Diandra

Diandra
Yang Tidak Dianggap


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Pria bule nan gagah telah sampai di bandara internasional Jakarta.


Siapa lagi jika bukan Marcello, asisten pribadi dari seorang Billionaire asal TURKEY, Alexander Alberto.


Marcello terlihat di jemput oleh mobil mewah dan empat bodyguard, turun dari mobil menyambut kedatangannya.


"Tuan Marcello Adrodifa?" tanya salah satu bodyguard berbadan kekar.


"Ya saya Marcello!" jawab Marcello sambil menenggelamkan dirinya masuk ke dalam mobil.


Kemudian Marcello pergi dengan mobil mewah di ikuti oleh mobil pengawal dari belakangnya.


Marcello tampak kesal dengan sopir yang lambat dalam mengemudikan mobil, hingga akhirnya ia meminta mengambil kendali kemudinya.


"Bisakah saya mengemudikan mobil? Anda terlalu lambat, saya tidak memiliki banyak waktu untuk mencapai tujuan!" ucap Marcello dingin.


"Tentu saja bisa Tuan... silakan jika Anda ingin mengemudi," ucap sopir tersebut.


Lalu sang sopir menepikan mobilnya sebentar ke tepi jalan. Ia turun dan berpindah tempat ke kursi penumpang.


Kini Marcello mengambil alih kemudi, tampan gagah dan kharismatik. Marcello mengemudikan mobil sport itu dengan cepat, berbelok saling salip di jalanan dengan pengendara lain.


"Tuan... Anda bisa membunuh kami, Tuan!" ucap kedua bodyguardnya merasa ketakutan.


"Kenapa kalian takut dengan gaya mengemudi saya? Payah kalian, bagaimana kalian akan mendampingi Tuan Alexander jika gaya berkendara kalian seperti ini!" ujar Marcello sambil memutar kemudinya.


CITTTTT. Marcello langsung menginjak pedal rem, setelah melihat perempuan lewat di depannya.


ARGGGG. Teriak perempuan hampir tertabrak oleh Marcello.


"Apa kata saya juga Tuan... jangan mengebut," ucap para anak buahnya.


Sekilas Marcello menoleh ke arah mereka.


"Diam!!!" bentak Marcello kemudian turun menghampiri perempuan, yang hampir di tabrak.


Melissa luruh terduduk di tengah jalan aspal, lantaran jantungnya terasa hampir copot. Marcello tidak tahu jika perempuan itu adalah ibu tiri dari musuh bosnya.


Melissa tampak masih terlihat cantik, usianya yang sudah kepala lima. Tidak menampilkan sedikit pun jika ia sudah tua.


"Apa kau tidak ingin menyingkir dari jalan ini Nona?" ucap Marcello berdiri gagah di hadapan Melissa.


Melissa menatap tajam pada Marcello.


"Apa kau bilang Nona? Jangan kurang ajar pada orang yang lebih tua darimu bocah!" geram Melissa mengumpat.

__ADS_1


"Apa kau bilang? Anda memanggil saya bocah!" tukas Marcello.


"Ya! Tentu saja kamu itu bocah, jauh di bawah saya!" sentak Melissa bangkit dan meninggalkan Marcello.


"Hey... jangan pergi dulu, saya belum selesai berbicara!" teriak Marcello dengan nada meninggi.


Namun Melissa tetap berjalan tanpa memedulikan umpatan Marcello terhadapnya.


Melissa berjalan gontai menuju kantor MIXARPICTURE, lalu masuk ke gedung itu.


"Saya mau bertemu dengan Putra saya, apakah dia ada di ruangannya?" tanya Melissa pada resepsionis.


"Maaf, yang di maksud Putra oleh Anda. Siapa ya?" tanya balik seorang resepsionis tersebut.


Sontak Melissa menggebrak meja, lantaran pekerja resepsionis itu tak mengenali dirinya, sebagai orang tua dari Radit.


BRAK. Melissa menggebrak meja, perempuan berprofesi resepsionis itu terkesima.


"Saya Ibunya Radit. Bos kamu pemilik gedung ini, masa kamu enggak kenal saya sih!" sentak Melissa dengan arogantnya.


"Maaf Ibu saya benar-benar tidak tahu, jika Anda orang tuanya Mister Radit!" jawab perempuan itu terbata-bata.


"Rese banget jadi orang!" gerutu Melissa kemudian berjalan masuk ke dalam gedung, meskipun belum mendapatkan ijin.


"Buk... tunggu jangan main masuk saja, Anda belum jelas statusnya!" ucap sekuriti ikut mengehentikan Melissa.


'Sekuriti kurang ajar... beraninya dia menghentikanku,' ucap Melissa dalam hatinya.


"Kamu mau apa!" sentak Melissa.


"Maaf Buk... apa benar Anda Ibunya Tuan Radit?" tanya baik-baik seorang sekuriti.


"Kamu kurang ajar sekali bertanya seperti itu pada saya!" ketus Melissa menatap tajam pada seorang sekuriti.


"Jika Anda tak dapat membuktikan jika Anda Ibunya Tuan Radit. Lebih baik Anda tunggu di luar yah!" pinta sekuriti itu.


Namun Melissa tetap berjalan memasuki gedung tersebut. Sehingga mereka yang ada di sana benar-benar tidak tahu, jika Melissa adalah ibu sambungnya Radit.


Sekuriti itu memanggil teman-temannya, untuk membantu mengusir Melissa yang main masuk ke gedung tersebut.


"Maaf kami terpaksa harus membawa Anda ke pos, kami tidak bisa mentolerir Anda!" tegas pekerja keamanan tersebut.


"Hey-hey... jangan kurang ajar, apa kalian mau di pecat oleh Putra saya!" sentak Melissa.


Namun kawanan sekuriti itu tetap membawa Melissa kembali ke pos sekuriti.


Sementara Maxcton, baru saja datang memasuki area kantor dengan mobil mewahnya. Dia sangat kaget ketika Melissa di bawa keluar dari dalam gedung MIXARPICTURE.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Maxcton baru saja tiba sudah diperlihatkan oleh pemandangan tak mengenakan.

__ADS_1


Para kawanan sekuriti itu langsung melepaskan Melissa.


"Maxcton... urus mereka! Saya tidak mau tahu , pecat mereka!" tukas Melissa.


"Maafkan kami Nyonya kami benar-benar tidak tahu," ucap para sekuriti itu menundukkan kepala.


"Di mana Radit Maxcton? Kenapa dia tidak pulang semalam!" ucap Melissa masih kesal atas perlakuan para sekuriti.


Sekilas Melissa menatap tiga sekuriti yang masih berbaris dan menundukkan kepalanya.


"Kenapa kalian masih berdiri di sini! Saya memaafkan kalian, tapi ingat baik-baik. Kenali wajah saya, jangan sampai kalian seperti ini lagi pada saya!" sentak Melissa kembali beralih pada Maxcton.


Para sekuriti itupun akhirnya merasa lega, dan kembali menjalankan tugasnya.


"Maxc... kenapa kamu diam? Di mana Putra saya!" ucap Melissa berusaha ingin mengetahui keberadaan Radit.


Pertanyaan Melissa pun akhirnya di jawab oleh Maxcton.


"Mister Radit sedang dirawat di Medical Center Hospital. Nyonya!" ujar Maxcton memberitahu Melissa.


"Astaga... jadi Radit tidak pulang, dia sedang dirawat di rumah sakit?" ucap Melissa tak menyangka.


"Iya Nyonya, bahkan beliau sempat koma!" ucap Maxcton.


"Kenapa kau tidak mengabari saya, Maxcton jawab saya!" ucap Melissa.


"Maaf Nyonya jika Anda ingin menemuinya, mari saya akan antarkan Anda ke sana!" sela Maxcton mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, ayo cepat antarkan saya kesana!" ujar Melissa dengan cepat naik ke dalam mobil.


Kemudian Maxcton pun mengantarkan Melissa ke Medical Center Hospital.


Sementara Diandra di rumah sakit masih berpura-pura, sebagai Andara. Lantaran Milloma masih berada di sana mendampingi Radit.


"Aku mau makan lagi dong sayang..." pinta Radit pada Diandra. Radit masih terbaring di ranjangnya.


'Uhhh... Pria sialan ini, malah mengerjai aku,' batin Diandra kesal.


"Sayang... kupasin aku apel dong!" pinta Radit lagi menyadarkan Diandra.


"Oh, iya... kamu mau apel ya. Kamu bisa kupas sendiri kan?" kesal Diandra.


"Ya ampun kalau sama calon suami gak boleh ngomong begitu," ucap Milloma tiba-tiba saja datang.


Sekilas Diandra menoleh pada Milloma, ia tidak tahu kalau Milloma berada di belakangnya.


"Eh Oma... ini lagi bercanda doang kok!" ucap Diandra nyengir sambil menggaruk kepala yang tak gatal.


KLEK! Suara pintu dibuka oleh seseorang, mereka teralihkan oleh orang yang baru saja datang.

__ADS_1


__ADS_2