Diandra

Diandra
Kepergian


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Maxcton kembali memasuki ruangan Radit, setelah berhasil membubarkan para wartawan.


Namun sesampainya di dalam ruangan Radit, Maxcton menatap heran pada bosnya, sedang terduduk melamun.


“Selamat pagi Mr Radit, tidak seperti biasanya Anda melamun di pagi hari?” ucap Maxcton perlahan menghampiri bosnya itu.


Radit menoleh sambil menanyakan Monica.


“Max... jam berapa hari ini kita ada jadwal meeting? Pastikan Monica datang tepat pada waktunya!” ucap Radit sambil mengetik di ponselnya.


Radit berusaha menghubungi Monica, namun sayangnya tidak ada balasan dari Monica, panggilannya di abaikan oleh Monica.


Radit kesal, hingga akhirnya ia memilih menyusul Monica ke apartemennya.


“Anda mau ke mana Mr Radit? Bukankah Anda baru saja datang?” ujar Maxcton menghentikan langkahnya.


“Saya harus menyusul Monica... saya khawatir dengannya!” ujarnya perlahan mulai meninggalkan ruangan kerja.


Radit segera keluar dari gedung MIXARPICTURE, belum sempat dia pergi ke mobil, dia sudah di kejutkan oleh seseorang yang nampak palsu di hidupnya.


“Radit... mau ke mana kamu Nak!” ucap perempuan paruh baya itu.


Radit mengeratkan rahangnya, ia benci dengan wanita yang telah mengusirnya itu. Perlahan Radit mendekat, mengingatkan kembali pada perempuan paruh baya itu, agar tidak mencarinya.


Tanpa sepatah kata yang terlontar dari mulutnya, Radit hanya menatap perempuan paruh baya, yang dia pikir menyayanginya dengan tulus.


“Maafkan Mama Radit... Mama telah salah menilaimu selama ini!” ucap perempuan yang bergelar ibu itu.


Kemudian, bersujud di hadapan putranya. Meskipun dia bukan ibu kandungnya, tapi Radit sangat menyayangi dan menghormatinya.


“Bicara pada Mama Nak... jangan buat Mama menyesali perbuatan Mama selama ini!” lirihnya.


Radit merasa tersentuh, saat melihat orang yang telah membesarkannya, bersujud memohon padanya. Kemudian Radit membangunkan ibu tirinya, Melissa.


“Bangunlah Ma... Radit yang seharusnya minta maaf, Radit tidak bisa menjadi Anak yang Mama Andalkan!” lirih Radit membangunkan ibu tirinya.


Perlahan Melissa bangkit, dan memeluk putranya. Seketika tangisnya pecah, buliran air mata berjatuhan membasahi pipinya.


“Radit... maafkan Mama ya, Mama merasa sangat bersalah sama kamu Nak!” lirih Melissa memeluk putranya.

__ADS_1


“Sudah Ma... yang lalu biarlah berlalu, Radit juga salah dalam hal ini,” ucap Radit mengelus pundak Ibunya.


Namun pakta mengejutkan terkuak, bahwa kedatangan Melissa ke Indonesia, untuk menemui putranya, bukanlah tujuan utamanya. Melissa merencanakan sesuatu yang jahat, untuk membalas rasa sakit hati, pada suaminya, dengan cara menyingkirkan Radit.


‘Selangkah lagi aku akan menyingkirkannya, lihatlah aku Mas. Silahkan kau bermain gila dengan wanita mana pun, endingnya kau akan menangis, melihat Putramu ini hancur,' ucap Melissa berseringai dalam hatinya.


Kemudian Radit teringat dengan Monica, lalu ia memanggil Maxcton, untuk menemani Ibunya.


“Maxcton!” teriak Radit mengencangkan suaranya, memanggil asisten pribadinya.


Dengan segera Maxcton menghampiri Radit. “Iya Mr Radit, apakah ada yang bisa saya bantu?”


“Bawa masuk Ibuku, aku akan pergi sebentar!” perintah Radit, kepada Maxcton.


“Baik Mr,” balas Maxcton.


“Ayo Nyonya... silahkan masuk!” ujarnya mengajak Melissa.


Kemudian Radit memohon pamit pada ibunya. “Ma... Radit tinggal sebentar ya, nanti Radit kembali lagi,” ucap Radit segera bergegas pergi.


“Hati-hati di jalan Putraku!” seru Melissa seraya tersenyum.


Perlahan Melissa melangkah, memasuki gedung MIXARPICTURE, perusahaan suaminya yang di berikan pada Radit.


Hingga akhirnya, dia masuk ke ruangan terakhir yang dia lihat sangat luas, serta banyak berbagai camilan di sana.


“Silahkan Anda menunggu di ruang tamu Nyonya, jika ada yang di perlukan lagi, panggil saya. Saya ada di ruangan sebelah!” ujar Maxcton.


“Oke... silahkan, jika Anda akan melanjutkan pekerjaan Anda lagi, pelayan!” ucap Melissa, menyebut Maxcton dengan panggilan pelayanan.


Kemudian, Maxcton pergi dari ruangan itu, ia melanjutkan pekerjaannya. Meninggalkan Melissa di dalam ruang tamu itu.


“Kantor ini, sangat megah... aku harus bisa memiliki saham di dalam perusahaan ini, agar bisa mengatur Radit!” gumam Melissa.


“Aaaah... rasanya dunia ini terasa seperti mimpi, aku bagaikan Ratu yang bergelimang harta, dan memiliki anak tiri yang bodoh!” seringai Melissa tersenyum penuh kemenangan.


“Dan mas Sastro akan merasakan, bagaimana rasanya kehilangan dan rasanya di khianati oleh Putranya sendiri!” tukasnya meluapkan amarahnya.


Sementara Radit, sedang berada di apartemen Monica, ia memencet bel di depan unit apartemen, namun tidak ada sahutan dari Monica.


“Monica! Ini aku Radit... kau baik-baik saja kan?”


Radit mulai terlihat khawatir, lantaran Monica sama sekali tidak menyahutinya.

__ADS_1


“Monica, kau bisa mendengar suaraku kan? Monica ayolah, maafkan aku!” ujar Radit berusaha membujuk Monica.


Namun tetap saja tidak ada sahutan dari dalam unit itu. Tak berselang lama, tetangga Monica keluar, memberitahu Radit tentang keberadaan Monica.


“Tuan... sepertinya Anda terlambat, teman perempuanmu itu, telah pergi membawa koper besar!” ujar tetangga apartemen Monica.


Sontak saja hal itu, membuat Radit kaget, dan bertanya pada tetangganya.


“Kalau boleh tahu, akan pergi ke mana dia?” tanya Radit.


“Maafkan saya, selebihnya saya tidak tahu!” jawab tetangga dari Monica, beranjak pergi meninggalkan Radit.


Radit sangat menyesal atas perbuatannya, lantaran karena dirinya Monica pergi begitu saja.


“Aku harus mencari kamu ke mana, Monica?” gumam Radit, merasakan kehilangan.


Radit teringat dengan perkataan Monica, jika dia adalah keturunan Spanyol.


Dengan segera Radit turun dari lantai tersebut, menuju mobilnya. Dia menyusul Monica ke bandara.


Kurang lebih memakan perjalanan, satu jam. Radit telah sampai di bandara.


Ia segera berlari, menuju pintu keberangkatan, namun di sana tidak menemukan Monica.


“Di mana kamu Monica, kamu tidak boleh pergi?” gumamnya, mulai takut kehilangan sosok sahabatnya itu.


Radit kembali mengambil ponsel di sakunya, mencoba untuk menghubungi Monica. Namun lagi-lagi ponsel Monica tidak aktif.


“Monica... kamu di mana?” ucapnya merasa letih, sejenak Radit terduduk, orang-orang terlihat ramai di sana, sehingga Radit sedikit kesulitan mencari Monica.


Radit berkeliling di bandara, ia mengelilingi bandara itu dengan mobilnya, mencari sosok sahabatnya.


Radit tahu, pasti Monica berniat pergi dari Indonesia, setelah dia berkata tidak akan menikahinya.


“Bodoh... bisa-bisanya aku melakukan hal itu pada sahabatku sendiri, kamu bodoh Radit, kamu bodoh!” Radit tertunduk lesu merutukki dirinya sendiri.


Saat Radit perlahan bangkit, Monica terlihat sedang mendorong kopernya, memasuki pintu keberangkatan. Namun Radit tidak melihat Monica, lantaran pandangannya terhalangi oleh banyaknya pengunjung di sana.


Radit memutuskan untuk kembali, saat usaha mencari Monica di rasanya sia-sia.


Sedangkan Monica kini telah berada di dalam pesawat, ia akan pergi meninggalkan Jakarta, untuk selamanya, melupakan cintanya terhadap Radit.


“Selamat jalan Radit, selamat jalan JAKARTA, semoga di dalam perut ini benar-benar berhasil menjadi sebuah kehidupan, maafkan aku Dit... karena hanya dengan cara membiusmu, aku bisa merasakan hangatnya tubuhmu!” gumam Monica menyeka buliran air mata.

__ADS_1


Kini pesawat itu telah terbang membawa Monica pergi, jauh dari Radit dan juga membawa benih yang sengaja Monica minta paksa dari Radit, di jadikannya sebagai kenang-kenangan.


__ADS_2