaikan permohonan maaf tuannya.
"Kenapa harus kamu yang meminta maaf, kemana memangnya dia?" ujar Diandra.
"Tuan Radit sedang di rawat Nona, dia baru siuman setelah koma selama dua hari!" ucap Maxcton membeberkan.
"Apa Radit koma!" ucap Diandra kaget, dan orang-orang di sana langsung heboh, lantaran gosip Diandra dengan Radit sedang hangat-hangatnya.
"Di mana dia di rawat Tuan Max... saya harus ke sana!" seru Diandra.
"Medical center Nona!" jawab Maxcton.
Diandra langsung mematikan sambungan teleponnya, ia segera bergegas menuju ke Medical Center Hospital.
"Diandra kamu mau ke mana? Shooting belum kelar loh!" ujar Sutradara yang menangani proyek film itu.
"Tolong ijinkan saya, saya harus menemui Radit di rumah sakit!" ucap Diandra panik.
"Radit? Tuan Radit maksud Anda!" ujar Sutradara itu
"Ya benar!" jawab Diandra singkat.
Diandra langsung pergi begitu saja dengan mobilnya.
Sang sutradara menoleh pada manajer Diandra yaitu Lucy.
"Nona Lucy..." ucap pak sutradara memanggil Lucy.
"Ya ada apa ya pak?" ucap Lucy.
"Sebenarnya Diandra punya hubungan khusus ya dengan Tuan Radit?" tanya pak sutradara.
Lucy hanya menggigit bibir bawahnya, ia bingung untuk menjawab.
__ADS_1