
...HAPPY READING...
...----------------...
"Iya Ma, tidak apa-apa. Radit mengerti Mama merindukan Papa," ucap Radit memaafkan ibu tirinya.
Melissa tampak mengulas senyuman, setelah Radit memaafkan perbuatannya.
'Huh. Syukurlah dia memaafkanku,' batin Melissa.
Perlahan Melissa duduk di sofa, dan menyiapkan makanan untuk putranya, Radit.
"Kamu belum makan kan, Nak?" tanya Melissa sambil mengeluarkan makanan dari paper bag.
"Kebetulan belum Ma," jawab Radit sambil membaca map yang sedang di pegangnya.
"Ya sudah, kalau begitu ayo makan dulu, tinggalkan sebentar pekerjaannya," ucap Melissa bangkit, lalu menggenggam tangan putra tirinya itu, mengajaknya untuk menyantap makanan yang telah di bawanya.
"I ya Ma," ucap Radit gugup lantaran ibu tirinya selalu memperlakukannya tak biasa, sebagaimana anak dan orang tua.
Kemudian Radit duduk di sofa, mengambil makanan yang akan di lahapnya, namun lagi-lagi Melissa memperlakukannya dengan cara tak biasa.
Melissa menyendok sup dan menyuapi Radit.
"Ayo silakan di coba, sup ini khusus Mama bikinkan untuk kamu," ucap Melissa menyodorkan satu sendok sup, untuk menyuapi Radit.
Ada rasa canggung di hati Radit, lantaran ia merasa sikap ibu tirinya itu sangat di luar batas dalam memperlakukannya.
"Maaf Ma... Radit bisa menyuap sendiri kok, Radit bukan Anak kecil lagi Ma," ucapnya menolak secara halus, agar ibunya tak merasa tersinggung.
"Ahahaha... iya-iya maafkan Mama Nak, Mama masih terbawa suasana, Mama masih menganggap kamu baru anak kemaren sore, makannya Mama masih memperlakukanmu seperti ini. Maafkan Mama ya," ucap Melissa kembali menaruh sup ke mangkok.
'Huh... ternyata menggoda Anak ini, tak semudah menaklukan Bapaknya,' ucap Melissa dalam hati sambil memperhatikan Radit yang sedang menikmati makanannya.
"Bagaimana, makanannya, enak?" tanya Melissa kembali mengajak bicara putranya itu.
"Enak Ma... Radit selalu suka masakan Mama," puji Radit terhadap Melissa ibu sambungnya.
"Syukurlah kalau kamu suka Nak," ujar Melissa.
Kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan setelah makan siang meminta putranya itu menemaninya jalan-jalan keliling kota Jakarta.
__ADS_1
"O yah! Kalau kamu sudah selesai makannya, kamu bisa kan temenin Mama?" ucap Melissa namun terselip nada memerintah pada Radit.
"Temenin ke mana Ma?" ucap Radit di sela menyuap makanan.
"Temenin Mama keliling kota, kamu bisa kan?" ucapnya lagi mengulang kalimat. Padahal sebenarnya Melissa ingin menggagalkan pertemuan Radit dengan orang yang di anggap Neneknya itu.
"Aduhhh, maaf Ma! Kayaknya Radit enggak bisa, soalnya Radit masih banyak pekerjaan yang belum sempat di selesaikan,"
Radit menolak permintaan ibu sambungnya itu, padahal sebenarnya dia memang tidak ingin menemani Melissa ibu sambungnya.
Lantaran Radit sudah memiliki janji bersama dengan Nenek Milloma.
"Euuum... kalau kamu enggak bisa siang, sore atau malam bisa kan?" ucap Melissa lagi bersikukuh.
"Radit malam ada janji Ma, maaf ya. Mungkin lain kali Radit bakal nemenin Mama!" jawab Radit singkat.
Melissa sangat kesal, lantaran Radit terus berusaha mengelak, tak mau berterus terang kepadanya soal pertemuan dengan orang tuan yang di panggilnya nenek itu.
'Huh... menyebalkan, bukan Melissa namanya jika tidak bisa membujuk Anak ini,' gerutunya dalam hati.
"Mama tidak kenapa-kenapa kan? tidak marahkan sama Radit," ucap Radit menyadarkan Melissa dari lamunan.
"Oh ya... tidak apa-apa sayang, lagi pula untuk apa Mama marah," ucap Melissa seraya tersenyum.
"Eummm, ya sudah kalau begitu Mama pamit pulang yah, See you my son, Muachhh!" Melissa berpamitan setelah mengecup bibir putranya.
Sontak saja Radit tercengang, lantaran Melissa mengecup bibirnya secara spontan, tanpa bisa menolak, Radit hanya bisa pasrah dengan kejadian singkat itu.
Radit terdiam sejenak, kemudian mengambil tisu dan mengelap bibirnya, dalam benaknya ia terus bertanya-tanya, Radit heran dengan sikap Melissa semakin hari semakin berubah terhadapnya.
ARGGGG. Radit menjerit kesal, pikirannya terus dipengaruhi oleh bayangan bibir Melissa saat menempel ke bibirnya.
"Huh... aku bisa gila, ini tidak bisa di biarkan lagi, Mama Melissa sepertinya berusaha membuatku jatuh hati padanya," gumam Radit menghela nafasnya.
Sinar mentari mulai beranjak pergi, kala sang senja datang berganti. Para karyawan terlihat mulai bersiap untuk pulang, lantaran jam kerja sudah hampir habis.
Sedangkan Diandra, kini tengah bersiap-siap menunggu kedatangan Radit yang akan menjemputnya sore ini.
Diandra tampak terlihat cantik, memakai dress berwarna biru dengan make up yang tak terlalu tebal, bibirnya yang sensual di balut dengan lipstik berwarna merah.
"Uhmmm... Anak Momy mau pergi ke mana, sore-sore begini sudah terlihat cantik?" ucap Sessi terhadap putrinya Diandra.
__ADS_1
"Diandra ada pekerjaan Mi... Diandra mau meeting bersama produser dari MIXARPICTURE itu loh!" jawab Diandra sambil memasang anting-anting ke telinganya.
"Radit maksudnya?" ucap Sessi terlihat antusias.
"Kamu pepet terus dia sayang, jangan sampai di ambil orang lain, Momy setuju kok. Kalau kamu sama dia," ucap Sessi mengulas senyum yang merekah.
"Momy apaan si, orang aku cuma ada kerjaan bareng kok, enggak ada yang lebih Mi!" ujar Diandra terhadap ibunya itu.
"Ya, siapa tahu gitu tumbuh benih-benih cinta di antara kalian berdua," ucap Sessi kembali dengan kehaluannya.
"Momy... sudah Mi bangun ini tuh dunia nyata, mana mungkin orang kaya raya seperti Radit, mau punya calon istri dari kalangan seperti aku! ada-ada saja deh Momy ini," gerutu Diandra menyadarkan segala kehaluan ibunya.
"Iya deh, terserah kamu aja!" seru Sessi.
TOK-TOK-TOK. Suara seseorang mengetuk pintu unit apartemen mereka, sontak saja Sessi segera menghampiri pintu utama, dan membuka pintunya.
"Ya ampun... Nak Radit ya," ucap Sessi menyambut kedatangan Radit, yang terlihat tampan bak aktor TURKEY.
'Uuuh... ini sih TURKEY banget, mukanya ke arab-araban seperti Bapaknya Diandra, Mas Hameed,' ucap Sessi senyam-senyum tidak karuan, ketika menatap Radit.
Radit hanya mengernyitkan alisnya, lantaran dia disambut oleh Sessi yang terlihat genit di hadapannya, Radit menelan ludahnya dalam-dalam, sebelum bertanya.
"Permisi Tante... apakah Diandra-nya ada?" tanya Radit terhadap Sessi. Sementara Sessi masih tak beranjak dari khayalannya.
"Tante... Diandra-nya ada?" tanyanya lagi sedikit lantang.
Sontak saja Sessi tersadar dan gelagapan menjawab pertanyaan Radit.
"Ahahaha... iya, ada. Diandra masih berdandan," ucap Sessi tersenyum penuh makna, dan itu membuat Radit bergidik ngeri.
'Ya Tuhan... benarkah dia Ibunya Diandra, modelannya kayak Tante girang begini ya?' batin Radit ngeri.
Spontan Sessi mencubit pipi menggemaskan nan tampan itu.
"Uuuuh... emes deh, kamu mau minum apa ganteng," ucap Sessi berusaha menggodanya.
Radit beringsut mundur satu langkah, lantaran dia gugup sekaligus takut dengan tingkah ibunya Diandra.
"Mi-minum apa aja Tante!" jawab Radit gugup.
"Kalau begitu, silakan duduk di sini ganteng," ucap Sessi menarik dasi yang di kenakan oleh Radit.
__ADS_1
BUGH. Radit jatuh terduduk ke sofa, ia ketakutan melihat tingkah tak biasa dari Sessi.
"Diandraaaaaa!" teriak Radit dengan suara lantangnya.