Diandra

Diandra
Bab 48


__ADS_3

"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"


Gama menggeleng pelan, "Tidak ada. Aku hanya sedang berfikir"


"Apa yang kamu pikirkan? Tentang ciuman kita?" Dian berkata dengan santai


"Kamu begitu agresif saat sedang memainkan peran"


Dian tertawa, "Aku anggap itu sebagai pujian. Apa aku cocok menjadi aktris?"


"Kamu lebih cocok menjadi istriku dan ibu dari anak - anakku"


Diam terdiam kemudian menatap Gama. "Kamu benar - benar tidak mau membatalkan pernikahan ini? Masih ada waktu jika kamu ingin mundur"


"Bagi seorang Gama, tidak akan pernah ada kata mundur!"


"Tapi jalanmu tidak akan semulus yang kamu kira. Akan banyak kerikil yang harus kamu lewati ke depan. Bahkan aku pikir, kamu hanya akan membuang - buang waktu"


"Bukankah cinta memang harus di perjuangkan? Sampai kapan dan selama apapun itu, aku tidak akan pernah menyerah"


"Aku salut dengan niatmu. Tapi aku belum sepenuhnya percaya dengan keyakinanmu itu!"


"Aku tidak perlu rasa percayamu. Aku hanya minta kamu lihat seberapa besar usahaku" ucap Gama dengan tegas


Dian sedikit tersentuh, namun ia tetap tak mau terlena dan mempercayai apa yang Gama katakan sekarang. Gama adalah orang baru dalam hidupnya. Perkenalan mereka berdua masih sangat singkat. Tentu tidak mudah bagi Dian untuk langsung mempercayainya. Saka saja yang ia kenal bertahun - tahun tega menyakitinya. Tidak menutup kemungkinan bagi orang baru seperti Gama. Sama dengan yang pria itu katakan, waktulah yang bisa menjawab semuanya.


"Kamu sudah merasa lebih baik?"


Dian mengangguk, "Aku hanya kecapekan saja. Kondisiku sudah cukup baik. Dan aku akan pulang setelah ini"


"Kalau kamu mau pulang, tunggulah Mama dulu. Dia masih mengantar sarapan ke kantor Papa"


"Hm"

__ADS_1


"Aku akan ke ruang kerjaku dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan"


"Tidak masalah. Aku masih boleh beristirahat di kamarmu kan?"


Gama tersenyum, "Tentu saja. Kalau kamu mau memgecek isi kamarku juga tidak apa - apa"


"Untuk apa juga aku harus mengecek kamarmu? Itu bukan hal penting" sahut Dian dengan nada sedikit kesal


"Tentu saja penting. Kamu jadi bisa lebih mengenalku, bukan? Aku suka warna abu - abu. Aku juga suka kerapian. Makanan kesukaanku adalah sop iga sapi dan steak. Aku suka minum kopi di pagi hari dan makan pan cake sebagai sarapan"


"Kenapa tidak sekalian kamu memberiku list apa saja yang kamu suka dan tidak"


"Nanti kamu akan jadi istriku. Aku membebaskanmu untuk bekerja tapi untuk masalah makanan, aku ingin kamu yang menyiapkannya sendiri"


Dian memutar bola mata malas, "Aku tidak bisa memasak" sahutnya asal


"Kamu lupa? Aku tahu semua tentang dirimu, Diandra!"


Dian tidak bisa mengelak lagi.


"Benarkah? Kenapa kamu seyakin itu?" tanya Dian meremehkan


"Kamu dan Mama memiliki banyak kesamaan"


"Semoga saja. Sudahlah, bukankah kamu bilang akan mengerjakan pekerjaanmu? Kapan pekerjaanya akan selesai kalau kamu terus saja di sini"


"Kamu tidak mau menemaniku?"


"Bukankah kamu bilang aku boleh menggeledah kamarmu? Rasanya itu lebih menyenangkan di banding menemanimu bekerja"


Gama terkekeh pelan. "Baiklah, silahkan lakukan apapun yang kamu mau disini. Kalau butuh apa - apa, cari aku di kamar sebelah"


"Hm!"

__ADS_1


Begitu Gama meninggalkan kamar, Dian beranjak dari ranjang. Dia kembali menatap sekeliling kamar Gama. Dan benar saja, sekarang kamar ini terlihat lebih jelas di banding malam Gama membawanya kemari. Rapi, wangi dan terlihat enak di pandang. Jujur, Dian betah berlama - lama berada disana.


Saat asyik mengamati kamar Gama, lagi - lagi Dian tak sengaja melihat Cilla berdiri di kamarnya menghadap ke kamar Gama. Jarak kamar mereka hanya sekitar dua meter. Dan akan sangat mudah bagi Cilla untuk mengatahui apa yang Gama lakukan. Pantas saja, dia sering berdiri di sana. Setelah melihatnya berciuman dengan Gama tadi, Cilla masih memperhatikan dirinya. Ah ... Bukan dia yang ingin Cilla lihat, tapi Gama. Sungguh wanita yang pantang menyerah, bathinnya.


Dian sengaja berdiri di tengah jendela, melambaikan tangan sembari tersenyum tipis. Lihatlah, wajah Cilla terlihat begitu kesal.


"Kamu mencari Gama?" pertanyaan Diandra tak Cilla jawab. Wajah gadis itu terlihat semakin kesal. "Dia sedang ada di kamar mandi" masih tak ada sahutan dari Cilla. "Ah ... Kenapa rasanya gerah sekali ya? Lebih baik aku menyusul Gama dan mandi bersama. Seperti akan sangat menyenangkan? Bukankah begitu, Cil?"


Dian berhasil menyulut emosi Cilla. Wajah wanita itu memerah, "Dasar wanita tidak tahu malu! Pantas saja Kak Gama memilihmu, ternyata kamu semurahan itu! Kamu menjadikan tubuhmu untuk memikat Kak Gama. Sungguh licik kamu Diandra!!"


Bukannya marah, Dian justru tertawa, "Aku murahan? Tentu saja tidak, Cilla sayang. Aku berkelas. Aku dan Gama sama - sama single. Kami saling mencintai? Lalu salahnya dimana? Dimana letak murahan yang kamu tuduhkan, hm? Sebelum kamu menghina orang lain, ada baiknya kamu berkaca pada keluargamu sendiri! Terutama, Mama yang sangat kamu sayangi!"


"SUDAH AKU KATAKAN JANGAN PERNAH MENGHINA MAMAKU!!"


"Wah - wah, kamu terlihat menakutkan kalau sedang marah!", Dian melipat kedua tangannya di dada


"Cill, ada apa?" tanya Livia yang menghampiri putrinya. Wanita itu cukup terkejut melihat Diandra berada di kamar Gama


"Apa yang sudah kamu perbuat hingga membuat putriku marah?!"


Dian tersenyum, "Dia mengataiku murahan dan tidak tahu diri. Aku hanya mengatakan padanya untuk berkaca lebih dulu sebelum menghina orang lain. Benarkan, yang aku katakan Nyonya Aditama?!" raut wajah Livia terlihat tegang. Apalagi saat Dian menekankan kata Aditama


"Sebagai putri dari keluarga terhormat, dia bahkan tidak bisa bersikap sopan pada orang yang lebih tua. Anda berhasil mendidiknya dengan sangat baik, Nyonya Livia!"


"TUTUP MULUT KOTORMU ITU!!" Teriak Cilla, Livia berusaha menenangkan putrinya


"Anda lihat sendiri bukan, bagaimana sikap putri Anda. Sebagai seorang ibu, seharusnya Anda bisa membuatnya jadi wanita elegan dan tahu tata krama"


"KAMU SUDAH SANGAT KETERLALUAN DIANDRA!! BERANINYA KAMU MENGKRITIKKU SEPERTI ITU!! BENAR - BENAR TIDAK TAHU MALU!!"


"Cil, jangan terpancing emosi. Diandra hanya ingin membuatmu marah. Kalau kamu terus terpancing, dia akan merasa menang!" bujuk Livia


Dian tersenyum mengejek pada keduanya, "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sifat kalian begitu mirip. Ah tidak, lebih tepatnya Nyonya Livia memang menurunkan sifatnya pada Cilla. Seharusnya Anda malu Nyonya Livia, Anda bersikap sok suci di depan putri Anda. Bersikap seolah - olah Anda adalah ibu terbaik di dunia ini. Anda mungkin ibu terbaik di mata Cilla. Tapi di mata saya, Anda tak lebih dari wanita perusak rumah tangga orang!"

__ADS_1


Deg


__ADS_2